The Findsher

The Findsher
Pertemuan



Kini Camp banyak didatangi para petinggi Angkatan Darat. Mereka sibuk menanggapi isu negatif sejak Joseph muncul dengan tiba-tiba. Tidak terkecuali Rezi menjadi sasaran untuk dimintai keterangan dan informasi oleh para aparatur negara. Rezi yang tidak tahu harus berkata apa, dia hanya terdiam disudut luar ruangan isolasi. Dia hanya menyaksikan para tenaga medis yang sibuk lalu lalang memeriksa keadaan Joseph.


Masih dihantui rasa tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Joseph menghilang setelah satu tahun lamanya. Dengan tiba-tiba dia hadir dihadapannya dengan seragam lengkap sama dengan seragam yang Joseph pakai satu tahun lalu. Hampir tidak masuk akal. Beberapa kali Rezi mencoba mencerna hasil pemikirannya terhadap dugaan-dugaan yang mungkin terjadi pada Joseph setahun belakagan ini. Tangannya sesekali memegangi kepalanya yang terasa berat, hingga lamunannya terpecah,


"Letnan, anda mendapat panggilan untuk menghadap Jendral Gio dan Ketua Lim, mereka menunggu di ruang pertemuan" seru salah satu pasukan menyadarkannya dari lamunan


"Ketua Lim ada disini?" Sahut Rezi kemudian, matanya menerawang, wajahnya terlihat panik


"Iya, Ketua ada disini bersama para jajarannya. Sepertinya ada hal serius jika dia berkunjung" katanya lagi menambahkan


Rezi bergegas berlari untuk menemui Ketua Lim ke ruang pertemuan. Ketua Lim adalah orang yang sangat berepengaruh di Utopia. Siapapun akan sungkan jika dimintai untuk bertemu orang penting Utopia itu.


***


Jauh dari itu, Joseph masih dalam pengawasan, badannya dipasangi beberapa alat medis untuk mengetahui tanda-tanda vital tubuhnya. Jantungnya berdetak dengan stabil, tekanan darah yang normal dan sepertinya keadannya membaik.


Para perawat satu persatu meninggalkan ruang isolasi, dan tersisa Profesor Vincent bersama Komandan Runtu. Mereka masih memeriksa beberapa tanda yang timbul akibat rangsangan obat yang disuntikan pada Joseph.


Beberapa saat kemudian, mata Joseph mulai terbuka. Tubuhnya terbangun dari tempat perawatan dan tentunya membuat kaget para peneliti didalam. Tubuhnya yang kaku wajah tanpa ekspresi yang menakutkan,


"Dimana dia?" Tanya Joseph sambil menatap tajam mata Profesor Vincent. Sang profesor tergagap untuk menjawab pertanyaannya, "Dimana dia sekarang?" Tanyanya lagi mengulangi,


"Siapa yang kau maksud?" Sahut Profesor terbata. Namum Joseph tidak menjawab, dia hanya terdiam. Matanya masih menatap tajam sang Profesor.


"Komandan" sahut Joseph kemudian


Komandan Runtu dan Profesor Vincent hanya diam. Mereka saling memandang, memberi bahasa isyarat untuk melakukan sesuatu pada Joseph.


***


Dering Telepon berbunyi. Romi segera mengambil gagang telepon yang berada sudut meja kerjanya,


"Ya, dengan Romi dari pusat unit A1" sapa Romi menerima panggilan, matanya masih sibuk menatap layar monitor notebook yang dipenuhi grafik dan tabel dengan beberapa rumus yang rumit, tangan kirinya sibuk mengoprasikan mouse yang terhubung pada notebooknya,


"Dia berhasil melewatinya" ucap seseorang dibalik telepon


Tiba-tiba Romi terdiam, matanya terbelalak, "Kau yakin? Dia orangnya?" tanya Romi kemudian


"Dapat dipastikan, benar dia orangnya. Tanda yang kita beri ada padanya"


"Kirim seseorang untuk melihat bagaimana perkembangannya, laporkan setiap pergerakannya. Aku akan beritahu Profesor bahwa program kita akan segera di aktifkan"


"Ya, itu akan lebih baik. Produksi secara masal akan membuat kita tidak susah payah begini"


Romi tersenyum sinis sebelum menghela napas yang panjang, "Kita lihat sejauh mana program ini akan berjalan" ucapnya mengakhiri pembicaraan


***


Hari semakin petang, para wartawan mulai memenuhi halaman Camp Angkatan Darat. Sebagian dari mereka sudah menunggu dari siang hari dengan peralatan dan juga kamera.


