The Findsher

The Findsher
Melarikan Diri 1



Matahari mulai terbenam. Kabut tebal datang dengan tiba-tiba membuat jarak pandang menjadi tipis dan sulit melihat apa yang ada di dekatnya, Rezi beranjak dari tempatnya dan mulai mengamati sekitar. Senter kecil yang Rezi temukan di dalam mobil itu berguna, meski cahayanya tidak terlalu terang.


Sambil berjalan melewati beberapa mobil yang berjajar Rezi menggumam "Ah, bukankah ini sudah seperti di dalam video game. Entah apa yang terjadi selama ini. Mungkin aku masih bermimpi buruk dan lebih buruk lagi jika ada zoombie yang tiba-tiba muncul dan mengejarku. Sial, aku tidak bisa berpikir sedikitpun" gerutu Rezi sambil menendang kerikil kecil yang berada di depan kakinya.


Dan lagi, senter itu ia arahkan pada sisi kanan dan kirinya, sesekali ia berbalik ke belakang, namun hanya kabut dan beberapa mobil yang ia dapati.


Kemudian Rezi memutuskan untuk tetap berjalan mencari jalan keluar sambil bersiul. Terbayang dalam benak Rezi beberapa kejadian masa lalu yang terlukis dengan jelas.


Kala itu saat libur musim panas ia dan keluarganya memulai permainan papan hokku, permainan keluarga zaman dulu yang di Utopia. Papan yang berisi garis lurus dan bersimpangan dengan garis lain hingga ujung papan, untuk melewati garis harus menggunakan batu kecil halus berwana hitam dan putih untuk lawan. Untuk berjalan menyingkirkan batu lawan menggunakan dadu untuk mengetahui berapa banyak harus melangkah maju melewati garis yang bersinggungan.


Canda tawa hangat layaknya keluarga sesungguhnya Rezi, tersenyum saat membayangkan ayahnya menumpahkan semua batu yang ada di atas papan tersebut saat Rezi dan Romi sedang serius bermain strategi, ulah usil sang ayah Rezi jadi kalah dan sebagai imbalan kalahnya Rezi, sang ayah meminta Rezi untuk memijat pundaknya secara bergantian dengan Romi.


Air mata Rezi sekonyong-konyong menetes. Langkahnya terhenti, senyumnya menjadi masam. Angin yang berhembus cukup kencang meniup beberapa sampah dedaunan hingga berterbangandan mengenai tubuh Rezi.


Suasana terasa aneh. Rezi terus saja berjalan tanpa menghiraukan keadaan. Meski dirinya tidak yakin tapi ia berusha tetap tenang.


...***...


Test pertama mulai berjalan. Semua masih dalam kendali para staff. Objek penelitian mulai dilepas pada zona pertama. Wilayah zona itu dipenuhi dengan hutan, danau dan beberapa bukit disekelilingnya. Gelap dan berkabut. Suhu udara yang dingin hampir mendekati nol derajat celcius.


Pertahanan dan daya tahan tubuh objek adalah tujuan utama penelitian dan test tersebut. Suara yang dikeluarkan microphone staff dengar hingga ke zona.


"Selamat datang. Kau adalah objek pertama dalam test Coronium Utopia. Objek adalah pemeran utama dalam zona. Ada banyak yang dapat kau gunakan untuk bertahan hidup. Garis yang berada ditangan adalah waktu yang kau miliki. Banyak clue yang tertera didalam zona, kau hanya bisa melakukannya satu kali, dalam memecahkan semua teka-teki.


Jika clue itu tidak terjawab dengan benar waktu penelitianmu akan berkurang dan kau tidak bisa kembali. Kau tidak bisa lari, bersembunyi atau menentang semua peraturan yang disebutkan sebelumnya, jika kau melanggar maka waktumu dihentikan dan alarm akan terdengar dan menghancurkanmu. Temukan zona aman dan bawa kunci terakhir yang dapat membawamu kembali"


Suara mengerikan yang terdengar itu diakhiri dengan detak jarum jam raksasa yang mengarah pada angka dua belas malam tepat.


Joseph kemudian berlari secepat yang ia mampu untuk menjangkau zona aman. Ia berlari seperti orang gila yang tak tahu arah. Rasa cemas dan takut menyelimutinya. Namun ia tak peduli dan hanya mengandalkan instingnya untuk terus berlari.


