The Cruel Life Of The Callysta

The Cruel Life Of The Callysta
Teman Baru



Selamat membaca 🔥


Calysta dan bi Nana sampai di sekolah dengan selamat. Di halaman sekolah sudah banyak murid baru di temani oleh orang tua mereka berkumpul. Ada beberapa yang saling berbincang satu sama lain, ada pula yang sudah mendapatkan teman baru. Calysta hanya diam di tempat nya dengan bibi yang setia menemani.


"Calysta kok berdiri saja, tidak ingin berkenalan dengan teman baru?" Tanya bibi.


"Tidak bi, Calysta masih asing dengan keadaan seperti ini. Nanti saja kenalan nya kalau sudah di dalam kelas."


"Yasudah terserah kamu saja." Bi Nana tak lagi memaksa, Calysta yang sejak bayi hanya di rumah dan sangat jarang keluar tak mempunyai teman jadi ia sangat canggung dekat dengan orang lain. Tidak seperti kembaran nya, Myeisha yang setiap hari bermain dengan teman-teman nya.


Tepat pada pukul 07.00 pagi bel berbunyi dan para murid berbaris rapih di tengah lapangan. Setelah pembagian kelas masing-masing murid berbaris rapih dan di bawa ke dalam kelas oleh wali kelas mereka. Calysta mendengar namanya di sebutkan pada kelas A1 dan mulai berbaris dengan teman sekelas nya.


Bi Nana pun memperhatikan Calysta hingga masuk ke dalam kelas, sambil menunggu Calysta pulang bi Nana mencari teman nya yang merupakan kepala sekolah karena sudah lama tidak berjumpa. Ia percaya Calysta adalah anak yang pandai dan tidak akan membuat masalah.


"Nana!!" Teriak seseorang dari arah belakang bi Nana, ia segera berbalik dan seketika ia tersenyum mengetahui bahwa itu adalah Ani (Kepala sekolah)


"Kamu ini aku cariin dari tadi loh." Lanjut Ani


"Aku juga mau cari kamu setelah mengantar anakku ke dalam kelas nya. Eh kamu nya yang nongol sendiri." Ucap bi Nana.


"Kita duduk di ruangan ku aja yuk dekat kok! Gak enak di liatin orang-orang." Ucap Ani sambil mengamati sekitar.


"Tapi Calysta bagaimana?"


"Tenang aja nggak akan terjadi apa-apa kan baru perkenalan murid. Ayok."


"Oke deh." Ani dan bi Nana langsung pergi menuju ruang kepala sekolah, tak lupa dirinya mengkode Calysta dari jendela bahwa ia akan pergi sebentar dan di angguki oleh Calysta.


Sesampai nya di kantor Ani, bi Nana menatap kagum design interior nya yang sangat indah bahkan ada juga foto mereka di atas meja membuat bi Nana mengingat masa-masa pertemanan mereka.


"Na, kamu masih ingat gak waktu kita masih abg yang suka keluyuran, sekarang sudah punya suami masing-masing jadi gak bisa main lagi." Ucap Ani menghampiri bi Nana sambil mengenang masa lalu.


"Ia dong! Masa aku lupa sih kamu kan yang paling jago soal bolos sekolah waktu itu, hhh" Jawab bi Nana sambil tertawa.


"Sudah-sudah jangan bahas lagi, ayo duduk." Mereka pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu. "Oiya, soal anak kamu maaf yah waktu kamu lahiran aku gak bisa datang nemenin. Anak kamu namanya siapa?"


"Sebenarnya waktu aku melahirkan anak ku meninggal karena kesulitan bernafas, dan yang aku bawa hari ini bukan anak kandung aku dan mas Dan tetapi putri bungsu majikan ku." Ucap bi Nana dengan raut sedih


"Hah beneran, gimana ceritanya?"


Mereka pun larut dalam cerita bi Nana tentang Calysta, bi Nana menceritakan semua yang sudah di alami anak angkat nya itu. Tentu saja ia tidak menceritakan tentang mansion dan barang hadiah yang di menangkan Calysta, bi Nana hanya berkata bahwa Calysta adalah anak yang jenius.


Dan itu membuat Ani sedih sekaligus marah terhadap keluarga yang menyia-nyiakan anak jenius seperti Calysta. Ani sangat ingin bertemu langsung dengan Calysta setelah mendengar cerita dari bi Nana.


......................


Sementara itu di dalam kelas A1 sangat ramai dengan murid-murid yang saling bercerita. Guru pembimbing yang bernama Mawar lalu mengarahkan para murid untuk duduk di tempat masing-masing. Penataan meja dan kursi di kelas berbentuk kelompok kecil dengan meja bundar berwarna warni dan Calysta duduk di ujung kelompok paling belakang.