Mereka berkumpul karena mendapat laporan adanya  orang yang dicurigai sebagai mata-mata Utopia. Pantas saja mereka berbondong-bondong mendatangi Camp. Utopia sangat sensitif dengan istilah mata-mata. Setelah dijajah 20 tahun yang lalu oleh pasukan dari Barat yang menghancurkan sebagian Kota Utopia, mereka tak segan untuk merampas sumber daya alam dan beberapa tempat mata air Utopia. Saat itu pemerintahan dipegang oleh Hans, ia membuat kebijakan gila dan tak masuk akal, sebagian rakyat Utopia dijadikan budak dan tak segan membunuhnya jika ada yang melawan. Tapi akhirnya Hans ditemukan tak bernyawa di ruang kerjanya, dan hingga saat ini pembunuhnya belum diketahui identitasnya.


Ada yang menyebutkan mata-mata dari barat yang membunuh presiden Utopia itu, namun tidak terbukti kebenarannya. Dan kasusnya pun ditutup oleh pengadilan.


***


Tak lama, muncul sebuah mobil sedan berwarna hitam dengan plat nomor merah, jelas itu mobil kepresidenan. Sontak para awak media berbondong-bondong untuk menghampiri mobil kepresidenan tersebut.


Kilauan flash kamera bertebaran disetiap sisi mobil, terlihat perdana menteri turun dari mobil bersamaan dengan Felix sang presiden. Ada seseorang lagi yang mendampingi mereka berdua, pria bertubuh kekar, tinggi memakai pakaian serba hitam.


Awak media mengiringi setiap langkah ke tiga orang itu yang berjalan untuk memasuki kedalam asrama. Sayangnya, para media dihadang oleh keamanan Angkatan Darat, mereka tidak diizinkan masuk dan dipaksa membubarka diri.


***


Petang menuju malam. Semua pasukan khusus dikerahkan untuk memindahkan Joseph ke laboratorium penelitian, hasil dari pertemuan para petinggi sepakat untuk meneliti Joseph disana. Rezi hanya terdiam tidak dapat berkata apapun tentang hasil kesepakatan ini. Ia tidak ada wewenang apaun untuk bisa mencampuri peraturan. Rezi mengikuti pengamanan Joseph bersama anak buahnya.


Sambil berjalan, tidak diam mulut mereka membicarakan, ada yang senang jika Joseph kembali ada pula yang menanyakan kenapa tidak mati saja dia? Rezi mulai geram,  matanya terus menatap orang di depannya. Seketika mereka diam, seakan mereka tahu bahwa ada yang tidak suka dengan pembicaraan mereka.


Wendi yang berada disamping Rezi menyikut tangannya untuk menyadarkan dan tidak terbawa emosi. Rezi menghela napas panjang dan seketika menundukan pandangannya.


Perjalanan panjang menuju Mahesa tempat dimana laboraturium penelitian berada. Suatu kota terbesar di Utopia dengan pengamanan ketat dan tidak sembarang orang untuk sampai disana.


"Zi, apa yang mereka tanyakan tadi?" bisik Wendi. Namun Rezi tidak menyahut, dia tetap bungkam.


"Aku merasa ada yang tidak beres" tambah Wendi lagi.  Rezi tetap diam. Wendi hanya meliriknya sinis,


Rezi tidak bergerak sedikitpun dari posisinya yang tegap.


Ada 10 pasukan disetiap truk yang ikut mengawal Joseph ke Mahesa, ada 3 truk dan 2 mobil pribadi beserta mobil kepresidenan. Waktu yang ditempuh dari Camp ke Mahesa kurang lebih 12 jam. Mahesa adalah Ibu Kota Utopia. Ada lebih dari 1.500 penduduk disana. Dulu kota itu menjadi sasaran empuk bagi pasukan Barat. Mereka ingin menguasai Mahesa sebagai pertahanan mereka.


