
Selamat membaca🔥
Pagi hari Calysta bangun lebih awal, segera setelah membersihkan diri dan olahraga kecil ia keluar kamar tak lupa juga membawa piring bekas makan malam nya. Calysta berjalan riang sambil bersenandung kecil memikirkan rencana nya nanti bersama bi Nana.
Sepanjang jalan ia melihat beberapa pelayan mulai melakukan tugas nya masing-masing dan menyapa mereka ketika berpapasan. Sesampai nya di dapur Calysta lalu menaruh piring nya hendak mencuci ulang, tetapi tiba-tiba bibi datang menghampiri nya.
"Eh... non Calysta gak usah di cuci biar bibi aja."
"Gak papa bi. Calysta bisa!." Mendengar jawaban dari Calysta membuat bi Nana menghembuskan nafas, jika sudah begitu maka Calysta pasti akan mengerjakannya tak peduli apapun.
"Yaudah bibi mau lanjut masak dulu." Bi Nana pun meninggalkan Calysta dan segera membantu rekan nya untuk membuat sarapan pagi.
Calysta yang sudah selesai mencuci piring kini berjalan mendekati bi Nana dan menarik bagian bawah baju nya. Bi Nana yang sedang memilih bahan pun terkejut lalu menoleh ke bawah dan melihat Calysta yang tengah menatap nya.
"Ada apa non?" Tanya bibi menyamakan tinggi dengan Calysta.
"Bibi Calysta mau bantu boleh?" Mohon Calysta dengan mengatupkan bibir dan menatap bibi penuh harap, gemas sekali.
Bibi yang terpesona oleh ke imutan Calysta pun luluh. "Lihat aja yah, non Calysta masih kecil. Bahaya!"
"Horee!!" Jawab nya girang.
Kemudian Calysta berlari mengambil kursi dan mendorong nya di dekat bibi dan berusaha untuk naik namun kursi itu terlalu tinggi. Calysta pun putar otak dan berpikir seraya melihat sekeliling. Aha! ia melihat sebuah bangku di sudut ruangan, dengan segera mengambil nya dan menaruhnya di depan kursi. Sekali lagi Calysta mencoba naik ke kursi dan yeay berhasil.
Kejadian itu di lihat oleh pelayan yang ada di sana terutama bi Nana dan mereka tak menyangka bahwa Calysta begitu pandai. Mereka tampak bangga dengan anak majikannya itu, yang tidak meminta bantuan orang yang lebih dewasa justru mencari jalan keluar dari masalah nya sendiri. Sungguh langka! Tak sedikit yang membandingkan Calysta dengan Myeisha yang selalu memerintah walau untuk hal kecil sekalipun, bahkan sering memarahi mereka jika sesuatu tak sesuai keinginan nya. Tak jarang juga mereka kena marah oleh Olivia karena Myeisha yang sering mengaduh.
Calysta memperhatikan setiap detail gerakan bi Nana dari memilih bahan-bahan, takaran bumbu, memotong sampai proses masak nya pun tak luput dari pandangan gadis belia itu, juga sesekali bi Nana menjawab dan menjelaskan pertanyaan Calysta yang penasaran.
......................
Tak lama kemudian semua makanan pun selesai di masak. Beberapa pelayan membantu bi Nana menyajikan makanan di atas meja makan, Calysta pun ikut membantu dengan membawa peralatan makan yang kecil sehingga memudahkan gadis itu.
Setelah semua hampir selesai Bram keluar dari lift dengan memakai setelan kerja nya berjalan menuju ruang makan. Ia tersenyum ketika melihat Calysta yang berjalan bolak balik membawa beberapa barang. Bram duduk di kursi nya,
"Calysta kok jalan-jalan terus sih gak capek ya?" Tanya Bram pada Calysta.
"Calysta nggak papa daddy, lagi pengen bantu bibi masak aja supaya nanti Calysta pintar memasak seperti bibi." Ucap nya penuh semangat.
Bram tersenyum "Baik sekali anak daddy. Nanti kalau sudah jago masak nya daddy mau jadi orang pertama yang coba deh. Boleh?"
"Boleh dong daddy nanti tiap hari Calysta masakin." Bram tertawa melihat tingkah putri nya yang polos itu sungguh menyejukkan hati.
"Wah ada apa ini kok seperti nya seru sekali sampai tertawa begitu?" Tiba-tiba Olivia datang bersama Kenzo dan Myeisha. Dan itu membuat Calysta seketika membeku dan menundukkan kepala nya.
"Ini sayang, Calysta mau belajar masak terus daddy nanti jadi orang pertama yang cobain dong." Ucap Bram dengan riang. Sementara itu atmosfer di ruang makan itu berubah 180 derajat sejak kedatangan Olivia.
"Ohh... Yaudah yuk makan."
"Wah Calysta hebat sekali apapun semua bisa! Nanti jangan lupa bagi ke aku juga yah jangan daddy aja." Ucapan Kenzo semakin membuat Olivia dan Myeisha cemberut.
