The Findsher

The Findsher
Misi Rahasia 2



Aku terdiam sejenak. Bing masih terlihat gelisah dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Ada apa? Pertanyaan itu seringkali muncul dikepalaku. Aku belum berani bertanya pada Bing apa yang terjadi sebenarnya. Namun, sekonyong-konyong dia meraih tanganku dan menggenggamnya. Tangannya dingin dan gemetar.


"Kau baik-baik saja?" Tanyaku lirih. Dia tak bersuara. Aku merasakan tangannku diremasnya dengan kuat.


Sontak membuatku terkejut dan mencoba melepaskan genggamannya dari tanganku,


"Apa kau sudah gila?" Kataku sedikit menyentak, "Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa setiap kau datang selalu membuat keadaanku terancam?" Kataku lagi


Bing mengangkat kepalanya perlahan. Aku dapat melihat raut wajahnya yang lelah dan tak bertenaga. Aku masih kebingungan dengan gerak-geriknya yang cepat berubah. Dan akhirnya Bing angkat bicara,


"Maaf" katanya singkat


Aku kembali tertegun dengan ucapannya. Dengan kesal aku perlahan pergi meninggalkannya. Dan kembali mencari kawanan lain yang masih mungkin terjebak didalam bangunan.


***


Kobaran api semakin meluas, lima unit mobil pemadam kebakaran baru saja tiba. Ada satu lagi helikopter khusus yang bertugas memadamkan api. Salah satu komandan regu menghampiri ku dengan sebuah botol kaca hijau yang dibungkus dengan kantong plastik. Para pemadam menemukan botol itu dekat dengan tungku perapian di dapur. Ada sebuah kertas berisikan surat, namun sayangnya surat itu ikut terbakar. Hanya tersisa beberapa kalimat yang masih bisa terbaca.


"Mungin ini disengaja, kami akan mencoba meminta bantuan pihak kepolisian untuk mengusut kasus kebakaran ini. Saya menemukan ini, mungkin dapat dijadikan barang bukti" kata sang komandan regu itu menunjukan plastik berisi botol kaca dan secuil kertas


"Apa mungkin dengan sebuah botol itu dapat menghasilkan ledakan yang hebat? Ledakan itu seperti yang dihasilkan suara dinamit yang.."


Belum sempat aku menyelsaikan perktaanku, tiba-tiba seseorang dari arah ruangan pemantau berteriak meminta pertolongan. Sontak mencuri perhatian semua pasang mata yang sedang cemas degan keadaan saat ini, termasuk diriku. Aku benar-benar cemas dengan apa yang baru saja terjadi, ditambah lagi aku harus menerima kenyataan bahwa,


"Disini, aku menemukan seseorang lagi dia terhimpit rerutuhan. Tolong ! Selamatkan dia! Dia komandan disini" teriak seorang pria yang megenakan seragam serba orange itu


Mengapa aku bisa lupa? Bagaimana mungkin aku tidak dapat menemukan dan menyelamatkannya. Tubuhku bergetar hebat. Kakiki seakan lemas tidak dapak menopang tubuhku sendiri. Namun, aku bergegas berlari ke arah sumber suara itu, meski beberapa orang menahanku. Aku tidak peduli, dengan bersusah payah aku menerobos  brikade orang-orang yang mencoba menghalangiku.


Tangisku pecah, suaraku hampir tidak mau keluar mskipun aku menjerit sekuat tenaga. Pria itu diangkut keluar dengan menggunakan tandu. Sekujur tubuhnya hitam akibat abu dan asap. Seragam prajurit yang terlihat lusuh, beberapa bagiannya terbakar. Aku bisa dengan mudah mengenalinya,


"Tidak! Ayah!"


Semua pasang mata menyaksikanku menangis didepan mayat pimpinan mereka. Komandan Runtu salah satu korban kebakaran ini. Tangisku meledak, aku hanya bisa memeluk jasad ayah angkatku.


Tak ada satupun yang tidak menangis melihat jasadnya. Baru saja tadi aku menyapanya bukan? Mengapa aku dipertemukan kembali dengannya yang telah terkujur kaku. Bukankah ia kejam? Aku hanya berteriak. Meringis. Namun suaraku tidak mau keluar, tertahan dikerengkongan, membuat dadaku sesak.