Kota kecil namun maju itu sangat mempesona. Mahesa memiliki berbagai tempat mata air pegunungan yang diagungkan para penduduk Utopia, Mahesa memiliki 10 sumber mata air, dan sebuah tempat rahasia yang ditemukan oleh kawanan Findsher, tempat rahasia yang diincar semua orang, gudang senjata, nuklir, dan harta benda milik Raja dari Timur Tengah yang disimpan dengan baik.


***


Sebagian pasukan bergiliran untuk tidur dan berjaga diperjalanan. Rezi masih siaga dalam posisinya yang tidak bergerak sedikitpun. Wendi yang disampingnya sudah terjaga sejak 1 jam yang lalu. Perjalanan sudah menempuh waktu 4 jam, masih terlalu lama untuk sampai kesana.


Kini waktu menunjukkan arah jam 2 malam. Rezi sesekali melihat ke arah kaca depan. Masih sanga gelap, hanya terlihat cahaya lampu dari mobil dan truk yang saling beriringan. Ambulance berada ditengah, Rezi masih melihat ke arah depan, ambulance itu membawa Joseph dan beberapa perawat didalamnya yang berjaga.


"Letnan Rezi apa kau tidak lelah? Mau bergantian dengan saya untuk berjaga. Kau bisa tidur dulu sejenak" Ucap Robi anak buahnya


"Waktu tidurmu masih ada dua puluh menit lagi, kembali tidur saja, aku masih sanggup berjaga" sahut Rezi sambil melirik ke arah jam tangan yang melingkar di lengan kanannya


"Tidak apa, kau juga harus istirahat"


"Aku tidak bisa tidur diperjalanan seperti ini" ucap Rezi lagi, tiba-tiba truk yang ditumpangi Rezi berserta pasukannya terhenti, sontak membuat Rezi beserta pasukan lain bersiaga. Semuanya bertanya tanya ada apa ini? Mesin dan lampu mobil semua dimatikan.


Rezi berjalan ke arah kemudi, "apa yang terjadi?" Tanyanya kemudian


"Tidak tahu letnan, tiba-tiba saja mobil yang di depan kita semuanya berhenti" jawab sang supir, Rezi mengamati sekitar. Sangat gelap dan hening.


Rezi terlihat panik. Matanya terbelalak mengamati dari balik kaca mobil yang buram. Tak lama, terdengar suara tembakan dari kejauhan. Dan sontak membuat gaduh para pasukan lainnya.


Rezi mengarahkan untuk berjaga dan waspada. Terdengar seruan dari radio walkie talkie, keadaan siaga semua pasukan diharapkan memegangi persenjataan jangan menembak jika tidak diperintahkan, 


" Diulangi, ada sebuah mobil Jeep yang berhenti di dekat center, ada lima orang pria dewasa mengenakan topeng hitam bersenjata lengkap. Tetap siaga, pasukan diperintahkan berjaga disekitar mobil presiden dan ambulance, segera!" Seru Komandan Runtu. Semua anggota turun dari truk dan segera berjaga sesuai arahan.


Rezi dan tiga pasukan lain berjaga disekitar ambulance, sedangkan sisanya berjaga disetiap sisi. Kemudian, terdengar lagi suara tembakan ke udara dari arah barat. Rezi mengepalkan tangannya memberi aba-aba supaya tidak melakukan serangan.  Mereka hanya berbicara dengan isyarat militer.


Suara radio walkie talkie terdengar, Rezi memperkecil volume suaranya dan mendengarkan,


"Dua orang tewas, perhatikan tiga orang lagi. Mereka berpencar. Pasang mata dan telinga kalian. Awasi objek jangan sampai lengah"


"Kalian dengar? Dua orang itu mungkin saja di dekat kita, tetap waspada dan awasi objek dengan benar" kata Rezi berbisik mengulangi perintah, para anak buah mengangguk menandakan mengerti.


Semua anggota yang diperintahakan untuk berjaga mulai berpencar sesuai arahan mencari orang-orang yang dicurigai. Hampir setengah jam berlalu, masih tidak ada hasil. Mereka tidak ditemukan. Mobil yang ditumpangi mereka diamankan, kedua mayatnya dipindahkan ke tepi jalan dan dibiarkan sampai polisi datang.


