The Findsher

The Findsher
Voice 2



Seorang pemuda ditemukan tewas di depan kamar apartemen, pemuda itu dikenali sebagai kurir yang kebetulan sedang mengantarkan paket untuk penghuni salah satu kamar apartemen. Gerak-gerik pemuda tersebut terekam oleh kamera pengawas CCTV yang terpasang di lorong apartemen.


Sebelum kejadian tersebut, sang pemuda terlihat mengetuk pintu beberapa kali kamar apartemen yang terletak di ujung lorong kanan. Tak lama setelahnya, sang pemuda itu terlihat diam mematung, menjatuhkan kardus yang sedari tadi dipeganginya lalu tubuhnya ambruk ke lantai ia tidak bergerak sedikitpun.


“ditemukan ada lebam dan memar pada tubuh korban, seperti bekas penganiayaan. Apa ini percobaan pembunuhan?”


“bagaimana kronologis lebih detailnya? Mengapa petugas pemantau CCTV tidak segera bergegas menghampiri korban? Mungkin korban akan terselamatkan?”


“Bagaimana Polisi akan mengurus mayatnya? Apakah akan dilakuka autopsi untuk menemukan titik terang penyebab kematian korban, mengingat ada lebam dan memar ditubuhnya?”


“Pak mohon jelaskan pada kami, identitas korban secara detail. Kami menunggu identitas korban apakah benar dia bekerja sebagai kurir?”


Sebagian besar wartawan melontarkan beberapa pertanyaan yang sama dan berulang-ulang, Komandan Runtu dan Kepala Liem bersikap tenang dan santai menanggapi para pencari berita tersebut. Mereka berdua yang bertugas untuk memberikan klarifikasi mengenai kejadian di tempat perkara. Aku terdiam menyaksikan kejadian di depan mata. Apa yang sebenarnya terjadi.


Maksudku, sudah sangat lama Utopia berdamai dengan situasi aman, pemuda itu menjadi objek ke dua setelah Joseph. Mayatnya akan dijadikan penelitian para ilmuan Mahesa, Utopia.


“Korban akan kami kirimkan ke laboraturium untuk diteliti penyebab kematiannya. Kami masih belum bisa memberikan informasi lengkap tentang kejadian ini” tegas Kepala Liem memaparkan informasi kepada wartawan


“Kepala Liem, bagaimana anda dapat memastikan ini bukanlah pertanda buruk bagi kami semua dan Utopia? Mendengar bahwa akan segera dibuat program pengendali, apakah dia sebagai objeknya? Benarkah program itu akan mengendalikan perekonomian bukan sebagai program pemusnah masal?” tanya seorang wartawan pria dengan tegas, nadanya terdengar menekan dan sontak para awak media lainnya memperhatikannya tak terkecuali Kepala Liem dan Komandan Runtu yang tercengang mendengar pertanyaan sang wartawan tersebut


Kepala Liem membalas dengan tatapan tajam, matanya menyelidik si pria tersebut. Hanya kilauan cahaya flash dari kamera yang menghiasi keheningan diantara mereka.


“Kau bisa pastikan itu pak Kepala Liem?” tanyanya kemudian memecah keheningan. Senyumnya menyeringai, si pria tampak puas menyudutkan kedua orang penting di Utopia itu.


Tangannya yang menggenggam microphone perekam lebih didekatkan pada wajah sang Kepala Kepolisian Utopia itu, kepala Liem masih terdiam belum memberikan komentar apapun.


Para awak media lainnya sontak bertanya tentang kepastian dan kejelasan yang di tanyakan sang pemuda itu hingga membuat gaduh, Kepala Liem terlihat menundukkan kepalanya, sesekali menghela napas panjang “Ya, tentu itu bukanlah program menakutkan. Akan aku pastikan Utopia akan benar-benar baik saja” tegasnya menutup jumpa pers yang berlangsung sengit itu.


***


Pemberitaan seluruhnya kini mengenai tewasnya Demmy kurir yang telah diketahui identitasnya. Membutuhkan waktu tiga hari ahli forensik mendapatkan sampel akhir objek untuk mengetahui hasil yang diperoleh.


