
Sinar matahari mulai meredup di langit senja, menciptakan nuansa hangat yang perlahan memudar. Setelah perjalanan yang penuh tantangan dan penelusuran yang panjang, mereka akhirnya berhasil memperoleh informasi yang mereka butuhkan tentang penghuni rumah susun.
Mereka akhirnya berhasil mendapatkan beberapa informasi dari berbicara dengan beberapa penghuni yang mau berbicara dengan mereka. Namun mereka tetap harus mengunjungi pihak pengelola lagi, karena hari ini entah kemana pihak pengelola pergi. Nama-nama penghuni, lantai-lantai tempat mereka tinggal, dan beberapa detail lainnya yang mereka butuhkan ada pada pihak pengelola.
Dalam suasana senja yang semakin merangkak, dan mereka sudah tidak bisa lagi menemukan petunjuk, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Mereka bersiap untuk besok karena esok akan penuh dengan diskusi dan analisis. Hari berikutnya akan menjadi waktunya untuk mengurai informasi yang telah mereka dapatkan, menghubungkan titik-titik yang terpisah menjadi gambaran yang lebih utuh. Dan mereka telah memutuskan bahwa rumah Rolan adalah tempat yang paling cocok untuk melakukan pembahasan ini, karena rumah tersebut selalu kosong, orang-orang dirumah Rolan sangat sibuk sepertinya.
Rumah Rolan adalah tempat yang sering kali menjadi tempat berkumpul bagi mereka. Kebersamaan yang mereka miliki telah memupuk ikatan persahabatan yang erat. Di sana, mereka merasa bebas untuk berbicara, berpikir, dan merancang rencana mereka. Tidak ada gangguan, hanya suara mereka yang penuh semangat dalam merangkai puzzle informasi.
Keesokan harinya, matahari terbit dengan semangat, menerangi langit dengan sinar keemasan. Seperti yang telah direncanakan, mereka berkumpul kembali di rumah Rolan. Kehadiran mereka pun seolah memberi warna baru pada pagi yang cerah ini. Dengan langkah-langkah yang ringan, satu per satu anggota klub detektif memasuki rumah Rolan, mengekor satu sama lain dengan antusiasme yang sama.
Saat mereka tiba, sinar matahari sudah melambai tinggi di langit. Udara pagi yang segar masuk melalui jendela terbuka, membawa semilir angin yang lembut. Dalam suasana hangat yang dipadu dengan sinar matahari, terasa seperti tiba di tempat yang nyaman dan akrab.
Rolan, si tuan rumah, dengan penuh keramahan menyambut setiap anggota klub. Senyumnya hangat dan tatapannya penuh dengan kegembiraan. Dia mempersilahkan mereka masuk, membiarkan langkah-langkah mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang penuh dengan kenangan dan perencanaan mereka.
Di dalam rumah, suasana santai seakan sudah menjadi bagian dari identitas tempat ini. Setiap sudut ruangan terasa seperti menciptakan suasana akrab. Di ruang tengah, sofa empuk menjadi tempat favorit mereka untuk duduk. Di meja, beberapa cemilan ringan tersedia untuk menemani pembahasan mereka.
Dengan cemilan di tangan dan minuman di sisinya, mereka duduk dalam formasi melingkar, siap untuk memulai sesi diskusi. Percakapan pun mulai mengalir dengan aliran yang santai. Tidak ada tegangan atau rasa cemas, hanya kebersamaan yang hangat dan semangat untuk mengungkap kebenaran di balik misteri yang sedang mereka selidiki.
Saat pembahasan berlangsung, matahari tetap menghangatkan ruangan. Suara cempreng burung bernyanyi di luar jendela menyatu dengan semaraknya diskusi mereka. Waktu seolah melambat, memberi mereka ruang untuk memikirkan setiap detail dan menghubungkan setiap titik informasi.
Tidak hanya mendiskusikan fakta, mereka juga tertawa dan bercanda. Tidak jarang kelucuan atau komentar kocak muncul di tengah percakapan serius. Semangat positif dan rasa humor adalah kunci keakraban yang mereka miliki, membuat setiap pertemuan seperti berkumpul bersama sahabat lama.
