The Flats

The Flats
CHAPTER 32



Rolan sedang mengerjakan tugasnya, saat sebuah pesan masuk. Isinya membuatnya terkejut, Arin dan Anton sedang terjebak masalah di Aldater saat memeriksa rumah Kenneth. Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar rumah dan menuju rumah David. Untungnya David saat itu sedang di garasi, mengutak atik motornya. Mereka berdua pun berangkat bersama menggunakan mobil David.


Dalam ketegangan yang membelenggu, anggota laki-laki klub detektif bersatu kembali. Setelah menerima pesan panik dari Arin dan Anton, Rolan segera bergerak dengan cepat. Nyawa teman mereka dalam bahaya, dan tidak ada waktu untuk meragukan keseriusan situasi.


Rolan, yang sudah berada di perjalanan dengan David, memacu mobilnya secepat mungkin melalui jalan yang ramai. Dia tidak bisa menahan kekhawatirannya dan berharap agar mereka tiba di Aldater lebih cepat.


Ditengah-tengah perjalana ia mengirimkan pesan ke Arsen.


"Oi, dapet pesan dari Arin gak?" Tanya Rolan melalui pesan teks.


"Arin? gak ada. Emang kenapa An?" Balas Arsen bertanya kembali.


"Dia ngirim pesan, saat masuk kerumah Kenneth ada orang yang masuk juga, dan sekarang Anton lagi berantem sama orang itu." Balas Rolan menjelaskan situasi Arin dan Anton.


"Gawat dong, lu udah dijalan ke sana? Gue usahin secepetnya kesana, gue lagi makan sama keluarga, kalo gue tinggal bisa-bisa diomelin sama nyokap, bentar lagi kelar kok." Balas  Arsen menjelaskan situasinya..


Di tengah kepanikan yang menggebu-gebu, mereka tahu bahwa solidaritas dan persahabatan mereka adalah kekuatan terbesar mereka. Setiap tikungan jalan, setiap hentakan mobil, dan setiap langkah kaki membawa mereka lebih dekat ke Aldater, tempat teman mereka dalam bahaya. Dalam kegelapan malam yang semakin mendalam, tekad mereka untuk menyelamatkan Anton semakin kuat, dan mereka bersumpah untuk menyelesaikan misteri ini dan menghadapi siapa pun yang berani mengancam nyawa salah satu dari mereka.


Disis lain, dalam keadaan yang penuh kepanikan, Arin merasa hatinya berdegup kencang saat ia melihat Anton semakin terpojok, ia pun keluar dari tempat persembunyiaanya di bawah kolong tempat tidur. Ia melihatt sebuah vas bunga di meja samping tempat tidur, tangannya meraih vas tersebut. Tangannya gemetar saat ia mengayunkannya dengan sekuat tenaga ke arah kepala pria itu. Suara pecahan kaca memenuhi ruangan saat vas tersebut menghantam sasaran.


Pria itu terhempas ke lantai dengan tubuhnya yang limpah. Pingsan oleh kekuatan pukulan yang tiba-tiba. Namun, kesadarannya kembali dengan cepat. Matanya terbuka, dan ia mencoba untuk bangkit.


Arin dan Anton tidak memberinya kesempatan. Anton segera menahanya, dengakan Arin segera mencari sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk mengikat, ia pun menemukan sebuah lakban hitaam di laci meja samping tempat tidur tersebut. Dengan cemas, mereka bekerja cepat dan efisien mengikat tangan dan kaki pria itu. Mereka  melilitkan lakban itu sekencang mungkin, dan mereka lakukan berulang-ulang, memastikan bahwa pria itu tidak akan bisa melepaskan diri.


Keduanya menatap pria itu, yang sekarang terjebak dan tak berdaya. Napas mereka terengah-engah akibat adrenalin yang memenuhi tubuh mereka. Tapi mereka tahu bahwa pekerjaan mereka belum selesai. Ada pertanyaan yang perlu dijawab, dan ada misteri yang masih harus mereka pecahkan. Dalam keheningan tegang itu, mereka bersiap untuk menginterogasi pria itu, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi dan siapa sebenarnya orang yang menyerang mereka ini.


