The Cruel Life Of The Callysta

The Cruel Life Of The Callysta
Rencana Licik Myeisha



Selamat membaca🔥


Pagi hari yang cerah Calysta berjalan di sekitar taman belakang rumah. Di belakang nya ada bibi yang mengikuti sambil membawa kotak yang besar. Ia berhenti di sebuah bangku panjang, di samping nya terdapat berbagai macam bunga yang tersusun rapi yang memancarkan aroma yang harum menenangkan.


Calysta duduk dan bibi langsung meletakkan sebuah kotak besar hadiah ulang tahun pemberian dari kakek nya di atas meja yang ada di sana. Memang hanya kakek nya itulah yang selalu perhatian dan mendukung Calysta.


"Bibi tolong bantu bukain dong, Calysta gak bisa. Besar banget." Dengan sopan Calysta meminta tolong pada bibi. "Baik non, sini bibi bantu bukain."


Ia kemudian membuka kotak itu...


"Wah... Cantik sekali! inikan mainan yang Calysta ingin. Grandpa memang yang terbaik!" Ucapnya senang ketika mengetahui bahwa isi nya adalah boneka barbie model terbaru lengkap dengan pakaian, aksesoris, dan rumah barbie yang mewah dan besar.


"Non bibi tinggal yah soal nya bibi masih ada kerjaan. Non Calysta mainin dulu hadiah nya, nanti bibi datang lagi bawain non makanan yah. Mau makan apa?"


"Iya bi, gak papa. Calysta mau makan nasi goreng telur sama ayam yah bi..." Ucap nya sambil tersenyum menampakkan giginya yang mungil.


"Oke non. Bibi tinggal yah."


......................


Sepeninggal nya bibi, Calysta kini asik bermain sendiri dengan mainan baru nya. Ia sangat bersemangat mengatur dengan penuh kehati-hatian rumah baru untuk barbie nya itu.


Sementara itu di balkon lantai dua sepasang mata memperhatikan Calysta dengan tatapan benci dan iri sedari tadi. Ia adalah Myeisha saudara kembar nya, tetapi walupun kembar mereka tak terlihat mirip satu sama lain. Myeisha memiliki rambut yang sedikit pirang, mata berwarna biru terang, kulit putih, dan agak gendutan, perpaduan dari Bram dan Olivia. Sedangkan Calysta memiliki rambut berwarna perak, mata ungu yang besar, kulit putih, dan agak kurus, mirip dengan sang kakek.


Perbedaan inilah yang membuat mereka tidak seperti anak kembar terlebih ketika mereka semakin besar. Dan ini menjadi keuntungan bagi Olivia yang sejak bayi memang tak menyukai nya, sehingga orang luar tidak akan tahu jika Calysta adalah anak nya. Mereka hanya tahu bahwa Calysta adalah anak bi Nana yang merupakan pembantu di Mansion's Bramasta.


*ok kembali ke cerita*


Myeisha sangat benci pada Calysta entah karena apa, padahal Calysta tak pernah berbuat ulah bahkan sangat jarang berinteraksi dengan orang rumah selain para pelayan. Tapi Myeisha tidak menyukai itu, ia berpikir bahwa Calysta suka mencari perhatian semua orang.


Ia selalu berada di antara keluarganya dan tidak membiarkan mereka memikirkan Calysta ketika berkumpul bersama. Hal itu membuat mommy, daddy, kak Kenzo, dan grandma perlahan mulai melupakannya dan hanya peduli pada Myeisha bagai harta berharga.


Akan tetapi grandpa selalu menanyakan keadaan Calysta terlebih dahulu ketika berkunjung, bahkan sering kali memberi Calysta hadiah hanya karena dia lebih pintar dari nya. Kebencian Myeisha pada Calysta pun semakin menjadi, ia ingin semua orang hanya peduli pada nya termasuk Bi Nana yang merupakan ibu asuh Calysta.


Perlahan Myeisha pun tersenyum licik ketika memikirkan suatu rencana, entah apa yang di pikirkan otak kecil nya itu. Ia kemudian berlari keluar kamar mendekat ke arah Calysta sedang bermain.


