
Setelah melewati hari sekolah yang rutin, Rolan dan David mengikuti rencana yang telah mereka susun sebelumnya. Dengan semangat untuk mengungkap kebenaran di balik nama "Smith," mereka berdua memutuskan untuk mengunjungi kantor pencatatan sipil setempat. Keduanya berjalan dengan langkah mantap menuju gedung itu.
Mereka tiba di sebuah bangunan tua dengan pintu-pintu kaca besar yang sudah sedikit buram. Logo kantor pencatatan sipil terpampang di atas pintu, mengindikasikan bahwa ini adalah tempat yang tepat. Dengan berani, mereka masuk ke dalam.
Di dalam, suasana ruangan terasa canggung. Terdapat beberapa orang yang tengah menunggu giliran dan beberapa petugas yang sedang sibuk di meja-meja mereka. Rolan dan David bergantian melirik satu sama lain, saling memberi semangat untuk menghadapi situasi ini.
Rolan dan David berdiri sejenak, mencari tahu bagaimana cara terbaik untuk mendekati pegawai yang akan mereka ajak berbicara. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mendekati salah satu pegawai yang tengah duduk di meja pendaftaran.
Pegawai tersebut tersenyum ramah saat mereka mendekat. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
David memberi senyuman balasan. "Kami sebenarnya sedang melakukan survei untuk tugas sekolah kami. Kami mencari informasi tentang beberapa orang yang memiliki nama belakang Smith."
Pegawai itu mengangguk paham. "Tentu, saya bisa membantu. Silakan tunggu sebentar."
Dia mulai mengetik di komputernya dengan cermat, mencari informasi yang diminta.
Saat menunggu, David dan Rolan melihat sekeliling ruangan, mencoba meresapi suasana dan aktivitas di kantor tersebut. Terdapat beberapa orang yang tengah berbicara dengan petugas, sementara yang lain menunggu dengan kesabaran. Aktivitas di sana terasa begitu beragam, mungkin mencerminkan berbagai kehidupan dan cerita di balik setiap nama yang tercatat.
Setelah beberapa saat, pegawai tersebut menoleh dengan senyuman. "Saya menemukan beberapa nama Smith yang mungkin Anda cari. Mari saya berikan informasinya."
Rolan dan David mendekat ke meja, dengan perasaan campur aduk antara harapan dan keingintahuan. Pegawai tersebut mulai menjelaskan satu per satu tentang nama-nama yang mereka cari, memberikan informasi dasar seperti tanggal lahir dan alamat terakhir yang tercatat.
Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat setiap informasi yang diberikan. Saat pembicaraan berlangsung, mereka juga terlibat dalam diskusi yang lebih mendalam tentang masing-masing individu yang disebutkan. Pegawai tersebut dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, memberikan wawasan yang lebih jelas tentang para individu tersebut.
Rolan dan David duduk di depan meja pegawai pencatatan sipil. Ruangan ini penuh dengan suara gemerisik kertas dan suara pena yang mencatat dengan cermat setiap informasi yang mereka dapatkan. Pegawai tersebut berbicara dengan suara tenang dan jelas, menjawab setiap pertanyaan mereka dengan sabar.
"Jadi, yang pertama adalah Alfred Smith. Dia tinggal di Jalan Kelinci No. 12. Pekerjaan... tukang kebun," ucap pegawai itu sambil melihat catatan di layarnya.
Rolan mencatat dengan cermat di bukunya, memastikan detail-detail tersebut tidak terlewatkan. Sedangkan David, dengan laptopnya, menyusun daftar dengan rapi berdasarkan informasi yang didapat.
"Kemudian, ada Catherine Smith. Alamatnya di Jalan Merpati No. 5. Dia bekerja sebagai perawat di rumah sakit sekitar sini," lanjut pegawai tersebut.
David menganggukkan kepala, mengetik dengan cepat saat ia menyimpan informasi tersebut dalam daftar elektroniknya. Suasana di ruangan itu tetap tenang, dengan aroma buku catatan dan lembaran-lembaran dokumen yang mengisi udara.
"Selanjutnya adalah Daniel Smith. Alamatnya... Jalan Anggrek No. 7. Pekerjaannya... sopir truk," ujar pegawai itu lagi.
Sambil menyimak, Rolan mencoba membayangkan seperti apa wajah dan kehidupan dari orang-orang yang namanya terdapat dalam daftar ini. Mereka tidak hanya mengumpulkan nama-nama, tetapi juga alamat dan pekerjaan, mencoba menghubungkan setiap potongan informasi menjadi gambaran yang lebih lengkap.
"Pada saat yang sama, ada juga Emily Smith. Dia tinggal di... Jalan Mawar No. 15. Dia seorang mahasiswa di universitas sekitar," lanjut pegawai itu sambil menelusuri catatan.
