The Flats

The Flats
CHAPTER 30



Semakin dalam perjalanan mereka dalam mengungkap misteri ini semakin mereka terjebak dalam misteri ini, semakin banyak lapisan baru yang terungkap.


Keesokan harinya, suasana langit tampak cerah dan sinar matahari menerangi langkah-langkah mereka yang berjalan menuju ruang pertemuan klub detektif. Di dalam ruangan itu, meja bundar menjadi pusat perbincangan mereka, sementara sinar matahari yang masuk melalui jendela memberi sentuhan hangat pada suasana diskusi mereka. Wajah-wajah mereka dipenuhi dengan fokus dan keingintahuan.


Dalam suasana yang tegang, anggota klub detektif duduk di sekeliling meja, mata mereka saling berpandangan, mencerminkan keraguan dan ketidakpastian yang terjalin dalam diskusi mereka. Arsen memulai pembicaraan, membawa ide mereka tentang melacak kaki orang bertudung semalam yang berhasil mereka lukai sebagai petunjuk potensial. Wajah mereka penuh semangat saat mereka menjelaskan konsep tersebut.


"Melacak kaki terluka bisa menjadi petunjuk penting. Kita sudah berhasil melukai kaki orang bertudung semalam. Jadi, jika kita bisa menemukan seseorang dengan kaki terluka di rumah susun itu, mungkin kita akan mendapatkan wajah si pelaku," ujar Arsen, wajahnya dipenuhi harapan.


"Aku setuju, menurutku, melacak kaki terluka bisa menjadi kunci untuk mengungkap siapa dia sebenarnya," ujar Viona dengan nada penuh keyakinan.


Namun, pandangan yang skeptis datang dari Viona, yang berbicara dengan suara penuh pertimbangan, "Tapi pertanyaannya, berapa banyak orang yang tinggal di rumah susun itu? Kita tidak bisa hanya mengandalkan kaki terluka sebagai petunjuk utama, terutama jika ada begitu banyak penghuni."


Riri menambahkan, "Saya setuju dengan Viona. Peluang menemukan orang dengan kaki terluka di antara semua penghuni bisa sangat kecil. Kita mungkin malah membuang-buang waktu."


"Iya, pikirkan saja, berapa banyak orang yang tinggal di rumah susun itu? Peluang menemukan orang dengan kaki terluka bisa sangat kecil," kata Riri dengan suara yang penuh pertimbangan.


David, dengan ekspresi yang serius, menambahkan, "Bagaimana dengan ide memberitahu Sean? Dia bisa memberikan perspektif yang berbeda dan bantuan yang lebih besar."


Tetapi reaksi berbeda datang dari sudut yang lain. "Kita memulai ini sebagai klub detektif kita sendiri. Apakah kita benar-benar harus mengundang orang lain, terutama kakak Arsen, ke dalam masalah ini?" tanya Sella, wajahnya mencerminkan kekhawatiran.


Suasana ruangan penuh dengan pemikiran-pemikiran yang bergejolak. Setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri, dan semua anggota klub detektif merasa tanggung jawab besar untuk mengambil langkah yang tepat. Di tengah cahaya matahari yang hangat, pertemuan mereka berlangsung dengan serius dan penuh pertimbangan, seolah-olah langkah selanjutnya adalah pecahan teka-teki besar yang harus mereka pasang dengan cermat.


Anton, yang tetap tenang, memberi pandangannya, "Mungkin ide yang lebih baik adalah mengumpulkan semua petunjuk yang kita punya sejauh ini, lalu mencari pola atau keterkaitan antara mereka. Itu bisa membantu kita mempersempit daftar orang yang perlu kita periksa."


Pertemuan mereka menjadi semakin hidup dengan pandangan dan pendapat yang berbeda-beda, mencerminkan kerumitan proses pengambilan keputusan. Dalam suasana yang penuh pertimbangan, mereka harus memutuskan jalur mana yang akan mereka ambil dalam memecahkan misteri yang semakin mendalam.


