
Alessa tiba di ruang bawah tanah bersama dengan dua bodyguard yang menyeretnya.
Alessa bergidik saat melihat banyak sel yang terisi oleh penghuni dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
"Apakah kalian semua tidak memiliki hati, huh!"
"Mereka semua adalah manusia bukan hewan"
"Mereka membutuhkan pertolongan medis" ucap alessa marah kepada kedua bodyguard yang sedang menyeretnya.
"Kalian dengar?!"
"Mereka membutuhkan pertolongan!" ucap alessa tanpa mendapat tanggapan sedikitpun dari kedua bodyguard itu.
Di saat yang bersamaan langkah kedua bodyguard itu berhenti membuat alessa ikut terhenti di depan pintu sel kosong.
Sementara salah satu bodyguard membuka kunci sel, bodyguard lain mendorong alessa untuk masuk ke dalam sel yang baru saja di buka.
"Apa yang kau lakukan, keluarkan aku!" ucap alessa kepada kedua bodyguard itu.
"Keluarkan aku!"
"Aku akan membayar berapapun yang kau inginkan!"
"Cepat keluarkan aku!"
"Apa yang kalian inginkan?"
"Katakan kepadaku!" alessa terus berbicara.
Selesai mengunci kembali pintu sel kedua bodyguard pergi tanpa memperdulikan alessa.
"Jangan tinggalkan aku, kumohon buka hiks-" ucap alessa takut dan menangis.
"Mereka tidak akan mendengarkanmu" suara seorang membuat alessa teralihkan.
"Mereka tidak akan pernah mendengarkan sebanyak apapun kau bicara!" ucap gadis itu, gadis dari sel lain yang berseberangan dengan sel alessa
"Kau hanya membuang-buang energimu!" ucapnya melanjutkan.
"Apa maksudmu?" jawab alessa.
"Suara kita tidak akan pernah di dengar oleh mereka" ucap gadis itu kembali, tersenyum pahit.
"Aku charlotte" gadis itu mengalihkan pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya kepada alessa.
Alessa melihat wajah gadis itu yang tetap terlihat cantik meski kondisinya berantakan.
"Siapa namamu?" ucap gadis itu bertanya.
"A-lessa" jawab alessa menanggapi menyebut namanya gugup.
"Hai alessa, selamat datang di rumah barumu" ucap charlotte menyambut.
"Tidak, secepat mungkin aku akan keluar dari tempat ini" balas alessa menolak tidak menyetujui ucapan charlotte.
"Haha- semua orang yang berada di tempat ini mengatakan hal yang sama ketika mereka pertama kali datang" ucap charlotte menertawakan kekonyolan alessa sekaligus memberitahu kebenaran.
"Tapi lihat mereka semua-"
"Mereka semua berkahir tragis saat mencoba melarikan diri" ucap charlotte memberitahu alessa.
"Belajarlah untuk menerima takdirmu" ucap charlotte memberitahu alessa.
Alessa yang mendengar charlotte hanya diam tidak menjawab apapun.
"Tidak" alessa berucap lirih menolak setuju dengan ucapan charlotte.
____
Waktu berlalu, alessa terduduk di pojok sel dengan wajah lelah yang terlihat jelas.
Alessa memperhatikan charlotte yang sedang tertidur di seberang sana terlihat nyenyak dan nyaman tanpa terusik sedikitpun.
"Bagaimana bisa kau tidur dengan nyenyak seperti itu?" ucap alessa terheran melihat charlotte yang tampak nyaman dengan tidurnya.
Berbeda dengan semua penghuni sel lain yang tampak pulas, alessa justru masih tetap terjaga.
Sangat sulit untuk alessa untuk tidur walau hanya sekedar menutup mata saja, tempat itu sangat tidak nyaman untuk alessa yang terbiasa hidup dengan kemewahan.
"HEY BANGUN!"
Suara teriakan seseorang di sertai pukulan pada jeruji sel membuat alessa dan penghuni lain terkejut dengan kegaduhan yang tiba-tiba terdengar.
Alessa melihat charlotte yang langsung terbangun dan berjalan mendekat memegang jeruji sel dengan tatapan penuh harap melihat ke arah luar.
Mata alessa mengikuti arah pandang charlotte yang melihat beberapa bodyguard membawa makanan untuk para penghuni sel.
"Terimakasih" samar alessa mendengar charlotte mengucapkan terimakasih kepada bodyguard yang sudah memberikannya makanan.
Setelah selesai dengan charlotte bodyguard itu beralih ke arah sel yang di huni oleh alessa untuk memberi makan.
"Cepat ambil dan makanlah" ucap bodyguard itu kepada alessa yang tidak bergerak sedikitpun dari duduknya.
"Jangan keras kepala, cepat ambil ini!" ucap bodyguard itu kembali.
Merasa tidak mendapat tanggapan bodyguard itu akhirnya menyimpan makanan alessa di lantai penjara dan kembali melanjutkan langkah untuk memberikan makanan pada penghuni lain.
