The Findsher

The Findsher
Hilangnya Wendi



Sebuah pengumuman penting telah dideklarasikan oleh Wakil Presiden, Utopia kini memiliki program yang dapat digunakan oleh seluruh rakyat. Program yang bertujuan sebagai penunjang perekonomian, katanya program yang di desain sedemikian rupa itu untuk memudahkan penggunanya dalam transaksi jual beli atau lainnya.


Program yang berbentuk chips ini nantinya dipasang dibagian tubuh manusia. Hal ini menjadi perbincangan hangat diseluruh penjuru Utopia. Tentu, ada kubu yang tidak setuju dengan hal tersebut.


"Ini akan menjadi hal serius. Setidaknya program ini harus sudah dapat berjalan dan tidak diproduksi secara masal. Kau anggap dunia ini lelucon? Bagaimana jika program ini gagal? Bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan. Kau sungguh gila!" Ucap seorang menteri dengan lantang dalam sebuah acara di televisi


"Apakah itu yang menjadi kecemasanmu? Ayolah, ini bukan waktunya untuk mencemaskan uang. Kau sangat menginginkan warga kita sejahtera bukan? Aku telah ciptakan program bagus untuk mereka, ini adalah hal kecil" jawab pria yang katanya bergelar profesor dengan penuh percaya diri


"Ini bukan jalan keluar dari permasalahan global saat ini. Kau mungkin tidak akan mengira hal kecil ini akan berdampak bagi tatanan negara kita.." pria itu terlihat menyeka keringat dipelipisnya dengan sapu tangan "Jika program itu dijalankan, kita semua akan tamat" ucapnya lagi mengakhiri perdebatan sengit.


Para pakar lainnya sibuk mengemukakan pendapat, ada yang menentang ada pula yang menyetujui keputusan menteri yang menentang program itu diproduksi.


Seiring berjalan waktu, kekuatan media masa yang begitu pesat seakan menutup pemberitaan tersebut dengan topik yang tidak kalah menarik. Mereka memainkan trik politik klasik, tentu saja mereka pintar membuat berita skandal seorang menteri yang habis-habisan menentang dalam debat semalam menjadi tersangka kasus suap penyelundupan senjata militer.


Tidak heran, mengapa awak media begitu menyukai topik tersebut, karena yang mereka cari adalah uang. Bukan kebenaran.


***


Aku tidak tertarik berbicara banyak hal tentang apa yang menjadi perhatian publik. Seorang pria berpostur jangkung yang pernah aku temui beberapa waktu lalu dengan perlengkapan sebagai jurnalis itu tepat berada didepanku. Kami saling duduk berhadapan, di sebuah meja bundar yang berada disudut kedai kopi.


Aku tidak banyak bicara. Hanya menikmati beberapa tegukan mocca late klasik panas yang menjadi menu cocok dikala hujan. Sesekali aku melihatnya yang sibuk mencatat pada blok note kecil yang disusun seperti list pertanyaan.


"Siapa namamu?" Ucapku tiba-tiba, dan itu berhasil membuatnya berhenti memainkan bolpoin diatas blok notenya itu. Dia tertegun, dan menatapku


"Maaf?" Sahutnya lirih


"Aku baru saja bertanya namamu, kau tidak mendengarnya?"


"Ah, itu agak tiba-tiba. Maaf, kita belum berkenalan. Namaku Shon" katanya sambil berdiri mengulurkan tangan kirinya,


Aku terdiam melihat tingkahnya, satu alis mataku terangkat karena heran. Sedang dia menunggu aku menjabat tangannya, aku meraih kembaki cangkir kopi dan meminumnya kembali sebelum menjadi dingin. Sontak pria itu mengepalkan tangannya dan kembali duduk ke kursinya


"Aku tidak biasa berjabat dengan orang asing. Maaf aku terlihat sombong bukan?"kataku ketus


"Ah, itu tidak begitu. Maaf aku yang berlebihan untuk memperkenalkan diri"


"Aku pernah melihatmu. Kau seorang reporter harian di perusahaan media cetak ternama di Utopia, kau mungkin berusia dua puluhan lebih. Kau cukup ulet dalam bekerja, kritis dan sangat optimis ketika mengajukan beberapa pertanyaan pada lawan bicaramu, apa aku salah?"


Dia hanya terdiam. Tertegun mendengar celotehanku yang asal menebak saja. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Apa aku terlalu berlebihan? Ah, aku hanya ingin mempercepat waktuku untuk meninggalkan tempat ini.


