
Suara itu semakin jelas terdengar. Menggema. Riuh mengisi ruangan ganti prajurit di malam hari. Aku masih tertegun tak percaya dengan apa yang aku lihat dengan kedua mataku. Apakah ini sebuah keajaiban yang terjadi padaku? Pertanyaan gila silih berganti memutari ruang di kepalaku.
Mataku bak kamera pengintai dengan penglihatan infrared berteknologi tinggi itu menyapu sekitar. Memperhatikan grafik-grafik gila. Ajaibnya pandangan malam ini dapat menembus beberapa barang tebal yang berada di depanku. Aku semakin merasakan tidak nyaman dengan grafik berwarna merah yang sedari tadi terus turun naik.
Tak lama, terlihat bayangan berwarna merah berjalan dari kejauhan. Dia seperti rangka manusia berbadan besar dan tinggi. Jantungku berdegup dengan sangat cepat. Apakah aku sedang bermimpi menjadi pemeran dalam sebuah game virtual yang menunggu datangnya musuh?
Dalam hitungan detik sosok berbadan besar itu tepat berada didepanku. Dia membelakangi, tidak melihat keberadaanku. Aku berhasil menyembunyikan diri dibalik loker prajurit. Sekali lagi alarm itu terdengar menggila. Peringatan bahaya muncul lagi. Desah nafas yang memburu terdengar samar. Langkah kaki sosok itu berhenti, aku masih mengintai sekeliling untuk melarikan diri dari bahaya yang mungkin saja terjadi. Tapi, sebuah pesan muncul tiba-tiba. Aku tidak mengerti bagaimana cara kerjanya?
"Kamu dalam sebuah misi selesaikan misi tersebut untuk menemukannya" kataku lirih sambil membaca pesan itu tak mengerti. Kedua telapak tanganku mencoba menepuk-nepuk pipi untuk menyadarkan diri, tapi tetap hasil yang sama. "Apa ini? Aku baru saja menjadi karakter di sebuah game gila? Ini tidak masuk akal" kataku sambil mendengus dan menghela napas sangat panjang sebelum memastikan diri siap untuk menjalankan misi gila itu. Tapi apa yang harus aku lakukan?
Aku mencoba melihat sekeliling, sosok itu masih terdiam di tempatnya tidak bergerak. Tidak ada tanda tanda yang membahayakan. Aku mengumpulkan keberanian sebagai seorang prajurit untuk melumpuhkan musuh. Dengan mengendap-ngendap aku berjalan perlahan mendekati sosok besar itu. Sebuah pistol tiba-tiba dalam genggamanku, pistol tipe TR01. Kini jarak kami sudah berdekatan hanya beberapa inci saja,
"Siapa kau?" Tanya ku lirih pada sosok besar itu, dia tidak menjawab. Badannya berbalik menghadap ke arahku.
Tiba-tiba pencahayaan disini kembali, mataku tidak lagi melihat grafik dan tulisan-tulisan aneh. Aku dapat melihat jelas wajah si sosok besar itu, sontak membuat aku tertegun melihatnya. Tanganku dengan tiba-tiba mengarahkan pistol padanya,
"Bing? Apa yang kau lakukan disini? Tanyaku lagi, dia masih tidak bicara. Dia mendekat perlahan ke arah ku. Memperhatikan apa yang ada pada tanganku
"Diam jangan bergerak" kataku lantang sambil menodongkan pistol ke arahnya lagi. Dia tersenyum sambil menyeringai, kedua tangannya diangkat tanda menyerah.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku lagi mengulangi, dia menghela napas panjang sebelum ia berkata,
"Bisakah kau turunkan benda itu dulu? Itu membuatku takut"
Aku tidak mendengarkannya, dan mengulangi pertanyaanku "Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku merindukanmu Rezi" katanya menyeringai, mencoba mengalihkan pembicaraan
"Aku bertanya padamu sekali lagi, apa yang sedang kau lakukan disini? Dimana Wendy?" Tanyaku dengan nada sedikit membentak
Dia terdiam. Raut wajahnya berubah. Tatapannya menjadi dingin. Sekali lagi dia menghela napas panjang, mencoba menenangkan situasi, sebelum akhirnya ia mengakui,
"Aku disini untuk menemuimu, beberapa jam lalu aku sempat berbincang dengannya, namun beberapa saat kemudian aku benar-benar tidak ingat apapun" ucapnya datar
Aku masih belum dapat mempercayainya, aku mencoba untuk tenang dan berpikir.
"Aku disini untuk menjalankan misi, tapi aku baru saja kehilangan petunjuk itu" ucap Bing menambahkan, sontak membuat aku terkejut dan tertarik untuk membahas apa yang baru saja ia bicarakan,
"Misi? Apa maksudmu?"
"Kau akan mengerti nanti, setelah waktu yang ada pada tubuhmu diaktifkan"
"Waktu? Apa yang kau bicarakan?"
"Wanita itu telah menanamkan sebuah pengatur waktu pada sistem yang dipasangi ditubuhmu, kau terkadang akan merasa menjadi manusia sebenarnya"
"Apa kau sudah gila? Berbicaralah yang benar!" Kataku menyentak
Dia tertawa sinis dan berkata, "Ayolah kau jangan lamban menjadi seorang Findsher"
Aku benar-benar kesal dengan situasi ini. Apa yang sedang dia bicarakan? Apa dia mabuk? Atau dia sudah gila? Mengapa aku benar-benar tidak mengerti maksudnya? Hampir saja aku menarik pelatuk pada pistol untuk menggertaknya.