Alessa yang merasa marah seketika bergerak meraih makanan itu dan melempar kembali hingga mengenai kepala bodyguard.
"Ambil kembali makanan itu aku tidak membutuhkannya!" ucap alessa berani.
Bodyguard yang terkejut mendapati sikap kasar alessa seketika langsung terpancing.
"KAU PIKIR AKU TAKUT KEPADAMU?" jawab alessa menantang.
"Mengapa aku begitu heran?!"
"Tentu saja-"
"Bagaimana mungkin bodyguard sepertimu bisa menjadi pintar, jika kau saja memiliki tuan yang begitu bodoh!"
"Nona berhati-hatilah dengan ucapanmu!" bodyguard lain memperingati setelah mendengar alessa yang mengatakan bodoh kepada tuannya, itu artinya alessa secara tidak langsung mengatakan bodoh kepada leonardo.
"Bukankah aku benar?!"
"kau dan tuan-mu, oh tidak tidak tapi kalian semua hanyalah sekumpulan manusia yang di perbudak oleh tuanmu yang bodoh!" ucap alessa semakin membuat amarah bodyguard itu bertambah.
"KAU-" saat akan meluapkan kemarahannya dengan mengumpat, ucapan bodyguard lebih dulu terpotong oleh suara dari seseorang yang memanggilnya secara bersamaan.
"Nico!" panggilan itu membuat sang bodyguard menoleh melihat ke arah leonardo yang sudah berdiri memperhatikan.
"Antonio!" leonardo memanggil bodyguard lain.
"Ya tuan" dengan sigap antonio datang setelah mendengar suara leonardo yang memanggilnya.
"Perintahkan kepada semua anak buahmu untuk memindahkan semua tahanan, kecuali tahanan nomor 10" ucap leonardo memerintah menatap tajam ke arah sel tempat alessa di tahan yang bertuliskan angka sepuluh di atasnya.
"Baik tuan" jawab antonio sigap.
____
Tidak berselang lama seluruh anak buah antonio memasuki tahanan dan menyeret satu persatu tahanan untuk sementara di pindahkan ke tempat lain.
"Antonio, urus mereka semua!" ucap leonardo memerintah.
Antonio bergegas meninggalkan ruang penjara bawah tanah yang hanya menyisakan alessa, nico dan juga leonardo.
Leonardo yang semula berada beberapa meter dari alessa dan nico perlahan berjalan memperpendek jarak mereka.
"Nico, pergilah" ucap leonardo memerintah.
"Pergilah temui antonio, dia pasti membutuhkan bantuanmu" ucap leonardo kepada nico.
Setelah beberapa saat kepergian nico, ruang bawah tanah menyisakan alessa dan leonardo dengan sel tahanan lain yang sudah kosong karena di tinggalkan oleh para penghuni yang sementara di pindahkan.
"Alessa-" leonardo menjeda ucapannya dan menatap alessa dingin.
"Bersikaplah dengan baik, maka semua akan baik untukmu!" leonardo melanjutkan ucapannya.
"Siapa kau?" balas alessa menatap serius kepada leonardo yang juga menatap ke arahnya.
"Mangapa kau melakukan ini kepadaku?" alessa bertanya.
"Kau-"
"Kau juga mengetahui namaku, bahkan aku belum pernah memberitahukan namaku sejak pertama kita bertemu" alessa menatap leonardo penuh curiga dan tidak mengerti.
"Seiring berjalannya waktu kau akan mengerti" leonardo memberikan jawaban yang sudah sangat jelas bukan jawaban itu yang ingin alessa dengar.
"Aku ingin mengetahui itu sekarang!" ucap alessa dengan keras kepala.
"Lepaskan aku, biarkan aku pergi" alessa kembali berucap membuat leonardo tersenyum mendengarnya.
"Dengar, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan"
"Katakan saja apapun itu!"
"Tapi, biarkan aku pergi"
"Lepaskan aku" ucap alessa beruntun.
"Jangan pernah membuat kesepakatan denganku atau kau akan menyesalinya" jawab leonardo tajam setelah alessa yang berani bernegosiasi dengannya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan!" ucap alessa mulai kesal.
"KATAKAN PADAKU, AKU BISA MEMBERIKAN APAPUN YANG KAU INGINKAN!" alessa mulai berteriak tidak sabar karena penawaran yang coba dia buat tidak berhasil.
"Jangan pernah berteriak kepadaku!" ucap leonardo memperingati dengan tatapan tajam yang seketika membuat alessa terdiam.
Setelah mengatakan itu leonardo pergi meninggalkan alessa yang terus meminta untuk di keluarkan dari tempat itu.
"Keluarkan aku"
"Ku mohon"
"Keluarkan aku dari tempat ini" ucapan-ucapan alessa hanya angin lalu yang tidak berarti untuk leonardo.
...----------------...
.
.
.
.
.
.
.
to be continue