
"Aku membawanya pulang. Ah, dia benar-benar merepotkan" Ucap seorang pria serba hitam itu membawa Rezi yang tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki diikat serta kepalanya yang ditutup dengan kain hitam.
Terdengar suara tepuk tangan dari kejauhan dan langkah kaki "Bagus..bagus" seru si pria bertubuh besar yang mendekat dengan beberapa orang body guard nya.
Semua orang memberikan hormat padanya. Dia pria itu adalah pimpinan mereka.
"Kau tidak membuat goresan apapun ditubuhnya bukan?" kata si pemimpin itu lagi sambil membuka kain hitam yang menutup kepala Rezi. "Haha.. Sayangnya dia terlihat manis saat tertidur" tambahnya sambil tersenyum mengagumi wajah Rezi. "Hm, bawa dia ke ruangan ku" tambahnya lagi sambil tertawa sinis
...***...
Rezi berhasil ditangkap saat salah seorang menikamnya dari belakang dan membiusnya dengan obat tidur. Rezi disekap dan dibawa ke markas mereka. Suasana yang bising membuat Rezi tidak nyaman. Setelah ia sadarkan diri, kini Rezi hanya melihat sekitar dari celah-celah kain hitam yang tipis itu.
Tak lama kemudian suara gemuruh teriakan dan hentakan benda-benda yang dipukul terdengar. Seseorang datang dengan beberapa ajudan disampingnya yang mengawal. Lalu kemudian suasana menjadi hening hanya terdengar langkah kaki mereka saja. Rezi merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, namun ia tetap tenang.
"Waah, lihat tupai betina kita. Oh, maaf sayang kamu ketakutan ya?" Kata seorang pria yang membuka kain penutup kepalanya, sambil tersenyum pria itu membuka plester yang membungkam mulut Rezi,
Rezi menghela nafas panjang, dengan wajah lelah ia tetap tersenyum tanpa rasa takut, "Ah, kau sungguh baik hati membawaku ke tempat kumuh ini. Jika aku meminta segelas susu coklat dengan roti gandum apakah ada? Kau tahu, aku dibawa kesini dengan perut kosong. Bukankah kau terlihat tampan bila dilihat dari bawah sini" katanya sambil tersenyum mengejek
"Hahaha, lihat tupai betina ini kelaparan. Sajikan semua yang dia mau" jawab pria itu memerintah, "Apa yang membawamu kemari, aku tahu kau tidak mudah menyerahkan dirimu begitu saja"
"Apa yang harus aku katakan padamu tuan?" sahut Rezi santai, wajahnya tanpa ekspresi, ia tetap terlihat tidak ketakutan meski disekelilingnya orang-orang yang siap menyerang dan membunuhnya
"Findsher?" ucap pria itu tiba-tiba membuat Rezi terdiam dan menatapnya tajam
"Apa? Sebuah mantra apa yang baru saja kau ucapkan?"
"Kau adalah orang yang kami cari selama ini"
"Wah, lihat dia benar-benar memiliki selera yang bagus. Lalu, bisakah kau melepaskan semua ikatan ini. Badanku gatal sulit aku garuk"
Sontak semua orang tertawa, salah seorang menuruti apa yang diperintahkan tuannya untuk melepas semua tali yabg mengikat tubuh Rezi.
Rezi mengubah posisi tubuhnya untuk duduk dengan kaki bersila, jari tangannya dikepalkan kuat.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan" Ucap Rezi menyambung pembicaraan
"Bawa dia" kata si pimpinan itu memerintah
Rezi kembali digiring ke sebuah tempat yang asing. Sambil berusaha untuk melawan, Rezi melihat sekelilingnya dan mempelajari satu per satu orang- orang yang berada disekitarnya.
...***...
Menaiki sebuah lift yang berada diujung lorong menuju sebuah tempat yang entah berada dimana, Rezi dan orang-orang yang membawanya tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Rezi terus mencari cara agar ia bisa keluar dari tempat yang ia tidak ketahui.
Sesampai di lantai sepuluh, tempat yang menjadi tujuan mereka membawa Rezi, ada seorang wanita yang berdiri dengan pakaian mencolok. Senyum manis terpancar diwajahnya saat ia digoda oleh seorang pria yang membelakangi Rezi dari kejauhan. Rezi penasaran siapa kedua orang itu,
"Tuan muda kami sudah membawa target anda" ucap si gendut yang sedari tadi mengawal Rezi, lalu si pria yang dimaksud itu berbalik, Rezi hanya terdiam dengan mata terbelalak saat melihat pria yang disebut tuan muda itu.
Kemudian sang tuan muda tersenyum saat melihat Rezi dan menghampirinya dengan perlahan. Tubuh Rezi membeku saat pria itu memeluknya erat.
