
Keadaan Kota semakin memburuk. Tidak ada lagi kebebasan. Lahan pertanian, perkebunan, sawah, bahkan toko dan supermarket, penguasaan sumber mata air dan gedung bertingkat menajadi sasaran penjarahan dan markas para Unicorn.
Sebagian penduduk kota Utopia dibantai. Anak-anak, orang tua dan remaja dijadikan budak para Unicorn. Mereka tidak sungkan untuk menembak mati para pemberontak. Tidak ada yang selamat jika menjadi pembankang.
Tidak bisa bersembunyi dan menyelamatkan diri apa lagi harta benda. Berlari sejauh mungkin adalah pilihan terbaik meski nantinya salah satu peluru mereka akan bersarang setidaknya tepat dikepala.
Konflik antara warga sipil dengan pemerintah belakangan ini tidak baik. Regulasi dan sistem pertahanan keamanan Utopia sedang diobrak-abrik oleh pemerintahan Felix sang penguasa sekaligus presiden baru Utopia.
Sekitar 1.000 personel Polisi dan Tentara dikerahkan untuk pengamanan pelantikan Felix. Tidak peduli Negeri sedang genting-gentingnya. Di dalam berita dan surat kabar tidak ada informasi yang dapat dipercaya. Hampir 99% mereka memanipulasi sistem informasi dan data-data kebenaran Negara.
Aku tidak peduli apapun tentang politik. Sumpah serapah sudah dilontarkan, namun tak akan merubah keadaan. Suatu hari Romi mengambil kesempatan untuk bekerja di pusat pemerintahan, itu sekitar dua tahun yang lalu.
Romi adalah kakak Perempuanku. Aku dilahirkan kembar. Bekerja sebagai aparat pemerintahan Utopia adalah sebuah kebanggan dan kehormatan tersendiri bagi rakyat Utopia dan keluarga kami akan dipandang baik oleh warga lainnya.
Dia Romi si pintar dan disukai banyak orang sedangkan aku Rezi si ceroboh yang memiliki refleks dan insting yang kuat namun aku lumayan cerdas, ya itu menurutku. Aku sangat menyukai dunia luar dan liar. Aku tidak menyukai aturan. Siapa peduli tentang semua aturan bodoh yang menyebalkan.
Aku dan Romi setelah lulus universitas memiliki tujuan berbeda. Dia berhasil diagungkan dikeluarga kami. Iya, dia menjadi Koordinator Sistem Laboraturium sekaligus asisten pribadi Presiden. Aku mengakui jika dia pintar, dan Romi menjadi staff dijajaran pemerintahan Felix. Dia akan mengawal seorang Presiden.
Musim panas tahun lalu Romi diberangkatkan ke Utara. Dia mendapatkan pelatihan selama satu bulan penuh dikarantina. Sepulang dari Utara Romi bercerita padaku tentang gilanya orang-orang disana.
"Kau tahu, Chip itu akan berlaku! Bagaimana bisa manusia dijadikan objek penelitian?" kata Romi dengan kesal kita akan musnah tambahnya lagi dengan cemas. Tangannya direkatkan kuat-kuat.
"Apa yang kamu lihat disana? Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan? Maksudku, Chip apa? Ada apa dengan Chip itu? Bukankah pemerintah membuat itu untuk rakyatnya sejahtera?" aku basa-basi bertanya merespon pernyataan Romi yang tidak masuk akal, Romi masih terlihat cemas. Matanya masih mentap kosong, wajahnya terlihat pucat. Selera makannya berkurang setelah pelatihan.
"Sudahlah, kamu jangan terlalu khawatir. Dunia belum kiamat!" ucapku lagi sambil meninggalkan kursi kayu dari jati yang dipahat oleh kakek-ku, aku bergegas mengambil beberapa barang dan makanan untuk bekal-ku bekerja di pusat rehabilitasi hewan.