Dan dalam suasana pagi yang semakin cerah, di tengah tawa dan candaan, anggota klub detektif terus menguraikan misteri yang mereka hadapi. Tidak ada yang dapat menghentikan semangat mereka, karena mereka adalah tim yang tak terpisahkan, bersama dalam pencarian kebenaran yang penuh gairah.
Duduk di sekeliling meja di ruang tamu Rolan, anggota klub detektif tengah terlibat dalam diskusi yang intens. Ruangan itu penuh dengan semangat, mata mereka terfokus pada catatan-catatan dan peta-peta yang terbentang di depan mereka. Setiap sudut ruangan diisi oleh aroma cemilan yang mereka nikmati, namun perhatian mereka lebih tertuju pada masalah serius yang mereka hadapi.
Di tengah perbincangan yang mengalir dengan lancar, Anton memberikan informasi baru yang cukup menggemparkan.
"Pas gue sama Arin kerumah Robert, kita berdua nemuin sebuah tas, tas itu terjatuh dari langit-langit rumahnya," ujar Anton dengan suara bergetar, sambil menunjukka tas tersebut.
"Belum," jawab Anton, "ada kode buat buka tas ini, sebelum gue congkel, mau gue tunjukkin dulu ke kalian, mungkin aja salah satu dari kalian bisa berhasil nebak kodenya."
Perhatian mereka pun terpusat pada tas itu, mereka bergantian mencoba menebak kode tas tersebut. Seolah-olah ada aura misteri yang mengelilingi tas itu, dan mereka mencoba memecahkan teka-teki ini dengan semangat.
"Bagaimana kalau angka kelahiran Robert?" usul Riri, mencoba mencari solusi dari sudut pandang yang tak terduga.
"Kita coba saja, tanggal lahirnya ada di dokumen itu," kata Rolan sambil menunjuk ke file yang mereka dapatkan dari kepolisian. Untuk memudahkan mereka dokumen yang difoto Anton telah mereka cetak.
"Bagaimana dengan tanggal kematian Robert?" tanya Sella.
Sementara mereka terus mencoba dan menebak tanpa hasil, Rolan mengambil keputusan berani. "Nggak usah di coba lagi, dari tadi gak ada yang berhasil, gue bakal coba buka paksa."
Beberapa dari mereka mengangguk, merasa bahwa inilah langkah yang paling rasional. Dengan hati-hati, Rolan mengambil alat yang diperlukan dan memulai usahanya untuk membuka tas tersebut.
Tegang dan hening, suasana ruangan hanya dipecah oleh suara alat yang digunakan oleh Rolan. Setelah beberapa saat, tas itu akhirnya terbuka, dan tumpukan uang pecahan seratus terungkap di dalamnya. Mata mereka terbelalak, tak menyangka bahwa isi tas bisa seberharga ini.
"Lihaaat, uang!" teriak David dengan mata berbinar.
Mereka pun memeriksa uang tersebut dengan teliti.Sekilas mereka tidak berpikiran uang tersbut adalah uang yang sama dengan uang yang mereka selidiki, karena dari atas tidak ada noda coklat yang terlihat pada uang itu. Namun, setalah mereka mengambil selembar uang itu dan membalikkannya pandangan mereka tertuju pada nomor serinya. Angka 666 yang tertera pada uang-uang tersebut menciptakan aura ketegangan baru dalam ruangan itu.
"Jadi, uang itu memang punya hubungan dengan kasus kematian Robert?" tanya Riri dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.
"Sekarang pertanyaannya, kenapa uang ini disembunyikan di langit-langit rumahnya? Dan apa hubungan dia dengan uang dengan nomor seri 666? Lalu kenapa uang ini tidak memiliki noda coklat?" tambah Arin dengan perasaan campur aduk di wajahnya.
"Sepertinya kita harus menyelidki lebih lanjut tentang hal itu." Balas Riri, setuju dengan pemikran Arin
Mereka kini berdiri di ambang misteri yang semakin dalam. Tas yang ditemukan Anton telah membawa mereka ke babak baru dalam penyelidikan mereka.