
Sepulang dari rapat tersebut, para anggota klub detektif segera kebali kerumah masing. David salahh satunya, ia sudah berada dirumahnya dan tidak keluyuran lagi seperti biasanya. Ketika langit sudah larut malam, David duduk sendirian di kamarnya dengan cahaya redup dari lampu meja. Ponselnya bergetar dengan pesan masuk. Ia mengambil ponselnya dan membukanya. Ternyata, pesan tersebut dari Allvar, ketua geng Redmoon yang mereka temui sebelumnya.
"Dav, besok orang bertudung itu akan datang untuk mengambil uangnya. Kita harus tangkap dia sebelum dia pergi," demikian isi pesan dari Allvar.
David merasa detak jantungnya berpacu lebih kencang. Ini adalah petunjuk yang mereka tunggu-tunggu, tetapi juga membawa risiko besar. Ia segera membuka grup chat detektif dan mengetik pesan singkat untuk teman-temannya.
"Semuanya, ada kabar penting dari Allvar. Orang bertudung akan datang besok untuk mengambil uang. Kita harus bergerak cepat. Ada yang bisa keluar besok malam?"
Setelah beberapa saat, satu per satu balasan masuk.
Rolan: "Saya siap."
Anton: "Saya juga."
Riri: "Count me in."
Arsen: "Tentu saja."
Semua telah memberikan persetujuan mereka. Mereka bersiap-siap untuk tindakan berikutnya. David menghela nafas lega, merasa senang bahwa teman-temannya juga siap untuk menghadapi risiko ini. Dengan semangat yang menggebu-gebu, mereka akan berusaha mengungkap identitas sesungguhnya dari Smith dan apa yang sebenarnya terjadi di balik misteri ini. Dalam kegelapan malam, cahaya semangat mereka tetap bersinar terang, memandu mereka menuju pencerahan yang mereka cari.
Di tengah malam yang gulita, lima bayangan berdiri tegak di depan gedung terlantar yang menjadi lokasi pertemuan mereka. Cahaya rembulan hanya cukup untuk menerangi sekitar mereka dengan warna kebiruan yang tenang. Dalam keremangan itu, wajah-wajah mereka penuh dengan ketegangan dan semangat untuk menyelesaikan misteri yang menghantui mereka.
Di dalam gedung terlantar yang gelap, kelima anggota klub detektif berkumpul dalam cahaya yang redup. Arsen, dengan rambutnya yang tampak hitam pekat dalam kegelapan, berdiri di tengah-tengah mereka. Dia menyusun rencana mereka dengan cermat, pandangan mata tajamnya menyorot masing-masing wajah di hadapannya.
"Arsen, apa kita harus menggunakan sinyal komunikasi untuk tetap terhubung?" tanya Riri, dengan suara yang rendah dan waspada.
"Aku pikir itu adalah ide bagus, Riri," jawab Arsen, senyumannya yang samar tampak dalam cahaya remang-remang. "David, kamu bisa mengatur sinyal itu. Pastikan kita bisa berkomunikasi tanpa masalah."
David, dengan ekspresi tegasnya, mengangguk setuju. Dia tahu bahwa detil semacam itu bisa menjadi kunci penting dalam menjaga koordinasi mereka yang efektif di lapangan.
"David, kamu dan Rolan akan berada di sudut sana," lanjut Arsen, menunjuk ke arah tertentu di gedung tersebut. "Anton dan aku akan mengambil posisi di sini. Ingat, kita harus tetap diam dan hati-hati."
David dan Rolan mengangguk, merespons dengan serius. Mereka tahu betapa pentingnya menjaga keheningan dan ketenangan dalam situasi semacam ini.
"Arsen, bagaimana jika kita berhasil menangkapnya?" tanya Rolan, ekspresi penuh semangat di wajahnya.
Arsen tersenyum, memancarkan keyakinan dalam setiap kata yang dia ucapkan. "Jika kita berhasil menangkapnya, kita akan memastikan dia memberikan semua jawaban yang kita butuhkan. Kita akan mengungkap kebenaran di balik semua ini."
Pertemuan ini adalah momentum yang sangat penting. Dalam cahaya remang-remang yang menerangi wajah-wajah mereka, mereka merasakan semangat dan tekad yang tak tergoyahkan. Kegelapan malam mungkin melingkupi mereka, tetapi tekad mereka menerangi jalan mereka menuju kebenaran.
Riri, yang pandangannya fokus di kegelapan malam, mengamati gedung terlantar di depan mereka dengan cermat. Ia memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi, siap untuk beradaptasi dengan situasi yang berubah-ubah.
Rolan, dengan pandangan tajamnya, memahami urgensi dari tugas mereka. Ia siap untuk mengambil peran yang diberikan, dengan keyakinan bahwa usaha mereka akan membawa mereka lebih dekat pada kebenaran yang mereka cari.