Selanjutnya guru Mawar memanggil nama mereka satu persatu untuk maju ke depan memperkenalkan diri. Para murid mulai memperkenalkan diri, sebagian besar murid A1 berasal dari keluarga yang kaya dan dengan sombong nya menatap murid yang miskin. Tiba saat nama Calysta di panggil, ia langsung berdiri menuju depan.


"Halo semua perkenalkan nama aku Charlotte Calysta B., tahun ini aku berumur 6 tahun, hobi ku belajar dan main. Semoga kita bisa berteman." Ucap Calysta dengan senyum yang lebar memancarkan kecantikan usia dini.


Setelah perkenalan diri semua teman-teman nya bertepuk tangan, Calysta mengedarkan pandangan nya memperhatikan setiap orang. Calysta menyadari bahwa ada beberapa anak yang menatap tidak suka pada nya.


"Apa pekerjaan orang tua mu nak?" Guru Mawar bertanya.


Dengan semangat Calysta menjawab. "Ibu dan ayah ku bekerja di rumah mewah guru."


"Ternyata anak pembantu." Ucap seorang anak perempuan bernama Isabel yang menatap tak suka.


"Memang nya kenapa? Kan ayah dan ibu bukan penjahat."


"Kamu kan miskin gak selevel dengan ku dan teman-teman."


Calysta menahan amarahnya menatap mereka semua, teman yang lain pun mulai terhasut oleh perkataan nya.


Melihat situasi yang tidak mengenakkan guru Mawar segera menghentikan dan mempersilahkan Calysta untuk kembali duduk dan segera memulai pelajaran pertama.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya seorang anak laki-laki yang sekelompok dengannya. Kelompok Calysta terdiri dari dua perempuan dan dua laki-laki.


"Tidak apa-apa, Calysta sudah terbiasa." jawab Calysta dengan santai.


"Kamu gak takut sama dia? Ayah nya orang yang berpengaruh di daerah ini loh." Si anak perempuan mengingatkan.


"Memang nya Calysta salah apa harus takut sama dia? Calysta gak salah apa-apa!"


Angel dan Brain hanya bisa menghela nafas panjang mendengar jawaban polos dari Calysta. Sedangkan cowok yang duduk di depan Calysta hanya diam melihat interaksi teman baru nya. Ia sama sekali tidak peduli pada orang lain.


"Eh kita belum kenalan kan? Nama aku Angel Freya Volker, panggil Angel aja."


Mereka bertiga berjabat tangan,


"Aku Calysta senang berkenalan dengan kalian." Ucap nya tersenyum menyambut teman baru, kemudian melihat ke arah depan "Oiya nama kamu siapa, kok dari tadi diam aja sih?"


Kini pandangan mereka bertiga tertuju pada anak itu, Laki-laki itu menatap balik dan berkata.


"Damian." Jawab nya singkat.


Seketika mereka diam mendengar jawaban Damian, sungguh anak yang cuek pikir mereka.


"Namamu bagus banget kayak orang nya ganteng, kamu jangan cuek terus sekali-kali senyum dong." Ucap Calysta sambil terus menatap laki-laki di depan nya.


Laki-laki yang di tatap justru diam tak menjawab, hanya lirikan singkat yang di berikan pada Calysta dan dua temannya yang lain. Setelah itu kembali fokus pada pelajaran.


"Sangat cerewet." ucap Damian sambil tersenyum tipis, saking tipis nya sampai tak ada yang tahu bahwa dirinya sedang tersenyum.


Melihat tak ada reaksi dari Damian membuat Calysta kesal, ia menggembungkan pipinya dan kembali menulis dengan amarah yang di pendam.


Angel dan Brian yang melihat mereka berdua tertawa, mereka sangat lucu. Tetapi tanpa sadar Brian telah memperhatikan Calysta dengan seksama. Entahlah hanya Brian yang tahu. Mereka pun kembali fokus pada pelajaran yang diberikan guru Mawar.


......................


Damian Zachery Reinaldo (Damian)


Damian adalah seorang anak yatim piatu yang di besarkan oleh kakek dan neneknya. Baik, pandai, sopan pada orang tua, ganteng, cuek terhadap orang lain kecuali keluarga nya.


Isabel Althea Smith (Isabel)


Isabel adalah anak bungsu dari keluarga Smith yang memiliki perusahaan terkaya nomor 4. Sifatnya sangat manja, semena-mena, licik, sombong dan juga angkuh. Menindas rakyat miskin adalah hobinya dan teman-temannya.


Teman Isabel:


Delia


Alice


Bianca


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya🔥


**Terima kasih sudah membaca🙏💕


SALAM PERTEMANAN😊**