Beberapa bayangan lalu terlintas seketika. Ia yang baru saja pulang dari tugasnya menjaga perbatasan terlihat berjalan dari kejauhan. Aku bisa melihat senyumnya yang khas, sebelah tangannya sambil melambai ke arahku. Dan sebelahnya lagi memegangi sebuah bungkusan kantong plastik hitam yang cukup besar.


Saat ia telah dekat, aku dengan sigap berlari ke arahnya untuk sekedar menyapa dan memeluknya. Ritual wajib jika ayah pulang bertugas. Ketika itu usiaku lima tahun. Dari kecil Aku terbiasa hidup tanpa kekuarga kandungku. Dahulu kala, setelah menjalani operasi itu Komandan Runtu memintaku untuk tinggal bersamanya, ayah dan ibuku tentu setuju, mereka seakan tidak keberatan jika aku pergi.


Ia selalu bertanya, dan sampai-sampai belum makan siang. Kau mau menemaniku memasak ini? Katanya sambil tertawa. Kami selalu berada dalam suasana yang hangat, dengan canda tawanya meskipun aku tahu dia payah jika bercanda. Namun aku selalu tertawa tiap kali ia melontarkan guyonan. Tak apa dia sudah berpikir keras untuk membuatku tertawa.


Banyak pesan dan nasihat pula yang ia berikan padaku. Ia benar-benar ayah yang hebat dan bertanggung jawab, meski aku hukanlah anak kandungnya namun ia begitu menyayangiku dan ia mau bersusah payah untuk membuatku sellu tersenyum. Terkadang ia terlihat sedih jika aku merasakan tidak bahagia. Seakan itupun adalh kesalahannya. Bukankah ia ayah yang hebat?


***


Pemakaman hari ini berjalan dengan haru. Banyak orang yang datang melayat Komandan yang baik dan rendah hati itu. Bendera setengah tiang dikibarkan siang harinya. Sambil membersihkan puing-puing bangunan dan perabotan yang tersisa, aku dan pasukan lainnya bekerja sama untuk mengambil barang berharga yang dapat diselamatkan. Mataku tertegun memandangi camp yang tidak berbentuk lagi. Hanya tersisa rangka dan puing-puing reruntuhan yang ditumpuki abu.


Para petinggi tidak henti-hentinya memberikan rasa hormat dan duka cita dalam bentuk karangan bunga teratai. Lambang kehormatan tertinggi dan suci di Utopia. Tidak terkecuali bagi Ketua Lim, ia sengaja datang ke Camp sepulang dari pemakaman. Ia menghampiriku, ia mengajakku untuk berbicara. Kami memutuskan untuk pergi ke kedai kopi yang berada tak jauh dari Camp,


"Dia orang yang baik. Namun sayang Tuhan lebih menyayanginya bukan?" Katanya membuka percakapan diantara kami, sambil tersenyum ke arah ku. Aku membalas senyumannya.


"Kau tidak perlu cemas kami akan menemukan pelaku pembakaran Camp jika benar ini semua rekayasa. Aku tidak akan membiarkan semua prajuritku mati sia-sia" tambahnya lagi dengan nada yang sedikit menekan


"Saya ingin mencari tahu siapa yang membunuh ayah saya!" Katakh angkat bicara, Komandan Lim sontak mengarahkan pandangannya kepadaku,  dengan terkejut ia beberarapa kali menghela napas sebelum akhirnya angkat bicara,


"Ya, kita semua harus mengetahui kematian komandan kita, jika dia benar-benar dibunuh"


"Saya menemukan barang bukti semalam" kataku lagi,  dan lagi pria paruh baya itu terkejut


"Apa?"


