
Setelah rapat klub detektif selesai, Rolan dan David melangkahkan kaki mereka menuju parkiran sekolah. Langit senja mulai terhampar di atas mereka, menciptakan suasana yang hangat meski angin malam mulai berhembus sejuk.
"Gue main ke rumah lu ya. Rumah gue lagi gak ada orang. Yah? Yah?" Kata David agak lebih memaksa, seolah itu bukan permintaan, tapi lebih seperti sebuah pernyataan.
Rolan tersenyum mengangguk. "Datang aja, biasanya juga datang. Rumah gue lagi kosong. Bokap ama nyokap gue juga belum balik dari luar kota. Kakak gue kayaknya juga gak ada di rumah," jelasnya.
Mereka berdua berjalan menuju motor masing-masing yang terparkir rapi di samping sekolah. Dengan sigap, mereka mengenakan helm dan bersiap pulang. Tanpa perlu berbicara banyak, seperti biasanya, mereka sudah tahu kemana arah motor mereka.
Sebenarnya, tanpa perlu minta izin pun, David akan langsung ke rumah Rolan jika ingin menginap. Kebetulan mereka berdua adalah tetangga sejak kecil, dan tak perlu kata-kata untuk memahami satu sama lain. Pertemanan mereka sudah tertanam seiring dengan waktu yang telah mereka habiskan bersama sejak masa kecil.
Melaju di jalanan kota yang sudah mulai padat, mereka merasakan hembusan angin yang sejuk menerpa wajah mereka. Sorak canda mereka terdengar semarak di malam yang mulai gelap.
Sesampainya di depan rumah, David menyadari bahwa mobil abang Rolan terparkir di halaman. "Lah, ada kakak lu ternyata," kata David sambil menunjuk sebuah mobil dengan dagunya.
"Tumben dia pulang, biasanya lebih suka di rumah sakit," balas Rolan, David hanya menganggukkan kepalanya.
"Motor gue simpan di sini dulu ya, males gue masukin ke garasi. Gue mau ganti baju dulu, takut diomeli lagi sama abang lu karena pake seragam," ucap David sambil melangkah menuju tembok pembatas antara rumahnya dan rumah Rolan. Dengan lincah, dia memanjat tembok dan langsung masuk ke kamarnya yang berada di lantai dua. Rolan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya yang penuh semangat.
"Kelakuan udah kayak monyet," gumam Rolan sambil tersenyum sendiri. Memang, David selalu memberikan keceriaan dalam setiap momen, tak peduli seberapa sederhana situasinya.
Selang beberapa lama setelah menganti bajunya dia kembali dan langsung masuk ke rumah Rolan tanpa permisi. Dan langsung masuk menuju kamar Rolan. Tapi ternyata Rolan malah berada di ruang tamu membantu kakaknya membersihkan. Kakak Rolan –Henry adalah orang yang terlalu bersih menurut Rolan dan David. Karena sudah terlanjur masuk David pun terpaksa membantu temannya itu membereskan dari pada di marahi oleh Henry. Sebenarnya itu memang salah mereka berdua. Ia membantu agar cepat selesai dan mereka bisa cepat bermain. Setelah semuanya bersih dan mengkilap akhirnya mereka bisa istirahat, mereka setidaknya membersihkan sekitar satu jam, waktu yang cukup lama.
Namun, ini bukan kali pertama mereka membuat keributan di rumah ini. Orang tua Rolan sedang dalam perjalanan bisnis selama satu minggu, sehingga kedua sahabat ini tinggal bersama tanpa pengawasan orang tua. Mereka berdua sering kali membuat kekacauan di rumah tanpa peduli membereskan sampah bekas makanan atau barang-barang yang berserakan.
Henry, kakak Rolan, kembali muncul dengan nada kesal dan mengomeli mereka berdua. Dia memperingatkan mereka untuk merapikan rumah dan berhati-hati dengan sampah yang mereka buang.