Ia berhenti sejenak di depan pintu, lalu melihat ke sekeliling nya memastikan tidak ada seorangpun di dekat mereka. Kemudian berjalan dengan penuh angkuh mendekati Calysta.


"Hei! Lagi main apa?" Tanya nya basa basi


"Ah! Oh... Myeisha ini aku lagi hias rumah baru barbie aku." Calysta kaget dengan kedatangan kembarannya.


"Wah... inikan mainan yang baru, bagus sekali!"


"Ia dong... Hadiah ulang tahun dari grandpa pasti bagus-bagus. Oiya kamu di kasih hadiah apa sama grandpa?" Tanya Calysta penasaran pada kembaran nya, karena Myeisha sudah mempunyai banyak mainan di kamar nya.


"Emm... Grandpa hadiah gaun princess Elsa yang aku pakai waktu pesta ulang tahun kemarin." Mendengar hal itu Calysta mendadak murung dengan tatapan yang sulit diartikan.


Bohong jika dia tidak cemburu pada Myeisha yang ulang tahun nya selalu dirayakan padahal mereka itu kembar. Sedangkan Calysta merayakan nya hanya dengan Bibi, pak Dan dan grandpa walau sebentar saja hanya untuk memberi nya hadiah karena setelah itu ia akan berada di pesta Myeisha hingga akhir. Tetapi Calysta tetap bersyukur setidak nya masih ada yang peduli padanya.


"Wah pasti gaun nya sangat cantik." Ucap nya memuji.


"Ia dong aku kan memang cantik jadi harus pakai yang bagus dan mahal!" Balas Myeisha dengan nada sombongnya.


"Oiya kamu ada perlu apa nemuin Calysta?"


"Itu aku suka sama mainan itu, dari kemarin minta mommy beliin tapi gak dapet. Kamu kan sibuk sama koleksi buku-buku jelek mu pasti gak ada waktu buat main jadi itu buat aku aja!" Mintanya dengan semena-mena.


"Gak mau! Ini hadiah dari grandpa untuk Calysta."


"Ish ini punya aku, minta aja yang lain sama grandpa" Myeisha hendak mengambil paksa.


"Gak mau! Kamu kan sudah punya banyak mainan kok mau ambil punya Calysta" Tak mau kalah, Calysta memegang kuat mainan nya.


"Iihh pokok nya aku mau ini. Lepasin gak!"


Mereka pun tarik tambang ehh... maksudnya tarik menarik, tak ada yang mau mengalah. Myeisha terus menarik mainan itu, karena tidak hati-hati ia tak sengaja terlilit selang dan terjatuh mengenaskan dengan kepala yang membentur pinggiran pot bunga. Lengan dan kakinya sedikit tergores serta dahinya terdapat luka gores yang amat kecil namun mengeluarkan darah. Karena kesakitan Myeisha menangis dengan keras (maklum anak manja gak pernah terluka). Melihat itu Calysta bingung sekaligus senang karena mainannya tidak direbut.


......................


Mendengar suara gaduh dari halaman belakang sontak membuat Olivia yang sedang mencari Myeisha penasaran. Ia segera berlari mengecek apa yang terjadi, seketika pandangan nya berubah. Matanya mulai berapi ketika melihat putri kesayangan nya terduduk di atas rumput dalam keadaan kotor dan terluka. Dan kemarahan nya semakin membara melihat di dekat nya ada Calysta.


Sementara itu, Calysta yang tadinya senang kini takut karena kedatangan mommy nya. Ia tahu bahwa mommy nya itu sangat tidak menyukainya terlihat jelas dari sikap nya selama ini. Calysta hanya berdiri mematung tak tahu harus apa.


"Ya ampun... Myeisha!! Siapa yang lakukan ini nak?"


"Hiks, hiks... mommy. Aku mau ambil mainan itu tapi gak di kasih sama Calysta, hiks dia marah terus dorong aku. Hiks sakit mommy!" Tuduh Myeisha dengan sikap manja nya.


Mendengar itu, Calysta membulatkan mata tak percaya apa yang dia dengar. Myeisha berbohong, tapi apa mommy nya akan percaya Calysta.


"APA?! Keterlaluan. Bi Nana sini bik!" Teriak Olivia dengan amarah. Bibi pun datang dengan tergesa-gesa.