"Salah seorang petugas pemadam kebakaran semalam memberitahu saya, ada barang yang dicurigai pemicu ledakan yang menghancurkan Camp. Sku melihatnya dengan mataku sendiri. Sebuah benda seperti bom rakitan tentara veteran yang dibuat ketika peperangan lalu. Dan ada sebuah surat di dalamnya, namun tidak dapat terbaca, surat itu hangus terbakar, aku hanya dapat membaca ujung pada akhir surat itu. Semacam kode rahasia." Kataku dengan tegas,  "Terbaca seperti HER" kataku lagi mengeja sambil mengingat


Komandan Lim terdiam. Mengulangi kata yang baru saja aku ucapkan, "Lalu apa lagi?" Tanyanya kemudian


"Tidak ada. Hanya itu saja" ucapku lagi, sebelum mendengar kembali perkataannya, aku beranjak dari tempat duduk di hadapannya, ia melihat ke arah ku. Aku membungkuk memberikan salam hormat kepadanya,


"Saya akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tolong anda izinkan saya untuk melakukan ini" kataku tiba-tiba. Dengan mata terbelalak aku pun tersentak sendiri atas ucapanku, apa yang baru saja aku katakan? Dengan ekspresi yang sama Ketua Lim hanya terdiam, menghela napas begitu dalam. Kemudian ia mendeham. Sedang aku masih berdiri mematung dihadapannya, tubuhku tak bergerak. Apa yang salah dengan diriku?


"Apa yang akan kau lakukan? Jangan membua ulah" katanya sinis, tatapannya berubah menjadi lebih tajam, terlihat kerutan matanya yang menyipit. Tubuhnya disandarkan pada sofa yang berlapis kulit itu,


"Saya akan mencari tahu apa yang terjadi pada ayahku" kataku lagi mengulangi, dan memutuskan untuk pergi meninggalkannya seorang diri tanpa rasa bersalah.


***


Aku memutuskan untuk mengambil cuti hari ini. Dan berniat untuk kembali ke apartemen yang masih belum terbentuk itu. Seperti kapal pecah. Barang-barang yang dibungkus kardus yang masih bertumpuk di lantai.


"Kau pulang lebih cepat dari dugaanku" ucap Bing menyambutku, ia berdiri dibalik pintu. "Kau sudah makan?" Katanya lagi


Aku tidak menjawabnya dan berjalan melewatinya. Bing mengikutiku dari belakang, "Ada apa? Kau terlihat lesu?" Tanya Bing lagi. Aku masih tidak mendengarkannya, dan bergegas masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Bing mengetuk pintu beberapa kali. Memohon untuk dibukakan pintu.


"Rezi kau tahu aku belum maka apapun dari kemarin, ini sudah hampir petang. Kau tega membuatku mati kelaparan? Kau mengurungku dari semalam disini. Maaf aku menghabisakan air minummu, tidak ada satupun yang bisa aku makan disini. Tolonglah aku kelaparan" katanya lagi merengek


Benar sejak kejadian semalam aku membawa Bing ke apartemenku dan mengurungnya disini, tanpa listrik dan makanan. Dia pasti kelaparan. Aku tersadar dan segera menghampirinya. Dia terlihat kesal. Wajahnya berubah masam sembari menatapku.


"Maaf" kataku lirih sambil menatapnya. Sepertinya Bing benar-benar kesal. Wajahnya terlihat pucat. Aku merasa bersalah padanya. "Kau mau makan apa?" Tanyaku lagi,


Seketika dia tersenyum.


"Aku ingin mencicipi masakanmu saja. Kau pasti pandai bukan?" Sahutnya


"Aku tidak sempat untuk melakukan hal itu. Kita makan diluar saja"


"Apapun itu?"


"Ya"


"Kalau begitu, aku ingin mencicipi semua makanan yang enak di Utopia. Kau akan mengajaku kemana?"


"Terserah kau" ucapku ketus


"Ah, aku melihat saat malam hari ada restoran besar sebelum kita sampai kesini. Kau mau kan bawa aku kesana? Sepertinya tempat itu terkenal, banyak sekali pengunjung hingga mengantre" katanya antusias


Aku terdiam tidak menghiraukannya, aku mencari kontak seseorang yang tersimpan didalam ponselku, dan menghubunginya,


"Dimana kau? Bisakah aku meminta tolong. Aku ingin membuat reservasi untuk petang ini, bisakah kau siapkan yang biasa aku pesan? Kali ini aku membawa seorang teman. Kau bisa menambahkan porsiannya. Akan aku transfer uangnya padamu. Terima kasih" kataku mengakhiri percakapan dalam telepon


Bing memperhatikanku. Seakan dia terkesan.


