
Selamat membaca🔥
Tengah malam di kamar seorang gadis yang masih tertidur pulas dengan damai. Mata besarnya perlahan terbuka menampilkan pupil mata nya yang berwarna ungu berusaha menyesuaikan cahaya lampu. Calysta memandang jam di dinding menunjukkan pukul 12.06 tengah malam dan termenung sejenak mengingat kejadian yang terjadi sebelum ia tidur sangat lama.
Hiisss.... ia mengerang perlahan merasakan sakit di sekujur tubuh nya. Calysta memaksakan diri menahan sakit untuk bangun dan bersandar di kepala ranjang dengan nafas terengah-engah. Lalu mengambil cermin yang berada di nakas samping tempat tidur nya, memandangi wajah nya yang pucat, kedua pipinya yang masih bengkak tapi tidak separah sebelum nya membuatnya terlihat chubby, dan sudut bibir yang terdapat bekas luka yang mengering.
"Aw... sakit" Perlahan Calysta mencoba membuka mulutnya lebar-lebar namun tak sanggup menahan lebih lama, sangat sakit di sudut bibirnya. Begitu pun pada tubuh nya sakit ketika ia mencoba bergerak banyak.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan mengalihkan perhatian Calysta. Masuklah bi Nana dengan membawa obat dan makanan untuk nya.
"Eh ternyata non sudah bangun, pas sekali bini bawain makanan pasti sudah lapar kan?"
Calysta tersenyum "Ia bi tau aja Calysta sudah lapar banget. Tapi Calysta mau ke toilet dulu mau buang air sama ganti baju, tolongin dong bi." Dengan nada manja ia meminta bantuan bi Nana.
"Iya sini bibi bantu. Oiya ganti perban dulu ya baru makan, nanti bibi suapin." Setelah meletakkan obat dan makanan di nakas segera membantu Calysta. "Oke bi."
Dengan perlahan dan hati-hati bi Nana membantu Calysta menuju toilet, kemudian kembali mendudukkan kasur. Bi Nana segera menyiapkan perban dan obat-obatan lalu mengobati dan memganti perban Calysta dengan lembut. Setelah itu Calysta kembali di sandarkan di kepala ranjang dan membersihkan bekas perban, lalu mengambil makanan.
"Sudah! Sekarang ayo makan. AAA." Dengan lahap Calysta memakan suapan demi suapan dari bibi hingga habis tak bersisa.
"Wah Calysta kenyang sekali!! Masakan bini memang terbaik, hehehe..." Puji nya dengan mengangkat dua jempol mungilnya pada bi Nana.
"Terima kasih. Yaudah bibi tinggal yah, non istirahat lagi supaya cepat sembuh."
"Jangan pergi... Calysta maunya tidur sama bibi." Segera Calysta berbaring dan menepuk kasur samping nya. Bi Nana tersenyum dan mengangguk mengiyakan kemudian tidur si samping Calysta. Bi Nana mencium keningnya lembut kemudian mereka tidur sambil berpelukan.
......................
04.00 a.m
Pagi hari bibi terbangun melihat wajah damai Calysta yang sedang tertidur. Lalu perlahan melepaskan pelukan tangan Calysta dan dengan perlahan melangkah keluar kamar menuju kamar tidurnya yang ada di lantai bawah dekat dapur bersama pelayan yang lain nya.
Setelah membersihkan diri bi Nana dan pelayan yang lain kemudian melakukan pekerjaan mereka membersihkan dan memasak sarapan bagi keluarga majikannya.
Jam menunjukkan pukul 06.30 a.m, Bram keluar dari lift dengan setelan kerja yang rapih dan langsung menuju ruang makan. Tak lama kemudian Olivia datang bersama Kenzo dengan seragam sekolahnya dan Myeisha. Mereka segera duduk di kursi masing-masing.
"Nah... semua sudah datang. Ayo makan!" Kata Olivia.
"Oiya bi Nana... Calysta mana kok belum turun, biasanya kan dia yang paling awal." Tanya Bram pada Bi Nana yang melewatinya. Mendengar perkataan Bram membuat Olivia jadi cemberut karena di abaikan.
"Itu tuan, emm non Calysta nya lagi sakit jadi gak bisa turun." Jawab nya ragu. Seketika wajah Olivia dan Myeisha tersenyum kemenangan. Sedangkan Kenzo yang memperhatikan sedari tadi menjadi bingung mengapa mereka tiba-tiba tersenyum.
"Ooh lagi sakit, biarlah dia istirahat dulu kalau perlu nanti saya kirimkan uang untuk beli obat nya." Ucap Bram dengan santai. "Iya tuan."
"Sudah-sudah ayo makan nanti kalian terlambat."
Mereka berempat pun makan dengan nikmat. Setelah itu Bram pergi mengantarkan Kenzo ke sekolah kemudian baru pergi ke perusahaan nya. Sementara itu Olivia dan Myeisha juga bersiap untuk pergi ke butik milik nya mengecek keadaan di sana, kemudian mereka pergi ke salon dan belanja semaunya di mall ternama. (sultan mah bebas🐒)
......................
Knock knock knock
Suara ketukan pintu membuat Calysta yang sedang membaca sebuah buku mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar. "Siapa?"
"Ini bibi non." Jawab nya yang ternyata bi Nana.
"Oh... Masuk aja bi." Setelah di persilahkan bi Nana pun masuk dengan membawa makanan dan obat untuk nya.
"Ini non bibi bawain bubur ayam sama obat. Non Calysta sudah baikan atau masih sakit?"
"Calysta sudah baikan gak sakit lagi, yang pastinya karena bibi dong yang jagain." Ucap Calysta nakal sambil menaikturunkan alis nya.
