The Findsher

The Findsher
Siapa Sebenarnya? #2



Tenaga Joseph belum sepenuhya kembali. Napasnya masih berantakan, rasa lelah, sakit dan takut menjadi satu dalam diri Joseph. Sayangnya sirine berbunyi dengan cepat. Kertas yang ia pegangi sedari tadi kemudian ia simpan dengan baik didalam tas kecilnya.


Joseph berjalan mengarah ke selatan, dengan mengikuti petunjuk arah yang ada. Matanya mulai menyapu sekitarnya, memperhatikan setiap pergerakan yang mungkin terjadi. Pepohonan menjulang tinggi, rerumputan dan binatang kecil yang mengelilinginya, Langkah kakinya terhenti tepat pada sebuah pohon Jwarau yang menjulang tinggi dengan akarnya yang bergelantung bebas hingga mengenai bagian tubuh Joseph.


Dari akarnya keluar air yang segar, Joseph mengadahkan wajahnya untuk menikmati air pohon Jwarau yang langka itu. Joseph benar-benar menikmati waktunya, tenang, damai adalah kata yang benar benar ia rasakan saat ini, sayangnya langkahnya harus segera kembali menuju tes selanjutnya.


Sambil bersiul ditengah sunyinya hutan Joseph sangat menikmati perjalanan yang cukup melelahkan itu. Berkat air segar yang baru saja ia minum seperti mendapatkan tenaganya kembali. Dengan hati-hati langkahnya mulai menyusuri sungai dan beberapa jembatan kecil yang terbuat dari kayu yang hampir rapuh. Sejauh ini ia sangat tenang, meski wajahnya masih terlihat tanpa ekspresi namun sedari tadi ia tak berhenti bersiul bersenandung lagu kesukaannya let it be.


Klang !!


Terdengar suara senapan yang mengenai tong besi berkarat tepat berad di depan Joseph. Dengan sigap Joseph menyembunyikan dirinya dibalik pepohonan sambil kedua tangannya melindungi kepalanya, Joseph berusaha menenangkan dirinya dan mengatur napasnya perlahan sambil mengambil senjata yang ada di dalam tas nya.


"Sial" katanya sambil mencari-cari didalam tas nya, sedangkan seseorang terus menembakinya dari kejahuan, Joseph menyerah tidak ada senjata apapun yang ia miliki. Setidaknya ia harus berusaha melindungi dirinya dari serangan orang yang menembakinya.


...***...


Sementara itu, Felix dan pasukannya mengunjungi laboratorium untuk meyaksikan objek penelitian dalam menyelsaikan tes ke dua. Sambutan meriah dan baik dari para staff termasuk Romi yang pertama kali menyapa sang presiden Utopia yang baru. Mereka mengarah ke sebuah ruangan besar yang didalamnya terdapat beberapa monitor besar untuk melihat objek penelitian bertahan.


"Sejauh ini peningkatan kondisi fisiknya baik. Hanya saja dia masih belum menemukan keseimbangannya untuk bertahan"


ucap Romi menjelaskan kondisi objek penelitian


"Begitu ya, aku ingin dia menjadi objek yang pas untuk program kita. Aku tidak ingin menyia-nyiakan uang untuk penelitian besar ini" sahut Felix dengan tegas


Romil hanya menunduk tidak bergeming, Felix sesekali memperhatikan wajah Romi, "Siapa namamu?" tanya Felix sambil memincingkan matanya, suaranya yang menggema itu sontak membuat Romi melihat ke arah Felix,


"Romi"


"Kau anak dari Frans bukan?"


"Ya Pak, bagaimana Anda mengetahui ayah saya?"


"Haha.. tentu aku mengetahui ayahmu. Dia bertahun-tahun bekerja untukku"


Sontak Romi mebungkuk memberikan hormat pada Felix yang mengenali ayahnya,


"Aku pernah melihatmu namun dengan seragam berbeda, apakah kamu pasuka khusus juga manis?"


"Maaf? Apa maksud Anda?"


Semua orang yang berada di dalam ruangan itu sontak memperhatikan Romi yang terlihat kebingungan. Tak lama kemudian Romi sadar, yang ditanyakan padanya adalah saudara kembarnya Rezi. Ia mencoba bungkam dengan keberadaan saudaranya itu, kemudia ia tertawa kecil,


"Ah, mungkin Anda keliru pak saya hanya cinta dengan seragam putih ini. Lagi pula banyak sekali wajah yang begitu mirip dengan saya" jawabnya sontak mengundang tawa Felix


"Haha begitu rupanya" sahut Felix sambil tertawa


"Objek sudah mendekati green hole, ia aman untuk sementara waktu" ujar seorang operator menginfokan keberadaan objek saat ini, semua orang kembali mengarah pada layar besar itu, sedangkan keberadaan Joseph yang berada di green hole membuat tes kedua ini berakhir.


...***...


"*Apakah anak anda pernah membunuh seseorang?" pertanyaan itu kembali diulang


Mata pria paruh baya itu sontak terbelalak, sesekali pandangammya diarahkan pada kedua tangan kaki yang dirapatkan erat.


"Pak?"


"Tidak ! Dia tidak sengaja melakukan itu" ucapnya sambil merekatkan kedua tangannya


"Bagaimana Anda yakin degan hal itu?"


"Dia.. anakku melindungi adiknya.. ya, dia melindungi adiknya dia sangat menyayangi adiknya"


"Dimana anak ke dua Anda saat ini?"


Seketika keheningan terjadi membuat jeda percakapan yang sedang berlangsung


"Aku tidak tahu dimana kedua anakku saat ini" sahutnya lirih


sambil memandang lawan bicaranya, wajahnya terlihat kalut dan ketakutan


"Baiklah, aku tidak akan menekanmu lebih keras lagi. Sebelum aku mengakhiri pertanyaan yang terakhir, aku ingin menanyakan satu hal penting pada anda pak.."


"Ya?"


"Apakah salah satu anak anda adalah findsher?"


Pria itu kembali terdiam dalam waktu yang lama, semua orang yang berada di sekitarnya menunggu jawaban yang akan pria itu ucapkan dihadapan para petinggi keadilan*.