The Findsher

The Findsher
Voice



Rezi masih memperhatikan benda kecil yang dipeganginya sedari tadi. Pisau lipat kecil miliknya 20 tahun lalu. Jelas itu benar-benar miliknya. Ada pahatan dipegangannya, pahatan berinisial namanya RZ.


Sesekali Rezi membayangkan kejadian siang tadi. Masih terdengar jelas suara pria itu ditelinganya. Tanpa sadar, Rezi mengulangi ucapan pria itu "Findsher?" katanya lirih. Ah mungkin ia sudah menganggap dirinya sudah gila.


***


Setelah dibebas tugaskan selama sepekan, Rezi memutuskan untuk kembali ke Mahesa dengan mobil yang dikendarainya. Banyak sekali teka-teki yang ingin Rezi pecahkan. Keputusan beresiko ia ambil demi mencari tahu apa maksud Bing teman masa kecilnya yang baru saja ia temui.


Dalam perjalanan, Rezi mencoba menghubungi seorang kenalannya di Mahesa dengan ponselnya,


"Ya, ini aku. Aku ingin meminta bantuanmu. Aku sedang dalam perjalanan ke Mahesa. Bisakah kau bantu aku carikan penginapan dekat dengan kantormu? Ya, tentu, hanya aku" ucap Rezi pada seseorang di telepon, "terima kasih" tambahnya lagi mengakhiri perbincangan singkat, sebelum ia meneruskan perjalanan yang menempuh waktu cukup panjang.


Tak lama kemudian, ponsel Rezi berdering. Sebuah panggilan masuk. Rezi melirik ke samping kanannya, melihat ponselnya yang menyala. Romi, nama yang muncul di layar ponselnya yang menyala. Rezi terdiam sejenak sambil berpikir untuk menerima panggilan dari saudara kembarnya itu.


"Hm? Ada peelu apa?" Sapa Rezi dengam nada malas


"Dimana kau?" Ucap Romi dibalik telepon mengabaikan pertanyaan Rezi


Rezi terdiam. Sesekali ia menghela nafas dan memutuskan untuk menepi ke tepi jalan.


"Aku akan kembali ke Mahesa. Ada apa kau bertanya?


"Dengar, apa kau gila? Kenapa kau malah kembali?"


"Apa masalahmu? Ada hal yang harus aku selesaikan disana. Bukankah Mahesa bukan kota yang buruk menurutmu?"


Terdengar Romi menghela nafasnya berulang kali sebelum ia menjawab apa yang Rezi katakan padanya,


Rezi yang masih terdiam mencerna apa yang baru saja ia dengar. Kini ia menyerah untuk berpikir lebih keras lagi. Tangannya menjangkau stir mobil, kepalanya sesekali dibenturkan pada stir mobil hingga klakson mobilnya berbunyi.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Ini benar-benar membuatku gila" Ucap Rezi lirih


***


Rezi masih belum memutuskan untuk terus atau kembali ke Barat. Lagi, ponselnya kembali berbunyi memecah keheningan, Rezi terbangun dari lamunannya mengamati layar ponsel, kini Komandan Runtu yang muncul memenuhi layar ponselnya.


Dengam sigap Rezi menerima panggilan tersebut, entah apa yang mereka bicarakan, sekonyong-konyong Rezi kembali menancap gas dan berputar arah kembali ke Barat dengan kecepatan tinggi.


***


Komandan Runtu sudah seperti ayah bagi Rezi. Sejak Rezi bergabung dengan kemiliteran Utopia, Rezi sangat dekat denganya. Komandan Runtu adalah mantan veteran yang diangkat karena kehormatan.


Ketika itu, Komandan Runtu membebaskan para tawanan perang khususnya anak-anak. Ia, begitu menyukai anak-anak. Dan perhatiannya selalu tertuju pada seorang anak perempuan yang tidak pernah tersenyum dan selalu menatapnya tajam seperti akan menikamnya.


Setiap hari Komandan Runtu selalu memberikan makanan ringan hingga susu coklat, namun si anak perempuan itu dengan cerdas selalu memintanya untuk makan terlebih dulu, dan anehnya Komandan Runtu selalu menuruti apa yang anak itu perintahkan.


Suatu hari, sang anak menghilang ketika adanya pemberontakan malam hari. Semua sagat kacau. Banyak korban berjatuhan karena adanya penerobos yang menolak untuk gencatan senjata.


Komandan Runtu saat itu yang bertugas di perbatasan sontak mencari anak perempuan itu ke pengungsian. Tapi, hingga beberapa hari kemudian ia tidak menemukan apapun. Hanya serobek kertas coretan tangan mungil anak-anak dan bertuliskan sebuah tempat yang tidak pernah diketahui olehnya.


***