***


Perjalanan menuju Mahesa dilanjutkan, sudah hampir pagi, matahari sudah terlihat tinggi. Rezi tidak tidur semalaman, Rezi memang menderita kesulitan untuk tidur dari sejak ia kecil, entah mengapa jika Rezi tertidur dan saat dia bangun, ia akan terasa lemas. Dan saat dia disarankan untuk terapi tidur oleh orang tua dan psikiater beberapa waktu yang lalu, anehnya Rezi menderita sakit parah dan selalu merasa cemas. Dari situlah Rezi merasa aneh, dia seperti sudah tahu bahwa dirinya memiliki insting tersendiri.


"Sudah hampir sampai, kau masih berjaga? Tidurlah sebentar" ucap Wendi yang berada di depannya


"Aku sudah tidur, jangan terlalu khawatir" kata Rezi sambil tersenyum. Wendi ikut tersenyum.


Sambil memandang pemandangan indah yang disuguhkan oleh alam selama perjalanan ke Mahesa, Rezi merasa gelisah, entah apa yang dia rasakan. Dia hanya bertanya-tanya, apa yang aka terjadi lagi saat sesampai di Mahesa?


"Aku sudah mengirimkan berkas untuk pengajuan penelitian kita setahun lalu, mereka mengabari dalam dua hari kemudian. Mereka menyetujui untuk penelitian tempat terjadi perkara, dan binatang yang kita amankan. Tapi mereka meminta kita untuk tidak mengumumkan pada awak media manapun" ucap Wendi


"Aku sudah tahu, mereka pasti takut jika akan ada kabar buruk yang diketahui publik. Mereka membicarakanya kemarin. Sebelum membuat keputusan untuk memindahkan objek"


"Bicara tentang itu, apa kau tidak mengingat sesuatu? Maksudku, kau dan objek ada di waktu dan tempat yang sama"


Rezi terdiam. Dia menatap Wendi datar, "Tidak" ucapnya kemudian


Wendi mengangguk. Mereka terdiam.


Suara walkie talkie terdengar "Letnan, kita akan segera sampai. Arahkan anak buahmu untuk bersiap. Kita akan melakukan pengecekan fisik sesampai disana." Seru Komandan Runtu


"Siap komandan disiapkan"


***


Mahesa, sebuah kota cantik bagai surga dunia. Udara yang segar dan sangat bersih. Semua warga yang ramah namun pengamanan kota yang begitu ketat dan tegas. Walikota baru saja membuat sebuah program berbentuk untuk dipasangi disetiap tubuh warganya, program ini dibuat di Mahesa dan nantinya aka disebar di wilayah Utopia.


Program ini diciptakan sebagai alat keamanan dan pengawasan. Bahkan, dengan chip ini warga Utopia tidak perlu memerlukan uang tunai. Karena didalamnya terdapat program untuk bertransaksi dengan cara scan di bagian lengan, dan secara otomatis semua kehidupan menjadi mudah.


Truk yang ditumpangi Komandan Runtu dan para pasukan lainnya lebih dulu sampai dan disusul oleh mobil kepresidenan, lalu ambulance yang membawa objek dan terakhir truk yang mengawal dibelakang telah sampai dan berkumpul untuk kembali mengamankan.


Objek telah disiapkan, tandu sudah terlihat digotong untuk memindahkan objek. Rezi ikut mengawasi dan menjaga pemindahan objek. Matanya masih memperhatikan objek yang tertidur sambil dipasagi alat infuse dan oksigen.


Pengawalan begitu ketat. Tim screening telah bersiap berjaga dipintu masuk, sebelum memasuki kawasan laboraturium wajib untuk di sterilkan. Begitupun objeknya. Pasien disini disebut objek. Karena akan dijadikan penelitian. Satu persatu anggota militer di sterilisasi dan di pasangi chip tepat di leher belakang, chip itu berbentuk kapsul yang dimasuka dengan alat seperti tembakan penyuntik.


Terlihat dari kejauhan dua orang berjalan dari lorong. Romi dan seorang pria paruh baya. Rezi memperhatikan setiap langkah saudara kembarnya itu.