"Iya nyonya. Ada apa?"


"Liat ini dia dorong Myeisha sampai terluka! Kamu ajarin apa sama dia sampai jadi kasar kayak gini?!" Marah Olivia sambil menunjuk Calysta yang sudah gemetar ketakutan.


"Tapi nyonya..." Hendak menjawab Olivia memotong perkataan bi Nana. "Halah gak usah kamu bela dia. Sekarang kamu bawa Myeisha ke kamar nya, obati dia atau gaji kamu saya potong."


"Myeisha sayang kamu sama bibi dulu yah, nanti mommy nyusul setelah beri pelajaran anak kurang ajar itu." Kata nya dengan lembut.


"Iya mommy" Sesaat Myeisha melihat Calysta dan tersenyum licik penuh kemenangan "Rasain lo", tak ada yang menyadarinya selain Calysta.


Segera setelah mereka pergi Olivia berdiri dan berjalan ke arah Calysta dengan tatapan yang berbeda.


"PLAK " tamparan keras dari Olivia mendapat sempurna di pipi kanan Calysta. Seketika tubuhnya yang kecil terhuyung ke samping menabrak meja. Tak sampai di situ Olivia dengan ganas segera mencengkram kedua lengan Calysta dengan kuat membuat gadis kecil itu menangis kesakitan dan takut.


"KAMU APAKAN ANAKKU HAH?!" Tanya Olivia sambil mengguncang badan mungil itu hingga beberapa kali punggungnya membentur sudut meja dengan keras. Calysta pun meringis kesakitan.


"TERUS KALAU BUKAN SIAPA?! HAH! KAMU PIKIR AKU BUTA, CUMAN KALIAN BERDUA DI SINI!"


"Ngak mommy, bukan Calysta. Tadi Myeisha mau rampas mainan Calysta terus jatuh sendiri..." Ucapnya berusaha membela diri.


"KAMU PIKIR AKU PERCAYA SAMA KAMU. KARENA MAINAN INI KAN ANAKKU TERLUKA. KAU MYEISHA GAK DAPAT KAMU JANGAN HARAP BISA MILIKIN ITU. NGERTI KAMU!!" Olivia melemparkan hadiah Calysta hingga rusak.


"Tapi mommy..."


"GAK USAH TAPI-TAPI DAN JANGAN PANGGIL SAYA MOMMY, SAYA GAK SUDI JADI MOMMY KAMU YANG KASAR INI. INGAT! KAMU ITU HARUSNYA BERSYUKUR HIDUP DI KELUARGA KAYA JADI KAMU JANGAN MACAM-MACAM!"


"PLAK" Sekali lagi Olivia menampar pipi kiri Calysta. Ia juga mendorong dengan keras tubuh kecil Calysta, kepalanya terbentur dan terdapat luka lebar yang berdarah pada dahinya. Tak sampai di situ Olivia lalu mengambil selang air dan menghantam Calysta dengan membabi buta melampiaskan kemarahnnya walaupun tidak akan berkurang sedikit pun.


Air mata Calysta pun tak terbendung lagi ia menangis tanpa suara karena rasa sakit yang sampai ke daging hingga tulangnya dan hampir membuat nya kehilangan kesadaran tapi Calysta masih berusaha menahan dengan menggigit bibir nya sendiri agar tetap sadar.


Setelah beberapa menit Olivia mengakhiri tindakannya dengan membuang selang itu pada Calysta,dan berjalan pergi tanpa rasa bersalah.


"INGAT. JANGAN PERNAH MENGADUH ATAU KAMU AKAN DAPAT YANG LEBIH DARI INI!!" Ancam nya lalu pergi melihat keadaan Myeisha.


Untungnya di rumah Bram sedang kerja di perusahaan dan Kenzo pergi ke sekolah sehingga membuat nya bisa berbuat sesuka hati. Dan sedari tadi Myeisha melihat dengan bahagia bagaimana mommy nya menyiksa Calysta.


......................


Calysta kini perlahan bangkit dengan susah payah menahan sakit. Pelayan rumah nya pun datang membantu anak majikannya itu. Sebenarnya mereka melihat kejadian mengenaskan itu namun tak bisa berbuat apa-apa, mereka takut pada majikannya itu.