Dalam konferensi pers Kepala Kepolisian Liem mengungkapkan fakta kematian pemuda tersebut,


“Kami telah menerima hasil dari objek penelitian dan yang didapatkan adalah adanya senyawa arsenik didalam tubuh korban, serta narkotika. Lebam dan memar yang ada pada tubuh korban adalah murni dari penganiayaan.


Korban berjenis kelamin pria berusia pertengahan tiga puluh tahunan, ia tidak memiliki keluarga maupun kerabat. Dan dipastikan kependudukannya bukan warga asli Utopia. Kami pihak kepolisian akan mengusut tuntas kasus ini.” tegas sang Kepala Kepolisian ang terlihat kekar itu mengakhiri jumpa pers dengan singkat, para waratawan tidak diperkenankan untuk bertanya. Kepala Liem bergegas meninggalkan auditorium gedung kantor polisi pusat Utopia.


***


Sudah hampir sepekan, sebelum kembali bertugas aku memutuskan untuk pulang mengunjungi rumah ayah dan ibu di Utara. Bukan karena aku rindu mereka, aku hanya ingin mengambil beberapa barangku yang tertinggal disana. Ya, aku memutuskan untuk membeli sebuah apartemen di Barat. Tempat itu lebih dekat ke Camp.


Mobil yang kutumpangi tiba di halaman, terlihat pria paruh baya yang sedang jongkok mengenakan topi kolot menoleh ke arahku. Senyum pria paruh baya itu terlipat, wajahnya yang lusuh terlihat jelas sesekali punggung tangannya membersihkan wajahnya. Kini ia berdiri dan segera menghampiri mobil yang aku parkirkan.


Aku bergegas turun dan menghampiri ayahku. Dalam perjalanan aku menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko kue langgananku untuk membelikan kue pie kesukaan ayahku. Aku hanya menebak saja apa yang menjadi favoritnya.


“Kau sedang bebas tugas?” ucapnya menyambut kedatanganku, Aku mengangguk dan memberikan salam padanya.


“Iya, aku hanya mampir dan akan segera kembali ke Camp” ucapku datar


“Kau tidak akan menginap disini?” tanyanya lirih, aku menghela napas sesekali aku memperhatikan tubuhnya yang lusuh, kulit hitam terbakar matahari dan keringat yang membanjiri pelipisnya.


“Ayah sudah makan? Aku bawakan pie, mau aku siapkan?” kataku tida menghiraukan pertanyaannya tadi, aku bisa melihat perubahan mimik mukanya dengan cepat. Apa dia senang dengan kehadiranku disini? Pertanyaan itu sungguh menggangguku. Au tidak pernah bertegur sapa dan berbincang dengannya dalam waktu lama.


Kehadiranku dirumah ini tentu bukan hal yang penting. Itulah alasanku mengapa aku ingin sekali menjadi prajurit Utopia, aku tida ingin tenggelam dalam kesedihanku.


Terdengar teriakan memanggil pria paruh baya itu, tentu saja aku tidak melupakan ibuku, selain pie aku membelikannya kue kering berbahan pastri. Ia megintip dari ruang tengah saat aku dan ayah duduk di halaman belakang.


Kini ia menghampiri kami, membawakan dua gelas air untuk kami. Sungguh aku sangat menikmati hari ini. “Hallo ibu, apa kabar?” ucapku memberikan salam pada wanita usia lima puluhan yang memakai daster itu, berbeda dengan ayahku wanita ini terhat sangat segar dan masih terlihat cantik di usianya. Ia mebalasku degan senyumannya yang merekah namun itu terlihat palsu.


“Ah, aku bawakan sesuatu untuk kalian” kataku lagi sambil mengeluarkan bungkusan kue berbahan kardus yang cantik dan meghidangkanya di atas meja.


Ibuku masih terdiam berdiri dihadapan kami.


“Kau mau bermalam disini?” katanya ketus, aku terdiam melihat ekspresi yang sangat aku benci


“Rose, dia anak kita juga kau harus ikut menyambutnya, siapkan makan siang untuknya” ucap ayah dengan nada membela


“Ah, iya kau adalah adik dari Romi. Baik, aku akan menyiapkan makan malam untukmu”


“Terima kasih, tapi aku tidak akan lama. Aku hanya mampir untuk membawa beberapa barangku, aku harus berkemas. Mungkin aku tidak akan kembali”


“Kau akan meninggalkan kami?” kata ayah suaranya bergetar, wajahnya yang lusuh dipenuhi keringat itu memandangku dalam


“Aku akan mengunjungi rumah sesekali”


“Kau akan tinggal dimana?”