"Hey, kau jangan terlalu buru-buru sayang. Kita baru saja bertemu apa kau tidak rindu?"
"Letnan apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Ruth dengan lantang, aku mengepalkan sebelah tanganku memberikan isyarat agar mereka diam ditempat dan tidak meghampiri kami, dan sebelah tanganku masih mengarahkan senjata api type TR01 itu ke arah Bing si pria jangkung besar itu.
"Kau akan berbicara atau aku akan tarik pelatuknya?" Ucapku lagi pada Bing, dia terlihat tidak nyaman dengan keberadaannya, "Aku tanya sekali lagi padamu, apa yang sedang kau lakukan disini?"
Keheningan terjadi beberapa saat. Mata kami saling bergantian menatap. Ke tiga rekanku yang berdiri mengelilingi kami berdua sibuk mengawasi gerak-gerikku, seolah aku musuh bagi mereka. Hingga, terdengar sebuah ledakan yang sangat keras menggema dikedua telinga memecah keheningan. Sontak kami semua merunduk. Mengamankan diri.
Dan sekali lagi dentuman ledakan kedua terdengar sangat dahsyat, hampir merobohkan setengah ruangan. Tanpa sadar aku menarik lengan Bing dan mengarahkannya keluar ruangan. Ruth, Petter dan Smith menunjukan jalan dan mengevakuasi kami berdua.
Kami semua berhasil menyelamatkan diri. Kami semua bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi. Hampir sebagian Camp luluh lantak. Berantakan. Terlihat kepulan asap hitam dan tebal beserta api yang melahap atap gedung militer.
Sedangkan aku haya terdiam. Tubuhku seakan membatu menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Percis setahun yang lalu.
"Apa yang baru saja terjadi?" Terdengar lirih perkataan Petter, seakan tenaganya habis untuk berkata
"Letnan kau baik-baik saja?" Ucap Ruth sambil mengguncangkan tubuhku dengan tangannya yang kuat, "Kita harus pergi dari sini" ucapnya lagi
Aku menepis kedua tangannya dengan kuat. Seakan kesadaranku kembali, "Kita selamatkan siapapun yang masih selamat. Bawa mereka ke tempat aman dan segera cari bantuan" ucapku memberikan komando
***
Kami berpencar sesuai arahan yang telah kami putuskan. Tentu saja Bing bersamaku, dia tidak boleh hilang dari pandanganku untuk saat ini. Kami sibuk mencari ke setiap tempat yang masih utuh dan berhasil mendapati beberapa orang yang selamat, aku bersama mereka lantas pergi menuju tempat yang lebih aman.
Dengan langkah memburu kami menuju lapangan upacara yang berada di belakang Camp. Untungnya tempat yang luas dan jauh dari risiko tertimpa reruntuhan. Setelah mengevakuasi beberapa orang yang selamat, aku kembali mencari orang-orang yang kemungkinan masih terjebak didalam reruntuhan.
Aku berlari sekuat tenaga. Kepulan asap tebal sudah mulai menghalauku untuk tidak kembali. Ada beberapa tempat lagi, kemungkinan beberapa orang masih terjebak disana, mengingat siang tadi telah diadaka pertemuan dengan para petinggi.
Suara percikan api yang membakar beberapa perabot dan puing-puing bangunan terdengar mengiringi langkahku, saat hendak menaiki tangga. Bing tiba-tiba menahanku,
"Heh, apa kau sudah gila? Tempat itu mungkin sudah terhalang oleh api, kau mau bunuh diri?" Katanya berteriak. Aku terdiam seakan tersadar dari insting radar ku.
"Rezi, meskipun kau seorang prajurit kau tidak harus mengorbankan diri. Dengar, kau pasti akan menemukan mereka dengan baik" katanya lagi sambil memegangi kedua lenganku dengan lembut, mata kami saling bertukar tatap,
"Baiklah, aku akan membantumu untuk menyelamatkan orang-orang yang masih terjebak. Tapi kau tidak boleh ceroboh, mengerti?" Katanya lagi sambil tersenyum
Suara walkie talkie terdengar, antena radio kecil itu menangkap sinyal. Pesan yang diterima melalui siara itu terdengar tak jelas, banyak sekali gangguannya.
"Bravo, disini Delta. Lapor situasi saat ini sudah aman sebagian prajurit telah aman, over"
"Ya" kataku sambil menutup pembicaraan melalui radio, bukannya aku harus lega dan tenang saat sebagian prajurit sudah ditemukan? Tapi perasaan ini tetap saja tidak enak. Bing masih memperhatikan ku, sesekali ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan,
"Kita kembali" kataku lirih sambil mengarah kembali ke tempat semula, Bing hanya mngangguk mengiyakan,
Sepanjang jalan kami berdua tidak saling bicara, mungkin rasa canggung menyelimuti kami berdua. Namun, ketika kami akan sampai di titik kumpul, pengelihatanku lagi-lagi menjadi gelap, tubuhku terasa ringan. Mataku, apa lagi ini? Apa aku kembali menjadi karakter tokoh di game? Bing sepertinya merasakan hal yang sama.
Wajahnya berubah kaku, kami terdiam setelah itu. Grafik yang turun naik dan beberapa tulisan seperti koding yang tidak aku mengerti turun naik silih berganti tampil dipengelihatanaku.
Bing menggenggam tanganku sangat erat. Aku tidak mengerti. Dia seperti sudah terbiasa dengan keadaan aneh ini. Tangannya sangat dingin dan bergetar. Kemudian dengan lirih dia berkata,
"Misi telah dimulai"
***