"Terima kasih" Ucapnya dengan senyuman


"Ya ampun... Non Calysta maafin bibi gak becus jagain non..." bi Nana yang baru datang dengan nafas terengah karena mendengar Calysta di hukum oleh Olivia. Ia menangis ketika melihat kondisi Calysta, wajah yang bengkak dan merah akibat tamparan, seluruh tubuh nya pun terluka penuh goresan dan mengeluarkan banyak darah. Dalam kondisi yang mengenaskan itupun orang dewasa akan pingsan karenanya, namun Calysta tak menangis bahkan masih bisa tersenyum dan berterima kasih pada mereka. Siapaun yang melihat nya pasti tidak akan tahan untuk tidak menangis.


"Calysta gak papa bi, tapi hadiah dari kakek rusak. Bibi tolong bantu kumpulin dong, nanti bawa ke kamar Calysta jangan di buang yah" Dengan susah payah Calysta bicara karena sudut bibir nya juga terluka. Tapi tetap tersenyum.


"Iya non jangan khawatir nanti bibi bawain"


"Iya non. Non Calysta jangan bicara dan gerak dulu pasti sakit" Kata Maya, salah satu pelayan di sana.


"Nining kamu tolong bantu Maya bawa non Calysta ke kamar nya yah. Santi bantu kakak kumpulin mainan nya."


"Iya kak!!" Kata Nining, Maya dan Santi bersamaan. Semua pelayan di mansion itu memang lebih muda dari Bi Nana dan suaminya Dandy jadi mereka di panggil kakak.


Mereka pun mulai bergerak melakukan tugas masing-masing. Nining menggendong Calysta dan segera pergi bersama Maya. Tak ada yang melihat mereka karena tangga itu terletak di ujung dan hanya di pakai pelayan dan Calysta naik turun. Sedangkan anggota keluarga memakai lift yang terletak di tengah ruangan jauh dari tangga itu.


Setelah sampai di kamar Maya langsung mengambil kotak p3k yang ada di kamar dan Nining menidurkan tubuh Calysta yang penuh darah di kasur lalu membuka pakaian nya dengan perlahan. Mereka berdua mengobati seluruh tubuh nona nya itu dengan penuh kehati-hatian.


Setelah selesai mereka memindahkan tubuh Calysta yang penuh perban ke tempat yang bersih si kamar itu. Kemudian melepas seprai dan mengambil pakaian Calysta yang penuh darah lalu segera mencuci nya. Setelah di ganti mereka kembali menidurkan Calysta di kasur dan menyalakan aromaterapi agar nona mereka bisa tidur nyenyak. Mereka pun keluar dengan diam-diam dan kembali bekerja.


Sementara itu di halaman belakang Santi memungut potongan mainan yang berserakan dan bi Nana membersihkan noda darah di tempat Calysta terluka hingga bersih tak berbekas.


"Sudah belum Santi?"


"Iya kak"


"Yaudah ayo kita bawa ke kamar non Calysta"


Mereka bergegas ke kamar Calysta. Ketika hendak meraih gagang pintu, tiba-tiba pintu terbuka oleh Nining dan Maya.


"Sstt non Calysta sedang tidur. Oiya kami juga sudah mengobati luka nya."


"Oke bagus sekarang kalian semua kembali bekerja nanti di marahin sama nyonya. Sini kotaknya biar kakak yang simpan."


"Iya kak" Jawab mereka bersamaan dan segera pergi karena takut di marahi oleh nyonya nya itu.


Bi Nana masuk perlahan dan meletakkan kotak itu di sudut ruangan, lalu berjalan perlahan ke arah Calysta. Ia duduk di samping kasur dan menatap sendu Calysta yang sudah di anggap putri oleh nya. Ia yang hanya ibu angkat tak tega melihat nya seperti ini, sungguh kejam nyonya nya sampai rela. melukai anak kandungnya sendiri.


Selang beberapa menit ia pun bangkit dan mencium kening Calysta lalu pergi dari kamar itu membiarkan Calysta tidur dengan nyenyak.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Btw ada yang nangis baca episode ini gak? Komen di bawah yah... ⬇⬇⬇


**Terima kasih sudah membaca🙏💕


SALAM PERTEMANAN😊**