The Findsher

The Findsher
Menjemput Senja



Papan reklame di ujung persimpangan itu menarik perhatian. Bagaimana tidak, wajah Rezi terpampang dengan jelas dan besar, belum lagi tulisan dengan huruf kapital di atasnya yang sangat memuakan,


"Siapa orang gila yang berani memasang wajahku disana?" gumam Rezi dalam hatinya kesal


Dalam pelariannya kini dibuat sesak, karena tidak ada lagi akses untuk Rezi bersembunyi. Sosok jangkung yang berapkaian serba hitam dengan laras panjang yang mungkin saja akan tiba-tiba muncul dan menyerang Rezi dari belakang atau dia membunuhnya.


Setelah berjibaku dengan mahluk-mahluk aneh saat itu Rezi berhasil melarikan diri dari bangunan rumah sakit. Tapi, jalan buntu yang Rezi dapatkan kini.


"Sial, mengapa jalanan ini sudah banyak berubah. Sebenarnya apa yang telah terjadi?" ucap Rezi kesal, matanya terus mencari sesuatu yang bisa ia lalui dengan mudah.


Sepanjang persimpangan itu dipenuhi oleh mobil-mobil yang berjajar di jalan raya. Entah seberapa panjang jauhnya. Tentu saja, mobil itu banyak yanh sudah berkarat dan tidak lagi berpemilik.


Dengan hati-hati Rezi mendekati jajaran mobil itu dan mencari sesuatu yag dapat ia gunakan untuk melindungi dirinya.


"Baiklah, apa aku sedang bermimpi? Ini seperti film yang sering aku saksikan dimana ada beberap adegan sama nyata dengan apa yang aku alami ini" sambil mencari kesana kemari Rezi terus berbicara dengan dirinya sendiri, satu per satu mobil digeledah, "Baiklah, apa yang akan aku dapatkan disini, huh? Aku butuh pakaian dan beberapa tameng" katanya lagi sambil tertawa kecil,


Tangannya dengan lihai mencari satu persatu barang yang ada didalam mobil-mobil yang berjajar.


Tidak butuh waktu lama Rezi mendapatka apa yang dia cari, "Wah terima kasih tuan pemilik mobil, siapapun kau aku ucapkan terima kasih untuk pakaian dan rompi pelindung ini"


Tanpa pikir panjang Rezi langsung mengganti pakaiannya di dalam mobil van hitam itu. Sambil menenangkan diri sejenak.


...***...


Hari mu sangat panjang dan melelahkan


Apa Kau kini merasakan kesepian?


Bersandarlah sejenak, dan pejamkan mata


Hingga kau temukan bahu yang dapat menenangkan


Rezi terbangun dari mimpinya. Tanpa sadar ia terlelap didalam mobil van hitam itu hingga petang. Dirinnya kini terdiam. Menatap dalam langit yang luas.


Rezi menghela napas panjang. Tangannya dikepal dan memukul-mukul dadanya yang mulai terasa panas dan berat. Sampai akhirnya, air mata mulai menetes. Rezi menangis tersedu. Ia tak kuat menahan terlalu lama.


"Mengapa semua terjadi begitu cepat? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Rezi parau dan tangisnya meledak. Petang itu menjadi petang yang menyedihkan. Baginya terasa berat, tidak ada lagia yang dapat dilakukan. Entah kemana lagi Rezi harus pergi dan berlindung.


Tidak ada pikiran apapun saat ini yang terlintas dalam benaknya. Bagi Rezi berlindung adalah hal yang menenangkan baginya.


...***...