The Findsher

The Findsher
Teman Lama



Suaranya menyeringai. Terdengar jelas dia benar-benar seperti akan menikam Rezi. Ia masih diam tepat didepan Rezi yang tak berdaya sambil menggeram sambil menahan rasa sakitnya, kedua tangannya memegangi kepalannya. Seakan menikmati kesakitan yang dirasakan Rezi, sosok itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu benda dari balik saku jas hitamnya.


Saat ia lengah, Rezi menendang tubuhnya hingga terjatuh ke belakang. Rezi mencoba tetap sadar dan bangkit dengan tubuh yang gemetar ia tetap mencoba kuat, terlihat sosok itu kembali bangkit dengan sebuah benda yang tak asing bagi Rezi, sambil menggeram sosok itu mendekati Rezi dan mencoba untuk menikamnya, namun Rezi berhasil lolos dan menghindar


"Siapa kau?" Sahut Rezi lantang


Sosok itu hanya tertawa sehingga membuat gema di lorong gelap itu. Benda itu diarahka pada Rezi, sambil berkata "Lama kita tidak berjumpa. Apakah ini sambutan darimu Letnan? Oh, apa aku harus menyebutmu dengan sebutan Findhser?" Ucapnya kemudian tertawa puas, sebuah pistol dimainkan dan kemudian kembali di arahkan pada Rezi yang masih mematung memeperhatikan jelas pria gila dihadapannya


Pria itu kini berjalan ke arah Rezi, dan sontak membuat Rezi merasa tersudut. Rezi mencoba tetap tenang, matanya terus mengawasi setiap gerak gerik didepannya.


"Tahun dua ribu kau ingat Letnan? Saat berada di barat, barrack yang dipenuhi orang-orang yang mengungsi ketika perang berlangsung di Utopia. Ada seorang anak laki-laki tanpa alas kaki yang diseret oleh tentara veteran," katanya bercerita lirih sambil terus mendekati Rezi yang memperhatikannya, Rezi hanya terdiam dan menjadi pendengar


"kalau diingat, ah anak laki-laki itu ada banyak luka disekujur tubuhnya. Dia tidak menangis, tidak berontak. Dia hanya pasrah ketika tubuhnya diseret seperti bangkai. Lalu seorang anak perempuan heroik yang pemberani menghadang veteran tua itu. Dan dia berkata..." Ucapannya terhenti, pria itu terdiam tepat berada dihadapannya, hampir dekat bahkan lebih dekat hingga kedua wajah mereka berdekatan, hembusan nafas Rezi yang panas terasa olehnya, kemudian pria itu membelai lembut rambut Rezi.


Rezi masih menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca, tangannya masih memegangi erat tubuhnya yang terasa sakit. Dia diam tak berontak. Nafasnya terengah-engah. Namun seperti terkunci dia tak dapat berkata apapun.


Pria itu memeluk Rezi dengan erat. Kemudian menjatuhkan sebuah pisau lipat kecil itu kelantai hingga mengeluarkan suara nyaring, sontak Rezi merasa kaget tapi entah mengapa Rezi juga merasaka nyaman ketika ada dipelukan pria asing itu.


"Akhirnya aku menemukanmu, teman lamaku. Lama kita tidak berjumpa" ucap pria itu lirih


***


Rezi mencoba melawan dan melepaskan diri dari pelukan si pria itu. Rezi mendorong kuat tubuh pria itu hingga terjatuh,


"Ah, hahaha kau tidak berubah!" Katanya sambil tertawa


Rezi mengambil kesempatan dan pisau yang sengaja dlijatuhkan pria itu kini ada ditangannya. Keadaan berbalik, Rezi mengarahkan pisau itu pada sang pria yang masih belum bangun dari tempatnya.


"Aku terlalu banyak bicara bukan? Kau masih belum ingat?"


"Siapa kau?"


Sontak Rezi terdiam. Matanya terbelalak seakan mengingat suatu memori masalalunya. Jantungnya berdegup dengan cepat. Tubuhnya kembali bergetar.  Kedua tangannya yang memegangi senjata api itu kemudian diturunkan.


"Kau?" Sahut Rezi kemudian, lalu menggelengkan kepalanya seakan tak percaya. Rezi diingatkan pada memori dua puluh tahun yang lalu. Memori dimana kala itu Rezi berada di tempat penampungan korban peperangan, hanya Rezi seorang diri disana. Ia terpisah dari orang tua dan saudara kembarnya.


Ketika itu situasi sangat mencekam. Banyak orang kelaparan dan saling membunuh untuk bertahan hidup. Kemudian, saat fajar tiba. Terdengar suara tembakan dilepaska ke udara. Sontak membuat semua pengungsi ketakutan dan berdekatan satu sama lain. Kala itu Rezi masih berumur delapan tahun, harus menyaksikan kejadian yang tidak seharusnya ia lihat.


Seorang tentara datang dengan seorang anak laki-laki yag diikat kedua tagannya penuh dengan luka disekujur tubuhnya, ia diseret oleh sepeda motor yang ditumpanginya, pria tua itu menggiring dan menyeret si anak laki-laki mengelilingi pengungsian. Semua orang menyaksikan kekejian sang tentara itu. Dan kemudian, seorang anak perempuan dengan tegas dan berani berlari dengan sebuah tongkat besi yang dilemparkan tepat ke arah kepala sang tentara.


Sang tentara itu pun terjatuh dan tersungkur ke tanah. Namun motor itu masih belum mau berhenti, si anak perempuan itu kembali berlari dan menahan anak laki-laki itu. Kemudian, beberapa orang ikut menyelamatkan anak laki-laki itu. Dengan sigap anak perempuan itu melepaskan ikatan tali yang mengikat kedua tangannya itu degan pisau lipat kecil.


***


"Kau? Kau, Bing? Benarkah kau..? ucap Rezi sambil terbata, si pria itu tersenyum lebar. Seperti kelegaan sesuatu,


"Kau ingat aku?" Katanya kemudian sambil tersenyum


"Apa? Bagamana mungkin kau sampai kesini?"


"Aku, mencarimu selama dua puluh tahun. Aku berhasil menemukanmu sekarang. Tapi sebelumnya aku sempat ragu karena beretemu seseorang yang mirip denganmu. Tapi, aku tahu itu bukan kau. Aku senang kau mengingatku"


Aku yang tidak senang. Ucap Rezi dalam hati. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Apa yang kamu cari?" Kata Rezi lagi


Si pria itu menggelengkan kepalanya. Kemudian dia kembali mendekati Rezi dan mencoba memeluknya namum Rezi menolak dan kembali mendorongnya.


"Kau tidak berubah. Maaf, aku mengejutkanmu bukan? Dengar, aku hanya ingin tahu keadaan Utopia saat ini. Sudah satu bulan aku tinggal di Mahesa, aku punya sesuatu yang mungkin akan menarik perhatianmu. Ah, tapi. Tidak sekarang. Aku harus pergi. Dan, itu barang milikmu. Aku ingin mengebalikannya padamu" Katanya sambil pergi berjalan ke arah lorong yang gelap, Rezi hanya bisa melihat bayangan laki-laki itu semakin menjauh dan menghilang.


***