Namun, sebelumnya Arin kembali mengirim pesan kepada Rolan. Pesan dari Arin yang menyatakan bahwa mereka berdua selamat memberikan sedikit kelegaan kepada anggota klub detektif yang ldatang membantunya, meskipun kekhawatiran mereka masih menggelayuti pikiran. Kehadiran teman-teman di sekitar memberikan semacam semangat dan kekuatan ekstra yang diperlukan dalam situasi genting seperti ini.


Dengan cepat dan dengan hati yang dipenuhi rasa cemas, anggota klub detektif yang lain terus melanjutkan perjalanan mereka menuju area dermaga tersebut. Langkah-langkah mereka yang terburu-buru menciptakan jejak di tanah, menggambarkan tekad mereka untuk segera mencapai tujuan.


Mereka tahu bahwa waktu adalah elemen kunci dalam situasi ini. Setiap detik yang berlalu bisa menjadi perbedaan antara keselamatan dan bahaya. Dalam ketegangan yang terasa semakin mendalam, mereka terus maju dengan tekad yang bulat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan membantu teman-teman mereka.


Pria itu terbangun dengan perlahan dari keadaan tidak sadarnya. Matanya yang memar dan wajahnya yang pucat mencerminkan bahwa dia baru saja mengalami pengalaman yang cukup traumatis. Sesaat, dia merasa kebingungan, seolah-olah terjebak dalam keadaan yang tidak dikenal. Tetapi seiring waktu, ingatannya kembali ke permukaan, dan dia menyadari bahwa dia berada di hadapan beberapa orang yang tampaknya telah menyelamatkannya.


Dalam suasana ruangan yang redup, Arsen, Arin, Anton, David, dan Rolan berdiri mengelilingi pria yang mereka temukan di rumah Kenneth. Pria itu masih terikat, tetapi sekarang dia sudah lebih sadar. Matanya memandang dengan campuran antara ketakutan dan keterkejutan saat dia melihat ke arah kelima pemuda ini.


Rolan, yang tampaknya paling tenang di antara mereka, mulai berbicara dengan tegas, "Baiklah, bicaralah. Siapa kamu, dan apa hubunganmu dengan Kenneth?"


Pria itu, yang ternyata adalah Kenneth sendiri, menelan ludah sebelum dia menjawab, "Saya Kenneth, ini rumah saya, dan mengira dia orang yang dikirim Smith karena itu saya menyerangnya. Saya tinggal di sini untuk bersembunyi dari orang berbahaya, yaitu Smith."


Anton menambahkan, "Kami mendapat informasi bahwa Smith adalah pelaku di balik semua ini, tetapi kami tidak memiliki gambaran tentang wajahnya. Bagaimana anda bisa tahu tentangnya?"


Kenneth menjelaskan, "Saya pernah melihat wajah Smith, tetapi saya melarikan diri karena saya mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya saya ketahui. Dia mencoba mengejar saya, jadi saya bersembunyi di sini. Rumah ini saya buat seolah-olah tidak ada yang tinggal di sini agar dia tidak menemukan saya."


David bertanya, "Apa yang sebenarnya Anda ketahui tentang Smith? Apa yang membuatnya begitu berbahaya?"


Kenneth menghela nafas, tampak enggan untuk mengungkapkan rahasia tersebut. Namun, dia tahu bahwa saat ini tidak ada pilihan lain. "Smith bukanlah orang biasa. Dia terlibat dalam sebuah kultus sesat, dan dia bisa dengan mudah membunuh untuk mencapai tujuannya, selain itu dia juga sangat licik. Saya takut dia akan melakukan apa saja untuk melindungi rahasianya."


Rolan bersikeras, "Kami butuh bantuanmu, Kenneth. Kami berusaha menyelidiki kasus ini dan melacak Smith, tetapi kami tidak punya petunjuk yang cukup. Bisakah kamu membantu kami menemukan dia?"


Kenneth duduk di tengah-tengah anggota klub detektif, tampak tegang namun bertekad untuk berbagi informasi yang dia ketahui. Dengan nafas dalam-dalam, dia mulai menceritakan kisahnya.