David mengetik dengan begitu cepat, hampir seolah komputernya tidak mampu mengikuti ketukan jari-jarinya. Dia tahu betapa pentingnya mendokumentasikan setiap informasi ini.
"George Smith, tinggal di Jalan Melati No. 23. Pekerjaannya adalah seorang guru di sekolah dasar di dekat sini," ujar pegawai itu sambil menambahkan detail tentang alamat dan pekerjaan.
"Hannah Smth, alamatnya di Jalan Dahlia No. 8. Dia seorang pekerja sosial yang bekerja dengan anak-anak jalanan," lanjut pegawai itu.
Kehadiran Hannah Smith sebagai pekerja sosial tampaknya memiliki kontrast dengan informasi tentang orang-orang lain yang mereka temui. Mereka merasa bahwa ada begitu banyak latar belakang dan peran yang berbeda di balik nama-nama ini.
"Ian Smith, tinggal di Jalan Kenari No. 14. Pekerjaannya seorang penulis lepas," kata pegawai itu sambil memberikan informasi lain.
David menyadari bahwa dalam setiap nama dan detail yang diberikan, ada potensi alasan atau motif yang berbeda-beda terkait kasus ini. Seluruh informasi ini adalah puzzle yang mereka coba susun untuk membentuk gambaran yang utuh.
Terakhir, pegawai itu berkata, "John Smith, alamatnya di Jalan Anggrek No. 5. Smith John seorang petani."
Setelah mendapatkan semua informasi yang mereka butuhkan, mereka memberikan ucapan terima kasih kepada pegawai tersebut. Mereka meninggalkan ruangan dengan daftar nama-nama Smith serta informasi terkait di tangan mereka. Langkah mereka selanjutnya adalah memeriksa lebih lanjut tentang Smith John, mencari jejak dan kisah di balik kepergiannya yang misterius.
Pembicaraan terus berlanjut, dan Rolan serta David tetap mengikuti dengan penuh konsentrasi. Mereka merasa semakin mendekati titik terang dalam penyelidikan mereka. Di tengah aroma buku dan lembaran catatan, keingintahuan mereka semakin membara untuk mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi di balik nama-nama Smith ini.
Setelah mendapatkan informasi dari kantor pencatatan sipil, Rolan dan David merasa memiliki pijakan yang lebih solid untuk penyelidikan mereka. Dengan data dalam genggaman, mereka berbincang sejenak di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor pencatan sipil untuk memutuskan langkah selanjutnya.
Rolan duduk di meja dengan ekspresi yang penuh konsentrasi, memeriksa catatan yang berisi nama-nama Smith yang berhasil mereka kumpulkan. "Ternyata ada delapan orang dengan nama Smith di daerah ini," katanya sambil merunut jari di atas daftar mereka.
"Semuanya perlu kita periksa satu per satu," sahut David, ekspresi serius di wajahnya.
"Ya iyalah," Balas Rolan. "Kita gak boleh ngelewati detail sedikit apa pun."
Namun, sambil melanjutkan pembicaraan, Rolan tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa ada sesuatu yang mencolok di tengah daftar nama-nama itu. Seolah ada satu informasi yang belum terungkap sepenuhnya.
"Gue baru inget, kasus ini makin menarik aja," ujar Rolan, membuat David menoleh padanya.
"Lo inget apa?" tanya David, mata tertuju padanya.
Rolan mengangkat bahu dan menatap catatan di tangannya. "Gue baru inget, nama belakang pemilik gedung rumah susun itu sebelum direnovasi juga Smith. Namun, menurut berita dia menghilang setelah gedung ini terbakar. Tapi reputasinya bagus banget,gak mungkinkan dia ngelakuin kejahatan? tapi gue penasaran kenapa dia tiba-tiba ilang."
Percakapan langsung berhenti, digantikan oleh keheningan yang penuh dengan pikiran-pikiran berputar. Terdengar jelas bahwa ini adalah momen penemuan yang penting.
"Eh, tunggu dulu, lo bilang pemilik rumah susun itu juga punya nama Smith?" tanya David dengan raut wajah yang terkejut.
Rolan mengangguk. "Iya, gue baru inget setelah. Kasusnya pernah marak banyak spekulasi bermunculan, tapi yang bikin gue heran orang-orang tetap percaya dia baik, padahal aneh banget setelah pembakan gedung itu dia malah ilang."
"Kalo gitu kita perlu nyelidikin sejarah gedung itu secara menyeluruh," ujar David dengan penuh keyakinan.
"Mungkin ada hubungan antara kejadian di masa lalu dan misteri yang kita selidiki sekarang."