
Anak kami kembar tetapi mereka sangat bertolak belakang. Romi lahir lebih dulu, saat tengah malam,ditengah badai. Dia tidkka mengeluarkan suara, tidak adabtanda-tanda bahwa dia bisa merasakan sekitarnya. Sampai kami sebagai orang tua merasa cemas. Kemudian Dokter yang membantu istri saya melahirkan membawa anak kami ke ruang khusus dan memisahkan kami. Namun, anak kami satu lagi hingga fajar datang belum juga lahir. Kecemasan kami saat itu benar-benar silih berganti. Keluarga kami menyarankan agar anak kedua kami untuk lahir secara sesar, namun kami menolak.
Pukul empat dini hari istri saya benar-benar merasakan sakit yang luar biasa. Perutnya seperti diremas dan detak jantung lebih cepat dari biasaanya. Para tenaga medis mulai berdatangan dan membawanya ke ruang tindakan. Berjam jam lamanya saya menunggu dan sesaat Romi dekembalikan pada Saya dan saya dapat menggendongnya, terdengar suara tangisan bayi baru lahir hingga ke lorong tempat kami menunggu. Dengan ajaibnya Romi pun ikut menangis.
Seiring berjalannya waktu, anak kami tumbuh dengan cepat. Namun sayang, Romi lebih lemah. Ia sering sakit-sakitan, keluar masuk rumah sakit hingga kami harus menjual sebagian harta kami untuk menolong pengobatannya. Ada kanker ditubuhnya, usia lima tahun Romi menderita penyakit mengerikan.
Rezi anak kedua kami bertolak belakang dengna Romi. Ia tidak pernah merasakan sakit, demam ataupun flu seperti anak-anak lain. Daya tahan tubuhnya stabil dan sangat luar biasa. Dan pad akhirnya, kepala laboratorium tempat saya bekerja menyarankan untuk melakukan transplantasi sum-sum tulang belakang demi keselamatam Romi. Kami menyetujui hal itu tanpa memikirkan perasaan anak kami.
Tahun demi tahun perkembangan terus terjadi. Romi semakin membaik kami sangat bersyukur dengan hal itu. Namun, mala petaka terjadi di depan mata kami. Perubahan sikap dan kepribadian Romi saangat jelas. Rasa empatinya menghilang. Dan suatu ketika, kami menemukan seekor kucing yang telah mati dengan perut terbuka dengan sayatan benda tajam. Saat kami mengetahui apa yang ia lakukan, dengan tatapan dinginnya ia memandang ku dengan bersimbah darah dan tersenyum, "Ayah, ada bayi didalam perutnya" katanya sambil memperlihatkan janin kucing ditangannya dan menyeringai
Kejadian itu terus berulang, sampai kami sepakat untuk memisahkan Rezi dari Romi. Kami tidak ingin Romi menyakiti Rezi dengan terpaksa kami mengirimnya ke camp pengungsian. Disana adalah tempat yang aman bagi anak-anak seusianya. Saaat Rezi kembali pada kami, usia anak-anak kami sudah remaja. Rezi menganggap bahwa saya dan istri saya membuangnya. Sikap dinginnya pada kami adalah perlakuan yang wajar. Saat usia ke dua puluh mereka dengan prosfesi yang harus dipilih sebagai anak asuhan Utopia.
Romi menjadi salah satu bagian terpenting di Utopia, laboratorium penelitian menjadi pilihan terbaik di keluarga kami karena masa depan disana akan menjadi lebih baik dan keluarga kami menjadi terapandang. Sedangkan Rezi menjadi salah satu pasukan khusus militer Utopia. Dia anak yang hebat, dan berhasil menjadi kapten di usia mudanya. Sosoknya menjadi panutan dan banyak yang segan dengan kepemimpinannya. Komandan Runtu benar-benar berhasil mendidiknya, saya begitu bannga dan sedih, karena gagal membesarkan Rezi. Saya begitu menyayanginya.
...***...
"Kau baik-baik saja? Ini akan segera selesai. Tahan sebentar saja, oke?"
"Lakukanlah dengan cepat" Seru Rezi memerintah Bing untuk segera mencabut sesuatu yang dipasang ditubuhnya,
Benda kecil bebentuk tabung tipis yang disebut chips itu akhirnya berhasil diambil dari tubuh Rezi. Bing dengan teliti memerhatikan setiap sisi dari benda asing kecil itu setelah kembali menutup dan menjahit luka di bagian belakang leher Rezi.
Rezi mengangguk tanpa bersuara, terlihat wajahnya sedikit pucat, sontak membuat Bing cemas "Hei, kau tidak apa-apa?" ucapnya lembut sambil memandangnya, kedua tangan Bing memegangi tubuh Rezi yang hampir tumbang, namun dengan cepat Rezi menangkis tangan Bing yang menyentuhnya dan membuat sebuah isyarat dengn jemarinya bahwa dia baik-baik saja
"Apakah ini sebagai efek kecil dari benda asing yang baru kita lihat? Ah, sebaiknya kita bergegas untuk menghancurkannya"
"Tidak, sebaiknya kita teliti dulu apakah didalamnya ada sesuatu yang penting yang dapat kita ketahui, Kau tentu punya seseorang yang dapat diandalkan untuk hal-hal seperti itu bukan?"
"Hm, aku memikiki seorang kenalan yang dapat diandalkan" ucap Bing sambil mengangkat sebelah alis matanya kemudian tersenyum memandang Rezi, "Kau juga pasti mengenalnya" katanya lagi membuat Rezi penasaran, lalu mereka berdua bergegas pergi ke suatu tempat.
...***...
"Lalu sejak kapan Anda mengetahui jika puteri mu mengalami kelainan psikis?"
Saat itu saya tidak mengaggapnya sebagai kelainan, tetapi saya dan istri saya berpikir jika itu adalah kesalahan kami berdua karena yang tidak memperhatikannya dengan baik. Semakin lama dan semakin lama saya tahu jika Romi benar-benar spesial. Banyak orang dari tempat saya bekerja untuk mengembangkan kelainannya itu.
Romi benar-benar penasaran dengan apa yang ia lihat, yang ia rasa dan ia dengar. Pernah suatu ketika, anak tetangga kami bermain kerumah bersama Romi, namun kemudian anak laki-laki itu kembali pulang sambil berlari dengan wajah yang panik. Saya tidak pernah berpikir buruk mengenai hal itu. Namun, istri saya berbisik dengan hati-hati mengenai apa yang baru saja ia lihat dari anak kami.
"Apakah mungkin anak anda pernah membunuh seseorang?"
...***...