Kemudian dia tertawa kecil, dan meminum air mineral yang ada didepannya itu sebelum mengklarifikasi ucapanku, "Wah, aku tidak tahu kalau anda mengenaliku" katanya sambil menutup blok note yang sedari tadi ditutupi oleh sebelah tangannya


"Letnan, saya merasa terhormat anda mengetahui saya"


"Langsung saja ke intinya, apa maumu?"


"Baiklah, aku menyerah. Sebelumnya aku mencoba menahan diri untuk tidak terpancing dengan sikap anda. Tak heran anak buah anda menjuluki manusia es. Kau lebih dingin dari yang aku kira" katanya dengan santai, nada bicaranya berubah menjadi lebih akrab. Mataku menyelidiki gerak geriknya sambil mendeham.


"Ah, maaf jika itu menyinggungmu. Biar aku tunjukan sesuatu padamu" katanya sambil mengelurkan sesuatu dalam tasnya, "Ini dia, kau pasti kenal dengan wanita ini" katanya lagi sambil menunjukkan beberapa potret seorang gadis,


Romi? Ucapku dalam hati. Mataku masih menyelidiki satu demi satu potret yang dia tunjukan, aku tahu dia sedang menerka ekspresi yang akan aku tunjukkan,


"Itu terlihat sepertimu bukan Letnan? Siapa dia? Ah tidak, maksudku dia saudara kembarmu?" Katanya lagi sambil tersenyum. Senyum yang menyeringai sungguh aku membencinya.


Tanpa sadar tanganku menepuk meja dengan cukup keras, sehingga semua orang memperhatikan kami berdua. Mataku masih menatap tajam matanya, aku tidak ingin berkomentar sedikitpun tentang apa yang aku lihat.


"Itu sudah jelas bukan, kau mengenalnya" katanya lagi sambil terkekeh-kekeh


"Hei, apa yang sedang kau lakukan?"


"Ayolah letnan, kau tidak mungkin menyembunyikan keberadaan saudara kembar mu. Semua orang pasti akan menyadari dengan melihat dia sekali saja, mereka akan membandingkanmu. Ada satu hal lagi yang ingin aku tunjukan, kau lihat gambar ini." Katanya sambil menunjukan kembali potret Romi dengan jari telunjuknya. Sekali lagi mataku terbelalak melihat potret itu, bagaimana aku bisa melewatkan objek dibelakangnya itu. Lagi-lagi pria itu menyeringai dan berkata, "Kau tidak akan melupakan ini bukan?" Ucapnya lirih, telunjuknya mengetuk-ngetuk selembar potret Romi bersama Joseph.


"Aku sedang tidak ingin bermain denganmu letnan," katanya sambil menyandarkan tubuhnya "Kau bisa memberitahu aku kalau kembaranmu bekerja untuk siapa? Ah, kau tidak akan mengerti. Biar aku perjelas, kau bisa beri tahu aku jika saudaramu juga dalang dibalik pembuatan program ini, dan pria yang dibelakangnya ini ada objek yang dijadikan sampel satu tahun terakhir. Kau mengerti maksudku?"


Aku mencerna perkataannya dengan baik, aku hanya tersenyum santai. Mengambil sebuah batang rokok yang ada di saku jaketku. Suatu ritual untuk menjatuhkan harga diri lawan, ya cara ampuh untuk mendapat ketenangan kala aku sedang tertekan. Dia keheranan, terdengar helaan napas yang panjang dari hidungnya. Lagi-lagi aku tersenyum, sambil menyalakan rokok yang ada dimulutku yang disediakan tempat ini.


"Kau jauh berbeda dengan dia, seorang prajurit bukankah tidak merokok? Apalagi kau seorang perempuan" katanya sedikit menyinggung


"Kau merasa tak nyaman?" Ucapku sambil mengepulkan asap rokok ke arahnya


Dia hanya terdiam. Sibuk mengibas-ngibaskan tangannya ke udara


"Sepertinya kau sangat sibuk mengurusi hidup orang lain, apa karena tuntutan pekerjaanmu? Aku mengerti, bila kau tida mendapat informasi kau tidak mendapatkan upah bukan? Darimana aku harus bercerita?" Kataku lagi sambil tersenyum sinis berpura-pura simpati mungkin lebih baik,


Sepertinya aku berhasil menyinggung harga dirinya. Dia hanya diam mematung tidak mengoceh sedikitpun. Kami saling berpandang, kemudian dia tersenyum mengejek


"Maaf sepertinya aku harus pergi. Hari ini jadwal dinas ku, biar aku yang bayar" kataku sambil bergegas meninggalkannya dengan keadaan kalah. Lagi pula tidak ada alasan untuk berlama-lama dengannya membahas hal yang tidak ingin aku bicarakan dengan orang asing.


