The Cruel Life Of The Callysta

The Cruel Life Of The Callysta
Ulang Tahun



Selamat membaca :D


4 tahun kemudian...


Mansion's Bramasta family


Rumah megah nan mewah itu kini terlihat ramai, beberapa mobil mewah dan pastinya mahal terparkir rapi di halaman rumah nya yang luas. Itu semua milik kolega bisnis perusahaan terkaya nomor 2 yang di undang untuk datang ke pesta ulang tahun putri bungsu tercinta nya.


Ya, kini sudah 4 tahun berlalu putri nya kini sudah tumbuh besar dan cantik. Setiap tahun Bramasta dan Olivia pasti akan mengadakan pesta ulang tahun yang megah untuk putra putri nya.


Ruang tamu di hias dengan berbagai perlengkapan dan aksesoris bertemakan princess, khusus di desain untuk sang putri kesayangan tuan rumah.


Tepat di tengah ruangan, sebuah kue ulang tahun yang besar setinggi setengah meter berwarna pink yang tak kalah mewah dengan hiasan mutiara dan permata.


Para tamu undangan satu persatu mulai memenuhi ruang tamu. Tahun ini para tamu memakai pakaian bertemakan disneyland yang berkilauan dan tentunya mahal harga nya.


Tentu saja acara ini juga merupakan kesempatan bagi mereka untuk terus menjalin kerja sama antar perusahaan. Mereka berbincang membicarakan sesuatu yang menguntungkan satu sama lain. Begitu juga dengan Bramasta, sang pemilik rumah yang saat ini tengah sibuk menyapa para tamu ditemani oleh Kevin yang berpakaian seperti pangeran yang tampan.


Sementara itu kakek dan nenek mereka tidak bisa hadir. Pasangan suami istri itu tengah di luar negeri menyelesaikan masalah perusahaan cabang yang ada di sana. Tetapi sebelum pergi mereka sudah mengirimkan hadiah ulang tahun cucu kembar kesayangan nya dan lebih dulu mengucapkan selamat ulang tahun.


......................


Di sebuah kamar besar penuh dengan warna pink dan mainan yang banyak, terlihat seorang wanita dewasa sedang merias gadis kecil dengan pakaian bak putri disney lengkap dengan mahkota yang berkilau dan pasti nya mahal.


"Mom, Myeisha udah gak sabar mau tiup lilin dan memamerkan baju baru ini. Cepetan dong mommy!" Kata gadis itu dengan semangat dan terus memandang pantulan diri nya di cermin.


"Sabar dong sayang, putri mommy harus tampil cantik dan sempurna di depan semua orang." Olivia kembali merias putri nya tanpa melewatkan apapun semua harus perfect.


"Sudah... wah putri mommy cantik sekali. Yaudah yuk sayang kita ke bawah acara nya udah mau mulai" Sambil menggandeng tangan kecil putri nya "Ayo mom cepat!!".


Kedua wanita beda generasi itu bersamaan menuruni tangga satu persatu. Saat itu juga tatapan semua orang yang ada di ruangan tertuju pada mereka berdua.


"Ini dia sang pemeran utama hari ini sudah datang." kata Bram dengan senyum bahagia.


"Wah Myeisha ternyata sudah sebesar ini"


"Myeisha cantik sekali seperti putri"


"Setahun tidak berjumpa sudah besar"


"Wah... yang di samping nya itu mommy nya?"


"Olivia makin cantik aja, awet muda."


"Ibu dan anak sama-sama cantik"


Kira-kira itulah yang di katakan semua tamu di ruangan itu.


"Selamat ulang tahun putri daddy yang cantik, semoga kamu bahagia terus, jadi kebanggaan keluarga, dan sehat selalu ya nak." kata Bram mencium Myeisha. "Makasih daddy, Myeisha janji gak bakalan kecewain daddy dan mommy."


"Ciee yang ulang tahun, selamat yah! Semoga makin rajin, makin pinter dan ga manja lagi." Kenzo merayu sang adik "Ish... aku gak gitu kali! Mommy, daddy liat tuh kak Ken jailin Myeisha lagi!"


"Sudah sudah jangan berantem terus, ayo mulai acara nya para tamu udah nungguin..." Ucap Olivia melerai kedua anak nya. "Iya ayo kita mulai!"


