The Flats

The Flats
CHAPTER 31



Setelah pertemuan mereka, Anton dan Arin merasa bahwa waktu adalah aspek yang sangat penting dalam menjawab misteri ini. Keesokan harinya, begitu bel pulang sekolah berdenting, mereka berdua langsung bergegas ke daerah Aldater, tempat yang mereka percayai menjadi kunci dalam mengungkap kebenaran di balik kasus ini.


Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, langit terbentang dengan warna-warni oranye dan merah, menciptakan latar yang dramatis. Arin dan Anton tiba di daerah Aldater, sebuah daerah yang agak terpencil di pinggiran kota. Di sinilah Kenneth, pria yang mereka cari, sekarang tinggal.


Mereka berjalan melintasi dermaga kecil yang menghadap ke laut. Suasana di sana sangat tenang, hanya suara ombak yang terus-menerus menghantam pantai dan cahaya senja yang memantul di atas air. Terkadang, pemandangan yang indah ini bisa menenangkan, tetapi di saat ini, pikiran mereka dipenuhi dengan ketegangan dan antisipasi.


"Kita harus mencari Kenneth," ujar Arin, berusaha memutuskan keheningan yang menggantung di udara.


Anton mengangguk setuju, dan mereka mulai berjalan menjauh dari dermaga menuju beberapa rumah penduduk yand ada disana. Langit semakin gelap, dan mereka tahu bahwa mereka harus bergerak cepat sebelum kegelapan malam sepenuhnya meliputi daerah ini.


Karena tidak mendapatkan petunjuk apa-apa dari penduduk yang tinggal disekitar dermaga itu. Mereka berdua pun menuju ke rumah Kenneth, mereka bisa merasakan denyut jantung mereka semakin cepat. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka temukan atau bagaimana Kenneth akan merespon pertemuan ini. Yang mereka tahu hanyalah bahwa saat inilah mungkin kesempatan terbaik untuk mendapatkan jawaban dalam misteri yang semakin menggelayuti mereka.


Di depan pintu rumah Kenneth yang terlihat sepi, Anton dan Arin merasa seakan-akan mereka terjebak dalam labirin misteri yang semakin rumit. Mereka tahu bahwa waktu adalah faktor kunci, dan penemuan apa pun yang mereka lakukan sekarang bisa menjadi bocoran besar.


Untuk bebera lama mereka mencoba mengetuk pintu rumah tersebut namun tidak ada respon dari pemilik rumah tersebut,sepertinya rumah itu masih kosong. Akhirnya, mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam rumah itu. Dengan hati-hati, mereka membuka pintu rumah tersebut, mereka memitar knop pintunya ternyata tidak terkunci. Suasana dalam rumah terasa dingin, dan cahaya senja yang menyinari ruang tamu hanya menambah nuansa misteri. Namun ini cukup aneh, jika Kenneth tidak pernah berada di rumah ini, mengapa rumah ini tampak terawat.


Setiap langkah mereka di dalam rumah itu terasa berat, seperti langkah dalam kegelapan yang mendalam. Mereka berdua mulai memeriksa setiap sudut ruangan, mencari petunjuk yang mungkin bisa membawa mereka lebih dekat pada kebenaran.


Mereka pun mulai memeriksa setiap sudut rumah itu, mulai dari ruang tamu, kamar hingga dapur rumah tersebut. Mereka tidak menemukan hal-hal yang aneh. Namun dugaan mereka tentang ada orang yang tinggal di rumah itu semakin kuat karena mereka menumukan makan yang masih baru di dapur rumah tersebut.


Saat mereka berpindah untuk memeriksa kamar tidur. Tiba-tiba, Anton mendengar suara decitan pintu utama yang terbuka. Ia dengan cepat bersembunyi di dalam lemari yang ada di dekatnya, sementara Arin merunduk dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Kedua orang itu bertindak refleks, karena mereka tidak tahu siapa yang akan masuk.


Mereka merasa detak jantung mereka semakin keras saat mereka mendengar langkah kaki mendekat. Suara itu semakin dekat, dan ketegangan pun mencapai puncaknya. Mereka tidak tahu siapa yang datang, apa motifnya, atau apakah mereka akan terbongkar.


Dalam kegelapan, Anton dan Arin menunggu dengan napas tertahan, bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.


