The Flats

The Flats
CHAPTER 10



Namun, Anton yang tidak ingin menyerah, berusaha memberikan insentif agar Barnus mau memberikan informasi. "Begini saja, Pak, saya akan mengirimkan uang sebagai bentuk terima kasih jika Bapak bersedia diwawancara. Mohon sebutkan nomor rekening Anda."


Barnus Bart kembali merespon dengan nada yang keras, "Berapa banyak uang yang bisa anak SMA berikan?"


"Seberapa banyak yang Bapak inginkan?" tantang Anton, tetap tak menyerah.


"Dua puluh juta," jawab Barnus Bart dengan penuh ketus.


Tanpa ragu, Anton mengiyakan, "Silakan kirimkan nomor rekening Anda, dan uang akan segera saya kirimkan."


Setelah beberapa saat, pesan masuk berisi nomor rekening dari Barnus Bart. Anton langsung menindaklanjuti dan mengirimkan uang sesuai kesepakatan. Kegembiraan terdengar dari suara di balik telepon.


"Apakah uangnya sudah masuk?" tanya Anton dengan antusias.


Barnus Bart dengan riang mengkonfirmasi dan menyetujui untuk diwawancarai.


"Baiklah, silahkan Anda bertanya, pasti akan saya jawab," kata suara itu akhirnya dengan semangat.


Setelah menjanjikan bahwa identitas pria di ujung telepon akan tetap dirahasiakan, suasana di ruangan menjadi lebih tenang. Rolan menggenggam erat ponsel tersebut, siap mencatat setiap kata yang keluar dari mulut pria tersebut.


"Pertanyaan pertama saya, apakah Bapak tahu berapa banyak pekerja yang terlibat dalam proyek pembangunan ulang itu?" tanya Rolan dengan suara tenang.


"Saya kurang tahu secara pasti, tapi jumlahnya lebih dari seratus orang. Mandornya sendiri berjumlah empat orang," jawab suara di telepon.


Rolan melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, "Bagaimana dengan kualitas bahan yang digunakan?"


"Bahan-bahannya dipilih yang berkualitas rendah. Mereka menganggap pondasi bangunan lama sudah kuat, jadi tidak perlu terlalu memperhatikan perbaikan yang mendalam," jelas pria tersebut.


Rolan berusaha mendapatkan informasi yang lebih mendalam, "Bagaimana dengan keselamatan kerja selama proses pembangunan ulang?"


Barnus Bart terdengar agak kesal, "Keselamatan kerja sangat buruk. Penggunaan alat pengaman sangat minim, bahkan ada pekerja yang meninggal dalam kecelakaan, tetapi sayangnya kasus itu ditutupi oleh pihak atas perusahaan."


Sementara itu, Anton masih sibuk mencoba menghubungi beberapa nomor dari daftar yang dia pegang. Namun, tak satu pun nomor tersebut memberikan jawaban. Kebanyakan nomor sudah tidak aktif.


Kembali ke percakapan Rolan dengan pria di telepon, "Apakah posisi Bapak saat proyek itu berlangsung?"


"Saya adalah salah satu mandor di proyek tersebut. Proyek itu penuh dengan masalah," ungkap suara berat itu.


Rolan dan Anton saling pandang. Informasi yang mereka dapatkan sangat berharga, tetapi juga sangat mengkhawatirkan. Proyek pembangunan ulang ini tampaknya penuh dengan masalah mulai dari kualitas bahan yang rendah hingga keselamatan kerja yang diabaikan.


"Masalah seperti apa?" tanya Rolan, mencoba mengorek informasi yang lebih dalam.


Barnus Bart terdengar ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Sebelum pembangunan ulang dimulai, area itu sebenarnya sudah disterilkan dari para gelandangan. Namun, ternyata masih banyak gelandangan yang muncul saat proyek berlangsung. Beberapa di antaranya bahkan pernah menyerang para pekerja. Selain itu, terjadi kasus orang yang bunuh diri saat pembangunan berlangsung. Sebelumnya, gedung itu tidak memiliki pengaman, dan seorang buruh konstruksi melompat dari lantai empat. Saya juga tidak terlalu tahu banyak detailnya, tapi sehari sebelum kejadian itu, kami pulang lebih cepat sebelum jam lima karena ada perkiraan badai. Kemudian, malamnya memang terjadi badai yang sangat deras, dan esoknya, seorang pekerja yang datang pertama kali menemukannya telah meninggal."