Mereka mulai mendekati kue ulang tahun dan memulai acara nya. Tampak Myeisha yang antusias membuat permohonan dan meniup lilin. Semua orang bertepuk tangan dan berbahagia. Mereka mulai menikmati kue dan kudapan lainnya yang sudah di persiapkan sambil bercengkrama satu sama lain.


......................


Terlihat seorang wanita mengendap-endap melewati tangga sambil membawa sebuah kotak persegi. Tidak ada yang memperhatikan wanita tersebut. Ia bergegas naik ke lantai 3 rumah itu, dan berhenti tepat di ujung ruangan. Ia mengetok pintu lalu terdengar suara anak-anak dari dalam.


"Siapa?"


"Non, ini bibi."


"ceklek" bunyi pintu terbuka menampilkan seorang anak perempuan berusia 4 tahun. Dengan raut bahagia anak itu mempersilahkan si bibi untuk masuk.


"Oh bibi, ayo bi masuk."


"Iya non, terima kasih."


Bibi pun duduk di atas karpet bulu di samping tempat tidur.


"Ini non bibi bawain kue untuk ulang tahun non Calysta."


"Wah... Terima kasih bibi. Bibi yang terbaik!" Kata Calysta dengan girang sambil mengangkat dua gempol mungil nya. "Nah sekarang ayo make a wish dulu non."


"Semoga tahun depan bisa di rayain sama mommy, daddy, kak Ken dan Myeisha, Bi Nana dan pak Dan juga"


Calysta segera membuat permohonan ulang tahun nya dan meniup lilin yang sebelum nya sudah di pasang oleh bibi.


"Yeay... Selamat ulang tahun non Calysta semoga panjang umur dan selalu bahagia, makin cantik, makin pinter, pokok nya semua yang baik-baik lah non bibi dan pak Dan selalu do'ain non Calysta"


"Hahaha... Iya bi terima kasih yah pak Dan juga. Oiya pak Dan mana bi?"


"Oh anu non itu... lagi sibuk di halaman jagain jagain mobil tamu nya tuan dan nyonya."


"Kasihan pak Dan pasti kecapean deh"


"Ayok bi kita makan sama-sama gak enak makan sendiri terus."


"Tapi non... yaudah ayok di makan nanti makanan nya dingin" Bibi hendak menolak namun melihat wajah antusias Calysta ia pun menyerah dan makan bersama. Toh di bawah masih ada pelayan yang lain urus pesta nya.


Calysta makan dengan lahap makanan yang di bawakan Bi Nana. Masakan nya menang lah favorit Calysta, ia akan makan apapun yang di masak untuk nya. Dan hal itu membuat Bi Nana bahagia sekaligus kasihan dengan nona nya ini.


Sedari bayi Calysta selalu dititipkan padanya, bahkan tidak pernah mendapatkan asi dari Olivia seakan dia bukan anak kandung nyonya nya itu.


Anggota keluarga lain pun sangat jarang berinteraksi dengan Calysta, terkecuali kakek dan nenek nya itu pun jika kedua nya datang berkunjung.


Bahkan di foto keluarga dan semua foto yang di pajang tidak ada satupun Calysta di sana. Karena sering dititipkan kepada nya, bi Nana pun sering memfoto Calysta dan disusun dalam sebuah buku yang di simpan di kamar Calysta. Hal itu pun tidak di ketahui oleh orang rumah kecuali mereka berdua.


Bi Nana POV


Kasihan sekali anak bungsu majikan ku ini, dia bahkan gak di anggap di keluarga nya sendiri. Entah apa yang di pikir kan tuan dan nyonya, bahkan mereka tidak memperkenalkan Calysta kepada dunia hanya tuan muda Kenzo dan nona Myeisha.


Selain itu, Calysta bahkan ditempatkan di kamar yang terpencil dan jarang di kunjungi. Meskipun kamar nya di hias dengan cantik tetapi aku yakin non Calysta pasti kesepian dan takut di kamar nya. Bi Nana mengingat kembali kejadian 4 tahun lalu.


*4 tahun yang lalu...


Semua pelayan di rumah antusias menyambut* *majikan mereka yang baru pulang dari rumah sakit. Mereka berbaris rapih di depan pintu utama. Terdengar suara mobil dari luar menandakan bahwa yang ditunggu telah tiba.


