
Seorang gadis berjalan mondar-mandir di koridor sekolah dengan langkah ragu. Di depannya, terdapat sebuah ruangan, menampilkan tulisan besar yang terpampang di atasnya: "Klub Detektif". Ruangan itu merupakan markas klub detektif di SMA Bluestars, sebuah sekolah menengah atas yang terkenal di Elderlake. Di sekolah ini, setiap siswa diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Namun, untuk mereka yang tidak tertarik dengan ekstrakurikuler yang sudah ada, sekolah memberikan kebebasan untuk membentuk klub baru dengan syarat minimal memiliki lima anggota.
Gadis itu menatap pintu ruangan dengan tatapan yang penuh keraguan. Rasa ragu dan ketidakpastian tampak jelas dalam ekspresinya. Namun, di balik rasa ragu itu, terdapat keinginan yang kuat untuk menembus batas-batas ketidakpastian. Dengan hati yang bulat, ia mengumpulkan keberanian dalam dirinya dan melangkah maju, memutar knop pintu yang memisahkan dirinya dengan dunia misteri yang menanti di dalam ruangan tersebut.
Ketika ia melangkah masuk ke dalam ruangan klub detektif, pandangan gadis itu langsung tertuju pada suasana yang berbeda dari yang ia duga. Ruangan itu tidak sesuram yang ia bayangkan, dihiasi dengan dinding berwarna putih dan meja panjang di tengah ruangan yang dikelilingi oleh kursi. Papan pengumuman di sudut ruangan dipenuhi dengan gambar-gambar dan catatan-catatan yang menarik. Ruangan itu juga dihiasi dengan berbagai poster misteri dan gambar detektif terkenal yang terpampang di dinding.
"Kami tidak sedang mencari anggota baru," ucap suara misterius dari balik kursi putar dibalik meja di tengah ruangan. Sepertinya orang tersebut sedang memandangi pemandangan dari luar jendela. Terlintas dalam pikirannya bahwa itu pasti seorang gadis yang ingin bergabung dengan klub, karena tak mungkin ada orang lain yang membutuhkan jasa mereka. Klub ini sudah memiliki anggota yang cukup, dan tidak berminat menambah anggota lagi.
"Gue bukan mau mendaftar menjadi anggota. Gue..." gadis itu terhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan maksudnya. Ia merasa tekanan untuk mengungkapkan niatnya dengan jelas kepada orang tersebut yang tampak skeptis.
"Terus lo mau apa?" tanya suara misterius itu dengan sedikit keheranan, sambil memutar kursinya. Ekspresi mencerminkan kebingungan tentang apa yang diinginkan oleh gadis tersebut. Bagaimana mungkin ada alasan lain selain ingin menjadi anggota klub detektif? Kasus? tidak mungkin. Tetapi ia tersebut tetap memberikan kesempatan pada gadis itu untuk menjelaskan.
"Apa kalian benar-benar bisa menyelidiki dan mencari tahu tentang sesuatu? Bahkan jika itu terjadi di luar lingkungan sekolah?" tanya Hana sekali lagi, wajahnya mencerminkan keraguan dan kekhawatiran. Ia ingin meyakinkan diri bahwa klub detektif ini benar-benar mau menangani kasus-kasus di luar sekolah.
"Tentu saja. Memangnya kenapa?" ucap pria itu, suara penuh keyakinan. Sambil mengajak Hana untuk duduk di kursi, ia tampak antusias dengan potensi kasus baru yang muncul.
Hana pun duduk di depan pria itu, tetapi rasa ragu masih terlihat dalam tatapannya. Ia mulai berbicara dengan ragu, "Emmm, lo tau kan?... emm... tentang rumah susun di gang sempit dekat sekolah kita ini?"
Pria itu mengangguk, menunjukkan bahwa ia mengetahuinya. "Rumah susun itu... baru-baru ini... ada beberapa kasus bunuh diri," lanjut Hana.
Pria itu menatap gadis itu dengan antusias, menunjukkan ketertarikannya pada apa yang ingin gadis itu ceritakan. Hana merasa lega karena pria itu tampak serius mendengarkan ceritanya.
"Ini kedengaran aneh... tapi kalo ingatan gue gak salah... udah lima bulan gue tinggal disana... dan udah tiga orang yang bunuh diri. Dan sekarang kakak gue juga ngalamin hal aneh... Dia juga dapet duit," ungkap Hana dengan nada cemas.
Pria itu mengernyitkan dahinya lalu berkata, "Apa anehnya kalo seseorang dapet duit? Memang kenapa kalo seseorang dapat duit? siapa aja bisa dapet duit kan?"
Hana menjelaskan dengan penuh kekhawatiran, "Bukan itu masalahnya... Duit itu datang dengan cara yang... aneh. Seolah-olah duit itu muncul begitu saja tanpa alasan yang jelas. Dan setiap orang yang mendapatkan duit itu, entah bagaimana, selalu ada yang mengalami hal buruk setelahnya. Aku takut kakakku akan mengalami nasib yang sama."
Pria di hadapannya mendengarkan cerita Hana dengan serius, namun ekspresi wajahnya tetap tenang. Ia tampaknya mengendalikan perasaan ingin tahu dan rasa ingin membantu, sambil mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Hana.
