The Forbidden Love

The Forbidden Love
Kontrasepsi



09.02 Am


Alessa terbangun dari tidur dan merasakan tubuhnya yang terasa sangat pegal begitu juga dengan pakal paha yang masih kebas.


Alessa duduk menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang tanpa berniat beranjak atau melakukan apapun, dia hanya berdiam diri melihat ke arah luar jendela kamar.


Senyum tipis terukir di wajahnya, dia kembali mengingat saat-saat seperti ini di rumahnya dulu seperti dejavu alessa kembali merasakan hal yang sama namun di tempat yang berbeda.


"Kau sudah bangun?!" suara seseorang membuat senyum alessa seketika hilang.


Alessa menunduk tidak menjawab. Leonardo berdiri dengan kedua tangan berada di dalam saku celana menatap alessa angkuh.


"Aless-"


"Seperti yang kau lihat, aku sudah bangun" jawab alessa memotong leonardo yang akan menegur karena tidak langsung menjawab pertanyaannya.


Beberapa saat leonardo dan alessa hanya saling menatap hingga leonardo mengalihkan pandangannya kesal.


"Cepat bersihkan dirimu dan turun" ucap leonardo memerintah lalu pergi.


Alessa sangat jengah mendengar perintah leonardo yang terlalu mengatur dirinya.


"Kau pikir siapa dirimu" gumam alessa namun tetap beranjak dari ranjang menuju bathroom untuk membersihkan diri.


...*****...


Ruang makan,


Alessa tiba di ruang makan, disana sudah terdapat leonardo bersama veru yang seketika membuatnya kesal.


"Selamat pagi nona alessa" sapa veru mengejek alessa.


Namun sapaan dari veru tidak di hiraukan oleh alessa dia hanya diam dan menarik asal salah satu kursi.


"Nona silahkan" seorang pelayan menyajikan kepada alessa dengan ramah.


"Terimakasih" balas alessa tersenyum ramah.


Alessa menikmati sarapannya dengan diam menjadi pendengar leonardo dan veru membicarakan hal yang tidak dia mengerti.


"Kau harus bertindak" ucap veru serius dapat di dengar oleh alessa.


"Jangan ikut campur!" jawab leonardo dingin.


"Dia akan menjadi benalu jika kau tidak menyingkirkannya sekarang" ucap veru berhasil menghentikan kegiatan alessa yang sedang makan lalu menoleh melihat veru dan leonardo bergantian.


Menyadari tatapan alessa leonardo mengalihkan pembicaraan dengan meminta veru untuk berhenti membahas.


"Berhenti ikut campur dalam hal yang tidak kau ketahui!" ucap leonardo sukses membuat veru terdiam.


"Baiklah, aku sudah memperingatimu" balas veru kesal lalu meninggalkan meja makan.


Sementara itu alessa hanya melihat kepergian veru, cukup menyenangkan untuknya melihat veru yang tidak bisa melawan leonardo.


"Aku sudah selesai" ucap alessa gugup.


Alessa menatap leonardo meminta persetujuan, entah mengapa dia melakukan itu yang seharusnya tidak perlu dia lakukan.


"Pergilah, kembali ke kamarmu" ucap leonardo.


Setelah mendengar persetujuan alessa beranjak meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


...*****...


Kamar,


Alessa duduk di sofa kamar dia tidak tau harus berbuat apa untuk menghilangkan kebosanannya.


Sepuluh menit berlalu alessa masih berdiam diri tidak melakukan apapun.


"Sepertinya balkon sedikit lebih baik dari pada hanya berdiam diri disini" ucap alessa kepada dirinya sendiri.


Baru saja alessa beranjak, suara pintu terbuka terdengar membuat alessa berhenti dan melihat kedatangan leonardo bersama dua orang pelayan dan juga seorang dokter, namun entah alessa merasa tidak yakin dengan dugaannya.


"Alessa" ucap leonardo menatap membuatnya tidak mengerti.


Alessa yang tidak mengerti hanya menatap satu persatu dari mereka.


"Ada apa?" ucap alessa bertanya.


"Lakukan" ucap leonardo memberikan isyarat dengan kepalanya kepada seseorang yang dia duga sebagai seorang dokter melihat dari jas putih yang dikenakan olehnya.


"Baiklah" jawab sang dokter lalu berjalan menghampiri alessa bersama dua pelayan yang membantu membawa tas dan juga peralatan milik sang dokter.


