
Setelah penyelidikan mereka berdua, Rolan pun mengabari Viona dan Riri untuk membahas hasil temuannya dan David.
Hari beranjak menuju senja ketika Viona dan Riri tiba di kafe yang telah disepakati. Cahaya matahari yang merona memancar melalui jendela, menciptakan suasana yang hangat di dalam kafe. Mereka berdua melangkah masuk dengan langkah mantap, wajah mereka penuh semangat untuk membagi tugas yang telah direncanakan.
Rolan dan David sudah duduk di salah satu sudut kafe, menunggu dengan sabar. Keduanya membawa secangkir kopi, memanfaatkan waktu mereka untuk mengobrol dan merencanakan langkah selanjutnya. Sesaat kemudian, Viona dan Riri tiba, tersenyum ramah saat melihat teman-teman mereka.
Mereka duduk bersama di meja yang sudah disiapkan. David membuka laptopnya, menampilkan daftar nama-nama Smith yang telah mereka peroleh. Suasana kafe terisi dengan semangat dan antusiasme. Riri dan Viona memperhatikan dengan serius, menelusuri daftar tersebut dengan mata tajam.
"Jadi, kita akan membagi daftar ini menjadi dua, dan masing-masing dari kita akan mencari tahu lebih lanjut tentang dua orang Smith yang ada di daftar ini," ujar Rolan dengan penuh semangat.
Viona mengangguk setuju, "Benar, dengan cara ini kita bisa lebih cepat mendapatkan informasi yang dibutuhkan."
Riri menambahkan, "Kami akan mencari tahu apakah ada hal yang mencurigakan atau hubungan apapun yang dapat dihubungkan dengan kasus ini."
Dengan semangat yang sama, mereka mulai membagi daftar nama. Viona dan Riri mencatat dengan cermat nama-nama Smith yang akan mereka selidiki. Setiap detail adalah bagian penting dari teka-teki ini, dan mereka memahaminya dengan baik.
Setelah pembagian tugas selesai, mereka mulai membicarakan rencana selanjutnya. Mereka akan bergerak secara terpisah, mengunjungi rumah-rumah yang tertera di daftar, mencari tahu lebih banyak tentang masing-masing orang yang bernama Smith. Jika ada yang menemukan informasi menarik atau mencurigakan, mereka akan berkumpul kembali di kafe ini untuk berdiskusi lebih lanjut.
Sementara mereka berbicara, suasana kafe semakin hangat. Cahaya senja melintas di luar jendela, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding. Teman-teman detektif ini saling bertukar pandangan, penuh keyakinan bahwa langkah-langkah mereka akan membawa mereka lebih dekat pada jawaban yang mereka cari.
Dalam kesatuan semangat dan tekad, mereka berencana untuk menyusuri jejak-jejak Smith, menggali lebih dalam tentang siapa yang sebenarnya ia dan apakah ia memiliki keterkaitan dengan korban. Di antara percakapan yang penuh semangat dan ketekunan, mereka menyatukan usaha mereka untuk mengungkap misteri yang semakin terasa dekat.
Matahari telah tenggelam, menyisakan langit senja yang memerah di ufuk barat. Di sebuah persimpangan jalan, mereka berkumpul untuk berpisah ke berbagai arah. Dalam suasana petang yang tenang, Viona melangkah menuju alamat Alfred di Jalan Kelinci. Di hadapannya, jalan yang teduh diterangi oleh cahaya lampu jalan yang mulai menyala.
Ruang antara bangunan semakin lama semakin terasa sunyi, hanya diselingi oleh langkah-langkah lembut Viona yang terdengar saat ia melangkah. Di dekatnya, rumah-rumah dengan beragam bentuk dan ukuran berdiri berdampingan, menunggu cerita-cerita mereka untuk diungkap.
Tidak jauh dari sana, David melangkah dengan mantap menuju alamat Daniel dan John di Jalan Anggrek. Cahaya lampu jalan membentuk pola bayangan yang menari di jalanan. Pohon-pohon dan taman-taman kecil di sekitar memberikan nuansa sejuk yang menyegarkan udara petang.
Sementara itu, Riri melintasi Jalan Mawar dan berjalan menuju alamat Emily. Di tengah perjalanan, dia merasa angin sepoi-sepoi yang menyapu rambutnya. Bangunan rumah-rumah di sepanjang jalan tampak damai dalam siluet senja yang berpadu dengan kehangatan cahaya lampu rumah.
Di tempat yang berbeda, Rolan melangkah di Jalan Merpati menuju rumah Catherine. Di sepanjang jalan, ada pepohonan yang menjulang tinggi, menciptakan rasa teduh meski matahari sudah terbenam. Suasana senja yang mempesona membuat perjalanan menuju alamat tujuannya semakin menyenangkan.
