
“Kau gila! Kau akan kembali kedalam?” Bing menahanku, menyergah. Tangannya menarik lenganku dengan kuat. Memohon agar aku menurut. Aku tidak bisa jelaskan apa yang sedang terjadi padaku. Aku bergegas, berlari tanpa menghiraukan Bing yang memohon supaya aku tetap mendengarkannya. Aku melambaikan tangan sebelum kembali masuk ke dalam gedung itu.
Waktu terus bergulir. Pengelihatanku masih tetap sama tidak ada yang berubah. Aku masih mencari target yang dimaksud. Sial, dimana dia? Kepulan asap sangat tebal. Hampir-hampir aku kesulitan bernapas karena sesak. Aku tidak ingin gagal lagi menyelamatkan nyawa yang terjebak dalam sebuah kebakaran.
Ini kali ke tiga aku berada di dalam keadaan api berkobar melahap gedung bertingkat. Aku tidak peduli akan ketakutanku. Aku tidak ingin siapapun disini kembali menjadi korban. Lima belas menit telah berlalu, terdengar suara sirine mobil pemadam kebakaran. Aku masih mencari anak kecil yang terjebak disini. Demi apapun, tidak ada seorangpun disini. Suaraku sudah terdengar parau. Tidak bisa lagi untuk berteriak. Memanggil siapapun yang terjebak disini.
Boom!
Lagi-lagi ledakan ke tiga terdengar. Dari arah utara, untunglah nyawaku masih ada didalam tubuhku. Untung saja hanya puing-puing kecil yang menimpaku. Aku kembali menyusuri disetiap ruangan yang masih utuh, aku mendengar seperti ada suara kecil dari kejauhan, seperti suara gonggongan anjing kecil. Dengan tiba-tiba tulisan merah yang ada didalam pengelihatanku berubah menjadi hijau dan kalimatnyapun ikut berubah,
“Apa? Apa maksudnya?” sontak langkahku terhenti. Mematung tidak bergerak. “Hahaha” aku tertawa kesal, anjing kecil itu mendekat, bulu putihnya terlihat kotor karena debu reruntuhan,”Rupanya anak kecil itu adalah kau? Sini kita harus keluar dari sini” untungnya anjing kecil itu menurut.
***
Sang pemilik anjing tersenyum lega, anaknya yang terjebak berhasil aku selamatkan. Setidaknya kali ini aku tidak lagi gagal menyelamatkan nyawa. Itu sudah membuatku tenang. Dia berpamitan setelah mengucapkan terima kasih padaku. Aku membalas dengan senyum. Sesekali anjing itu mendengus ke arahku dan menatapku. Aku suka cara anjing itu menatapku, mungkin itu sebuah isyarat ucapan terima kasih telah menyelamatkannya. Bing dan anak lelaki yang kami temui tadi berada disebrang hanya memperhatikanku dari jauh. Lelah, aku merebahkan diri dijalan raya, menatap langit dari kejauhan, melepas penat yang tersisa.
Aku berteriak lega. Menembus kebisingan ditengah kecemasan orang-orang yang kehilangan harta benda. Mereka menangis, menjerit ketakutan, marah bahkan ada hingga yang tak sadarkan diri. Bayangan Bing menghalangi sinar terik matahari yang hampir membakar tubuhku, aku bisa melihat siluet tubuhnya yang jangkung tepat berada diatasku, tangannya diulurkan padaku, ia memintaku untuk bangkit, aku meraih tangannya dan beranjak dari tempatku merebahkan diri.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Bing sambil tersenyum memperhatikannku, aku membalas senyumannya sembari mengangguk
"Hari ini terjadi sesuatu yang tidak terduga bukan? Kau pasti kaget" ucapku sambil berjalan
"Maaf aku selalu memposisikanmu dalam bahaya" sahut Bing dengan nada menyesal. Aku berbalik menghadap tubuhnya yang berdiam diri mematung sambil memperhatikanku, aku tahu maksudnya. Rasa bersalahnya kini mungkin hadir lagi, setelah sekian lama kita tidak bersama dia memang banyak berubah, Bing memandangku, memaksakan dirinya tersenyum. Aku balik menatapnya datar,
"Kalau begitu kau sebaiknya pergi bukan?" Kataku kemudian
Bing terdiam menatapku. "Bukankah kau hanya membuat keributan berada disini?" Sepertinya aku berhasil melukai harga dirinya, dia hanya mematung, menelan ludahnya dan mencoba mengumpulkan keberanian untuk tetap tenang tidak terguncang dengan perkataanku.
"Maaf Findsher" sahutnya lirih sambil menyeringai, sontak membuat mataku terbelalak, memamdanginya lebih tajam dan mencoba mengulangi apa yang dikatakan Bing, kini sikapnya berubah.
"Findsher?" Ucapku mengulangi, Bing perlahan menghampiriku, tatapannya berubah dingin. Mata kami saling bertemu, kini senyumannya menyeringai. Aku hampir bisa merasakan nafasnya berhembus tepat diwajahku,
"Dengar, kau adalah objek yang aku butuhkan. Aku tidak mungkin pergi meninggalakan harta berhargaku" katanya sambil menyeringai
"Apa yang kau katakan?"