"Kalian berdua setelah makan setidaknya beresin sampahnya doang." Kata Henry.
"Awas kalo kalian berdua nyampah lagi." Kata Henry memperingatkan mereka berdua. Lalu masuk ke kamarnya.
"Dia kok ada di rumah si. Ngungsi aja deh ke rumah lu." Kata Rolan memberi saran agar mereka kabur saja dari kakaknya itu, sebelum kakaknya melihat dapur.
"Kak, gue ke rumah David dulu ya buat nginep," ujar Rolan sambil meneriaki kakaknya. Suara sahutan "iya" terdengar sebagai persetujuan dari Henry.
Tak lama kemudian, mereka berdua keluar dari rumah Rolan dan menuju rumah David yang tepat berada di sebelahnya. Rumah David menjadi tempat perlindungan mereka dari omelan Henry yang terlalu perfeksionis tersebut.
Rolan melangkah masuk ke kamar David, memperhatikan angka-angka yang tertulis di dinding kamar temannya. "Rumah lu emang ada hawa-hawa orang jahatnya," kata Rolan sambil merasa tertarik dengan apa yang ada ditembok kamar David.
"Gara-gara ini yah," ucap David sambil menunjuk angka-angka di dinding tersebut. Rolan penasaran dan bertanya apakah David telah melakukan sesuatu yang menyebabkan angka-angka itu bertambah.
"Bukannya ada, kasus yang sekarang kita tanganin," jawab David dengan serius.
Rolan hanya tertawa sebagai respons atas penjelasan temannya. "Bukannya lu takut yah? Udah berani sekarang?" goda Rolan sambil mencoba menggoda David yang tampak macho.
"Yah, selama orang, gue gak takut sih," jawab David dengan percaya diri.
Namun, Rolan ingin sedikit menantang temannya, "Gimana kalau bukan orang?" Dia mencoba menakut-nakuti David yang dia tahu sebenarnya takut dengan hal-hal yang berbau supranatural.
David merespons dengan kesal, "Besok lu aja deh yang pergi ke tuh rumah susun. Gue sama Anton aja."
"Gak mau, lu aja sama tuh tiga orang. Katanya tadi berani," balas Rolan dengan senyum nakal.
David yang agak kesal menjawab, "Kan lu yang nakut-nakutin gue ******."
"Iya iya, gak lagi deh," sahut Rolan mencoba meredakan kekesalan temannya.
"Jadilah, masa kagak." jawab David
Mereka berdua pun menghabiskan waktu mereka bermain PS. Sampai mereka tidak menghiraukan teriakan Henry dari bangunan sebelah, sepertinya Henry telah melihat dapur rumah yang berantakan. Namun mereka berdua tetap melanjutkan permainan mereka. Mereka berhenti ketika rasa lapar mulai menghampiri mereka
"Lu laper gak? Keluar yuk cari makan," ajak David sambil tetap asyik memainkan konsolnya.
"Laper sih, tapi gue mager," jawab Rolan sambil merebahkan dirinya di sofa.
"Mager apa jompo?" balas David sambil tersenyum.
"Dua-duanya, punggung gue sakit gara-gara kelamaan duduk," jawab Rolan dengan nada santai.
"Alasan. Delivery aja deh," usul David dengan ceria.
Mereka pun sepakat untuk memesan makanan secara online. Tidak berapa lama kemudian, pesanan mereka tiba. Seorang pria mengantar makanan pesanan mereka. Saat akan memberikan uang kembalian dari dompetnya, Rolan melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Kak, bisakah uang seratusnya ditukar?" kata Rolan sambil mengeluarkan uang seratus dari dompetnya dan bersiap menukarnya dengan uang seratus pengantar itu.
"Uang ini kak?" tanya pengantar itu sambil memeriksa uang seratus yang ditunjukkan oleh Rolan.