"Maaf jika anak buahku membuatmu takut. Aku senang melihatmu lagi" katanya sambil menghela nafas lega
Rezi masih terdiam, tangannya dengan berat mengusap punggung pria itu, "Bing" sahutnya lirih
Pria itu tersenyum, dan memandangi wajah Rezi yang kembali mengingatnya "Ya, aku kembali untukmu"
kemudian wanita yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua mendekat dan memberikan senyuman hangat pada Rezi, "Selamat datang di Elevator, aku banyak tahu tentabgmu dari pria tampan ini. Suatu kehormatan bertemu denganmu disini Findsher" katanya sambil memberi hornat.
"Tunggu, kalian semua terus menerus memanggilku debgan sebutan Findsher, aku tidak mengerti"
"Ya, aku belum berbicara banyak dengannya" ucap Bing sambil membelai lembut kepala Rezi
"Baiklah kami memberikan waktu untuk berdua saja, sampai berjumpa nanti" ucap wanita itu berpamitan sambil mengajak yang lain pergi meninggalkan Bing dan Rezi.
Rezi masih memandangi wajah Bing dengan penuh pertanyaan.
"Sudahlah, aku memang tampan kau tidak perlu terpesona begitu padaku" ucap Bing sambil tertawa dan Rezi ikut tertawa kecil mendengar celotehan pria didepannya itu
Pertanyaan pertama muncul dengan tiba-tiba di benak Rezi, dengan penuh hati-hati ia berbicara "Tempat apa ini?"
"Ini tempat tinggalku dan kawan-kawan yang lain. Semua yang berada disini adalah orang-ornag yang menolak program pemerintah, kau tidak usah khawatir mereka semua orang baik, hanya saja mereka penuh drama" katanya sambil tertawa
"Lalu, mengapa kau membawaku kesini?"
"Aku tidak ingin kau ditemukan oleh suruhan Utopia"
"Siapa itu?"
"Semacam tentara dan aparat keamanan lain, yaa aku juga tidak mengerti perpecahan itu terjadi begitu saja. Dalam waktu satu tahun Utopia dikuasai oleh Felix"
"Felix? Siapa dia?"
"Dia dulu adalah perdana menteri, namun banyak sekali koneksi orng dalam dan akhirnya dia berhasil merebut kursi kepresidenan. Salah satu penyebab mengapa program mengerikan itu diciptakan adalah karena orang jahat itu"
"Tunggu, kau berbicara program yang dibuat di Mahesa itu? Bukankah program itu.." Rezi tiba-tiba teringat dengan kejadian dulu, saat Romi memperlihatkan rekaman video anak laki-laki yang dipasangi program buatan, "Sial, apa mungkin program itu adalah program pemusnah masal?" katanya tiba-tiba
"Apa maksudmu?" tanya Bing penasaran
Rezi berjalan perlahan menjauh dari Bibg dan melihat ke arah luar dibalik jendela kaca besar, sambil menghela nafas panjang "Aku tahu tentang program itu, saudaraku bekerja di laboratorium dia salah satu anggota dari mereka, namun hubungan kami tidak baik, aku tidak mau bertanya apa yang ia kerjakan. Tapi saat aku dan kawanan tentara lain mengantakan objek penelitian diberikan tanda pengenal dengan sebuah program yang dipasangi di tubuh kami.."
"Apa? Kau tidak bercanda? Dimana mereka memasangi mu program itu?" Tanya Bing dengan tiba-tiba dan mengagetkan Rezi.
Rezi mengarahkan tangannya ke belakang pundaknya, "Disini" katanya pelan
Bing tiba-tiba menarik tangannya dan menyeret Rezi ke sebuah lorong yang berada disudut belakang ruangan itu, dengan panik Bing memerintahkan yang kain untuk berjaga dan membersihkan semua orang di area yang beresiko
Rezi ikut khawatir dengan apa yang baru saja Bing lakukan pada anak buahnya, "Kenapa? Ada apa?" tanya Rezi sambil terus berjalan mengikuti Bing yang terus menuntunnya mengarah ke suatu tempat
Sebuah alarm baru saja dinyalakan oleh bing dan terdengar perintah untuk berkump di Aula melalui pengeras suara.
Setibanya di ruangan yang dingin dengan pencahayaan yang redup, tempat itu seperti klinik. Bau obat-obatan dan cairan povidon-iodin tercium sangat kuat.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rezi saat mereka telah tiba
"Aku akan mengeluarkan program itu dari tubuhmu, mereka bisa saja memasang alat pelacak untuk menemukanmu. Dan kau akan tahu bukan jika itu benar terjadi maka kita semua dalam bahaya"
Rezi mengangguk tanda mengerti, "Kau yakin program itu ada ditubuhmu? Mereka memasangnya di tubuhmu?" tanya Bing meyakinkan
"Mereka memasangnya denga terburu-buru setibanya kami di Mahesa. Saat aku bertemu denganmu pertama kali, ya disana"
Bing terdiam, "Ah, aku ingin bertanya padamu. Apa yang sedang kau lakukan disana saat itu? Kau tiba-tiba menyerangku, memlukku, dan meninggalkanku. Kau benar-benar membuatku bingung"
"Nanti aku jelasakan padamu, dan aku mohon padamu. Sekarang juga aku harus mengeluarkan benda itu dari tubuhmu"
...***...