"Aku akan mandi sebentar. Kau tunggu saja kita akan segera makan setelah aku selesai"


"Ah, ya. Um, Rezi apa disini benar-benar tidak ada listrik? Aku sangat benci dengan gelap" sahut Bing dengan terbata


"Kau benar-benar merepotkan ya"


***


Markus meyambut kami dengan hangat. Suara musik klasik mengiringi langkah kaki kami memasuki ruangan yang telah aku pesan di Straightlova, sebuah restaurant ternama di Utopia. Markus adalah pelayan sekaligus master dan orang kepercayaan Hans sang pemilik restaurant ini, Hans adalah saudara kandung Komandan Runtu, namun ia lebih memilih mempercayakannya kepada Markus.


Markus pria berwajah timur tengah ini sangat baik dan ramah. Usianya kira-kira sekitar tiga puluh tahunan, dia selalu membantuku dalam hal apapun, karena Markus pun dianggap sebagai anak tertua oleh Komandan Runtu. Ya, Markus bisa dibilang kakak bagiku.


"Aku mendengar kabar menyedihkan itu tadi pagi. Aku sangat menyesal, aku tidak bisa hadir pagi tadi, itu benar-benar mendadak" katanya dengan nada menyesal


"Ya, kau pasti terkejut bukan?"


"Sehari sebelum terjadi ia datang menemuiku, kami berbincang sedikit. Tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda apapun"


"Seharusnya dia mengatakan sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk bukan?" Kataku sambil tersenyum,


"Hallo, mohon maaf apa kalian melupakan sesuatu?" Sahut Bing, sambil melambaikan tangannya pada kami berdua, Aku dan Markus berbincang lumayan lama, sampai aku lupa bahwa Bing bersama kami. Dia benar-benar kesal karena kami melupakan keberadaannya, dan dia hanya menggerutu kesal,


"Ah, benar aku ingin bertanya kau ini siapa?" tanya Markus ketus


Aku benar-benar dalam situasi yang aneh. Markus dan Bing saling melempar celotehan yang kekanakkan, melihat tingkah kedua pria konyol itu seakan membuat diriku lebih baik. Aku bisa tersenyum, sontak Bing dan Markus memandangiku dengan tatapan hangat. Kami bertiga saling menatap, dan melempar senyum satu sama lain. Ya, degan cara inilah mereka berdua bisa berbaikan.


***


Hidangan selanjutnya adalah macaron pizza yang dibakar tidak terlalu garing karenga diatasnya dicampur dengan salad sayuran dengan saus khas Utopia. Salah satu menu favoritku adalah chees max makanan penutup terbaik di Straightlova.


"Kenapa kau tidak makan?" Sahut Bing kemudian dengan makanan dimulutnya


"Ehm, melihat kau saja aku sudah kenyang" kataku kemudian


Bing menyandarkan tubuhnya pada kursi, kedua tangannya diletakkan di meja, sambil mengunyah makanan yang tersisa dimulutnya Bing berkata,


"Kau harus punya tenaga untuk menemukan pelakunya, bukan? Setidaknya makanlah salah satu dari ini"


Aku terdiam, memperhatikan Bing yang ada di depanku. Ada jeda diantara kami berdua hingga keheningan terjadi dalam hitungan detik,


"Um, kau benar" sahutku kemudian, "Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu" tambhaku lagi


"Apa itu?" Sahut Bing kemudian ia kembali pada posisi semula, sambil menyantap beberapa hidangan penutup


"Kau utusan siapa? Lalu, dimana Wendi?" Kataku, sontak membuat Bing terkejut. Dia terpana mendengar ucapanku, kini kami saling menatap dan terdiam satu sama lain, hingga dia angkat bicara dengan terbata,


"Apa maksudmu?"


"Ya, kau kemari tidak mungkin tanpa alasan bukan? Jawab saja apa yang aku tanyakan!"


"Sepertinya kau salah faham" katanya lagi


Aku kembali terdiam menatap dalam raut wajahnya. Aku tahu Bing sedang merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Sebelah alisnya diangkat, menandakan dia gugup apa mungkin dia merasa heran karena dengan tiba-tiba aku bertanya yang memojokkannya? Yang pasti dia tetap bungkam tidak memberi jawaban sedikitpun sampai kami berdua kembali ke apartemen.