"Iya, saya lagi mencari uang baru, kebetulan saya lihat kakak punya. Kalau mau, saya tambahkan lima puluh," jelas Rolan sambil mengeluarkan uang lima puluh dari dompetnya.
Dengan perasaan bingung, pengantar makanan itu pun pergi dari rumah itu. Rolan dan David pun kembali duduk di sofa, mencoba memahami apa yang terjadi. Tampaknya ada sesuatu yang aneh dengan uang seratus yang dilihat oleh Rolan. Namun, tanpa memikirkan lebih jauh, mereka berdua melanjutkan makan malam mereka yang nikmat.
Setelah mendiskusikan peristiwa aneh yang terjadi dengan uang seratus tersebut, David menjadi semakin kagum dengan temannya, Rolan. Tidak biasa bagi seseorang untuk menukar uang baru dengan nominal yang lebih besar hanya karena ada nomor serinya yang menarik perhatian. Namun, Rolan memiliki naluri detektif yang tajam, yang membuatnya mencurigai ada sesuatu yang tak biasa terkait dengan uang tersebut.
"Lu gila yah? Masa demi uang baru lu tuker sama seratus lima puluh?" tanya David agak kaget dengan kelakuan temannya ini.
"Lu liat yah." Rolan menunjukkan uang itu pada David, dan tampak nomor seri dengan kode terakhir 666.
"Dan jika tebakan gue benar, uang ini adalah uang yang dimaksud oleh Hana," kata Rolan dengan yakin.
David pun mengambil uang itu dan melihatnya dengan seksama. Awalnya dia berpikir itu mungkin uang palsu, namun ternyata itu adalah uang asli.
"Aneh. Ini kan uang baru tapi kok kotor banget yah?" kata David mencoba mencari penjelasan.
"Makanya menurutku itu aneh. Walaupun udah sekitar satu tahun beredar, uang itu masih sedikit dan langka di kota ini. Orang biasanya memperlakukan uang baru dengan sangat hati-hati," terang Rolan menjelaskan kepada David.
"Noda-noda berwarna coklat ini... Jika ini uang yang dikatakan Hana, kira-kira noda coklat ini apa?" Tanya David menyuarakan kecurigaannya.
"Yah, untuk tahu hal itu kita perlu memeriksanya," balas Rolan dengan tekadnya.
Keesokan harinya, setelah malam yang penuh dengan misteri, David dan Rolan bangun dengan semangat baru untuk menyelidiki lebih lanjut tentang uang seratus yang penuh tanda tanya. Mereka kembali ke ruang lab sederhana di kamar Rolan, tempat mereka melakukan analisis lebih mendalam terhadap uang-uang tersebut.
Dengan penuh cermat, mereka memeriksa setiap noda pada uang seratus lima puluh tersebut. Rolan dengan hati-hati menggunakan lup untuk melihat noda-noda tersebut dengan lebih jelas. Awalnya mereka berpikir noda coklat tersebut adalah noda lumpur, namun ternyata bukan. Mereka pun mencoba melakukan uji darah pada beberapa noda tersebut dengan alat sederhana yang mereka miliki.
Hasilnya mengagetkan mereka. Beberapa noda tersebut memang mengandung darah manusia. Hal ini membuat detektif amatir ini semakin yakin bahwa uang itu benar-benar terlibat dalam kasus bunuh diri dan kecelakaan yang misterius.
"Wah, sepertinya kita menemukan sesuatu yang besar," kata David dengan penuh semangat.
"Benar, sepertinya uang ini adalah petunjuk penting dalam kasus-kasus tersebut," tambah Rolan dengan tatapan tajamnya.
Dengan semangat dan semakin banyak petunjuk yang telah mereka kumpulkan, klub detektif ini bersiap untuk menyusun rencana selanjutnya. Dalam petualangan menyelidiki kasus-kasus bunuh diri dan kecelakaan ini, mereka harus berjuang melawan waktu dan menghadapi berbagai rintangan yang menghadang.