The Flats

The Flats
CHAPTER 09



Dalam suasana yang semakin tegang, Rolan dan Anton melanjutkan wawancara mereka dengan penuh ketelitian. Kedua remaja ini berusaha mencari tahu segala informasi yang tersembunyi di balik proyek pembangunan ulang rumah susun tersebut.


"Berapa pekerja yang ikut dalam proyek pembangunan itu, Pak?" tanya Rolan dengan cermat.


"Menurut datanya ada 120 pekerja, dan terdapat 4 orang mandor," jawab pria botak itu dengan jelas, merujuk pada berkas-berkas yang ia pegang.


Kemudian Anton melanjutkan pertanyaannya, yang ternyata ia dapatkan dari percakapan dengan Rolan sebelumnya. "Kemudian pak, bagaimana dengan luas kamar dan luas bangunannya?"


"Luas setiap kamar 4 × 4 meter, sedangkan luas bangunan itu 498 m², berdasarkan data bangunan sebelum pembangunan ulang. Karena tidak banyak yang harus diperbaiki, kami hanya memperbaiki bagian yang hancur parah setelah kebakaran." jelas pria tua itu sambil mengacu pada berkas yang dipegangnya.


Namun, pertanyaan berikutnya yang diajukan oleh Rolan menyiratkan kecurigaan lebih lanjut. Rolan bertanya tentang rumor kecelakaan kerja yang terjadi selama pembangunan ulang.


"Tentu saja itu tidak benar, perusahaan kami sangat mementingkan keselamatan kerja, jadi hal seperti itu tidak mungkin terjadi," jawab pria tersebut dengan meyakinkan, tapi senyumnya sedikit dipaksakan, memperlihatkan tanda kebohongan.


Rolan dan Anton merasa ada yang tidak beres dengan pernyataan pria tersebut, namun mereka tetap mengendalikan emosi dan berpura-pura mempercayai jawaban yang diberikan.


"Mungkin itu saja, pak. Tapi jika bisa, kami ingin memotret file yang Bapak pegang," kata Anton dengan bijaksana, sambil memberi isyarat kepada Rolan untuk memberikan kesan mereka hanya ingin menambahkan bukti dalam tugas sekolah.


Tanpa kecurigaan, pria tersebut memberikan berkas-berkas itu kepada Anton. Dengan sigap, Anton memotret setiap halaman berkas yang ada, termasuk daftar nama pekerja beserta nomor telepon dan alamat mereka. Namun, ketika dia melihat isi berkas lebih detail, ia menyadari bahwa informasi yang tersedia sangat terbatas. Tidak ada denah atau cetak biru bangunan, hanya rincian ukuran dan bagian bangunan yang diperbaiki. Ini semakin meningkatkan kecurigaan mereka terhadap perusahaan tersebut.


Ketika selesai, Anton mengembalikan berkas itu dengan senyum tipis, berterima kasih atas kesempatan yang diberikan. Rolan dan Anton meninggalkan ruangan dengan perasaan penuh tanda tanya. Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan perusahaan ini, dan mereka bertekad untuk mencari jawaban atas semua misteri yang terungkap selama wawancara ini.


Setelah berhasil mendapatkan informasi yang mereka butuhkan, Rolan dan Anton segera memutuskan untuk segera pergi dari kantor perusahaan tersebut.


"Terus, abis ini kita kemana?" tanya Anton ketika mereka berdua berada di dalam lift. Matanya melirik singkat ke arah pria berjas hitam yang berdiri di depan mereka. Anton segera ingat bahwa informasi yang mereka dapatkan harus dijaga kerahasiaannya. Mereka tidak boleh diketahui oleh siapapun, termasuk sekretaris ayah Anton yang menyertainya tadi. Anton harus mencari cara untuk menghindari pengawasan orang tersebut.


Sesampainya di parkiran, Anton memberi alasan pada sekretaris ayahnya bahwa dia akan ke rumah Rolan untuk mengerjakan tugas sekolah. Namun, pria berjas hitam tersebut bersikeras untuk mengantarkan Anton ke rumah Rolan. Ia khawatir terjadi apa-apa pada tuan mudanya ketika naik motor. Meskipun Anton mencoba membuatnya pergi, pria berjas itu sulit untuk diusir. Akhirnya, mereka berangkat menuju rumah Rolan dengan dua kendaraan yang berbeda.


