The Forbidden Love

The Forbidden Love
Rencana pernikahan Marcello & Luciella



09.00 pm


Alessa terbangun di ruangan sunyi sebagai penyambut.


"Uhgg-" keluh alessa merasakan pegal mungkin karena posisi tidurnya yang hanya pada satu sisi.


Alessa beranjak dari ranjang berjalan keluar dan meraih smartphone miliknya yang berada di atas meja, saat membuka lock screen terdapat banyak panggilan yang tidak terjawab dari kedua orang tuanya dan juga carlina.


Jari jemari alessa bergerak membuka pesan dari carlina yang memberitahu bahwa dia sudah tiba di norwegia, lalu pesan kedua orang tuanya yang menanyakan keberadaa dirinya.


("Carlina bagaimana perjalananmu, semoga bibi carllote baik-baik saja")


Setelah selesai mengetik, alessa langsung mengirim pesannya kepada carlina.


Setelah selesai dengan pesannya untuk carlina, dalam waktu yang bersamaan smartphonen miliknya berdering terlihat nama sang ayah yang menelfon.


"Halo" jawab alessa menyapa.


"Alessa, kau masih di apartemen carlina?" ucap sang ayah bertanya.


"Ya dad, setelah carlina pergi aku tertidur dan aku baru saja terbangun" jawab alessa.


"Baiklah, sopir sudah menuju kesana untuk menjemputmu" ucap sang memberitahu.


"Baiklah" balas alessa.


Alessa menutup telefon lalu kembali duduk termenung di sofa dan tiba-tiba memikirkan impiannya yang ingin bekerja di rumah sakit dan menolong banyak orang.


"Apakah daddy akan mengizinkanku?"


"Bagaimana jika tidak!"


"Apa yang harus aku lakukan untuk membujuk daddy?"


"Oh ya tuhan" tangan alessa memegang kepalanya frustasi.


Alessa berbaring di sofa dengan tangan yang bergerak meraih remote menghidupkan televisi, sebenarnya dia tidak benar-benar ingin menonton dia hanya membutuhkan suara televisi untuk menghilangkan kesunyian.


___


Setelah beberapa lama suara bel terdengar menandakan ada orang di luar sana. Alessa langsung bersiap menuju wastafel mencuci muka setelah selesai dia mematikan televisi membawa tas kecil miliknya lalu berjalan ke arah pintu, alessa merasa yakin suara bel yang terdengar adalah dari seseorang yang di kirim oleh sang ayah untuk menjemputnya.


"Selamat malam nona" ucap seorang bodyguard menunduk hormat setelah melihat alessa membuka pintu.


"Selamat malam" balas alessa menanggapi.


"Silahkan nona" bodyguard itu mempersilahkan alessa untuk berjalan di depan lebih dulu darinya.


___


Mereka tiba di lantai satu gedung apartemen, di depan sana sebuah mobil mewah sudah menunggu dengan pintu mobil yang sudah terbuka untuknya.


Alessa menaiki mobil lalu diikuti oleh sang sopir dan juga bodyguard yang memasuki mobil lain di belakang mobil yang alessa naiki.


...*****...


Mobil yang membawa alessa tiba di mansion keluarga Aamodt dan berhenti tepat di depan pintu utama mansion.


Alessa turun, kaki jenjangnya melangkah dengan tegas para pelayan yang melihat kedatangan alessa menunduk memberi hormat menyambut kedatangan nona muda keluarga Aamodt.


"Selamat malam nona" ucap salah satu pelayan menyapa alessa.


"Selamat malam" balas alessa ramah.


"Hai tuan putri Aamodt, selamat untuk gelar barumu" suara seseorang membuat alessa langsung menoleh.


"Kakak!" alessa berlari setelah melihat sang kakak yang sedang menuruni tangga.


Ya dia adalah Marcello Aamodt putra sulung keluarga Aamodt kakak alessa, dia tidak tinggal bersama alessa dan kedua orangtua mereka.


