The Findsher

The Findsher
Coronium



Peradaban yang makmur dan adil kini terkikis oleh tatanan kehidupan baru, alih-alih pemerintah demi melindungi warganya dari kesengsaraan dan menjadikan Utopia semakin makmur dengan dibuatnya beberapa tatanan kehidupan.


Bahkan disebutkan, Utopia telah mengalami Era Kehidupan yang baru. Program yang menjadi pembicaraan hangat bahkan mendapat penentangan dari berbagai kalangan beberapa tahun lalu, kini justru diproduksi secara masal. Penyebarannya kini meluas, hampir delapan puluh persen warga Utopia terpasang program itu ditubuhnya.


Perkembangan ekonomi yang meroket dua kalilipat tentu saja membawa angin segar bagi sang penguasa. Tersebar berita di era kehidupan ini akan dipersulit, meskipun kesejahteraan hampir lima puluh persen meningkat bahkan produk hasil bumi Utopia saja merajai pangsa pasar di dunia. Pemerintah seakan mengkambing hitamkan warganya sendiri. Sangat terdengar keji.


Pemberitaan media masa satupun tidak ada yang berani bermain fakta, kebenaran seakan dibungkam dengan beberapa pemberitaan yang tersebar akan adanya sebuah era baru, coronium yang disebut- sebut sebagai evolusi manusia di zaman era pemerintahan Felix ini.


Orang itulah yang disebut-sebut sebagai pembawa pengaruh besar dalam perubahan kehidupan dunia ini. Sebelumnya ia menjabat sebagai perdana menteri kesejahteraan dan sangat dekat dengan Ketua Lim, namun terdengar kabar jika Felix diberikan kesempatan untuk mencalonkan dirinya sebagai presiden.


Alih-alih menggantikan sang Presiden yang tewas tertembak karena kerusuhan,  Ketua Lim dan jajaran para menteri lainnya memutuskan jika Felix lah yang akan menjabat menggantikan sang Persiden. Ditengah kerusuhan dan konflik antar Distrik, Felix bersikeras untuk segera dilantik sebagai presiden. Dan permohonan itu sialnya dikabulkan.


Mereka dengan leluasa mengontrol ingatan, gerakan dan opini disetiap keseharian warga Utopia. Apapun yang dilakukan setiap orang akan diketahui asal muasalnya, jika terbukti program itu berhasil maka kau akan benar-benar menjadi manusia  masa depan yang tunduk pada satu induk.


Bukankah pemerintahan zaman ini terdengar kejam? Bahkan mereka layaknya Tuhan yang bisa mengontrol dan megetahui gerak-gerik mahluknya. Membatasi ruang gerak dan pembatasan sosial secara besar-besaran.


Program yang diciptakan ini "katanya" untuk mempertahankan diri dari apapun, seseorang dikatakan berhasil akan terbebas dari karantina dan pelepasan dapat dilakukan. Sedangkan yang gagal akan dimusnahkan setelah karantina selesai.


***


Sudah berapa lama aku terlelap? Aku mengintip wajahku yang terlihat pucat pada cermin yang menempel di lorong rumah sakit penuh dengan debu, beberapa kali aku mengedipkan, banyak pertanyaan yang silih berganti memenuhi isi kepalaku. Mataku mulai menyapu sekitar, tetapi masih saja sama, aku tidak bisa menemukan apapun dan siapapun disini. Benar-benar hening dan menakutkan.


"Apa yang terjadi?" Kataku terus mengulangi sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang terlihat tampak rusak, kotor dan kosong ini. Tidak ada satupun pintu yang dapat aku buka. Mungkin ada jalan lain yang bisa aku lewati. Pikirku, berjalan melewati tangga mungkin akan membawaku mengarah pada sebuah jalan keluar dari sini.


***


Sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhku aku terus berjalan menuruni anak tangga yang belum aku temukan dimana letak ujungnya. Serpihan kaca dan benda-benda lainnya berserakan dilantai. Apakah ada serangan meteor yang menyebabkan kerusakan parah seperti ini?


Seperti dibawa kedalam alam bawah sadarku. Ikut berlari memutari rintangan, ruang dan waktu. Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini, mengapa Utopia bernasib malang, dihancurkan dengan hal yang tidak tahu apa sebabnya. Sampai diujung lorong aku terdiam, menatap sebuah cahaya terang yang menembus celah dinding yang retak.


Mungkin dengan menendang dinding rapuh itu pasti akan runtuh. Tidak ada jalan keluar lagi selain melewati celah ini. Ada beberapa bayangan diluar sana yang berlalu lalang, entah mahluk apa diluar sana yang menungguku. Apakah ini akan seperti film fantasi, ada zoombie yang berkeliaran dan menggigit manusia hidup? Ah, warasku sudah tak berfungsi dengan baik.


Aku terus mengintip keadaan diluar sana dari balik celah dinding ini. Mataku terbelalak melihat seseorang dengan pakaian serba hitam berdiri disebrang sana  memegang senjata api laras panjang. Tubuhnya yang tingggi dan besar, wajahnya tentu saja tidak bisa aku lihat karena memakai pelindung dan apalah itu yang menempel diwajahnya.


Jantungku tiba-tiba saja berdetak dengan sangat kencang. Kakiku pun gemetar hingga sekujur tubuhku merasakannya. Ya Tuhan,  dia memperhatikanku!