"Aku pergi" ucapku sambil membuka pintu,
"Tunggu! Biar aku memperlihatkan padamu sesuatu. Mungkin kamu akan sedikit terkejut" ucap Romi menunda keberangkatanku, kemudian dengan tangan yang gemetar, dia memperihatkan sebuah video berduarsi 30 menit di dalam nootbook nya. Romi terlihat ragu untuk melihatkan apa yang dia sembunyikan.
Jemarinya kini menyentuh beberapa tombol keyboard yang berada di notebook nya. Tombol play sudah disentuhnya. Detik demi detik berjalan, hampir 20 detik semua masih biasa-biasa saja, tidak ada yang aneh di dalam video itu.
Satu menit berlalu, aku mulai kesal dan bosan hanya menonton beberapa orang yang silih berganti keluar masuk ruangan berkaca tebal. Hingga di menit ke tiga, aku mulai dikejutkan dengan kehadiran seorang anak laki-laki, kurang lebih berusia 10 tahun. Dia dibawa dengan tangan diikat, kepalanya ditutup dengan kain hitam.
Dua orang di depan mengawalnya dengan senjata lengkap. Dan dua orang lagi disampingnya mengawal dengan memegangi tangan anak itu dan seseorang yang ku kenal dibelakangnya mengikuti dengan membawa tas putih besar. Romi salah satu dari mereka.
Aku tidak bisa berkata apapun saat itu. Mataku sibuk mencerna apa yang sedang aku lihat. Tidak masuk akal. Bahkan aku tidak tahu apa yang sedang aku lihat. Yang jelas, seseorang dipaksa untuk duduk dengan dipasangi beberapa alat gila disekujur tubuhnya, kau dapat melihat rangkaian urat-urat syaraf dengan jelas bahkan tubuh anak laki-laki itu menjadi seperti transparan. Ya, aku sudah merasa mual melihat organ dalam tubuh dengan begitu jelas.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Siapa mereka?" kataku sambil melangkah mundur menjauhi Romi,
"Dengar, aku tidak melakukan apapun. Aku tidak tahu apapun.."
"Tidak ! Bagaimana mungkin kau tidak tahu apapun sedangkan disana kau sadar sambil berbincang dan tertawa kecil saat menyuntikan sesuatu pada anak itu!" kataku lagi sedikit membentak. Romi diam. Dia terlihat panik. Matanya berkaca-kaca menahan air mata yang akan meluncur keluar, kedua tangannya kembali direkatkan. Kebiasaan lama yang masih sering dia lakukan jika dia merasa takut. Tapi aku tidak memperdulikannya. Aku bergegas pergi meninggalkan ruang kerja Romi.
***
Aku masih tidak percaya apa yang baru saja aku alami. Maksudku, apa yang sebenarnya terjadi? Beberapa kali aku mecoba berpikir jika yang aku lihat tadi adalah ilusi. Tapi, Romi membenarkan jika hal itu benar terjadi.
Sesampainya, aku dikejutkan dengan sekitar 20 hewan kembali direhabilitasi karena beberapa penyakit dan virus melanda. Beberapa hewan yang belum tertular dievakuasi oleh tim dan petugas lainnya. Aku mengamankan beberapa primata yang hampir sekarat. Jika diperkirakan sisanya akan selesai besok pagi.
Ada hampir 50 jenis hewan yang dilestarikan disini. Dan 10 primata Utopia yang terancam punah salah satunya Orbe, Orbe adalah hewan menyusui yang bentukannya seperti monyet berhidung panjang, bulunya tebal dan badannya sedikit tegak.
Mobil ambulance dan beberapa truck pengangkut semua hewan sudah tiba. Aku dan kawan-kawan penyelamat bergegas melarikan mereka ke dalam truck dan sisanya yang terkena virus diangkut dengan ambulance khusus.
"Ada beberapa lagi yang harus kita sterilkan" ucap Joseph. Pria berusia 28 tahun lebih tua dua tahun dariku. Perawakannya sangat disukai semua wanita yang ada dipenangkaran Utopia. Joseph sudah seperti bintang disini. Dia berjalan beriringan denganku. Ya dia baru saja dipindahkan diunit yang sama denganku.