...***...


"Bagaimana perkembangan objek kita?" tanya salah seorang petinggi Utopia, ia mengenakan pakaian rapi serba hitam dan sepatu lancip mengkilat. Sebelah tangannya memegang cerutu yang ditancapkan pada asbak berbentuk kayu, lalu kemudian menghembuskan asap dimulutnya.


"Begitu ya?" Tanya sang petinggi lagi, kemudian staff tadi mengangguk mengiakan. Pria paruh baya itu berdiri, kemudian berjalan kesana kemari dengan tongkat kayu berwarna emas yang memapahnya, sambil memperhatikan layar besar yang berada di depannya pria paruh baya itu tersenyum menyeringai sambil memperhatikan objek percobaan tersebut.


...***...


Sebuah terowongan besar tepat berada di depan mata. Rezi memutuskan untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam terowongan itu dengan menggunakan teropong tiga dimensi infrared yang dapat mendeteksi pergerakan objek ditempat yang gelap.


Dengan hati-hati, kakinya kini mulai melangkah dengan perlahan. Matanya masih terfokus pad aapa yang ia lihat dibalik teropong canggih yang ia temukan.


"Ah" katanya lega, sambil menurunkan teropongnya dan kembali melingkarkan tali teropong itu di lehernya Rezi bersiap untuk memasuki terowongan gelap tersebut dengan sebuah senter kecil yang menyala redup sinarnya terhalang kabut.


Dengan penuh percaya diri Rezi berjalan memasuki terowongan itu seorang diri, langkah kakinya terdengar menggema. Rasa sesak dan bau busuk yang tercium tidak sedap membuat Rezi menghalangi wajahnya sedikit dengan lengan kanannya.


Hal ini membuat dirinya bertanya-tanya dengan apa yang terjadi selama ini, apa yang terjadi dengan Utopia. Kemana semua orang pergi dan mengapa semua ini terjadi. Rasa penasaran itu sangat mengganggu pikiran Rezi.


Setelah berjalan jauh ke dalam terowongan selama berjam-jam, Rezi tidak menemukan apapun yang aneh seperti apa yangia pikirkan. Khayalanya sangat tinggi ketika ia masuk berjalan ke dalam terowongan gelap dan menemuka sosok mahluk yang mengerikan. Zoombie misalnya, namun tawanya terdengar. Rezi menertawakan pikiran gilanya itu. Seakan-akan ia menghibur dirinya sendiri disaat keadaan seperti ini.


Sesekali Rezi bernyanyi dengan siulannya dan mengisi terowongan gelap. Lagu kesukaannya ia terus nyanyikan berharap ia melihat cahaya terang di ujung sana,


"Ah, menyebalkan. Seberapa jauh aku harus berjalan. Entah kemana aku pergi kali ini" katanya menggumam kesal. Namun saat Rezi kembali mengarahkan pandangannya ke dalam teropong, ada sesuatu di belakangnya yang mengikuti. Rezi terdiam dan tetap berusaha tenang.


Sesekali matanya melirik ke samping tanpa menolehkan kepalanya. Dengan berani Rezi terus berjalan perlahan dan tidak menghiraukan apa yang ada dibelakangnya. Namun semakin lama semakin cepat langkah kakinya menjauh dan hampir berlari menjauh dari apa yang ada dibelakangnya.


Saat Rezi memejamkan matanya, betapa terkejutnya ia kembali melihat apa yang ia lihat seperti layar didalam layar permainan, pengihatan inframerahnya kembali dapat ia rasakan. Semua pandangannya menjadi tidak beraturan. Hanya terlihat bayangan dan garis merah yang menggambarkan gelombang.


Semakin dekat dan semakin kuat yang Rezi rasakan. Ia mencoba untuk kembali memejamkan matanya dan membukanya kembali namun hasilnya nihil. Begitu ia mencoba menoleh kebelakang ada dua bayangan merah yang megejarnya.


"Sial, mahluk apa yang mengejarku" katanya dengan tergesa-gesa Rezi berusaha melarikan diri dan terus berlari mencari jalan keluar dari terowongan.


...***...