***


Tengah malam aku masih tetap memandangi layar komputer di meja kerjaku. Melihat beberapa foto kenangan bersama ayah ketika aku selesai wisuda dan lolos ujian akademi. Senyum lebarnya membuat mataku berlinang saat melihat beberapa potret dirinya, merasakan sesak didada.


Pada akhirnya aku menyerah. Aku tidak mampu lagi menampung air mata. Aku menumpahkannya hingga membasahi pipi di wajahku. Sambil tersedu aku memeluk diriku sendiri sambil memandangi potret ayah di layar monitor. Berharap aku dapat tertidur malam ini hingga esok pagi dan melupakan rasa sakit yang tersisa di dada.


***


Terdengar suara ketukkan pintu. Aku melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul sembilan. Apa semalam aku benar-benar tertidur? Aku benar-benar tidak mengingatnya. Kepalaku terasa sakit dan berat, tercium bau alkohol. Apa aku mabuk semalam? Dengan tatapan heran aku meraih botol anggur yang sudah kosong.


"Rezi kau sudah bangun?" Ucap Bing dari balik pintu, tangannya masih mengetuk pintu kamarku, dengan nada lirih aku mempersilahkannya untuk membuka pintu


"Masuklah" kataku


Wajahnya terlihat dari balik pintu, sambil tersenyum melihatku dia berjalan menghampiriku


"Kau tertidur di atas meja kerjamu? Apa itu nyenyak?"


"Hmm"


"Kau mabuk?" Tanya Bing kemudian sambil menyelidiki botol anggur yang tergeletak diatas meja kerjaku


Sambil beranjak dari tempat duduk dengan penampilan berantakan. Bing memperhatikanku, ya aku tahu dia mungkin menatapku dengan tatapan sinis bahkan kesal.


"Ah, kita akan belanja hari ini. Kau bantu aku membereskan rumah sialan ini" kataku sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Sebenarnya aku hanya ingin mengalihkan pandangannya dari wajahku. Itu benar-benar mengganggu.


***


Siang ini entah mengapa cuaca hari ini cukup aneh, langit cerah namun tiba-tiba saja di siang yang cukup terik ini terdengar suara petir yang menggelegar. Angin yang cukup kencang namun hawa terasa panas. Aku dan Bing memutuskan untuk berkendara menuju super market di pusat Kota, tadinya aku ingin megajaknya menaiki kereta dan berjalan-jalan sedikit sesuai permintaannya. Sebelumnya kami pun berdebat untuk memutuskan menggunakan apa untuk sampai ke tempat pusat perbelanjaan yang dipenuhui orang-orang.


Anak-anak, remaja, orang tua dan masih banyak lagi mereka mengantre di kasir dan disetiap sudut toko, memilih beberapa jenis makanan cepat saji, biasanya mereka akan membandingkan harga satu dengan yang lain, berdebat dengan dirinya atau dengan pasangan demi memiliki barang dengan kepuasan tersendiri.


"Apa kita memerlukan ini?" Tanya Bing dengan sebuah kaleng sarden ditangannya yang ditunjukkan kepadaku, sontak aku mengangguk tanpa melihat ke arahnya. Bing memperhatikan apa yang aku lihat, dia merasa heran "Apa yang kau lihat?" Tanyanya lagi sambil mengarah apa yang aku lihat, "Hanya sekerumunan orang" tambahnya lagi dengan nada kecewa


Aku masih terdiam.  Aku merasakan ada yang aneh disini. Mereka semua terlihat tidak baik. Apa hanya aku yang merasakan keanehan ini? Ah, aku benar-benar dibuat tidak nyaman dengan situasi ini. Aku memutuskan untuk kembali mencari beberapa kebutuhan lagi, Bing kembali mendorong troli ketika aku mengajaknya untuk mencari makanan beku. Kami berdua berbalik arah.