Hujan telah reda. Aku bergegas mengemudikan mobil untuk mengarah ke Camp. Sebentar lagi pergantian kompi. Hari ini aka ada acara spesial penyambutan prajurit baru. Aku tidak boleh melewatkan acara penting itu.


***


Sesampai di Camp, aku disambut hangat oleh beberapa junior yang berajaga di pintu masuk dengan sebuah senapan sebagai senjata berjaga. Sebuah coklat batang yang diberikan dan pita putih yang mereka sematkan dilengan kiri, tanda penghormatan pada senior.


"Bagaimana libur mu? Kau sudah bertemu dengan mereka?" Sambut Komandan Runtu yang sedari tadi memperhatikan langkahku dari kejauhan,


Aku membungkuk memberikan salam terlebih dulu padanya, "Ya, tidak ada yang bagus untuk diceritakan" kataku sambil berjalan beriringan dengannya


"Bagaimana mereka?" Tanyanya lagi


"Mereka baik" sahutku lirih


"Kau sudah melakukan yang baik nak, cepat temui anggotamu kita berkumpul dalam sepuluh menit" katanya sambil menepuk pelan bahuku, kemudian ia pergi bersama kawanannya. Aku kembali meberikan hormat.


***


Pengarahan sudah dimulai, terlihat Kapten Yora memimpin pergantian kompi malam ini. Beberapa prajurit wanita berdiri tegap diantara barisan para pria. Pemandangan yang aku suka melihat mereka berjajar dengan seragam dan atribut milier yang menjadi kebanggaan.


Sesekali aku membayangkan saat sedang pendidikan. Awal mula diteriaki dengan julukan, merangkak diatas lumpur, tidak kenal panas ataupun hujan, berlari merangkak dengan senapan dan beban diatas pundak demi mendapatkan baret hitam.


Aku hanya tersenyum kecil, ketika mengingat pelatihan bersama kawanan regu, kala itu aku bersama Wendi prajurit wanita yang sangat cengeng. Aku beberapa kali memarahinya agar tidak selalu menangis ketika dia gagal dalam misi pendidikan. Betapa bodohnya dia, tapi dia sangat bisa diandalkan.


"Tunggu, apa aku melupakan sesuatu? Sial, kenapa aku benar-benar lupa. Wendi? Dimana dia? Mengapa aku tidak melihatnya?" Sontak aku mencari keberadaan Wendi disetiap titik camp ini, aku bergegas meninggalkan lapangan, aku berlari untuk memeriksa setiap bagian Camp dan ruangan-ruangan tempat berkumpul yang digunakan para prajurit,


Mengapa dia tidak ditemukan?


"Wendi?" Kataku berteriak memanggil namanya, sial disini tidak dapat menggunakan ponsel, dan radio walkie talkie, ah dimana aku meninggalkannya.


"Wendi, dimana kau?" Kataku lagi berteriak memanggilnya, namun tetap tidak ada jawaban.


Tak lama, angin tiba-tiba berhembus kencang. Listrik pun ikut padam dengan tiba-tiba. Terdengar suara alarm kegawatdaruratan terdengar dari aula. Aku tidak bisa melihat apapun, disini begitu gelap. Aku mencoba tenangkan diri.


Saat aku memjamkan mata dan kembali membukanya, betapa terkejutnya aku dapat melihat ruangan ini seperti melihat monitor raksasa. Sangat jelas dan bercahaya. Ada beberapa simbol dan tulisan yang bermunculan tiba-tiba.


Tubuhku sulit bergerak, aku hanya diam mematung menyaksikan mataku yang dengan ajaib menunjukan hal gila yang tidak dapat aku mengerti. Sebuah grafik berwarna merah, bergerak naik turun. Dengan jelas aku dapat mendengar suara langkah kaki disertai bunyi seperti alarm yang entah dari mana asalnya, Mataku lagi-lagi terbelalak, melihat sebuah tulisan bertuliskan bahaya dengan huruf kapital.


"Ini gila! Benar-benar membuatku gila!" Ucapku berulang kali tidak percaya


***