Pak Dan membukakan pintu dan yang lain mengambil barang-barang majikan nya.


"Selamat datang tuan dan nyonya!" ucap mereka bersamaan. "Terima kasih semua nya. Perkenalkan si kembar anggota baru keluarga Bramasta, yang di gendongan Olivia nama nya Myeisha Queenie Bramasta dan yang saya gendong ini Calysta Charlotte Bramasta, mereka beda 6 menit. Ya sudah itu saja kalian boleh istirahat. Oiya, Bi Nana jangan pergi dulu yah." Perintah Bram kepada semua pelayan nya. Mereka pun mendengarkan dan segera bubar.


"Kenzo juga istirahat ya nak, pasti kamu capek. Besok harus sekolah"


"Iya mommy... Kenzo mau tidur duluan, ngantuk." Kenzo segera naik ke lantai 2 kamarnya berada dan bergegas tidur.


Sementara itu, di ruang tamu hanya tersisa Bram, Olivia, Bi Nana dan si kembar. "Bibi ayo sini duduk jangan berdiri mulu." Kata Bram dengan ramah kepada bi Nana yang sudah dia anggap sebagai kakak itu. "Iya tuan."


"Gini bi, Olivia kan baru aja dari rumah sakit masih lemah. Takut nya gak bisa jaga si kembar, jadi si bungsu bibi yang urus yah... Gak papa kan bi?" Kata Bram


"Iya bi. Aku gak bisa urus kedua nya jadi si bungsu sama bibi aja yah. Lagian bibi juga baru saja kehilangan anak, kami kasian liat bibi murung jadi anggap aja si bungsu anak bibi. Bibi kan sudah seperti kakak bagi aku sama Bram. Nanti semua kebutuhan nya kami siapkan bibi yang atur. Bibi gak keberatan kan?" Kata Olivia menyakinkan.


"Baiklah tuan nyonya. Non Calysta akan saya rawat dengan sepenuh hati. Terima kasih sudah mempercayai saya." Bi Nana segera menerima Calysta dan menggendong nya dengan hati yang bahagia.


"Seharus nya kami yang berterima kasih bi. Oiya bibi kedepannya gak usah banyak kerja fokus aja sama Calysta. Kamar nya ada di lantai 3 paling pojok ya bi, semua keperluan Calysta sudah di siapkan di sana bibi tinggal atur aja sisanya." Kata Bram kemudian pergi bersama Olivia untuk beristirahat.


Bi Nana pun bergegas menaiki tangga menuju kamar Calysta. Ia heran mengapa harus di kamar paling pojok? Tapi ia tak mungkin bertanya kepada majikannya.


Beberapa hari kemudian, keluarga Bramasta mengumumkan bahwa anggota keluarga nya yang baru telah lahir dengan sehat. Akan tetapi dia hanya memperkenalkan Myeisha sebagai putri bungsu dan satu-satunya kepada publik. Hal itu pun membuat semua pelayan di mansion bertanya-tanya, tapi tidak ada yang berani bertanya lebih jauh. Mereka pun bungkam tak membahas hal itu bahkan bi Nana pun dian tak berkutik, bingung pada majikannya itu. Mengapa mereka tak memperkenalkan Calysta juga*.


......................


Sejak saat itu aku pun sadar bahwa non Calysta tidak di pedulikan sama sekali oleh majikan nya, bahkan sejak lahir oleh karena itu Calysta di titipkan pada nya.


Aku berjanji akan selalu menyayangi dan mendukung non Calysta, dan membuat nya selalu bahagia.


Tapi aku tahu akhir-akhir ini non Calysta selalu sedih karena keluarga nya terutama mommy nya tidak suka padanya bahkan memasang ekspresi tak bersahabat ketika berjumpa.


Padahal non Calysta sangat pintar bahkan bisa di katakan jenius, sayang sekali tidak ada yang mengetahui nya selain aku dan suami ku, Dandy. Non Calysta pun menyuruh kami agar tetap diam.


Ya ampun anak usia 4 tahun harus menjalani kehidupan yang tidak adil. Bahkan aku belum pernah mendengar nya menangis sedari bayi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**Terima kasih sudah membaca🙏💕


SALAM PERTEMANAN😊**