The Flats

The Flats
CHAPTER 27



Di tengah suasana senja yang menambah nuansa dramatis, Sella dan Arsen tiba di rumah pengelola rumah susun tersebut di lantai satu. Dengan latar belakang langit yang memerah, mereka mengetuk pintu dengan nomor 5 itu dengan rasa tegang yang mendalam. Mereka ditemani oleh suasana senja yang melukiskan langit dengan warna-warna kemerahan yang indah.


"Selamat sore," sapa Sella dengan senyum ramah kepada seorang pria tua yang membukakannya pintu.


"Selamat sore. Siapa yah?" Tanya orang tua itu tidak tahu siapa keduanya .


"Kami petugas survei, kami sedang melakukan survei tentang penghuni rumah susun ini. Bolehkah kami mendapatkan data tentang para penghuni?" tanya Anton dengan sopan.


Pria tua itu menunjukkan senyuman ramah. "Tentu saja, saya bisa memberikan daftar nama dan informasi yang saya punya."


Setelah menjelaskan tujuan mereka, orang tua itu mulai mencarikan data yang diminta. Setelah beberapa saat, ia memberikan selembar kertas berisi daftar nama-nama penghuni rumah susun beserta detail informasi seperti alamat, pekerjaan, dan kontak.


Sella dan Anton berterima kasih dengan tulus, mengambil kertas itu, kemudian memotretnya. Setelah itu merek berdua berlalu dan masuk ke mobil Anton untuk memeriksa datanya. Tetapi, semakin mereka membaca, semakin raut bingung tergambar di wajah mereka. Mereka saling berpandangan dengan ekspresi tidak percaya.


"Lo udah baca  daftar yang gue kirim?" tanya Sella dengan suara pelan, tetapi terdengar jelas.


"Iya, gak ada orang bernama Smith di daftar ini," jawab Anton dengan suara yang sama pelan.


Sella mengangguk setuju, memandang kembali daftar yang dipegangnya. "Ini gak masuk akal harusnya ada orang bernama Smith di daftar ini. Anak-anak yang lain sudah memastikannya pelakunya pasti bernama Smith."


Anton menggumamkan setujuan. "Kita harus memeriksa lebih lanjut. Ini semakin rumit."


Kedua detektif itu saling berpandangan, terlihat bingung namun tetap penuh tekad. Mereka tahu bahwa ini bukan akhir dari perjalanan mereka. Dengan data yang tidak sesuai, mereka harus menelusuri jejak Smith lebih jauh lagi untuk menemukan kebenaran yang sedang mereka cari. Senja yang semakin mendalam di luar jendela mencerminkan tantangan yang semakin dalam di depan mata mereka.


***


Di saat yang sama di lokasi sama pula, Arin dan Anton berusaha mencari tahu lebih banyak dari para gelandangan yang kini menjadi penghuni rumah susun tersebut. Mereka berjalan melalui lorong-lorong yang redup, dengan suara langkah kaki mereka yang terdengar berdentam di sekitar. Mereka mencoba berbicara pada orang-orang di rumah susun tersebut, beberapa menolak mereka, beberapa juga mau berbicara dengan mereka. Namun sayangnya mereka belum mendapatkan informasi terkait dengan orang bernama Smith. Sampai mereka melihat seorang pria tua disebuah sudut lorong di lantai 3.


Mereka pun berhenti sejenak untuk berbicara dengan seorang pria tua yang duduk sendirian di sudut lorong itu. Dengan pakaian lusuh dan rambut kusut, pria tua itu memandang mereka dengan mata tajam yang penuh dengan pengalaman.


"Permisi, Pak," sapa Arin dengan suara lembut. "Kami sedang mencari informasi tentang seseorang yang bernama Smith. Apakah Anda pernah mendengar nama itu?"


Pria tua itu merenung sejenak, seolah mencoba mengingat sesuatu. "Smith, huh?" gumamnya pelan. "Tentu saja saya tahu. Dia juga tinggal di sini."


Anton dan Arin saling pandang, harapan mereka mulai memuncak. "Bisa kami tahu di mana kami bisa menemukannya?" tanya Anton dengan nada berharap.