Mereka berempat menjelajahi berbagai sudut jalan, bergerak menuju tujuan masing-masing. Jalanan yang tenang dan sepi di bawah langit senja memberikan nuansa keheningan yang cocok dengan semangat mereka dalam mengungkap kebenaran. Sambil mengenang instruksi dan informasi yang telah mereka peroleh, mereka melanjutkan perjalanan, menuju rumah-rumah yang mungkin menyimpan rahasia di balik pintu-pintunya.
Di tengah udara senja yang memancarkan warna jingga dan merah di langit, David berdiri di depan rumah pertama di Jalan Anggrek. Rumah ini tampak usang dan tidak terurus, seperti sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Sekelompok daun kering yang terbawa angin terhampar di depan pintu, menambah kesan sepi dan terlantar.
Langkahnya melaju mendekati pintu rumah yang sedikit terbuka. Tidak ada suara atau tanda-tanda kehidupan yang terdengar. Hanya sunyi yang menyelimuti sekeliling, seolah-olah waktu berhenti di tempat ini. Pemandangan rumah ini membuatnya semakin yakin bahwa orang yang tinggal di sini adalah seseorang yang mungkin memiliki keterkaitan dengan kasus yang mereka selidiki.
Dengan hati yang berdebar, David berjalan menuju pintu rumah pertama. Dia merasa seperti langkah-langkahnya menggetarkan tanah di bawahnya, menciptakan denyut nadinya yang semakin kuat. Dia mendekati pintu depan yang terlihat sudah lama tidak digunakan, dan dia tidak bisa menahan rasa ingin tahu untuk mengetuknya.
"Tertarik dengan rumah ini?" David tiba-tiba terkejut oleh suara yang datang dari belakangnya. Dia berbalik dan melihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk di ambang pintu tetangga. Pria itu tersenyum dengan tampilan yang agak aneh, seakan-akan dia tahu mengapa David ada di sana.
"Ya, saya hanya ingin tahu lebih banyak tentang rumah ini. Rumah ini tampak menarik diantaran rumah yang lainnya," kata David sambil mencoba tetap tenang.
Pria itu tertawa singkat, suaranya bergema di sekitar halaman yang sunyi. "Ah, ya. Mr. Smith dulu tinggal di sini. Tapi itu sudah lama sekali. Apa yang membuat Anda tertarik pada sejarah rumah ini?"
David merasa adanya sesuatu yang disembunyikan dalam senyum pria itu, namun dia hanya bisa merasakan ketidaknyamanan yang semakin dalam. "Saya hanya tertarik pada cerita-cerita lama dan sejarah bangunan, itu saja."
Pria itu mengangguk, pandangannya tetap menelusuri David seolah mencoba membaca apa yang ada di balik tatapannya. "Baiklah, jangan terlalu lama di sini. Rumah ini tidak ada yang menarik lagi, percayalah."
David merasa ada pesan tersembunyi dalam kata-kata pria itu, tapi dia memutuskan untuk tidak menggali lebih dalam. Dengan senyuman tipis, dia mengucapkan terima kasih dan berjalan pergi dari rumah yang penuh misteri itu.
Setelah mengatasi pertemuan yang aneh tadi, David berjalan menuju rumah kedua. Meskipun bangunan ini lebih kecil dari yang pertama, kesan sepi dan terlantar masih kental terasa. David berjalan melalui pintu gerbang yang sudah dalam kondisi memprihatinkan, dan mencoba untuk membayangkan apa yang ada di dalam rumah ini.
Dia menghampiri jendela dan merentangkan pandangan ke dalam. Ruangan tampak gelap dan sunyi, tapi dia bisa melihat sedikit kilauan cahaya dari balik gorden yang tertutup. Tanpa sadar, dia merasa adanya benang-benang misteri yang menjeratnya, mengajaknya lebih dalam ke dalam cerita yang belum terkuak.
Dalam kegelapan, David merasa dia harus menggali lebih dalam lagi, mencari tahu tentang Mr. Smith dan keterkaitannya dengan rumah-rumah ini. Dalam suasana senja yang semakin merayap, dia merasa keingintahuannya semakin tumbuh, membawanya pada petualangan yang mungkin akan membuka tabir dari misteri yang belum terpecahkan.
Dua rumah yang terbengkalai dan tanpa penghuni ini memunculkan pertanyaan lebih banyak lagi. Siapakah yang tinggal di dalamnya? Apa yang terjadi dengan pemilik gedung sebelum renovasi? Apa hubungannya dengan kasus yang mereka selidiki? Dalam senja yang semakin merambat, ketidakpastian semakin tumbuh, dan angin senja menerpa rumah-rumah tersebut seperti bisikan rahasia yang tak kunjung terungkap.