"Orang yang meninggal bulan lalu... dia adalah wanita yang tinggal di lantai atas kami, tepatnya lantai tujuh. Aku cukup dekat dengannya meski baru tinggal sebulan. Dia memberitahuku bahwa dia mendapatkan uang... Uang itu berada di dalam sebuah koper, namun uangnya punya banyak noda coklat. Dia memperlihatkan padaku uang tersebut. Dan tadi malam, aku melihat hal yang sama di tangan kakakku," lanjut Hana, mencoba memberikan gambaran yang lebih jelas.
Hana berhenti sejenak, tampak ragu dalam mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan selanjutnya. Dia mengungkapkan ketakutannya, "Emmm, ini terdengar sangat aneh, tapi angka pada uang itu semuanya adalah 666. Bahkan kode untuk membuka koper tersebut juga sama... 666. Apa mungkin dia bunuh diri karena terpengaruh oleh iblis?" gadis itu berhenti sejenak, memandang pria di hadapannya dengan pandangan penuh tanda tanya.
Pria itu mendengarkan dengan cermat dan wajahnya tetap tenang. Dia bisa merasakan ketakutan Hana, tetapi dia tidak langsung menolak apa yang diungkapkan gadis itu. Meskipun angka 666 sering dikaitkan dengan konotasi negatif atau mistis, pria itu berusaha untuk tetap berpikiran terbuka.
"Jadi lo mau kami nyelidikin tentang asal usul uang itu?" tanya pria itu, memastikan kembali maksud gadis itu.
Terdengar bunyi putaran knop pintu. Masuklah seorang pria dengan rambut hitam yang mengkilap, tubuh atletis, dan wajah tampan. Ia melangkah masuk dengan percaya diri, menatap dengan pandangan yang penuh pertanyaan.
"Dia datang untuk meminta kita menyelidiki sesuatu," ucap pria berkacamata itu, kepada pria yang baru masuk. Pria yang baru datang hanya mengangguk mengerti.
"Walaupun telat, sebelumnya kenalin, gue Rolan, dan dia David," ujar pria berkacamata itu, sambil menunjuk ke arah David. Pria yang baru masuk itu kemudian melangkah dan duduk di lengan kursi yang berdekatan dengan Rolan, sambil memperhatikan gadis tersebut.
"Dia Hana Almaira, ingin kita menyelidiki kasus bunuh diri yang terjadi di rumah susun dekat sekolah. Apakah ada kaitannya dengan uang berangka aneh yang sekarang mungkin berada di tangan kakaknya?" lanjut Rolan, memperkenalkan Hana kepada David.
Gadis itu terlihat terkejut dengan hal yang ducapkan Rolan.
"Bagaimana mungkin? kau tau namaku?" tanya Hana dengan tatapan heran.
"Apakah menurutmu name tagmu itu tembus pandang?" ucap Rolan dengan senyum ringan, sambil menatap name tag yang terpampang jelas di seragam Hana.
"Iya juga yah, aku benar-benar minta tolong tentang hal itu secepatnya, aku takut akan terjadi apa-apa pada kakakku karena uang itu," ucap Hana, mencoba mengatasi kebingungannya dan menyampaikan permohonan bantuan dengan jelas.
David mengangguk serius, "Kami akan segera memulai penyelidikan. Kami butuh seluruh informasi yang kamu miliki tentang kasus ini. Semakin banyak informasi, semakin besar peluang kami untuk menemukan jawabannya."
Rolan menambahkan, "Dan jangan khawatir, kami akan berusaha yang terbaik untuk membantu kakakmu. Kita akan bekerja bersama untuk mencari tahu apa yang terjadi."
Setelah Hana pergi, Rolan mengambil formulir yang telah diisi oleh gadis itu. Ia membacanya dengan seksama, mencatat beberapa poin penting yang mungkin relevan dengan kasus. Kemudian, ia menyimpan formulir tersebut dengan rapi di dalam laci meja.
"Kasusnya lumayan menarik, ya?" ucap Rolan pada David dengan antusias, terlihat bahwa ia sangat tertarik dengan misteri di balik uang aneh dan kasus bunuh diri tersebut.
"Apaan menarik, baru denger aja udah horor," timpal David dengan nada tegas, menunjukkan bahwa ia cenderung lebih skeptis dalam menghadapi kasus-kasus yang terkesan mistis.
"Nggak, kok. Kedengarannya seru," balas Rolan dengan penuh semangat, tetap tidak terpengaruh oleh ketakutan atau kesan horor.
"Tapi kalo diingat-ingat lagi, rumah susun itu setelah di tempati memang banyak orang yang bunuh diri," kata David, mencoba mengingat-ingat tentang rumah susun tersebut. Rolan hanya mengangguk, menunjukkan bahwa ia telah menyadari fakta tersebut.
"Kita ketemu di sini sepulang sekolah. Jadi tolong hubungi yang lain dan sebelum mereka masuk ruangan ini, cari tahu lebih lanjut tentang rumah susun itu dan Hana," perintah Rolan.
Tanpa menjawab, David hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Mereka berdua pun meninggalkan ruangan tersebut dan pergi ke kelas masing-masing, mengikuti pelajaran hingga jam pulang mereka pada pukul 3 sore.