The Flats

The Flats
CHAPTER 05



Di ruangan kecil tersebut yang dihiasi dengan poster-poter misteri dan papan pengumuman berwarna-warni, anggota klub detektif telah berkumpul. Suara gemericik tawa dan percakapan ringan terdengar, menandakan bahwa semangat mereka hadir dalam pertemuan ini.


Rolan, pemimpin klub detektif, membuka pembicaraan dengan ekspresi ramah dan penuh rasa terima kasih, "Makasih udah pada dateng dan nyempetin waktu buat kesini. Gue tau kalian pasti pada sibuk sama urusan masing-masing."


"Kita disini buat ngebahas tentang kasus pertama yang akhirnya bisa kita kerjain setelah sekitar 2 bulan berdiri tapi belum ada kasus," lanjut Rolan dengan semangat.


"Akhirnya, ada juga kasus yang bisa kita tangani!" ujar David dengan rasa gembira.


Rolan kemudian melanjutkan, "Orang yang memakai jasa klub kita bernama Hana Almaira. Mungkin Sella kenal karena berasal dari kelas yang sama. Kelas XI IPA 5."


Sella mengangguk mengiyakan.


"Iya, aku kenal Hana tapi gak dekat, hanya sebatas kenal," ucap Sella dengan senyum ramah. "Dia cewek yang cukup pendiam di kelas. Meskipun begitu, gak ada yang berani gangguin dia. Pas kelas satu, ada yang pernah nyoba ganggu dia, dan cerita itu berakhir tidak menyenangkan bagi orang yang menganggunya. Mereka berkelahi di belakang kelas, saling menjambak rambut," lanjutnya sambil menggelengkan kepala, mengingat insiden masa lalu yang mungkin tak terlupakan bagi Hana.


Sella melanjutkan, "Karena dia anak yang pintar di kelasku dan selalu menaati peraturan, tentu saja guru lebih mempercayai perkataannya daripada seorang siswi yang sering membuat keributan. Dia juga mendapatkan beasiswa penuh dari sekolah karena selain pintar, dia juga dari keluarga yang kurang mampu."


Sella melanjutkan lagi, "Dia tinggal di rusun dekat sekolah ini dan hanya tinggal bersama dengan kakak perempuannya. Setahuku kakaknya bekerja sebagai pegawai di perusahaan 2T."


"Mereka hanya tinggal berdua? Kenapa mereka harus tinggal di rusun itu? Tadi lo bilang kakak Hana bekerja di 2T, walaupun hanya pegawai biasa, namun gaji di 2T itu besar, mereka pasti bisa menyewa rumah? Terlebih Hana itu penerima beasiswa," ucap Riri penuh kebingungan, mencoba memahami situasi yang rumit ini.


Sella menatap Riri dengan penuh empati, dan dia pun menjawab, "Sulit bagi mereka berdua untuk bertahan hidup. Orang tua mereka sudah lama meninggal dalam kecelakaan mobil, dan hanya meninggalkan hutang yang banyak untuk mereka berdua. Tentu saja kakak Hana yang harus membayar hutang kedua orang tua mereka."


Arsen yang duduk di sebelah David, tampak sangat penasaran dengan kasus pertama mereka. Tidak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Hana dan kakaknya.


"Si Hana itu memangnya mau kita melakukan apa?" tanya Arsen, dengan ekspresi serius di wajahnya.


Hening sejenak, hingga pria berkacamata itu akhirnya menjawab, "Cewek itu meminta kita untuk menyelidiki tentang hal yang terjadi di rumah susun itu...." Ia berhenti sejenak, melihat satu per satu ekspresi teman-temannya yang semakin serius dan tertarik.


"Maksudmu tentang kasus bunuh diri yang terjadi di rusun itu," tanya Arsen, memastikan informasi yang baru saja didengarnya.


Rolan mengangguk, mengkonfirmasi perkataan Arsen, dan suasana di ruangan itu semakin tegang.


"Iya, menurut yang dikatakan Hana, di rumah susun itu terus terjadi bunuh diri yang dia kira terjadi karena uang dengan angka 666 dengan noda coklat yang menghiasinya," ujar Rolan, menyampaikan informasi yang membuat suasana semakin mencekam.


David memegang tengkuknya dengan ekspresi yang agak cemas, "Agak horor kan?"


Arin mengungkapkan rasa kebingungannya, "Apa hubungannya Hana dengan hal itu? Kenapa dia harus tahu?"


"Beberapa hari sebelum bunuh diri, tetangganya yang tinggal di lantai tujuh memperlihatkannya uang dengan angka 666 itu. Jadi Hana tahu pasti tentang uang itu. Nah, menurut dugaannya, uang yang sama yang diperlihatkan tetangganya itu sekarang berada di tangan kakaknya. Aneh kan?" jelas Rolan dengan penuh perhatian.


David berpikir sejenak dan berpendapat, "Tapi menurut gue bisa aja malah kakaknya yang bersalah dan ngambil uang itu."


Pendapat David tersebut memancing Viona untuk memberikan pandangannya, "Itu bisa juga terjadi. Tapi menurutku, uang itu digunakan untuk mencari tumbal? Mungkin itulah alasan kenapa mereka bunuh diri?"


"Yah sekarang kita hanya bisa menerka-nerka. Jadi jika ingin tahu kebenarannya harus kita selidiki," ujar Rolan dengan serius, membuka percakapan.