"Sebelum saya bersembunyi di sini, saya adalah salah satu pekerja di proyek pembangunan ulang rumah susun yang memakan korban itu, atau setidaknya saya pikir begitu. Saya tahu Smith, karena dia berteman dengan Robert  yang merupakan teman  saya. Kami berteman sejak kecil, dan kami pernah bekerja bersama di berbagai proyek pembangunan, termasuk pembangunan ulang rumah susun ini."


Kenneth terdiam sejenak, tampak berusaha untuk mengatasi kenangan yang tidak menyenangkan. Kemudian, dia melanjutkan, "Namun, beberapa tahun yang lalu, Robert berubah. Dia mulai menjauh dari teman-teman lama, termasuk saya. Saya mencoba mencari tahu apa yang terjadi, dan akhirnya, saya menemukan bahwa dia telah terlibat dalam suatu kultus sesat, katanya itu bisa membuatnya kaya."


Wajah-wajah anggota klub detektif menjadi semakin serius, dan mereka mendengarkan dengan penuh perhatian.


Saat Kenneth menceritakan pengalamannya pada klub detektif, pandangannya pun melintas ke masa lalu, ke saat yang mengerikan yang tak bisa dia lupakan.


Pada malam itu, suara angin berbisik di sekitar rumah terlantar tempat mereka berkumpul. Kenneth mencoba untuk tetap waspada, meskipun rasa kantuk menghampirinya. Sejenak, matanya terpejam, dan dia pun tertidur pulas.


Ketika dia terbangun, suasana gelap gulita telah mengelilinginya. Suasana terasa begitu aneh, dan dia merasakan ada yang salah. Dalam kegelapan, dia melihat dua sosok berdiri di tengah ruangan yang ditempatinya. Salah satunya adalah Smith, temannya, dan yang lainnya adalah Robert, pemimpin sekte sesat yang mengerikan.


Smith dan Robert tampak berdebat dengan sengit, kata-kata kasar mereka saling terbangkan. Smith menggores tangannya dengan pisau kecil, dan tetesan darahnya jatuh ke atas tujuh koper uang yang tersusun rapi di depan mereka. Itu adalah uang hasil kejahatan yang dicuri oleh sekte tersebut.


Robert dengan amarah berkata kepada Smith, "Kamu tidak akan bisa menggunakan uang ini, Smith. Jika kamu melakukannya, kamu akan dikutuk. Padahal aku lebih dulu masuk ke dalam perkumpulan ini, dan mereka lebih mempercayaimu daripada aku."


Smith, yang tak bisa mengendalikan emosinya, mendorong Robert dengan keras.Membuat Robert jatuh seketika dari bangunan itu.


Kenangan tersebut membuat Kenneth merasa takut dan penuh dengan pertanyaan. Dia menyadari bahwa ini adalah salah satu kunci untuk mengungkap misteri ini, tetapi juga merupakan bagian dari masa lalunya yang mengerikan yang belum sepenuhnya dia pahami.


Pandangan pria itu melintas dari wajah ke wajah anggota klub detektif. Mereka tampak serius dan penuh pertanyaan. Pria itu, dengan ekspresi yang masih agak lemah, mencoba menjawab pertanyaan mereka. Dia menceritakan kisahnya, bagaimana dia berusaha untuk sembunyi dari seseorang yang bernama Smith, seseorang yang tampaknya sangat berbahaya.


Rasa lega terasa ketika Kenneth menyadari bahwa orang-orang di hadapannya tidak ada hubungannya dengan Smith. Mereka datang untuk membantu, dan dia merasa terharu oleh perasaan solidaritas ini. Kenneth menjelaskan bahwa dia telah pindah ke daerah dermaga ini untuk bersembunyi, dan rumahnya yang tampak tak terawat adalah bagian dari upaya itu.


Dalam percakapan itu, terungkap beberapa fakta penting yang mungkin membantu anggota klub detektif lebih dekat pada jawaban yang mereka cari tentang kasus ini. Yang pasti, Kenneth adalah potongan penting dalam teka-teki yang semakin rumit ini, dan saat ini, mereka perlu bekerja sama untuk mengungkap kebenaran yang terpendam.