
Api telah menjalar hingga ke atap. Menghanguskan sebagian Aula. Tanpa berpikir aku memaksakan diri masuk kedalam kobaran api. Sesak. Gelap, aku bahkan tidak dapat melihat apapun. Asapnya terlalu tebal. Aku mencoba berjalan merangkak menghindari kepulan asap.
Beberapa kali aku melewati para relawan yang gugur. Sebagian Orbe yang kami evakuasi pun mati hangus terbakar dan tertimbun reruntuhan,
"Kapten" teriak seseorang dari kejauhan. Itu Joseph. Jelas itu suaranya.
Mataku menyapu sekeliling mencari sumber suara berasal,
"Joseph?" sahutku berteriak memanggilnya, "Dimana kau?" kataku lagi. Namun tidak ada jawaban.
"Disini" Sahut Josep sambil mengetuk-ngetukan tangannya pada papan kayu besar yang menimpa tubuhnya.
Aku terus merangkak, menghampiri Joseph. Sedikit lagi, aku dapat menjangkaunya. Tanganku meraih papan besar itu papan kayu setebal 30 cm, aku mencoba mengangkatnya dari tubuh Joseph. Aku dapat mendengar geraman Joseph yang menahan sakit.
"Jangan bergerak. Aku akan menahannya, dan mengeluarkanmu kau bisa merangkak dari situ kan?"
"Kau tidak akan kuat kapten. Sungguh ini berat" sahut Joseph meringis
"Kau mau bertaruh denganku? Kau harus cepat, dalam hitungan ke tiga kau menjauh dari situ oke? Satu.. dua.. ti..."
Tiba-tiba hitunganku terhenti dengan teriakan Joseph yang memperingatkanku,
"Awas Kapten! Dibelakangmu!"
Sontak aku menoleh kebelang terlihat bayangan hitam, dia memegangi kayu besar yang diayunkan ke arahku.
Sial, hantaman itu begitu keras. Aku tidak dapat menghindarinya. Malam itu, aku tidak ingat apapun lagi. Semua terasa gelap, sunyi dan sesak. Badanku terasa ringan. Tidak dapak digerakan. Entah apa yang terjadi setelahnya.
***
Satu Tahun berlalu.
Romi sibuk membereskan semua barang-barang miliknya. Katanya, dia akan segera bertugas di Green House Utopia Barat. Dia akan membuat proyek besar bersama kawanan Batovia. Seluruh anggota keluargaku menyiapkan keberangkatannya. Romi memang istimewa. Dia anak yang beruntung, dia selalu mejadi kebanggaan keluarga sejak dia kecil. Apapun yang dia minta, tidak pernah tidak terkabulkan oleh orang tuaku. Meskipun, aku yang sering mengalah untuknya.
Sejak kecil Romi sakit-sakitkan, dia hampir kehilangan nyawanya karena sebuah kanker ditubuhnya. Ketika itu usiaku dua tahun lebih muda darinya. Kami menjalami operasi. Ibu memintaku untuk memberikan transplantasi sum-sum tulang belakang demi untuk menyelamatkan Romi.
Itu adalah operasi yang sangat menyakitkan. Bahkan, ketika aku mengalami demam hebat pasca operasi, ibu dan ayahku seakan acuh dengan kondisiku.
Kini Romi telah tumbuh dengan sehat. Mungkin mereka hilang ingatan, berkat aku lah Romi bisa seperti sekarang ini. Aku lah yang selalu melindunginya, bahkan jika teman-temannya jahat padanya aku yang melawan mereka, dan semua waktuku tersita demi menjaganya.
Kini, entah mengapa, bebanku sedikit terangkat dari pundak ini. Romi pergi dalam waktu yang lama, itu membutku senang. Ya, itu setidaknya. Hadiah yang aku dapatkan.
Terkadang aku muak dengan keberadaan kakak perempuanku itu. Aku seperti orang lain dikeluarga ini. Mereka orang tuaku bahkan jarang menyapa dan menanyakan kabarku.
Meski kita makan dimeja makan yang sama, saling berhadapan dan menyantap makanan yang sama. Mereka selalu memulai percakapan yang hangat dan berakhir pada keingintahuan mereka terhadap keseharian Romi.
"Ibu tahukan? Disana itu begitu ketat. Aku tidak mungkin menelepon ayah dan ibu sesering itu" kata Romi sambil mengunyah makanannya
"Bagaimana ini sayang, aku pasti merindukan anak kita" kata Ibuku merengek pada ayahku. Aku hanya terdiam memperhatikan dengan baik makananku.