Pria tua itu mengangkat bahu, ekspresinya berubah menjadi ragu. "Dia ada di sini, tapi dia tidak suka di ganggu. Dia suka menyendiri."


Arin memutuskan untuk mengambil pendekatan yang lebih lembut. "Kami hanya ingin berbicara dengannya, Pak. Mungkin dia bisa membantu kami dengan informasi yang kami cari."


Pria tua itu menggeleng perlahan. "Dia telah hidup sendirian selama cukup lama. Dia punya alasan untuk itu. Jika kalian ingin mencari tahu lebih banyak, bicaralah langsung dengan dia. Tapi saya tidak bisa menjamin dia akan mau berbicara."


"Saya harus pergi," katanya sambil buru-buru pergi dan masuk kedalam ruangannya..


Keduanya berpandangan curiga ada seseorang yang mengawasi mereka, sampai orang tadi buru-buru pergi. Itu berarti pembunuh itu memang tinggal di rumah susun itu.


Mereka bertemu  dengan Arsen dan Sella, mereka pun saling berbagi informasi  dan setealh itu memtuskan untuk pulang kerumah masing-masing.


***


David melaporkan temuannya kepada teman-temannya, mencoba menjelaskan kenjanggalan yang dia alami di rumah-rumah di Jalan Anggrek. Rolan, Viona, dan Riri mendengarkan dengan penuh perhatian, berusaha memahami situasi yang dihadapi David.


Setelah mendengar laporan dari David, mereka segera merasa bahwa hal ini perlu diselidiki lebih lanjut. Dengan keputusan cepat, mereka pun bergerak menuju lokasi yang telah disebutkan. Langit semakin mendekati senja, menciptakan suasana yang misterius di sekitar mereka.


Tiba di Jalan Anggrek, mereka memandang kedua rumah tersebut. Rumah pertama terlihat usang dan terlantar, sedangkan rumah kedua lebih kecil namun tetap menunjukkan tanda-tanda kelalaian. Mereka berkumpul di depan rumah pertama, saling pandang dengan penasaran.


"Kita perlu memastikan apakah ada sesuatu yang disembunyikan di sini," kata Viona dengan suara yang tegas.


Riri menganggukkan kepala setuju. "Ayo kita periksa dengan hati-hati."


Mereka pun bergerak masuk ke rumah pertama dengan langkah hati-hati. Ruang tamu yang penuh debu dan sunyi membuat atmosfer semakin mencekam. Mereka memeriksa setiap sudut, mencari tanda-tanda yang bisa memberi petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana. Saat mereka sampai di kamar, Rolan memperhatikan sesuatu di sudut ruangan.


"Ini," bisik Rolan sambil menunjuk ke suatu bagian di bawah lapisan debu.


Viona dan Riri mendekat, melihat sepotong kain yang terjepit di bawah sepotong furnitur. Dengan hati-hati, mereka mengambilnya dan memeriksanya dengan seksama.


"Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan di sini," kata Viona sambil meraba-raba benda di dalam kain tersebut.


Rolan mengangguk setuju. "Kita perlu membawanya keluar dan memeriksanya dengan lebih teliti."


Dengan hati-hati, mereka membawa benda tersebut keluar dan meletakkannya di atas meja di luar rumah. Dalam senja yang semakin dalam, mereka membuka kain itu dan terkejut dengan apa yang mereka temukan.


"Sebuah foto," kata Riri dengan suara terkejut.


Foto tersebut terlihat usang dan lusuh, namun gambar di dalamnya masih jelas terlihat. Mereka memandang gambar tersebut dengan wajah penuh pertanyaan, mencoba mengurai misteri di baliknya. Mungkin di dalam foto inilah rahasia tentang Smith dan korban tersembunyi.


Setelah memeriksa rumah pertama mereka beralih keruamah kedua. Sayangnya disana mereka tidak menemukan apa-apa.


Ketika langit semakin gelap dan senja semakin dalam, mereka terus memandang foto tersebut, terjebak dalam dunia misteri yang semakin dalam. Berdua di dalam rumah usang dan berdua di luar dengan foto yang mengandung potensi jawaban, mereka berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang sebenarnya merupakan Smith yang terlibat dalam kasus ini.