Aku dan Bing sempat bercerita kecil sambil memilih beberapa bahan makanan. Ia terlihat senang saat memilih apa yang dia suka. Dia terlihat seperti anak kecil dan itu tidak pernah berubah dari sifat kekanakannya. Aku hanya tersenyum sambil memperhatikannya sesekali. Sampai, ada sesuatu yang mendorongku dari belakang dan membuatku terjatuh. Seorang anak lelaki menatapku tajam. Keadannya sangat tidak baik. Wajahnya dipenuhi dengan luka, tubuhnya sangat kotor, kulit putih pucat, tatapan matanya yang menyeramkan. Dia terus menatapku dan menggeram,


"Pembunuh!" Ucap seorang anak laki-laki itu dengan lantang


Sontak semua mata tertuju padaku. Aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan. Aku tertegun memperhatikan anak kecil itu. Dia merasa tidak asing bagiku, aku pernah melihatnya disuatu tempat. Tapi aku benar-benar tidak dapat mengingatnya.


"Pembunuh" katanya lagi dengan lirih, kini ia berjalan perlahan mengarah padaku, aku tertegun melihatnya, si anak itu mengangkat satu tangannya keatas dengan telapak tangan dikepalkan, sebelum tangannya mendarat diwajahku Bing menahan anak itu, sontak membuat anak itu meronta, berteriak seperti orang gila. Semua orang berbisik dan menatap kami dengan sinis.


"Lepaskan! Dia pembunuh! Pembunuh!"


Teriakan anak itu seakan mengisi ruang-ruang di kepalaku.


Sambil menghela napas yang panjang aku mencoba menenangkan diri dan memncoba mengingat lagi anak itu. Jika diperhatikan benar-benar menyerupai seseorang. Aku pernah melihatnya dengan beberapa orang disampingnya dan dia diikat. Apa? Tunggu, apa yang aku lihat barusan?  Apakah dia anak itu?


Aku kembali menatap dalam anak itu. Menyelidiki setiap anggota tubuhnya. Aku mencoba mendekati anak itu yang gemetar dan ketakutan didalam dekapan Bing. Dia masih mencoba meronta namun tidak seagresif tadi. Ya, benar dia anak laki-laki itu.


"Kau masih hidup?" Kataku lirih sambil menyentuh lembut wajahnya


"Kau kenal dia?" Tanya bing kemudian


"Dia anak yang selalu dalam pikiranku" kataku sambil mencoba bersahabat dengan anak lelaki itu. Aku meraihntangannya yang terasa dingin, meperhatikan setiap permukaan kulitnya yang pucat, membandingkan apa yang aku lihat dalam video yang Romi tunjukkan padaku,


"Kau pasti kesakitan bukan?" Tanyaku kemudian sambil tersenyum datar melihat ke arah wajahnya, namun dia terdiam dan menatapku dalam-dalam. Air matanya berlinang,  giginya direkatkan kuat.


"Kau anak yang kuat" kataku lagi


"Ka..kau itu bukan kau?" Sahut si anak lelaki itu terbata


Aku tersenyum lega akhirnya dia angkat bicara. Aku menarik lembut tangannya dan mengajaknya ke suatu tempat. Bing mengikuti kami dari belakang. Beberapa kata umpatan terdengar dari mulutnya.


***


"Ceritakan, apa yang terjadi?" tanyaku sambil memberikan sebuah minuman coklat dingin. Meski awalnya malu-malu tapi anak itu tanpa ragu meneguk beberapa kali coklat dingin itu hingga tersisa setengahnya. Aku menjentrikan telunjuk mencoba untuk memfokuskan anak itu untuk melihat ke arahku. Aku pikir dia cukup siap bercerita setelah meminum coklat dingin yang lezat itu.


"Kau akan berbicara padaku bukan? Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?


Dia sangat lugu. Jemarinya diremas. Kepalanya kembali ditundukan memperhatikan kedua kakinya yang berayun diatas kursi tinggi terbuat dari kayu yang mengkilap. 


Bing mengetuk-ngetuk permukaan meja beberapa kali. Wajahnya begitu kesal hingga mencoba untuk menarik wajah anak lelaki itu untuk melihat ke arah kami,


"Hei, kau sudah menghabiskan setengah es coklat itu. Bicaralah, kami sangat sibuk hari ini" kata Bing kesal


Dia masih tetap diam.