"Ayah, Ibu ayolah aku akan mengunjungi kalian setiap akhir tahun nanti" ucap Romi menenangkan,
"Itu lama sekali. Ingat, kau harus benar-benar jaga dirimu dengan baik. Tidak boleh bekerja terlalu keras, ibu tidak ingin kau sakit"
"Benar kata ibumu, ambil lah cuti kalau perlu untuk istirahat. Kau tidak boleh terlalu capek"
"Tentu ayah, ibu" sahut Romi lagi, "Rezi, bagaimana keadaanmu? Kepalamu sudah baikan?" tanya Romi kemudian. Aku hanya terdiam. Memandang dingin matanya. Apa ini, dia tiba-tiba perhatian kepadaku?
"Ya, tidak usah khawatir" kataku ketus
"Rezi, bicaralah sopan pada kakakmu! Kau harusnya senang diperhatikan oleh kakakmu. Kamu itu tidak pernah bersyukur mem..."
"Maaf, saya selesai. Permisi" kataku memotong pembicaraan ibu dan meninggalkan makananku.
"Mau kemana kamu?" tanya ibu menghentikan langkahku, "Kamu tidak memghormati dan menghargai makananmu. Kembali!" katanya lagi dengan tegas.
Aku berbalik dan memberi salam dengan menundukan kepala, "Maaf saya sangat menghargai makanan yang ada disini, tapu saya sudah selesai. Saya permisi" kataku dengan nada merendah
"Rezi kamu marah padaku?" tanya Romi tiba-tiba, aku kembali memberi salam dengan menundukan ke arah Romi dan segera pergi untuk untuk mengemasi beberapa barang untuk kembali bertugas.
****
Ponselku berdering, panggilan masuk dari Komandan Pasukan, ada apa? Tidak biasanya menghubungi nomor pribadi? Apa terjadi sesuatu?
"Rezi?" terdengar suara menyapa dari kejauhan,
"Siap komandan" sahutku kemudian memberi hormat
"Segera ke Kompi, hari ini pergantian anggota. Kau harus hadir memimpin upacara pergantian"
"Baik komdandan.."
"Rezi.." katanya lagi, terdengar hela napas yang panjang, "Joseph sudah ditemukan, dia masih utuh. Namun ada yang aneh, kamu harus memeriksanya sendiri" katanya lagi menambahkan. Tiba-tiba keheningan terjadi beberapa saat, jantungku tiba-tiba berdegup dengan sangat cepat,
Ada bayangan yang tiba-tiba muncul dalam ingatanku terlihat dengan jelas, "Bagaimana keadaannya sekarang?" kataku memecah keheningan "Dia baik-baik saja?"
"Kau harus melihatnya segera" katanya lagi sambil menutup panggilan.
\*
Aku segera mengemasi barang-barangku ke dalam carrier, membawa beberapa yang aku butuhkan untuk satu minggu. Aku dipindah tugaskan, setelah kebakaran dan gagal melaksanakan tugas di tahun lalu, aku diturunkan dari jabatanku. Dan harus kehilangan semua anak buahku.
Mendengar Joseph telah kembali, harusnya aku senang. Tapi, entah kenapa aku merasa ini ada yang tidak beres. Setelah kejadian malam itu, aku kehilangan setengah ingatanku. Aku ingat beberapa kejadian sebelum kebakaran, namun setelahnya aku tidak mengingat apapun lagi.
Hingga saat aku sadarkan diri, aku menemukan tato angka berwarna hitam yang melekat di punggung tangan kiriku. Angka satu secara permanen melekat. Dan mataku dengan tidak sadar, selalu muncul pengelihatan berupa tulisan kode kode aneh yang benar benar aku tidak mengerti.
Sesampai di Camp Angkatan Darat, aku melihat kerumunan para anggota pasukan di tengah area lapangan militer. Sesegera mungkin aku berlari dan memeriksa kerumunan itu. Benar saja, Joseph sedang diintrogasi oleh para anggota pasukan.
"Joseph?" sahutku lirih, sambil memandangnya tak percaya. Dia menoleh ke arahku. Kami saling memandang, wajahnya pucat, badannya lusuh, rambut kritingnga yang kini sebahu, dia masih mengenakan pakaian kaos hitam dengan celana seragam anggota pasukan, lengkap dengan sepatu dinas.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku lagi, menghampiri Joseph yang masih terdiam tak berdaya. Tak lama kemudian, matanya tertutup dan perlahan badannya condong ke arah ku, Joseph tak sadarkan diri. Sontak membuat kami semua panik, dan segera membawanya ke klinik.