
Romi mulai berkemas, beberapa barang penting ia amankan sebelum akhirnya mulai meninggalkan laboratorium beserta para staff dan juga objek penelitian. Pada malam itu sekitar pukul sepuluh malam, sebuah helikopter tiba untuk membawa beberapa objek penelitian penting, Sam yang terlebih dahulu diamankan dan seorang lagi objek terpenting dari penelitian tatanan dunia baru Utopia.
Objek tersebut lantas dibawa menuju Macca. Sebuah kota terpencil di Utopia paling ujung dan sulit untuk dijangkau, terlalu banyak bahan peledak yang sengaja di tanam diluasnya hamparan gurun pasir. Dulunya tempat itu bekas area peperangan kedua negara yang ingin menguasai Utopia. Hanya dapat diakses melalui udara untuk menuju kesana.
Angin malam ini cukup kencang, Romi mengisaratkan untuk segera pergi. Baling-baling helikopter itu mulai berputar perlahan-lahan hingga akhirnya helikopter berbadan besar itu terbang dan meninggalkan Mahesa.
Butuh delapan jam untuk menginjakkan kaki di Macca. Romi dan tim lain kembali bergegas setelah delapan jam perjalanan melalui udara. Sebelum helikopter berbadan besar itu kendarat, Romi memastikan semua objek dinyatakan aman.
Satu per satu turun dengan membawa beberapa barang yang dievakuasi dari mahesa, beberapa orang yang sudah berjaga di pangkalan udara bersiap membantu membawakan barang-barang termasuk objek yang diamankan.
"Semua objek aman?" Tanya seorang pria pendek dengan tubuh yang membungkuk itu pada Romi sambil membawakan troli, pria itu terlihat menakutkan. Kulitnya berkerut, wajahnya terlihat seram seperti mengenakan topeng sintetis. Romi memandang ke arah pria itu dengan sinis, ia tidak bersuara hanya mengangguk sambil menyelidik, lalu pria pendek tersebut balas memandang Romi lalu tertawa,
"Aku tidak heran dengan cara orang-orang kota memberi salam selamat datang padaku" katanya sedikit menyinggung
"Oh, Maaf!" Ucap Romi
"Mungkin kau gadis ke sekian kalinya yang memandangku begitu. Aku seperti pernah bertemu denganmu" katanya lagi sambil mendorong troli yang dipenuhi dengan beberapa koper dan barang bawaan lain, Romi mulai mengikuti langkah si pria pendek tersebut.
"Maaf, kau pernah bertemu denganku?" Tanya Romi penasaran
"Mungkin, aku rasa begitu. Wajahmu tidak asing bagiku"
Romi terdiam tidak menjawab perkataan pria itu. Dia terus berjalan sambil melihat si pria bungkuk itu dari belakang. Sambil mengingat dan berpikir kapan ia pernah bertemu dengannya, dan siapa si pria tua itu.
***
Matahari mulai terlihat sinarnya. Semua barang sudah diangkut dan disimpan di laboratorium baru. Beberapa orang sibuk menyiapkan tempat baru mereka, beberapa lagi memilih memulihkan tenaga mereka dengan tidur di matras laboratorium, dan sisanya menyiapkan makan pagi.
Sesuai perintah perdana menteri Joseph akan di teliti sebagai objek utama yang berhasil lolos menembus ruang waktu antar dimensi. Joseph menajdi tanggung jawab Romi, semua aktifitas perkembangan Joseph diawasinya dan hari ini tepat bulan ke tiga Joseph akan kembali diaktifkan.
***
Waktu terus bergulir. Romi masih terlelap, sedangkan semua telah bersiap memulai aktifitas. Tidak ada seorangpun yang berani membangunkan sang kepala laboratorium itu. Mereka membiarkan Romi seorang diri bersama Josep yang berada diseberangnya yang juga masih tertidur panjang dalam kapsul kaca raksasa.
Seluruh akses keamanan di gedung laboratorium ini masih minim dan sistem aliran listrik masih belum stabil, tiba-tiba saja aliran listrik padam. Akses pintu masuk otomatis tidak dapat dibuka tanpa aliran listrik. Semua objek penelitian dalam bahaya. Tidak ada alarm tanda peringatan, Romi tidak sadar jika ia terkurung dan terjebak di dalam ruangan itu tanpa oksigen yang cukup.
Kaca kapsul tempat objek itu tiba-tiba berembun. Tidak terlihat tanda-tanda vital dilayar. Hingga akhirnya kaca tebal itu retak dan akhirnya pecah, bersamaan dengan sadarnya Romi yang terbangun dari tidurnya.
Ia hanya melihat ruangan yang gelap dan telinganya mulai berdengung, nafasnya sesak. Ia mencoba meraih ponselnya untuk meminta bantuan. Ia mencoba untuk tenang dan menyalakan lampu senter pada ponsel miliknya, ketika lampu itu diarahkan tepat ke kapsul tempat objek penelitian, tiba-tiba saja objek didalamnya menghilang.
Kepanikan terjadi, Romi mencoba tetap tenang dengan mengatur napasnya sambil menunggu pertolongan, tangannya masih menggerakan arah lampu senter di ponselnya untuk melihat keadaan ruangan dan mencari objek yang baru saja menghilang.
Sebisa mungkin ia tak bersuara, karena objek akan sensitif dengan suara yang dihasilkan, tiba-tiba ponsel romi bersuara dan bergetar, tanda panggilan masuk. Namun, Romi terdiam dia belum menerima panggilan masuk di ponselnya, ia hanya mematikan suara ponselnya dan merasakan ada sesuatu yang sedang mengawasinya dari belakang.
Tak lama kemudian, suara ponsel Romi kembali terdengar lagi, tangannya kembali mematikan suara yang ponselnya. Senternya masih menyala dan diarahkan pada kaca kapsul obejek penelitian yang retak dan pecah sebagian, terlihat pantulan bayangan diri Romi dan seseorang dibelakangnya.
"Siapa kau?" Terdengar suara seorang pria dari belakang. Romi terdiam, tubuhnya bergetar. Ia tahu, Joseph dibelakangnya. Romie coba berbalik tubuhnya menghadap Joseph namun, ia tak sadar jika Joseph masih sensitif dengan cahaya senter yang dihasilka dari ponsel Romi,
Sontak Romi menjerit ketika Joseph mengibaskan tangannya dan menjatuhkan ponsel milik Romi. Tak lama kemudian, ruangan kembali terang. Romi dapat melihat dengan jelas Joseph berada tepat di depannya. Joseph terlihat pucat dan lemas, ia menandangi Romi sambil tersenyum dan berkata,
"Sudah lama aku menunggumu, aku merindukanmu Komandan"