The Forbidden Love

The Forbidden Love
Kegaduhan



Sedikit lagi sampai di pintu gerbang suara tembakan terdengar..


**dor


"Arrggh" anak peluru mengenai besi pintu gerbang bersamaan dengan teriakan alessa yang terkejut dan langsung menunduk memegang kedua telinganya.


"Sepertinya peringatkan tidak cukup untukmu".


"NICO!" suara melengking leonardo memecah keheningan malam itu yang seharusnya tenang.


"Ya, tuan" nico dengan sigap datang berlari tergesa dari arah belakang menghampiri leonardo.


"SEPERTI INI CARAMU MENJAGA KEAMANAN!"


"GADIS ITU HAMPIR SAJA MELARIKAN DIRI!"


"DIMANA SEMUA ANAK BUAHMU?!"


"Ini terakhir kalinya keteledoran terjadi dalam keamanan!" ucap leonardo marah.


"Baik tuan" jawab nico sigap.


"Dan kau, sudah cukup!" ucap leonardo lalu menarik alessa dengan kasar.


"Tidak, lepaskan aku" alessa memberontak mencoba melepaskan diri.


Semua pelayan dan bodyguard berkumpul, mereka khawatir mendengar kemarahan leonardo.


"bye alessa" ucap veru berdiri angkuh menikmati kegaduhan dengan senyum puas menghiasi wajahnya.


____


Sementara itu, alessa masih terus memberontak mencoba melepaskan diri dari leonardo yang terus menyeret paksa dirinya.


"Lepas, ku mohon ini sangat sakit" suara alessa tidak di dengar oleh leonardo yang sudah sangat marah.


Leonardo membawa alessa ke sebuah kamar, kamar lain yang berbeda dan entah siapa pemiliknya.


Tangan leonardo membuka kasar pintu lalu mengunci kembali setelah memasuki kamar. Dengan amarah yang masih menggebu leonardo mendorong kasar tubuh alessa di atas ranjang.


"Jika ucapanku tidak bisa membuatmu mengerti mungkin cara ini akan membuatmu memahi bahwa aku sangat marah!" leonardo mendesis marah.


"Apa yang akan kau lakukan?" ucap alessa takut.


Belum sempat alessa menghindar leonardo sudah lebih dulu menindih tubuhnya di atas ranjang.


"Lepas"


"Ku mohon lepaskan aku"


"Jangan!"


Alessa terus memohon di lepaskan tetapi leonardo justru semakin kuat menahan kedua tangan di atas kepala hingga membuatnya sulit melawan.


Tanpa memperdulikan alessa yang memberontak leonardo semakin gencar melakukan aksinya. Perlawanan yang di lakukan alessa seperti tidak berarti apa-apa untuknya.


Dengan kasar tangan leonardo merobek paksa dress yang di kenakan alessa hingga tidak berbentuk dan memperlihatkan keindahan tubuh alessa yang berada di baliknya.


Tangan leonardo semakin lincah bergerak melepas semua pakaian dalam alessa hingga tidak tersisa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.


"Ku mohon, lepaskan aku hiks-" alessa memohon dan menangis.


Menghiraukan alessa, leonardo semakin memaksakan diri dengan kasar tanpa aba-aba hingga membuat alessa mengeluh sakit.


"Arrgh ssstt-" alessa merasakan sakit yang teramat sangat membuat dirinya seperti terbelah karena tidak siap.


Leonardo yang tidak peduli terus bergerak tanpa memikirkan alessa di bawahnya yang sangat kesakitan karena ulahnya.


Dengan sekali sentakan keras leonardo dapat merasakan dinding penghalang yang membuat alessa semakin mengeluhkan sakit.


"Aarrgh, ku-mo-hon" ucap alessa terbata karena rasa sakit yang di terimanya secara beruntun dan tiba-tiba.


"Aku tidak menduga ini, putri seorang pendosa seperti sergio Aamodt ternyata begitu suci" ucap leonardo sarkas menjeda gerakan tersenyum evil mengejek alessa.


"Ku mohon hentikan, ini sangat sakit" gumam alessa lirih memohon.


Alessa menoleh ke samping air matanya menetes selaras dengan leonardo yang terus memaksakan diri kepadanya.


Mendengar alessa yang memohon semakin memancing leonardo untuk bergerak lebih kasar dan menambah kecepatannya hingga keluh alessa berubah menjadi ******* samar yang coba di tahan olehnya.


Alessa mulai pasrah, dia hanya menangis tanpa melakukan perlawanan ataupun meminta untuk di lepaskan karena menyadari sebanyak apapun dia memohon semuanya percuma dan hanya sia-sia.


Sedikit lagi merasa akan sampai leonardo semakin mempercepat gerakan dan mendorong dalam hingga di saat yang bersamaan tubuh alessa bergetar dan membuat mereka mengeluarkan cairan hasil persenggamahan bersama-sama.


Alessa terlihat sangat lelah dengan dada yang bergerak naik turun karena deru nafas yang tidak teratur serta keringat yang mengalir membuatnya terlihat semakin sexy. Leonardo yang menyadari hal itu hanya menatap menikmati keindahan tubuh alessa dengan tatapan yang sulit di artikan.


Merasa tidak puas leonardo kembali melancarkan aksinya, kali ini alessa benar-benar tak berdaya dia hanya pasrah saat leonardo terus menggencar inti tubuhnya hingga sekali lagi mencapai puncak.


