The Findsher

The Findsher
Melarikan Diri 2



Gemuruh angin terdengar jelas, sangat kencang dan mendekat hingga suaranya mengisi seluruh isi terowongan gelap. Rezi masih berlari dari kejaran sosok yang tidak ia ketahui.


Celakanya, Rezi tidak menyadari paha kanannya berdarah, luka jahit pasca operasinya robek kembali. Tanpa merasakan sakit dengan lukanya Rezi terus berlari menghindari apa yang ada dibelakangnya.


Sampai suatu ketika, semua yang berada disekitarnya bergetar. Terdengar kembali gemuruh angin menerbangkan beberapa benda yang disapunya sampai terdengar suara ledakan dahsyat diluar sana. Rezi melihat percikan api di ujung terowongan.


Dengan lega, ia tersenyum dan secepat yang ia bisa untuk menjangkau ujung terowongan ini. Namun, saat Rezi berhasil keluar masalah baru kembali muncul.


Ada beeberapa orang dengan pakaian serba hitam menunggunya,


"Satu dua tiga empat lima.. Ah, enam orang?" katanya sehabis menghitung orang yang ada didepannya. Rezi menoleh kebelakang. Sosok yang mengejarnya tidak ikut keluar bersamnya. Ia penasaran apa yang akan mereka lakukan padanya kali ini.


...***...


"Yash, kau baru saja mengacaukan semuanya bukan! Jika kau tidur lebih lama lagi, semua tidak akan seperti ini" kata salah seorang dari enam orang yang berada dihadapannya itu. Suara itu terdengar seperti pria, wajahnya tertutup hoodie hitam dan kain yang menutup leher hingga setengah wajahnya tertutup. Rezi terdiam sambil mencari celah melarikan diri dari mereka.


"Lihat, orang ini yang dicari negara. Bukankah kita beruntung menemukannya terlebih dahulu?" kata salah seorang dari mereka lagi sambil tertawa


Rezi ikut tertawa dengan wajah datar, lalu berkata "Bagaimana bisa Utopia memilih orang yang tepat seperti ku? Bukankah negara ini seleranya terlalu bagus. Haha, aku tidak mengerti mengapa wajahku terpampang disetiap sudut kota. Ah, aku sungguh malu. Seharusnya aku memberikan foto yang lebih bagus dari itu" katanya menyindir


Rezi hanya tersenyum kecut, matanya menatap tajam orang gila didepannya itu. Sebelum tubuhnya disentuh Rezi memberikan perlawanan dengan memelintirkan sebelah tangannya kebelakang, sontak si pria serba hitam dari enam orang itu merasa kesakitan,


"Ah, aku benar-benar benci dengan pria yang tidak tahu sopan santun pada wanita" ucap Rezi sambil melumpuhkan sebelah kakinya dengan menendangnya


Kawanan dari si pria tersebut terperanjat dan satu persatu mereka menantang Rezi. Perkelahian pun terjadi. Rezi masih kuat untuk mengalahkan enam orang seorang diri.


...***...


Pada waktu yang bersamaan, Joseph berusaha membebaskan dirinya dari lumpur hisap. Sebelah tangannya memegangi dengan kuat akar pohon beringin yang besar. Mencoba tetap menarik dirinya terus ke atas. Dengan susah payah Joseph akhirnya terbebas dari lumpur hisap, ia masih terlihat shock dan napasnya sangat tidak teratur. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya gemetar.


Sirine terdengar dari kejauhan. Tanda ujian apda test pertama telah selesai. Sebuah botol kecil dengan parasut di atasnya mendarat tepat didepan Joseph. Botol kaca itu berwana hitam dengan sebuah surat yang digulung pada kertas kecil putih yang digulung didalamnya.


Joseph segera meraih botol tersebut dan membukanya. Dengan hati-hati, tangannya membuka kertas yang ada didalamnya. Dengan mata terbelalak Joseph membaca apa yang tertulis disana.


...***...