Anton dengan hati-hati mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada teman-temannya, memberi tahu mereka tentang kehadiran pria ini dan bahwa kaki pincang yang mereka kira milik Smith sebenarnya adalah kaki normal. Mereka merasa semakin dalam kebingungan. Siapa pria ini? Apa motifnya?


Langkah pria itu semakin mendekat ke lemari tempat Anton bersembunyi. Nafas Anton terasa sesak, dan detak jantungnya berdebar-debar. Dalam kegelapan, ia mencoba untuk tetap diam dan tidak bergerak, berharap agar pria itu tidak akan memeriksa lemari.


Sementara itu, Arin yang bersembunyi di bawah tempat tidur merasa juga ketegangan yang sama. Ia memegang napasnya, mencoba untuk tidak mengeluarkan suara apa pun. Mereka berdua sama-sama merasa seperti dalam perangkap, tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Pria itu pun membuka pintu lemari dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba. Anton, yang sebelumnya telah bersembunyi di dalam lemari dengan hati berdebar, melompat keluar dari sana dengan refleks yang tajam. Tubuhnya seketika terhempas ke lantai, dan terjadilah pergelutan cepat yang memenangkan pria itu.


Anton mencoba bangkit, tetapi pria itu sudah berdiri di atasnya dengan kecepatan yang mengejutkan. Gerakan-gerakan lincah dan gesitnya membuat Anton kesulitan mengikuti langkahnya. Perkelahian singkat pun meletus di dalam ruangan yang sempit tersebut, dan pria itu jelas memiliki keunggulan yang besar.


Anton mencoba mempertahankan diri, mengayunkan tangannya untuk menghindari pukulan-pukulan keras yang datang dari segala arah. Namun, pria itu terlalu kuat dan terampil dalam pertarungan. Tangan pria itu dengan cepat mencengkeram leher Anton, membuatnya tercekik dan kehilangan nafas.


Saat Arin yang ketakutan berusaha mengabari teman-temannya, ia menyaksikan pergelutan ini dengan cemas. Pintu lemari yang tadi terbuka, sekarang hanyalah saksi bisu dari pertarungan sengit yang sedang berlangsung. Anton berjuang keras untuk melepaskan diri, tetapi pria itu terus mempertahankan cengkeramannya yang kuat.


Dengan napas yang semakin tersengal, Anton tahu bahwa ia harus mencari cara untuk bertahan atau melarikan diri. Wajahnya memerah karena kekurangan oksigen, dan matanya mencari-cari peluang untuk mengakhiri pertarungan ini. Tetapi pria itu, dengan pandangan tajam dan penuh tekad, terus mencekiknya tanpa belas kasihan.


Perjuangan Anton untuk bertahan hidup semakin panjang, dan keputusasaan mulai merayap. Bagaimana dia bisa melepaskan diri dari cengkeraman mematikan pria itu? Ini adalah pertarungan hidup dan mati, dan pria itu tampaknya memiliki niat untuk memenangkannya.


Arin, yang masih bersembunyi di bawah tempat tidur, mendengar suara perkelahian dan teriakan Anton. Dia merasa ketakutan, dan segera mencoba menghubungi teman-temannya untuk meminta pertolongan. Namun, jarak mereka yang cukup jauh dari rumah susun membuatnya harus menunggu beberapa waktu sebelum pesan tersebut dapat terkirim.


Sementara itu, Anton semakin melemah dalam pergelutan ini. Pria itu tampaknya memiliki niat yang jelas untuk melukainya atau bahkan membunuhnya. Anton mencoba berjuang dengan segenap tenaganya, tetapi sepertinya dia sudah terlalu lemah.


Ketika Arin akhirnya berhasil menghubungi teman-temannya dan memberi tahu mereka tentang situasi yang sedang terjadi, mereka langsung bergegas menuju ke daerah tersebut, meskipun mereka tahu bahwa waktu sangat berharga saat ini. Pertanyaan besar yang masih menggantung adalah, siapa pria ini dan mengapa dia melakukan ini? Dan yang lebih penting lagi, apakah mereka akan tiba tepat waktu untuk menyelamatkan Anton? butuh wkatu yang cukupĀ  lama untuk sampai ke daerah tersebut.