Sesaat kemudian, cahaya dari lampu jalan memantulkan bayangan seorang pria bertudung yang mendekati gedung terlantar. Suara langkah kakinya yang pelan memecah keheningan malam. Setiap anggota klub detektif memusatkan perhatian pada pria itu, jantung mereka berdetak semakin kencang.
Seketika, semangat petualangan dan semangat untuk mengungkap misteri ini memenuhi mereka. Dalam gelapnya malam yang penuh rahasia, lima sosok ini bersiap untuk beraksi, dengan keyakinan bahwa tindakan mereka akan membawa kebenaran yang mereka cari selama ini.
Di balik bayangan yang lembut, kelima anggota klub detektif bergerak dengan hati-hati di dalam gedung terlantar. Dalam posisi yang tersembunyi, mereka melihat ketua Red Moon datang dengan langkah mantap. Sebuah pertemuan rahasia yang penuh dengan ketegangan dan risiko sedang berlangsung.
Seiring langkah Ketua Red Moon yang berhenti, sebuah pertukaran uang terjadi. Kegelapan malam membuat detail terlihat samar, tetapi mata mereka tetap terfokus pada adegan yang sedang terjadi di depan mereka. Tangan yang meraih uang, ekspresi perhatian yang begitu serius, dan kedua belah pihak yang tampak waspada.
Saat uang berpindah tangan, anggota klub detektif mengandalkan setiap indera mereka untuk mengamati setiap gerakan. Saat orang bertudung memeriksa uang, mereka merasakan adrenalin mengalir lebih cepat. Inilah saatnya, saat mereka harus bertindak.
Namun, saat mereka melangkah keluar dari tempat persembunyian mereka, orang bertudung tiba-tiba menjadi sangat waspada. Dengan reaksi yang cepat, dia melepaskan diri dari cengkeraman mereka. Pintu yang sebelumnya mereka tutup terbuka dengan keras, dan bayangan misterius itu menerobos keluar.
Kejar-kejaran pun dimulai. Di dalam kegelapan gedung terlantar yang runtuh, langkah-langkah mereka beresonansi di lorong-lorong yang seolah-olah membingungkan mereka. Setiap tikungan menambahkan ketidakpastian, dan angin malam yang berhembus membuat suasana semakin menegangkan.
Arsen dan David melangkah dengan hati-hati, mata mereka terbiasa dengan gelap yang mengelilingi mereka. Mereka berusaha mengikuti jejak orang bertudung yang baru saja menerobos pintu. Suara langkah mereka terdengar seperti gema di antara tembok-tembok yang hancur.
Di tempat lain dalam gedung, Rolan dan Riri merayap dengan cekatan. Cahaya redup dari senter yang mereka bawa mengungkapkan pemandangan yang suram. Debu dan puing-puing menunjukkan bahwa tempat ini ditinggalkan bertahun-tahun lamanya. Mereka merasa adrenalin membanjir ketika suara langkah mereka menyatu dengan kerlipan senter.
Tiba-tiba, suara langkah berhenti. Semua anggota klub detektif merasa napas mereka tertahan. Mereka berhenti sejenak, mencoba mendengarkan dengan seksama di tengah kegelapan yang mencekam.
"Aku dengar suara napas," bisik Riri, matanya merunduk pada senter yang memancar terang.
Semua orang menghentikan langkah mereka, dan suasana semakin menegangkan. Napas mereka serentak mengikuti detak jantung yang berpacu.
Lalu, terdengar suara langkah kaki yang cepat. Orang bertudung itu berlari, dan tanpa berpikir, semua anggota klub detektif mulai berlari mengikuti suara itu. Lorong-lorong gelap seperti labirin, tetapi tekad mereka tidak goyah. Adrenalin memacu mereka maju, merayap di antara reruntuhan dan mengejar bayangan yang tak terlihat.
Keheningan malam hanya terputus oleh suara langkah kaki dan desir angin. Di dalam kegelapan, sebuah teka-teki berjalan dengan cepat menuju jawabannya, dan mereka berharap kejar-kejaran ini akan membawa mereka lebih dekat pada kebenaran yang mereka cari.
Namun, usaha mereka tidak membuahkan hasil. Orang bertudung menghilang begitu saja, meninggalkan mereka dengan rasa frustrasi dan kebingungan. Meskipun mereka mencari jejak dengan teliti, tidak ada yang dapat mereka temukan selain fakta bahwa orang itu adalah seorang pria.
Dalam kegagalan itu, langit malam terus menutupi misteri yang semakin rumit. Waktu berdetak, dan ancaman terhadap kakak Hana semakin mendesak. Di tengah gelapnya malam, kelima anggota klub detektif harus bersiap untuk langkah-langkah berikutnya, sambil mempertimbangkan semua petunjuk yang mereka peroleh dan menjaga semangat mereka tetap berkobar.