"Silakan nona" ucap sang dokter mengarahkan alessa untuk kembali ke ranjangnya.


"Ada apa, aku tidak sedang sakit?" ucap alessa memberitahu.


Namun dokter itu terus saja bersiap membuka peralatan miliknya tanpa menghiraukan alessa.


Setelah beberapa saat hanya memperhatikan alessa terkejut ketika melihat sang dokter menyiapkan suntikan kontrasepsi.


"Apa yang kau lakukan!" ucap alessa terkejut.


"Apa kau sudah gila?!" ucapnya marah.


"Aku tidak-"


"Jangan melawan alessa!" ucap leonardo berhasil membuat hati alessa menciut.


Alessa menatap dengan mata yang berkaca-kaca sementara leonardo hanya membalas dengan dingin tidak peduli.


"Selesai" ucap sang dokter lalu memberikan sebotol kapsul lain.


"Kau juga harus mengkonsumsi ini untuk berjaga-jaga" ucapnya sambil tersenyum ramah.


Alessa hanya pasrah menerima botol kapsul dan menggenggamnya erat menahan amarah.


"Baiklah aku permisi" ucap sang dokter tanpa di hiraukan oleh alessa.


Dokter meninggalkan alessa dan leonardo bersama kedua pelayan yang datang bersamanya.


"Terimakasih bella" ucap leonardo.


"Tidak masalah, jika ini orang lain aku tidak akan pernah melakukannya" balas bella menanggapi.


"Aku tau, pelayan akan mengantarmu" ucap leonardo.


"Baiklah, aku permisi" balas bella dan hanya mendapatkan anggukan sebagai tanggapan leonardo.


Sekarang kamar hanya menyisakan alessa dan leonardo, tatapan alessa sudah tidak bersahabat dia sangat marah sekarang.


Merasa tidak tahan lagi alessa melempar botol kapsul kontrasepsi keras hingga mengenai dada bidang leonardo.


"Brengsek!" ucap alessa marah


"Kau bajingan!"


"Kau manusia paling hina yang pernah ku lihat!" ucapnya kembali berhasil memancing leonardo.


"Berhenti mengumpat!" balas leonardo menatap tajam alessa.


"Wanita hina seperti apa yang sudah melahirkan pria brengsek sepertimu!" ucap alessa menghina leonardo


"ALESSA, PLAK!" ucapan alessa sudah benar-benar membuka amarah leonardo yang sudah coba dia tahan sejak tadi.


"BERANI SEKALI KAU!" ucap leonardo menarik kasar wajah alessa dengan telapak tangannya.


Air mata alessa mengalir tak terbendung mendapatkan tamparan keras leonardo.


"Ahh sstt-" keluh alessa merasakan sakit di kedua sisi pipinya akibat tidakan leonardo.


"Kau terlalu berani alessa!" desis leonardo tepat di depan wajah alessa yang masih terkejut dan menangis akibat tamparannya.


"Kau pikir siapa dirimu!" ucap leonardo menggertakan giginya menahan amarahnya agar tidak semakin meluap.


Wajah alessa tertoleh oleh leonardo yang melepas kasar tangannya dari wajah alessa. Leonardo meninggalkan kamar dengan amarah yang menggebu-gebu, bantingan pintu sudah cukup menjadi bukti atas kemarahannya.


Sementara itu alessa semakin menangis, dia cukup terguncang dengan teriakkan juga tamparan keras yang dia terima.


"Mom dad tolong aku hiks-" ucap alessa lirih menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


...*****...


"Aarrrgghhhhh-" suara teriakan leonardo berhasil membuat semua orang yang melihatnya terdiam.


Mereka sangat mengerti disaat seperti ini semua bisa menjadi target leo untuk meluapkan amarahnya.


"pranggg"


*dor


*dor dor dor


*dor


Setelah tembakan terakhir leonardo membanting keras pistol dari tangannya membuat semua bodyguard bersiaga.


"ALESSA!" gumam alessa lirih.


mengingat kembali ucapan alessa membuat serigala dalam diri leonardo terbangun.


"Kau akan menyesalinya!"


"Kau benar-benar akan sangat menyesalinya!" ucap leonardo menggertakan gigi serta tangan yang terkepal kuat.


"Ku pastikan ayahmu si brengsek Aamodt tidak akan pernah mendapatkan putrinya kembali!" ucapnya lirih.


Tangan leonardo terkepal kuat, amarahnya akan sangat sulit mereda.


.


.


.


.


.


.


.


To be continue