Sebagai pewaris keluarga Aamodt, marcello sudah mengambil kendali untuk menjalankan bisnis Aamodt corp yang berpusat di kanada.


"Sejak kapan kau datang, kau tidak memberitahuku" ucap alessa antusias masih dengan memeluk sang kakak.


"Aku harus memberi kejutan untuk adikku yang manis" jawab sang kakak tersenyum.


"Dimana luciella" alessa bertanya melepas pelukannya.


"Kau tidak membawa lucie bersamamu?" tanya alessa menanyakan tunangan sang kakak.


"Aku di sini alessa" jawab suara lain, suara seorang wanita yang sedang dia tanyakan.


"Luciella" panggil alessa antusias.


"Selamat untuk gelarmu" luciella memeluk dan memberikan selamat kepada alessa.


"Terimakasih" alessa membalas pelukan luciella.


"Permisi tuan muda, tuan dan nyonya Aamodt sudah menunggu di ruang keluarga" ucap pelayan menginterupsi di tengah rasa bahagia atas pertemuan mereka.


"Baiklah" balas marcello.


"Ayo, mom dan daddy sudah menunggu kita" ajak marcello kepada alessa dan juga luciella.


"Ah- ,aku harus membersihkan diriku terlebih dahulu aku akan menyusul nanti" ucap alessa menolak untuk pergi bersama.


"Baiklah, jangan berlama-lama" balas sang kakak mengingatkan, lalu berjalan meninggalkan alessa dengan merangkul sang tunangan.


Sementara itu alessa langsung bergegas menuju kamarnya untuk segera membersihkan diri.


...*****...


Ruang keluarga,


"Mom, dad" marcello menyapa kedua orangtua yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Hai sayang, kalian sudah datang di mana alessa?" ucap sang ibu bertanya setelah tidak melihat keberadaan alessa bersama mereka.


"Pelayan mengatakan dia sudah pulang" ucap sang ibu kembali.


"Ya mom, alessa sudah pulang hanya saja dia ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu" jawab marcello menjelaskan.


"Baiklah, kita akan menunggu alessa" ucap sang ayah kepada semua orang yang berada di ruang keluarga.


"Luciella, bagaimana kabar kedua orangtuamu?" lezitia bertanya kepada tunangan sang putra.


"Mereka baik-baik saja, mereka juga menitipkan salam mereka untuk kalian" jawab luciella menyampaikan salam kedua orangtuanya.


"Aku sangat merindukan anggur di kebun ayahmu" ucap letizia autias dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Luciella tersenyum mendengar ucapan calon ibu mertuanya, dia sangat beruntung bisa di terima dengan baik oleh keluarga Aamodt, mereka juga tidak pernah mempermasalahkan dirinya yang berasal dari keluarga sederhana.


"Luciella saat kalian sudah menikah nanti, kau akan tinggal jauh dari kedua orangtuamu" ucap tuan sergio Aamodt serius mengingatkan luciella.


"Aku mengerti paman, aku harus ikut dengan marcello untuk tinggal bersamanya di kanada" jawab luciella mengerti arah pembicaraan.


"Lalu orangtuamu, bagaimana dengan mereka?" tuan sergio kembali bertanya dengan serius dengan tatapannya yang tajam.


"Kakakku akan tinggal bersama kedua orangtua kami setelah dia menikah" ucap luciella menjelaskan.


"Itu bagus" jawab letizia menanggapi.


___


Mereka masih saling mengobrol dan saling bertukar cerita, walaupun obrolan itu sebenarnya lebih banyak pertanyaan dari tuan dan nyonya Aamodt kepada luciella sang calon menantu.


Percakapan mereka terhenti ketika suara alessa tiba-tiba menginterupsi di tengah-tengah obrolan mereka.


"Apa aku terlambat, maaf sudah membuat kalian semua menunggu" ucap alessa membuat semua orang di ruang keluarga mengalihkan pandangan dan melihat ke arahnya.