Setelah merasa puas leonardo menarik tubuhnya dan melihat inti alessa yang menurutnya sangat indah.


"Tubuh ini milikku alessa, kau harus mengerti itu!" leonardo berbisik tepat di telinga alessa.


Setelah mengatakan itu leonardo mencium daun telinga alessa sensual dan seketika membuat air mata alessa kembali menetes.


Leonardo menarik tubuhnya menjauh dari alessa yang masih berbaring lemas. Merapihkan kembali pakaiannya lalu pergi meninggalkan alessa yang masih menangis dalam diam di tambah dengan keadaannya yang terlihat berantakan terlihat begitu pilu.


"Dad, mom hiks-" gumam alessa.


Alessa berusaha bangun dari ranjang, tubuhnya terasa remuk. Perlahan kakinya berpijak pada lantai yang terasa begitu dingin menusuk.


Alessa memaksa kakinya bergerak melangkah menuju bathroom, dia ingin segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat kotor.


Tiba di bathroom alessa langsung di hadapkan dengan cermin besar yang langsung memperlihatkan keadaan dirinya.


Perlahan alessa melangkah mendekati cermin, matanya menatap dirinya dengan iba terlihat tubuhnya yang sangat kacau dengan goresan-goresan kecil dan juga bekas kemerahan.


Air mata alessa menetes, menangisi keadaan dan juga nasibnya yang begitu buruk.


Tidak tahan melihat lebih lama pantulan dirinya di cermin, alessa melepar vas bunga yang terdapat di wastafel hingga membuat cermin dan vas pecah bersama.


"Prangg-" suara dentingan vas yang berbenturan langsung dengan cermin memecah keheningan.


Meninggalkan pecahan cermin dan vas alessa memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.


Alessa berdiri di bawah shower menikmati air yang mengalir membasahi tubuhnya tanpa


melakukan pergerakan lain.


"Kau sangat kotor alessa!" ucapnya mengejek dirinya sendiri.


"Kau sangat kotor!" ucap alessa marah dan juga kecewa kepada dirinya sendiri.


Alessa menggosok berniat menghapus bekas kemerahan di tubuhnya, namun sekeras apapun alessa mencoba jelas itu tidak akan bisa. Gerakan yang di lakukan alessa justru semakin membuat rasa sakit pada tubuhnya.


Setelah merasa lelah alessa menghentikan kegiatannya meninggalkan shower dan beralih ke walk in closet untuk berpakaian, namun sayang walk in closet hanya menyediakan pakaian pria tanpa satupun pakaian wanita.


Alessa mengambil kemeja putih kebesaran yang hanya menutupi sampai sebatas paha atas lalu pergi meninggalkan walk in closet dan berniat kembali ke ranjang untuk beristirahat. Tetapi baru saja keluar dari walk in closet seseorang sudah berdiri membelakangi alessa di depan ranjang.


"Leo?" gumam alessa lirih membuat leonardo berbalik melihat ke arahnya.


Leonardo bergerak mendekati alessa yang masih terdiam lalu meraih pinggang alessa membuat mereka tidak berjarak.


"Cup-"


"Le-o" gumam alessa gugup mendapati leonardo yang mengecup tiba-tiba membuatnya terkejut.


Merasa tidak mendapatkan penolakan leonardo semakin leluasa hingga kecupan itu berubah menjadi lebih intens dan menuntut.


Merasa tidak puas leonardo membawa tubuh alessa menuju ranjang lalu mendorong tubuhnya ringan hingga membuat alessa kembali terlentang di atas ranjang dengan leo yang berada di atasnya.


Seperti terhipnotis alessa yang terkejut tidak melawan dan hanya mengikuti pergerakan yang di buat oleh leonardo.


Sementara itu leonardo terus menikmati bibir alessa dengan lebih menuntut dan mulai berani berpindah ke bagian leher juga telinga alessa.


"Ahh-" desah alessa lolos dari bibirnya membuat leonardo tersenyum puas.


Cukup lama ciuman itu berlangsung hingga leonardo menghentikan aksinya saat menyadari alessa mulai kesulitan bernafas.


Wajah alessa memerah merasa malu namun juga menikmati dengan nafasnya yang terengah-engah.


"Dengar alessa"


Leonardo masih menindih tubuh alessa dan menyatukan kening mereka hingga terasa deru nafas yang bersautan karena jarak yang begitu dekat.


"Setiap perintahku adalah keharusan!"


"Tidak ada bantahan ataupun penolakan!"


"Kau harus mengingat itu!" ucap leonardo menatap dingin alessa.


"Aku tidak menyukai bantahan!" ucap leonardo menatap mata alessa yang juga menatapnya dengan takut.


"Dan satu lagi alessa"


"Kau haru mengingat ini baik-baik" ucap leonardo serius masih menatap dingin alessa.


"Tubuhmu adalah milikku!" leonardo kembali melanjutkan ucapannya.


Alessa hanya diam tidak menjawab dan juga tidak memberontak, seperti apapun yang leonardo katakan dia menyanggupinya.


"Istirahatlah" ucap leonardo lalu menjauh meninggalkan alessa.


Alessa melihat punggung leonardo yang berjalan ke arah pintu lalu pergi meninggalkan alessa sendiri di kamar itu.


...----------------...


.


.


.


.


.


.


.


.


to be continue