"Selamat datang di pusat penelitian Mahesa, saya Profesor Abraham bersama asisten saya Romi dari unit pusat A1" sapa sang profesor sambil menundukan kepala tanda memberi salam, begitupun dengan Romi dan para pasukan militer.


Felix yang didampingi perdana menteri dan seorang pria yang belum tahu idetitasnya, berjalan menghampiri profesor Abraham dan sekretarisnya itu.


Romi begitu akrab dengan ke-3 orang itu, terlihat selingan tawa di percakapan private mereka. Dan tak lama, pasukan khusus dengan alat pelindung diri yang lengkap muncul tiba-tiba dan membawa objek untuk dipindahkan,


"Silahkan ikuti kami" seru Romi mengarahkan. Semuanya menurut dan mengikuti Romi dari belakang. Rezi masih membisu tidak menyapanya sedikitpun. Tidak ada yang menyadari jika.wajah mereka juga mirip. Hanya Wendi yang mengetahui jika Rezi dan Romi adalah saudara kembar.


Sesampai di ruang aula yang letaknya di tengah bangunan laboraturium. Semua dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang disediakan. Rezi masih terdiam dan berdiri tegap di samping pintu masuk aula. Romi jelas memperhatikan gerak gerik daudara kembarnya itu,


"Kau yakin sudah memasangi chip pada mereka?" Bisik Romi pada Barry yang berada disampingnya, matanya sibuk memperhatikan sekitar dan terkahir menuju pada Rezi


"Iya semua sudah dipasangi Chip, dan program itu sudah di aktifkan pada mereka"


Romi tertegun melihat Rezi yang tidak seperti kawanannya. Dia menghampiri Rezi, mata mereka saling bertemu, tampang menyebalkan Rezi terpasang jelas ketika ia melihat Romi berjalan ke arahnya,


"Tidak heran, kita akan bertemu disini" sapa Romi


"Iya begitulah" sahut Rezi ketus


"Kau tidak makan? Bergabunglah bersama mereka, kami tidak memasukan apapun dalam makanannya, kamu akan aman, tidak perlu cemas"


"Program apa yang dipasangi pada kami?" Tanya Rezi mengalihkan pembicaraan


Romi tertegun, "Ah, itu program untuk kesejahteraan"


jawab Romi kemudian


Rezi terdiam. Masih menatap baik-baik saudara kembarnya yang berdiri tepat di depannya. Rezi merasa ada yang tidak beres. Perasaannya dibuat tidak nyaman. Ditambah lagi kawanannya bersikap tak wajar, entah ini perasaannya saja atau ini adalah efek dari sesuatu yang dipasangi ditubuh mereka.


"Kau jangan terlalu bersikap jauh dari kawananmu, segera bergabung dengan mereka. Aku akan pergi melihat objek. Kiga akan bertemu lagi nanti" ucap Romi sebelum meninggalkan Rezi.


***


Rezi memilih pergi meninggalkan Aula dan berjalan untuk melihat-lihat tempat seperti apa laboratorium canggih ini. Ruangan demi ruangan dilewati. Matanya sibuk menerawang dan membaca setiap nama yang ditempel di depannya. Lorong ke dua telah dilewati. Rezi berhenti tiba-tiba. Tubuhnya kaku. Jantungnya terasa berdebar begitu cepat, tangan kanannya menekan kuat dada kirinya. Satu tangannya lagi mencoba meraih tembok untuk menyandarkan tubuhnya.


Nafasnya mulai tidak teratur. Matanya terlihat kabur, pendengarannya kini berdengung. Rezi mencoba untuk tetap sadar dan menguatkan tubuhnya. Perlahan tubuhnya mulai lemah, dan kini Rezi terjatuh sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Dari kejauhan, Rezi melihat bayanga seseorang yang datang menghampirinya, dia kini tepat didepan matanya. Rezi mencoba untuk melihatnya dengan jelas, tapi sayang matanya semakin buram dan terlihat bayangan yang membuat pengelihatannya semakin kabur. Orang itu seorang pria, dia terus memperhatikan Rezi yang hampir sekarat.


"Kau ingin bermain-main Findsher?" ucapnya kemudian sambil tersenyum sinis