"Tadi, kau menuduhku sebagai pembunuh bukan?" Kataku berhasil membuat dia menatap ke arahku. "Katakan mengapa kau berkata begitu? Kita baru saja bertemu, kau sudah berkata yang tidak-tidak"


"Kau sepertinya bukan orang itu. Kalian sangat sama percis. Tapi aku tahu itu bukan kau. Suaramu terdengar berbeda" Aku masih mendengarkan kata-katanya yang terdengar gugup. "Orang itu sangat baik kepadaku. Aku menyukainya, dia selalu datang padaku dengan sebuah kotak berisi macam-macam coklat dan permen. Lalu, aku dibawanya kentempat bermain yang luas. Hingga malam tiba, aku teringat dia mengakatan sebuah cerita masa lalunya tentang sebuah anak yang selalu berkorban untuknya, aku seperti orang yang ia katakan. Dia seringkali menangis jika mengatakan bahwa dia sangat menyayangi orang itu. Kemudian aku bersedia untuk menjaganya. Aku sangat senang dia selalu menemuiku setiap kali dia pulang bekerja. Aku tidak punya siapapun, hanya dia yang aku miliki. Tiba-tiba saja," tubuhnya kini menjadi gemetaran, kedua tangannya menutupi telinga dan wajahnya terlihat ketakutan, aku masih mendengarkan dan memperhatikannya dengan baik,


"Dia menyuruhku datang menenuinya, mengutus beberapa orang yang tidak aku kenal untuk menjeputku. Aku tidak ingat apapun lagi setelah itu. Aku mendengar suara gelak tawa dan beberapa percakapan dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Aku tidak bisa melihat apapun, tanganku diikat dan aku tidak bisa berkata apapun. Lalu, diruangan yang mengerikan itu aku melihatnya. Aku senang aku melihanya. Tetapi, wajahnya terlihat sangat beda. Dia tidak seperti biasanya. Aku tidak tahu lagi setelahnya. Aku benar benar tidak tahu"


Boom! Terdengar suara ledakan. Lantai terasa bergetar, membuat kepanikan semua orang yang berada di dalam supermarket, beberapa orang berhamburan menyelamatkan diri. Aku dan Bing sontak bergegas untuk melindungin anak laki-laki itu. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bing memberitauku untuk tetap merunduk dan menyelamatkan diri dari reruntuhan yang mungkin akan menimpa kami.


Satu kali lagi ledakan terdengar begitu dekat hingga kaca-kata supermarket pun pecah dan berhamburan ke lantai. Kami berhasil menyelamatka diri dan keluar dari bangunan.


"Anak muda, Tolong saya. Anak saya ada di dalam" seorang ibu-ibu sambil menangis meminta pertolongan padaku, ia menarik-narik tanganku. Aku mencoba menenangkannya dengan memeluknya. Tangisnya semakin keras. Aku meminta Bing untuk menjaga anak lelaki itu.


Tapi dia menolak. "Kau sudah gila? Disana bahaya kau tetap disini bersamaku" katanya menyetak


"Ada nyawa yang harus aku selamatkan"


"Hei, bantuan akan segera datang. Kau tidak lihat api berkobar begitu besar! Kau akan mati terpanggang"


"Tidak! Aku seorang prajurit. Tidak mungkin aku membiarakan nyawa orang-orang disana dalam bahaya"


"Persetan dengan siapapun kau. Tidak ada satu orang pun yang tahu kalau kau adalah prajurit disini. Hei, kau berjanji melindungiku bukan? Jika kau mati, siapa yang akan melindungiku?"


Demi apapun aku muak berdebat dengannya. Tapi tidak ada pilihan selain pergi menyelamatkan orang-orang yang masih terjebak di dalam sana. Aku mencoba menghela napas panjang dan memejamkan kedua mataku, menenangkan diri mencoba berpikir lebih jernih. Dan saat aku membuka mataku, alangkah terkejutnya. Pengelihatanku kembali seperti melihat layar virtual game. Sebuah kalimat besar berwarna merah memerintahku, untuk menyelamatkan seorang anak yang terjebak dalam reruntuhan.


Tidak hanya itu. Ada sebuah penghitung waktu yang tertulis tiga puluh menit dan angkanya terus berkurang, berjalan mundur.


"Apa ini sebuah misi untukku?"


***