Apaan sih, gitu doang kok pamer. Sok cantik banget sih cari perhatian lagi sama daddy dan kak Kenzo. Kan jadi sebel, awas aja kamu Calysta. -Myeisha menatap sinis kembaran nya yang tengah menunduk itu-
Bahaya ini Bram seperti nya lupa sama janji nya dulu, Kenzo juga gak boleh di biarin. Kalau gini terus nanti anak sial itu semakin menjadi. Gak boleh gak boleh aku harus cari kesempatan buat kasih pelajaran nih anak sial. -Olivia pun geram-
Sementara itu Calysta yang sangat peka itu menyadari kalau mommy dan kembarannya dari tadi menatap nya sinis seakan ingin memakan nya. Calysta tak berani menatap kedua nya, ia sudah tau pasti mereka akan melakukan sesuatu pada nya nanti. Memikirkannya saja sudah membuat nya takut, walaupun luka yang kemarin sudah sembuh namun rasa sakit ketika di pukul tetap terasa oleh Calysta. Sungguh saat ini Calysta ketakutan hingga makan pun tak berani bersuara.
Setelah keheningan beberapa saat akhirnya Bram memulai percakapan dengan serius.
"Sayang besok aku mau ke negara A selama 1 minggu, ada urusan penting di sana. Jadi aku mau kalian semua bisa ikut sekalian kita liburan bareng mumpung Kenzo lagi libur semester kan. Gimana?" Tanya Bram serius.
"Beneran dad?! Asyik... Kebetulan di sana ada yang Myeisha suka dan hanya beberapa yang di jual, nanti beliin ya daddy. Myeisha mau jadi orang pertama yang dapat pokok nya!" Ucap Myeisha memaksa ia sebenarnya tidak peduli dengan liburan itu ia hanya ingin barang yang kebetulan berada di negara yang sama.
"Iya dong sayang, apapun nanti daddy beliin buat kamu."
"Bisa dong sayang kita kan sudah lama gak liburan bersama, nanti aku siapin keperluannya terus besok kita berangkat. Sekalian mommy juga mau ketemu teman lama." Ucap Olivia bersemangat.
"Calysta... kamu kok diam aja dari tadi? Kamu ikut kan?" Kini seluruh mata tertuju pada Calysta menunggu jawaban.
Calysta merasa terpanggil pun menggangkat kepala nya menatap semua nya satu persatu. Tentu saja Olivia dan Myeisha tidak ingin diri nya ikut kini menatap tajam pada nya. Secepat mungkin Calysta memutuskan pandangan melihat ke arah Kenzo yang menatap nya penuh harap. Hening sejenak Calysta berpikir kemudian berkata...
"Mm... Calysta gak usah ikut deh daddy. Calysta masih sakit nanti malah repotin kalian semua."
"Kamu yakin gak mau pergi dek?" Kini Kenzo bertanya dengan nada kecewa.
"Ia kak Calysta yakin. Lagian di rumah ada bibi dan kakak pelayan yang lain jadi Calysta nggak sendirian. Kalian senang-senang aja di sana nggak usah khawatirkan Calysta."
"Kalau kamu gak mau juga kita nggak akan maksa." Ucap Bram pasrah juga Kenzo yang sedikit muram mendengar jawaban Calysta.
Lain hal nya dengan Olivia dan Myeisha yang tengah menahan senyum agar tidak ketahuan. Mereka tentu saja senang karena Calysta tak ikut dengan mereka, sehingga tak perlu berpura-pura baik dengannya di depan kolega bisnis. Yah... walaupun mereka juga tidak tahu kalau Calysta anak kandung nya.
Calysta yang kembali menunduk juga tersenyum, bukan nya sedih ia justru senang. Bagaimana tidak? Jika semua orang pergi maka ia akan lebih leluasa dan bebas pergi kemanapun tanpa perlu memikirkan alasannya lagi.
Ya... Calysta tengah memikirkan rencana nya yang sudah ia susun semalaman (ingat kan? yang mau liat mansion baru itu loh). Nanti ia akan memberitahukan nya pada bibi dan besok mereka tinggal berangkat ke lokasi deh.
"Yasudah daddy mau ke kantor dulu, ada sedikit urusan yang harus di kerjakan sebelum kita berangkat besok."
Sepergi nya Bram, mereka pun satu persatu mulai meninggalkan meja makan kecuali Calysta yang tentu nya membantu mengangkat piring kotor. Setelah itu pergi ke kamar nya, ia tinggal menunggu hingga bibi selesai bekerja kemudian mencari waktu yang tepat memberitahukan bibi tentang rencana nya.
......................
Dalam perjalanan Calysta merasa tidak tenang seperti ada sesuatu yang menunggu nya. Ia segera mempercepat langkah nya ke arah kamar. Ketika pintu di buka seketika Calysta mematung melihat...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya🔥
**Terima kasih sudah membaca🙏💕
SALAM PERTEMANAN😊**