Suasana ruangan penuh dengan ketegangan dan antisipasi. Mereka merasa bahwa mereka semakin mendekati kebenaran, tetapi juga menyadari betapa rapuhnya bukti-bukti yang mereka miliki. Pandangan-pandangan cemas dan tekad memenuhi tatapan mereka saat mereka berusaha menemukan jawaban atas misteri ini.


Namun, keraguan mulai menghampiri mereka. Mereka menyadari bahwa petunjuk mereka semakin redup dan misteri semakin sulit dipecahkan. Di dalam kebuntuan ini, kekhawatiran tentang kakak Hana, yang berpotensi menjadi korban berikutnya, menambah urgensi dalam pencarian mereka. Waktu terus berjalan, dan mereka harus bertindak sebelum semuanya terlambat.


Rolan, dengan peta di depannya, mengangkat pandangannya dan mengalihkan perhatian semua orang. "Saya rasa kita harus mencoba menemui Kenneth. Dia mungkin memiliki informasi penting tentang Smith, atau setidaknya kita bisa mendapatkan petunjuk baru."


Viona menganggukkan kepala setuju, "Setuju, kita perlu bergerak cepat sebelum misteri ini semakin dalam. Kita tidak boleh mengabaikan setiap peluang yang ada."


Sebuah kesepakatan akhirnya tercapai. Langkah-langkah selanjutnya harus dipertimbangkan dengan matang, karena tak hanya masa depan kasus ini yang berada dalam bahaya, tetapi juga nyawa orang yang mungkin menjadi korban selanjutnya. Dengan pandangan resolusi di mata, mereka mengetahui bahwa perjalanan mereka untuk mengungkap kebenaran masih jauh dari berakhir.


Dengan tekad dan semangat yang kuat, anggota klub detektif kembali memasuki luar dengan penuh keyakinan. Keberanian mereka menghadapi misteri ini semakin teruji, dan meskipun banyak pertanyaan yang belum terjawab, mereka tahu bahwa jawaban-jawaban itu ada di antara petunjuk-petunjuk yang telah mereka temukan. Di tengah ketegangan yang semakin meningkat, mereka siap untuk melangkah lebih jauh dan menghadapi misteri ini dengan penuh tekad.


Di tengah perbincangan yang mendalam tentang langkah selanjutnya, suara Arin dan Anton terdengar dengan jelas di ruangan yang penuh dengan pemikiran. Kedua suara itu seperti titik terang di tengah kebimbangan, memberikan alternatif yang mungkin bisa menjadi jalan keluar dari situasi rumit ini.


Arin, dengan ekspresi penuh keyakinan, menyampaikan saran mereka. Dengan senyum lembut di wajahnya, dia menjelaskan bagaimana mengunjungi Kenneth di Aldater bisa memberikan mereka petunjuk yang lebih konkrit dan dapat diandalkan. Anton mengangguk setuju, memperkuat argumen Arin dengan alasan bahwa Kenneth adalah satu-satunya tautan yang mereka miliki dengan kasus ini. Dia menggarisbawahi betapa pentingnya menjalin komunikasi lebih lanjut dengan pria tersebut untuk mencari informasi yang mungkin belum terungkap.


Saran dari Arin dan Anton itu seperti oase di padang pasir. Meskipun perdebatan masih berlanjut, suara mereka memberikan semacam arah yang lebih jelas dalam situasi yang penuh dengan ketidakpastian. Anggota klub detektif itu merenung dan mempertimbangkan masukan ini, memikirkan manfaat dari kunjungan kembali ke Aldater dan menghubungi Kenneth. Wajah-wajah mereka mencerminkan keraguan, namun juga harapan untuk menemukan jawaban dalam setiap langkah yang mereka ambil.


Di tengah sudut ruangan yang diterangi cahaya matahari, Arin dan Anton berdiri dengan keyakinan, mewakili alternatif yang mereka tawarkan. Suara mereka bergabung dengan perbincangan yang mendalam, menjadi bagian dari upaya kolektif untuk mengungkap kebenaran di balik misteri ini.


Mereka pun memtuskan untuk kembali mengirim Anton dan Arin ke Aldater untuk menyelidiki tentang Kenneth yang sebelumnya menurut mereka agak mencurigakan