"Sudah kamu dapatkan datanya?"
"Siap, sudah !" sahutnya dengan tegas
"Santai saja, tidak usah terlalu formal" ucapku sambil tertawa kecil
"Ah, baik Kapten" sahut Joseph kemudian sambil tersenyum, "Kapten, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan" kata Joseph kemudian
"Ada apa? Ceritakan padaku nanti setelah kita selesai mengevakuasi"
"Baik kapten"
Mobil ambulance yang kutumpangi melaju kencang menyusuri hutan Agri. Hutan terluas dan menurut penduduk disni terkenal dengan keseramannya karena ada beberapa lumpur penghisap di tengah rawa. Bayi Orbe yang sedang duduk dipangkuanku tiba-tiba terlihat gelisah. Tangannya tidak mau diam, memainkan jas yang sedang ku kenakan.
"Diam, kita akan sampai" ucapku menenangkan si Bayi Orbe yang menatapku. Joseph dihadapanku tertawa.
"Lucu bukan? Aku mengajaknya bicara seakan dia mengerti dan kembali tenang"
"Ya, kau memang ahlinya kapten" jawab Joseph sambil tertawa. Aku ikut tertawa.
Sebelum memasuki bandara untuk menuju ke Kota, aku masih memikirkan tentang apa yang sudah Romi tunjukkan kepadaku. Banyak sekali pertanyaan yang menumpuk dikepala ku. Apa yang sedang mereka lakukan disana? Mengapa mereka melakukan semua itu? Bagaimana bisa sodara kembarku melakukan itu? Ah, sudahlah banyak lagi yang ingin aku tanyakan pada Romi.
***
Pukul 01.20 dini hari. Para petugas penjaga sedang beristirahat. Mereka berkumpul di Aula tengah kota. Biar aku gambarkan, Aula ini luasnya hampir satu hektar, butuh waktu tiga jam untuk sampai dengan menggunakan pesawat. Karena keadaan kota sedang tidak bersahabat jika menggunakan jalur darat.
Demo besar-besaran telah terjadi belakangan ini. Terdengar isu penculikan beberapa aktivis dan kabar mereka seakan ditutupi pemerintah dengan berita kebakaran lahan ganja di Utopia Utara. Kebakaran yang disengaja untuk memperluas lahan pertambangan dan pembuatan ruang bawah tanah.
Aku tak peduli apa yang akan dilakukan pemerintah. Persetan dengan semuanya. Sumpah serapahpun tidak akan memperbaiki keadaan. Hampir menjelang pagi. Tiga gelas kopi tidak membuatku membaik, rasa kantuk sesekali membuat fokusku hilang.
Berjalan-jalan sedikit, mungkin akan merasa baik. Sambil meregangkan tangan dan melawan rasa kantuk, aku berjalan mengarah ke danau yang tak jauh dari aula camp rehabilitasi. Udara malam disini sangat sejuk. Bahkan aku dapat melihat bintang yang bertebaran luas di langit. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama,
" Kapten kau disana? suara Joseph terdengar pada radio walkie talkie.
"Ada apa?"
"Semua binatang disini keadaannya gawat. Beberapa orang penjaga terkena serangan mereka yang kabur dari kandang. Bahkan aku menemukan Gio tak bernyawa dengan luka yang begitu parah. Bagaimana ini kapten?" Kata Joseph terdengar parau.
Aku terdiam, mencoba menenangkan diri. Tubuhku masih bergetar, kepalaku masih mencerna apa yang baru saja aku dengar,
"Kapten, kau disitu?"
"Ya, Kau tenang, lihat keadaan sekitar. Jika mengancammu, sembunyi jika perlu" ucapku kemudian, sambil berlari mengarah Aula Camp. Apa yang sebenarnya terjadi disini? Apa benar yang Romi katakan padaku? Ini semua akan dimulai. Pasti aku sudah gila.