The Flats

The Flats
CHAPTER 22



Anggota dari klub detektif telah berkumpul di sekitar sekolah mereka. Mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah susun yang menjadi fokus penyelidikan mereka. Sebelum berangkat, mereka juga telah memberitahu gadis yang tinggal di rumah susun tersebut, Hana, tentang kedatangan mereka.


Saat tiba di rumah susun, gadis itu sudah menunggu dengan penuh antusiasme di depan pintu masuk.


"Mari, masuk ke dalam," ucap gadis itu dengan ramah, menuntun mereka kedalam rumah susun itu.


Anggota dari klub detektif pun berjalan masuk ke dalam rumah susun tempat gadis itu tinggal. Rumah susun itu cukup ramai mereka berusaha untuk tidak terlalu mencolok diantara penghuni lainnya. Mereka telah membuat alasan seolah-olah mereka hanyalah teman dari gadis itu yang datang untuk mengerjakan tugas kelompok.


Hari minggu di rumah susun itu memang cukup ramai, banyak aktivitas dan suara riuh dari penghuni lain yang terdengar dari luar. Namun, tim detektif tetap fokus pada tujuan mereka, mereka mencatat setiap informasi yang mungkin berguna dalam penyelidikan kasus ini.


Setelah tim detektif sampai di ruangan tempat Hana tinggal, Rolan memberi pengarahan singkat apa yang harus mereka lakukan sama seperti yang ia jelaskan saat rapat sebelumnya. Ia dan David akan menyelidiki kamar para korban yang mereka duga dibunuh karena uang dengan angka 666 itu.


Mereka berdua langsung menuju kekamar korban terakhir, yaitu Dea. David memimpin jalan karena sebelumnya dia sudah pernah ke ruangan tersebut. Tak lupa pula mereka meminjam kunci ruangan Hana, agar mereka bisa masuk ke ruangan korban, karena kunci setiap ruangan di rumah susun tersebut sama, kecuali pemilik ruangan mengganti kuncinya.


Mereka berdua masuk dengan hati-hati, berusaha menghindar dari mata penghuni rumah susun itu, setelah berhasil masuk, mereka berusaha mencari tanda-tanda yang mencurigakan atau benda-benda yang bisa menjadi petunjuk.


Dari awal sebelum penyelidikan, Rolan sebenarnya sudah merasa ada yang tidak beres dengan ruangan di rumah susun tersebut,terlebih dengan fakta hilangnya cetak biru bangunan itu. Rolan berjalan mengelilingi kamar tersebut dan mencoba memeriksa setiap sudut ruangan dengan saksama. Rolan merasa ada sesuatu yang aneh. Dia akhirnya masuk kedalam kamar korban, ia memeriksa setiap inci dari kamar itu, sampailah akhirnya ia mengamati tembok di belakang tempat tidur Dea dan melihat ada sepotong kain yang tersembunyi di bawah tembok itu.


Tanpa ragu, Rolan mengukur ruangan tersebut dan terkejut saat menemukan bahwa ada sekitar 50 cm yang hilang dari ukuran ruangan tersebut seharusnya. Dia semakin yakin bahwa ada ruangan tersembunyi di belakang tembok itu.


Tidak puas dengan hasil yang dia temukan di ruangan koban terakhir, Rolan kemudian mengajak David itu turun terlebih dahulu kerumah Hana, untuk mendapatkan informasi ruangan mana saja yang menjadi ruangan orang-orang yang diduga bunuh diri. Hana pun menyebutkan nomor-nomor ruangannya. Keduanya pun segera menuju ke kamar-kamar yang diesbutkan.


Di ruangan korban keempat mereka mencoba masuk, sayang kunci kamar tersebut telah diubah, mereka pun mengurungkan niatnya. Mereka berdua lalu menuju ke ruangan korban ketiga, dan berhasil kuncinya tidak diganti.