Rolan berusaha mendalami informasi lebih lanjut, "Apakah Robert memang memiliki musuh atau pernah bertingkah aneh?"


Barnus Bart tertawa getir, "Wah, kau menanyakan seperti seorang polisi. Saya juga kurang yakin apakah dia punya musuh atau tidak.."


Tak berhenti di situ, Rolan ingin mencari tahu lebih banyak, "Apakah Anda tahu nama gelandangan yang menjadi teman Robert?"


Barnus Bart merenung sejenak sebelum menjawab agak ragu, "Kalau tidak salah, Robert memanggilnya Smith."


Cerita semakin mencekam dengan informasi yang didapatkan dari Barnus Bart. Rolan dan Anton menyadari bahwa proyek pembangunan ulang ini lebih rumit daripada yang mereka kira. Masalah-masalah yang terjadi selama pembangunan tampaknya melibatkan berbagai pihak, dan nama-nama seperti Robert dan Smith menjadi kunci untuk mengungkapkan kebenaran di balik proyek ini.


Suasana di ruangan semakin terang ketika matahari mulai terbenam. Rolan masih ingin mencari informasi lebih lanjut tentang Robert, terutama tentang hubungannya dengan orang lain.


"Selain para gelandangan, Robert dekat dengan siapa lagi?" tanya Rolan sambil menggenggam ponselnya.


Barnus Bart memikirkan sejenak sebelum menjawab, "Dia paling dekat dengan dua orang, Kenneth dan Garren. Mereka sudah kenal sejak lama."


Rolan kemudian bertanya tentang cetak biru bangunan itu, "Saat pembangunan, apakah tidak ada cetak biru bangunan itu?"


Terkait pertanyaan tersebut, Barnus menjawab, "Tentu saja ada, bagaimana bisa ada pembangunan tanpa cetak biru? Sayangnya, setelah proyek dimulai, cetak biru itu hilang."


Rolan penasaran, "Apakah itu dicuri? Atau apakah para pekerja yang mengambilnya?"


Barnus memberikan penjelasan, "Saya juga tidak tahu pasti. Tapi para pekerja tidak suka berada di tempat itu, terutama setelah ada kematian salah satu pekerja. Mereka bahkan berpikir bahwa tempat itu telah dikutuk. Jadi mungkin mereka tidak tertarik untuk mengambil cetak biru itu."


Setelah mendapatkan informasi yang cukup berharga, Rolan mengucapkan terima kasih kepada Barnus dan berjanji akan menghubungi lagi jika ada pertanyaan lebih lanjut terkait tugas mereka.


Barnus Bart berterima kasih kembali dan mengakhiri panggilan tersebut. Dengan hati-hati, Rolan dan Anton menyimpan semua catatan yang mereka peroleh dari percakapan penting itu.


"Akhirnya kita mendapatkan petunjuk," ujar Rolan dengan lega.


"Di antara yang lain, aku yakin kita yang paling bekerja keras," balas Anton, merasa puas dengan hasil yang mereka peroleh.


Namun, ketika Anton menyebutkan tentang uang yang telah dia transfer, Rolan menganggapnya agak gila.


"Tapi, kamu gila juga memberikan uang sebanyak itu. Mengapa tidak mencari informasi dengan cara lain?" tanya Rolan bingung dengan kelakuan temannya yang terlihat boros.


Anton hanya tersenyum, "Orang-orang akan lebih mudah berbicara jika diberikan insentif. Percayalah, ini akan sangat membantu dalam penyelidikan kita."


Setelah itu, Rolan melanjutkan untuk menelepon orang-orang yang tersisa di daftar. Beberapa nomor diangkat, namun informasi yang mereka dapatkan tidak terlalu signifikan. Ada juga beberapa nomor yang sudah tidak aktif. Akhirnya, karena telah sore, mereka memutuskan untuk menghentikan penyelidikan mereka dan bersepakat untuk bertemu lagi pada hari Senin.


Malam semakin larut ketika mereka meninggalkan ruangan, tapi semangat mereka tidak redup. Mereka tahu bahwa ini baru awal dari petualangan penyelidikan mereka, dan tantangan yang menantang masih menanti di depan.