Mendengar ucapan ketua klub, anggota lainnya mengangguk setuju. Mereka sadar bahwa untuk mengungkap kebenaran, langkah pertama yang harus diambil adalah melakukan penyelidikan secara menyeluruh.


"Kalian semua pasti udah pada tahu tentang kasus bunuh diri yang terjadi di rumah susun itu," lanjut Rolan.


Arsen, dengan wajah penuh keyakinan, menyampaikan informasi yang dia ketahui, "Udah ada 6 bunuh diri yang terjadi di gedung itu."


Namun, Anton segera memotong, "Enam? Bukannya baru lima?"


Riri menimpali dengan penuh keyakinan, "Iya, setahu gue juga baru lima. Gini-gini gue rajin nonton berita dan baca koran."


Tampaknya perbedaan informasi ini menimbulkan keraguan di antara mereka. Namun, Arsen tetap yakin dengan pengetahuannya, "Gue setuju sama Arsen, menurut yang gue tahu emang udah ada 6 orang yang bunuh diri."


Arin juga turut membenarkan pendapat Arsen, "Betul, menurut yang aku tahu juga ada enam orang yang bunuh diri, satunya merupakan kecelakaan kerja namun ditutupi seperti bunuh diri."


"Tentu saja, kita perlu mengklarifikasi informasi ini lebih lanjut. Jadi mending kita bagi tugas untuk menyelidiki lebih dalam tentang setiap kasus bunuh diri dan kecelakaan yang terjadi di rumah susun itu," usul Rolan dengan tekad.


Penuh semangat, anggota klub detektif ini siap menghadapi perjalanan panjang dalam menemukan kebenaran di balik misteri yang tersembunyi di rumah susun tersebut. Dalam pencahayaan remang-remang ruangan, mereka saling mengangguk, siap untuk memecahkan teka-teki yang menghadang di hadapan mereka. Petualangan mereka baru saja dimulai, dan dengan keyakinan dan kerja sama, mereka percaya bahwa misteri ini akan terpecahkan.


Para anggota klub detektif terdiam sejenak, merenungkan informasi yang baru saja diungkapkan oleh Arsen dan Viona. Percakapan tentang kasus bunuh diri di rumah susun kini membuka jendela baru dalam penyelidikan mereka.


"Kalian pasti cuman tahu kasus setelah pembangunan. Ada satu kasus sebelum pembangunan. Gue tau karena abang gue yang nanganin kasusnya," ujar Arsen dengan serius.


Arsen melanjutkan dengan menjelaskan bahwa sebelum tempat itu selesai dibangun, telah terjadi satu kasus bunuh diri yang menyerupai kasus yang terjadi setelah pembangunan. Semuanya tewas dengan cara yang sama, yaitu dengan melompat dari gedung tersebut. Kasus itu pun ditutup sebagai kasus bunuh diri.


"Bukannya aneh kalo itu dari sebelum pembangunan? Berarti uang itu gak ada sangkut pautnya doang walaupun punya tandanya 666. Jadi bisa aja mereka itu sebenernya tumbal proyek, kalian tau kan proyek besar itu biasanya butuh tumbal buat hilangin sial," papar Viona dengan pandangan tajamnya.


Namun, David merasa tidak yakin dengan penjelasan Viona. "Lu mah aneh-aneh aja, anjir gue jadi merinding. Kalo tuh pekerja itu jadi tumbal proyek terus kenapa 5 orang yang tinggal disitu juga mati? Tumbal proyek itu cuman pas pembangunan doang kan?" tanya David dengan wajah penuh ketakutan.


"Mungkin tumbalnya terus akan berlanjut sampai roh di gedung itu tenang," jawab Viona dengan pikiran kreatifnya.


"Udah. Sebelum kita berpikir yang makin aneh, mending kita cari bukti dan balik lagi ke sini pas hari senin, kebetulan besok udah sabtu. Kita bisa masukin ini sebagai agenda klub," ujar Rolan dengan bijak.


Dia kemudian membagi tugas kepada anggota klub detektif lainnya. Arin, Viona, Riri, dan David akan mencoba mengunjungi rumah susun itu lagi untuk mencari petunjuk lebih lanjut. Sella dan Arsen akan mencari informasi dari kakak Arsen mengenai kasus-kasus bunuh diri yang telah terjadi sebelumnya.


Saat Sella menunjukkan ekspresi imutnya dan menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan David, Rolan dengan tegas menyuruhnya untuk bergabung dengan Arsen dalam misi itu. Dia mengetahui bahwa Sella memiliki kemampuan untuk mendapatkan informasi dengan cepat, terutama dari kakak Arsen yang sudah dikenalnya.


"Udah, lu sama Arsen aja. Lu kan kenal sama kakaknya. Pasti gampang buat dapet informasi, apalagi kalo lu yang nanya. Cari aja alasan supaya dia mau membantu, misalnya bilang aja ini buat tugas. Jangan sampe ada yang tahu tentang penyelidikan kita. Jika ada yang tanya, berikan saja alasan yang masuk akal," tambah Rolan memberikan saran bijak kepada Sella.


Setelah berdiskusi, mereka pun bubar dari ruangan klub detektif dan pulang ke rumah masing-masing. Dengan tekad yang bulat, mereka siap untuk menghadapi tantangan selanjutnya dalam menyelidiki kasus misterius tersebut. Senin pagi yang akan datang menandai awal dari petualangan baru mereka dalam mencari kebenaran di balik tragedi bunuh diri di rumah susun itu.