Dengan semangat ia pun mencoba turun kelantai 4,3,2,1. Mencari ruangan yang penghuninya tidak ada. Dan akhirnya dia berhasil menemukan beberapa di setiap lantai. Tapi ketika ia mencoba mengukur, dia tidak menemukan adanya kejanggalan ukuran. Desain lantai bawah berbeda, dan sepertinya hanya lantai 567 yang memiliki kejanggalan ini.


Rolan merasa semakin penasaran dengan misteri ini. Apa yang sebenarnya disembunyikan di balik tembok itu? Siapa yang berada di balik semua ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikirannya.


Rolan dan David terus berusaha mengungkap misteri di balik tembok dan lantai 567. Sementara David dan Rolan, mencoba mencari cara untuk membuka tembok tersebut, Riri dan Viona berfokus pada menyelidiki para penghuni rumah susun.


Mereka menghabiskan waktu berjam-jam berjalan-jalan di lorong-lorong rumah susun, mencatat nama-nama penghuni dan mencoba mencari tahu lebih banyak tentang mereka. Mereka bertanya pada beberapa warga sekitar, mengamati aktivitas para penghuni, dan berusaha mencari tahu apakah ada orang yang mencurigakan atau memiliki hubungan dengan korban.


Setelah  melakukan penyelidikan, tim detektif akhirnya berhasil mengumpulkan informasi tentang beberapa orang yang tinggal di rumah susun itu. Ada seorang pria yang tinggal sendiri dan sering keluar masuk di malam hari tanpa diketahui oleh tetangga, ada seorang wanita yang baru saja pindah dan tidak terlalu dikenal oleh para tetangga, dan ada seorang pria yang selalu terlihat dengan koper besar namun tak pernah ada yang tahu isinya apa.


Informasi-informasi ini menjadi petunjuk berharga bagi tim detektif. Mereka mencoba mencari lebih banyak informasi tentang orang-orang ini, memeriksa latar belakang mereka, dan mencari tahu lebih banyak tentang kehidupan mereka di rumah susun tersebut.


Sementara Sella dan Arsen mencoba bertemu dengan pihak pengelola rumah susn itu yang juga tinggal disana. Namun sepertinya orang tersebut tidak ada ditempat. Mereka pun beralih membantu Viona dan Riri mengumpulkan info para penghuni rumah susun tersebut.


Malam semakin larut saat langit dihiasi oleh gemerlap bintang. Dalam kegelapan yang semakin mendalam, langkah kaki Riri, Viona, Sella, David, Rolan, dan Arsen berjalan pulang dengan hati lega setelah berhasil memperoleh informasi yang mereka butuhkan dari penghuni rumah susun. Walaupun sulit, tekad dan semangat mereka tidak pernah pudar.


Setiap langkah mereka terdengar di antara keramaian kota yang perlahan mereda. Lampu jalan yang gemerlap memancarkan cahaya samar-samar, memberikan kesan magis pada malam yang tenang. Sekali-sekali angin berhembus lembut, membawa semilir dingin yang menyegarkan. Rasa lelah setelah petualangan panjang mereka tidak membuat semangat mereka melemah. Malah sebaliknya, semakin kuat tekad mereka untuk memecahkan misteri di balik kematian Robert.


Saat akhirnya tiba di depan rumah masing-masing, mereka berpisah untuk kembali ke dalam hangatnya rumah mereka. Suasana tenang dan damai menyambut mereka, menenangkan pikiran mereka yang telah dipenuhi dengan berbagai informasi dan pertanyaan.


Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu untuk membahas hasil penyelidikan mereka. Rumah Rolan, yang sering kosong karena orangtuanya sering bekerja di luar kota, menjadi tempat yang sempurna untuk mengadakan rapat klub detektif. Di tengah-tengah ruangan, sebuah meja kayu besar menjadi pusat pertemuan mereka. Cahaya remang-remang dari lampu gantung memancar ke seluruh sudut ruangan, menciptakan suasana yang hangat dan nyaman.