Setelah Pak Adam pergi, suasana di ruangan tersebut berubah drastis. Rolan dan Anton merasakan sebuah kelegaan besar karena akhirnya mereka bebas dari pengawasannya. Mereka telah menunggu momen ini dengan sabar, dan kini mereka bisa melanjutkan penyelidikan mereka tanpa harus terbatasi.


Rolan mengambil napas dalam-dalam, lalu berbicara dengan nada bersemangat, "Akhirnya kita bisa melanjutkan pekerjaan kita tanpa harus memikirkan pantauan dari Pak Adam. Kita harus cepat bertindak sekarang."


Anton setuju, "Betul sekali. Waktu kita terbatas, dan kita harus mengumpulkan semua informasi yang kita butuhkan secepat mungkin."


Saat itulah, mereka merasa semangat dan percaya bahwa mereka berada di jalur yang benar. Namun, mereka juga menyadari bahwa pekerjaan mereka belum berakhir. Masih ada banyak misteri yang harus dipecahkan dan tantangan yang harus mereka hadapi.


Rolan duduk di meja panjang yang penuh dengan stapler, pena, dan telepon. Dia membuka daftar yang telah dibagi dua olehnya. Daftar tersebut berisi 124 nama orang yang harus mereka hubungi dalam misi penyelidikan mereka. Dia melirik jam dinding, mengingat bahwa waktu adalah aset berharga dalam pekerjaan ini. Tanpa banyak penundaan, Rolan mulai menelusuri daftar itu dan menghubungi orang pertama yang ada di daftar.


Sementara itu, di meja seberangnya, Anton juga duduk dengan serius. Dia mengecek daftar yang berisi nomor dari enam puluh tiga hingga seratus dua puluh empat. Tumpukan kertas yang berisi nama-nama orang tersebut terlihat menakutkan, tapi Anton tidak boleh menyerah.


Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, membiarkan suasana ruangan semakin terasa suram. Rolan dan Anton, keduanya duduk bersandar di meja panjang yang kini penuh dengan daftar nama dan nomor telepon. Ekspresi kelelahan dan kekecewaan tergambar jelas di wajah mereka.


"Tiga puluh nomor lebih, Rolan, dan tak satupun yang mengangkat telepon kita," ucap Anton dengan suara lelah.


Mereka merenung sejenak, berusaha mencari cara untuk mengatasi situasi ini. Hanya ada satu cara yang terlintas dalam pikiran mereka: harus mendatangi orang-orang ini secara langsung. Itu akan menjadi tugas yang lebih melelahkan, namun mereka tidak punya banyak pilihan.


"Baiklah, kita lakukan ini," ujar Rolan dengan tekad baru. "Kita datangi mereka satu per satu, mungkin dengan bertemu langsung, mereka akan lebih terbuka."


Anton tidak setuju dengan rencana itu, karena tubuhnya sudah begitu lelah.


"Jika tidak ada yang mengangkatnya sampai nomor terakhir, ayo kita datangi mereka." Balas Anton


Saat cahaya langit mulai meredup, Rolan dan Anton merasa hampir putus asa. Setelah sejumlah panggilan tanpa jawaban, mereka menemui sebuah nomor yang terlihat menjanjikan di tengah daftar, yaitu Barnus Bart. Rolan menggenggam ponselnya dengan hati-hati dan menekan nomor tersebut. Dalam ketegangan, ponsel mereka akhirnya terhubung dengan suara seorang pria dari balik telepon.


"Halo," suara berat pria itu bergema di telinga mereka.


Rolan dengan hati-hati mengutarakan maksudnya, "Maaf, jika mengganggu waktunya. Apakah benar ini Bapak Barnus Bart?"


"Iya, ada apa? Siapa ini? Ada perlu apa?" sahut suara itu bertubi-tubi, seolah ragu dengan panggilan tersebut.


"Saya seorang siswa dari Bluestar, sedang mendapat tugas dari sekolah, terkait klipping tentang pembangunan ulang rumah susun. Boleh kami tanya-tanya sedikit, Pak?" tanya Rolan dengan penuh kesopanan.


Barnus Bart terdengar cemberut, "Saya tidak tahu banyak soal itu. Ganggu orang lain saja."