"Kau tidak akan mengerti dengan mudah. Bukankah perlahan-lahan kau sudah melihat meski abu-abu?" Bing kini mendekatkan tubuhnya kepadaku kemudian ia berbisik "Rezi, kau akan membutuhkanku. Kau tidak bisa bertindak sendiri dan semaumu, atau mereka akan mengincarmu"
"Rezi awas !"
***
Ini sudah sepekan lamanya. Aku tidak sadarkan diri, katanya ada sebuah serangan meteor yang menghancurkan sebagian Utopia. Tubuhku dipenuhi perban dan alat bantu pernapasan, sangat sesak, aku tidak dapat bergerak banyak. Perawat silih berganti keluar masuk kamar perawatan, mereka begitu ramah dan baik. Bahkan mereka menceritakan bagaimana aku bertahan dalam kondisi kritis saat operasi, aku hanya mengangguk saja ketika mereka bertanya,
"bagaimana kondisimu sekarang?"
" Kau sudah terlihat sehat. Kau baik-baik saja?"
"Apa kabarmu?"
"Kau pasti kesulitan ya?"
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang sama berulang kali dilontarkan padaku. Tapi, ada hal yang membuatku kecewa, aku bahkan tidak mengerti mengapa perasaanku sesedih ini,
"Pria itu membawamu kesini, dia berlumuran darah lalu kehilangan kesadarannya" kata seorang perawat. Aku tak mengerti siapa yang dia bicarakan, "Dia begitu khawatir, bahkan dia menangis dan berteriak meminta pertolongan pada kami di koridor, saat itu benar-benar kacau, aku mengira apakah dia kekasihmu? Dia sangat tampan." Katanya lagi tersenyum memandangku, namun sungguh aku benar-benar tidak tahu siapa yang dia katakan, "Banyak sekali pasien yang menderita luka-luka, bahkan tak sedikit pula korban meninggal dunia. Ah, aku sangat cemas dan takut hari itu" katanya lagi sambil membersihkan tubuhku dengan handuk dan air hangat, "Hari ini, perbanmu bisa dilepas, lukamu juga akan dibersihkan dan dibuka jahitannya. Kau akan segera pulih. Aku senang, kau terlihat sehat hari ini"
Aku mencoba mengangkat sebelah tanganku, namun hanya jemariku saja yang dapat bergerak. Perawat itu meraih tanganku, dan mendekatkan tubuhnya padaku seakan ia tahu bahwa aku akan mengatakan sesuatu, aku hanya dapat berbisik padanya, "Terima kasih"
Perawat itu tersenyum begitu manis, lesung pipinya terukir, matanya menyipit begitu cantik. Dia seperti keturunan Ras Negeri Tirai, kulitnyapun terlihat begitu putih dan bersih.
"Itu adalah tugas dan kewajibanku untuk merawatmu Nona. Sebentar, aku permisi dulu ya. Aku akan membawakan pakaian baru untukmu. Kau dapat beristirahat dulu selagi aku pergi. Aku akan segera kembali" katanya sebelum menghilang dibalik pintu.
Pikiranku kembali melayang, beterbangan dilangit-langit dinding ruangan lima kali lima meter ini, terlihat lampu ruangan yang redup, sangat hening dan hanya terdengar sesekali langkah kaki yang berjalan melewati koridor kamar perawatan. Jendela terbuat dari kaca itu menggambarkan pemandangan luar, langit senja dan beberapa bangunan tinggi menjulang ke langit, "Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku tidak dapat mengingat apapun?" Pertanyaan itu seraya memutari isi kepalaku.
Begitu banya hal yang aku pikirka saat ini. Apakah diluar aman? Bagaimana keadaan kota dan Utopia saat ini, aku tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi menyedihkan ini. Aku menghela napas dibalik alat bantu pernapasan ini, sungguh ini membuaku tidak nyaman. Aku benar-benar membeci bau rumah sakit. Baunya seperti mayat dan obat-obatan yang menyengat. Mungkin dengan memejamkan mata akan membuatku merasa tenang, namun ketenabgan itu tidakberlangsung lama, mataku kembali terbelalak ketika mendengar sebuah suara yabg entah berasal darimana,
"Findsher" tiba-tiba aku mendengar suara bisikan, sebisa mungkin aku mencari sumber suara itu berasal, namun aku merasa ketakukan "Findsher" kata itu lagi hingga berulang kali aku mendengarnya, jantungku berdetak dengan cepat tubuhku gemetar, sekujur tubuhku terasa sakit dan remuk, pengelihatanku kabur, telingaku berdengung, kepalaku seperti ditekan dengam benda yang keras, benar-benar menyakitkan
Aku tak bisa mendengar apapun lagi, Perawat dan Dokter itu kemudian muncul, mencoba memulihkan kesadaranku, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku tak mampu mengendalikan tubuhku. Hingga akhirnya aku merasakan lemas, tubuhku yang terasa kaku itu tiba-tiba menjadi ringan. Aku bahkan terasa melayang, hingga akhirnya pengelihatanku benar-benar gelap. Apa aku sudah mati? Aku tak dapat mendengar dan melihat apapun lagi. Tubuhku benar-benar lemas dan tak mampu bergerak.
***