Aku beranjak dari tempat duduk yang terbuat dari kayu itu “Ah, aku harus mengambil barang-barangku” kataku lagi sambil meninggalkan mereka dan bergegas mengarah ke loteng tempat kamarku berada.


***


Aku tidak terlalu suka pada ibuku. Benar-benar tidak menyukainya. Entah sejak kapan aku membenci sikapnya terhadapku, berada dirumah ini hanya membuatku sesak saja. Aku terdiam sejenak mengamati sudut demi sudut kamarku. Mengapa ini terasa sesak?


Mataku tertuju pada sebuah potret keluarga yang dipajang di sudut dekat jendela, potret dengan bingkai kayu lusuh gaya retro itu mencuri perhatianku.


Suasana sembilan puluhan melekat pada potret itu. Potret saat aku dan Romi kecil berada dipangkuan ayah dan ibu. Aku bahkan tidak dapat membedakan mana aku atau Romi. Kembar kami sangat identik, tapi tidak dengan sifat kami yang sangat bertolak belakang.


Jemariku menyentuh kaca bingkai yang mulai berdebu itu. Aku membayangkan apakah Rezi kecil yang tersenyum dalam potret itu bahagia saat kecil?


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku yang tidak tertutup rapat. Sontak membuatku mengarah pada sumber suara, terlihat ayah dibalik pintu dengan tubuh yang sudah segar, mungkin dia sudah membersihkan dirinya sebelum menghampiriku, ia menghampiri ku perlahan.


Matanya mengamati barang-barang yang sudah aku kemas. Dia beralih memandangku, “Waktu itu kau menangis dengan kencang sebelum pengambilan poto, Romi pun ikut menangis karena saudaranya menangis. Ayah saat itu khawatir mengapa kamu sering menangis? Apa kau kesakitan atau melihat yang tida bisa kami lihat, sampai kakekmu meminta ayah untuk mendatangkan orang pintar untuk menyembuhkanmu,” katanya sambil tersenyum.


Kami memandangi potret itu, “Lihat kamu ada digendongan ayah” katanya lagi sambil menunjuk potret itu, ternyata aku disebelah kiri yang digendong oleh ayah.


Aku tersenyum mengetahuinya, “ini sebuah rahasia yang terungkap. Aku baru mengetahuinya” sahutku, tawa ayah terdengar setelahnya. Aku ikut tertawa. Mungkin selama ini aku baru merasakan namanya bahagia, aku dapat mendengar tawa ayah yang membuatku senang.


Aku beralih menatap wajah ayah yang mulai keriput. Ada sedikit penyesalan yang aku rasakan saat bersamanya. Paru-paru ini seperti diremas, rasanya sesak bahkan aku tak bisa menahan air mata yang akan segera meluncur keluar. Tapi aku berusaha untuk tetap tenang didekatnya.


Mungkin jika aku dapat melawan egoku, aku sudah tenggelam dalam pelukan pria paruh baya itu.


“Kau tumbuh sangat cepat. Kau yang paling kuat jika dibandingkan dengan Romi. Ayah merasa bersalah padamu selama ini. Ayah sudah melakukan hal yang tida adil terhadapmu, tapi kamu harus dengar dengan baik-baik ayah dan ibu sangat menyayangimu. Ayah hampir mati mendengar Romi menderita kanker ganas, dan tidak ada cara untuk mengobatinya. Tapi, saat itu ibumu bersikeras meminta ayah untuk mengorbankanmu demi kesembuhan saudaramu. Yah, kau anak yang baik yang begitu sayang pada kakak perempuanmu. Ayah sangat menyesal” tangisnya meledak hampir menggema.


Aku terus memperhatikan setiap gerak geriknya. Tanganku dengan tiba-tiba merangkul bahunya yang membungkuk. Memberikan usapan lembut untuk menenangkan.


“Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja” ucapku menenangkan. Aku tidak menangis tentu saja aku menahannya.


Ayah masih terisak, suaranya bergetar. Matanya yang sayu dan basah karena air mata menatap dalam mataku, tangannya yang terasa kasar meraih wajahku.