"Tidak sayang, kemarilah" jawab sang ibu menanggapi.


Di ruang keluarga hanya ada mereka berlima yaitu tuan dan nyonya Aamodt, sang kakak marcello dan luciella tunangan sang kakak juga alessa yang baru saja bergabung.


"Ada apa mom, mengapa kita semua berkumpul di sini?" alessa bertanya kepada sang ibu dengan heran.


"Kita akan sama-sama mendengarnya dari daddymu" jawab sang ibu membuat alessa semakin ingin tau.


"Baiklah, semua sudah berkumpul" ucap tuan sergio membuat semua orang mendengarkan dengan serius.


"Luciella sudah mengenal keluarga Aamodt dengan sangat baik, marcello dan luciella juga sudah menjalin hubungan cukup lama dan sebaiknya satu bulan lagi pernikahan harus segera di langsungkan" ucap sang ayah membuat mereka semua terkejut.


"Dad" ucap marcello terkejut namun juga merasa senang.


"Sayang apa kau serius dengan ucapanmu?" ucap nyonya letizia bertanya tidak percaya.


"Oh ya tuhan, apakah kakakku yang konyol akan memiliki istri" ucap alessa mengejek.


Sementara itu luciella menetesakan air matanya terharu mendengar ucapan tuan sergio Aamodt yang akan segera menjadi ayah mertuanya.


Akhirnya setelah bertahun-tahun akan ada tujuan jelas dalam hubungannya dengan marcello yaitu sebuah ikatan pernikahan.


"Ya, setelah beberapa tahun keadaan sudah mulai membaik aku rasa ini waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan" ucap tuan sergio kembali kepada semua orang.


"Aku akan menelfon orangtua luciella untuk memberitahu kabar baik ini" ucap sang istri antusias.


"Ya letizia kabari mereka, orangtua lucie harus segera mengetahui putri mereka akan segera menjadi menantu keluarga Aamodt" ucap tuan sergio kepada sang istri.


"Ya tentu saja" nyonya letizia menjawab dengan semangat.


___


Perbincangan rencana pernikahan marcello dan luciella berjalan cukup alot karena perbedaan pendapat tentang lokasi di adakannya pernikahan.


Marcello dan luciella menyetujui keputusan tuan sergio dengan pernikahan yang akan di langsung di italia, berbeda dengan alessa, luciella dan marcello yang bersemangat sang ibu nyonya letizia justru terlihat sangat khawatir dengan keputusan sang suami.


"Mengapa kita harus mengadakan pernikahan disana?" ucap nyonya letizia membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Kita bisa mengadakan pernikahan di kanada atau di swiss" ucapnya memberikan pilihan lain.


"Atau mungkin di desa keluarga luciella" ucapnya kembali kepada semua orang.


"Aku rasa italia adalah pilihan yang tepat untuk melangsungkan pernikahan?" balas alessa santai menanggapi sang ibu.


"Ya mom alessa benar, aku rasa pilihan daddy sudah tepat untuk mengadakan pernikahan di sana" ucap marcello menimpali.


Sementara itu luciella tidak ikut dalam pembicaraan dan hanya sebagai pendengar pada argumen kecil yang sedang berlangsung antara ibu dan anak, sepertinya terdapat perbedaan pendapat tentang lokasi pernikahan yang di inginkan oleh sang calon ibu mertua.


Saat semua orang saling berargumen untuk mengutarakan pendapat pernyataan tuan sergio Aamodt membuat mereka semua terdiam.


"Pernikahan akan di langsungkan di italia, tidak akan ada lagi obrolan dan bantahan apapun!" ucap tuan sergio dengan penuh ketegasan.


Setelah mengatakan itu sergio Aamodt berdiri dari duduknya berjalan meninggalkan ruang keluarga dengan semua orang yang masih terdiam di sana.


Sementara itu sang istri nyonya letizia Aamodt bertambah khawatir dengan keputusan sang suami yang menurutnya terlalu sepihak.


...----------------...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


to be continue