“Kau tidak membenci ayah kan nak?” tanyanya lirih, matanya kembali berlinang air mata, “Maafkan ayah” sambungnya lagi, sontak membuat air mataku meluncur keluar, tak mampu lagi menahan sesak di dada ini. Aku meraih tubuh rentanya dan memeluknya dengan erat. Begitu nyaman dan hangat, untuk pertama kalinya aku memeluk ayah, aku sangat merasa aman dalam dekapannya.


Yang aku rasakan sebuah kebahagiaan yang mungkin tidak dapat aku temukan lagi. Ini adalah perpisahanku dengan ayah. Sebelumnya aku diberitakan untuk pindah tugas di perbatasan Utopia dan Alexa. Akan sulit jika aku harus tetap tinggal disini. Dan aku tida ingin memberi tahukan ayah juga ibu. Aku tidak ingin mencemaskannya, meski mereka tidak merasakan demikian. Aku akan tetap memikirkannya.


***


Sudah pukul delapan malam. Aku bergegas untuk pergi menuju Barat dan membenahi apartemen baruku. Ayah tentu saja membantuku menaikan beberapa barang yang terasa ringan. Setelah makan malam, aku berpamitan dengan orang tuaku. Dan lagi-lagi ayah menangis mengantarkan kepergianku, seakan ia tahu aku akan kembali dalam waktu yang lama.


Diperjalanan aku terus memikirkan sesuatu yang menggangguku. Tanda memar merah yang ada di leher dan pergelangan tangan ibu. Meski disembunyikan aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Tanda memar yang sama pria yang tewas di apartemen beberapa hari yang lalu.


Aku menghela napas panjang mencoba menenangkan diri dan mengingta kejadian manis siang tadi bersama ayah. Entah sejak kapan aku mulai bisa menangani diriku dengan baik. Tak lama kemudian dering ponselku terdengar berbunyi.


Aku melirik layar ponsel yang menyala, sebuah panggilan dari Wendi. Aku memutuskan untuk menepi,


“Ya?”


“Rezi kau dimana?”


“Ah, aku sedang dalam perjalanan menuju Camp. Ada apa?”


Wendi terdiam sesaat dan kemudian terdengar helaan napasnya, “Ada seseorang mencarimu, dia anggota baru yang di datangkan dari Mahesa. Dia seorang pria aku tida begitu mengenalinya” katanya lagi membuatku bingung,


“Siapa dia?”


“Bing, kau tahu dia?”


Aku terdiam tidak bersuara, sedang Wendi masih saja mengoceh dan aku tidak mendengarkannya, "Hallo, kau masih disana?" sahutnya lagi,


"Ya aku mendengarkan. Sampai mana tadi?"


"Cepat datang kemari, aku tidak mau jika dia mengacau"


Aku tertawa kecil mendengar logat khas barat yang diucapkan Wendi, "Pastikan dia benar-benar tidak mengacau dan jangan sampai siapapun memberikan informasi apapun tentangku dan Camp, sebelum ada perintah, mengerti?"


"Siap Letnan" sahut Wendi dengan nada mengejek mengakhiri panggilan


Segera mungkin aku tancap gas dan bergegas untuk mendatangi Camp terlebih dulu untuk memastikan bahwa Bing benar-benar tidak mengacau. Apa yang sebenarnya dia lakukan disini membuatku terus bertanya-tanya, belum lagi pertemuan pekan lalu menyisakan tanda tanya besar. Aku dapat merasakan sesuatu hal tidak beres akan terjadi disini. Ya aku dapat merasakannya dengan kuat.


Terlihat beberapa kendaraan yang lalu-lalang di jalan menuju Camp melalui mobil yang aku tumpangi, sangat sepi dan kurang cahaya penerangan disini. Aku menghela napas panjang dan mencoba menenangkan pikiran yang tiba-tiba saja terasa penat. Sambil menunggu lampu hijau, aku mencoba menyandarkan kepalaku dan menutup mata untuk beberapa detik. Melakukan beberapa ritual kecil bila merasakan diri benar-benar dalam keadaan tidak nyaman. Sangat hening tidak ada suara apapun.


Aku benar-benar seperti tenggelam dalam ketenangan. Namun saat mataku terpejam, bawah sadarku hanyut dalam keheningan, tiba-tiba saja suara itu kembali muncul dan membuatku terperanjat, "Senang bertemu denganmu, Findsher."


***