"Iihh kamu ini bisa aja, bibi kan jadi malu non." Seketika Calysta tertawa mendengar jawaban bi Nana.
"Oiya bi, Calysta mau makan sendiri aja supaya badan nya Calysta bisa gerak dan cepat sembuhnya." Calysta di bantu bi Nana dengan perlahan menuju meja belajar dan segera makan nya dengan lahap.
Sambil menunggu Calysta selesai makan, Bi Nana membersihkan kamar nya tak lupa ia mengganti seprai dengan yang baru agar anak angkat nya itu merasa nyaman ketika tidur.
"Calysta sudah selesai bi."
"Sini bibi bawa, non Calysta istirahat aja dulu di kamar nanti makan siang bibi ke sini lagi. Bibi mau ke swalayan dulu, mau nitip apa?."
"Seperti biasa ya bi yang banyak, hehe." Bibi pun mengangguk mengerti yang diinginkan Calysta, ketika bibi pergi berbelanja pasti tak lupa untuk membeli beberapa snack, kue, susu, dan icecream yang banyak serta barang kebutuhan Calysta sehari-hari di kamar nya. lalu Bi Nana berjalan keluar kamar bersiap untuk pergi diantar Maya pakai motor.
......................
Setelah bibi pergi, Calysta termenung memperhatikan kamar nya yang sudah bersih dan rapi. Kamar Calysta memang tergolong sangat besar bahkan dua kamar lebih besar dari kamar lain di mansion itu. Kamar yang khusus di design oleh grandpa setelah mengetahui bahwa cucu nya tinggal di lantai 3 yang jarang di kunjungi. Kamar itu di renovasi agar membuat Calysta nyaman tinggal di sana, yang awal nya sangat luas bagi seorang bayi kini terlihat lebih baik dengan di penuhi barang-barang yang di lerlukan Calysta semakin bertumbuh nya dia.
Tidak ada yang tahu di dalam kamar itu terdapat ruang rahasia, Calysta pun tahu ketika diberitahu grandpa pada ulang tahunnya yang ke-3. Yang ia tempati sekarang adalah kamar biasa seperti kamar lain di mansion itu, terdapat ranjang, meja kecil samping ranjang, lemari yang besar, meja belajar lengkap dengan buku-buku dan alat tulis serta handphone, dan notebook yang pastinya paling mahal dilengkapi fitur-fitur canggih karena Calysta suka belajar dan punya keingintahuan yang tinggi sejak kecil sehingga grandpa nya membelikannya dengan senang hati dan tidak ada yang tahu kecuali bi Nana.
Terdapat pula toilet dengan bathtub dan walk in closet di depannya. Di samping meja belajar ada beberapa rak yang penuh dengan berbagai macam buku entah itu buku pengetahuan, cerpen, novel, komik, dan buku pelajaran sekolah pun Calysta pelajari di usia nya yang masih sangat muda bahkan ada juga buku soal dari berbagai tingkat di rak itu. Ada juga beberapa permainan yang biasa di mainkan Calysta bersama bibi.
Sekilas orang lain yang melihat itu hanya rak biasa, namun kecuali dirinya, bi Nana, dan grandpa yang men designnya tak ada yang tahu sesuatu di balik tembok dibelakang rak itu. Ya... itu memang bukan hanya sekedar rak biasa. Di salah satu kotak terdapat sebuah scan telapak tangan yang tersembunyi untuk membuka akses ke dalam ruangan dan hanya Calysta yang mengetahui nya.
Calysta berdiri dan berjalan perlahan mendekati rak buku lalu meletakkan tangan kanannya di salah satu rak dan pintu otomatis pun terbuka. Perlahan Calysta masuk ke dalam ruangan itu dan pintu kembali tertutup rapat.
Ruangan dengan perpaduan warna ungu, biru, da putih itu sedikit lebih besar dari kamar nya terdapat TV dan sofa besar di tengah ruangan. Di sebelah kiri di letakkan beberapa barang elektronik seperti kursi, meja panjng dengan dua layar komputer canggih, speaker kecil, bahkan ada kursi gaming Predator Thronos (dapat dari Google namanya😅) karena Calysta sangat suka bermain game. Di dekat meja ada lemari yang berisi berbagai cd game (apalah itu, author gak terlalu paham tentang game🙏🏻), beberapa chip dan robot rakitannya nya.
Sementara itu di sebelah kanan Calysta menyimpan dan menyusun berbagai makanan dan minuman instan juga ada alat masak mini portabel sehingga memudahkan Calysta jika ingin makan di ruangan itu. Calysta memang pintar memasak karena sering membantu bi Nana di dapur jadi dia tau banyak soal makanan. Dan di belakang sofa terdapat keyboard, dan gitar.
Ruangan itu kedap suara jadi apapun yang di lakukan Calysta tidak akan di ketahui orang diluar. Dan pastinya semua fasilitas mewah di ruangan itu adalah pemberian dari grandpa secara khusus dan rahasia, tentunya ketika "mereka" sedang di luar. Sungguh membuat orang iri, seorang anak yang baru berusia 4 tahun sedah punya barang-barang yang bahkan beberapa orang dewasa belum tentu bisa mengerti.
Calysta di sambut oleh robot permbersih yang selalu menemani nya di ruangan itu. Ia tersenyum kemudian berjalan ke arah kursi gaming dan mulai larut dalam pertempuran yang pastinya selalu dia menangkan. Calysta sudah bermain sejak umur 3 tahun hanya karena penasaran dan menggunakan username C•̀CMe. Itu terus berlanjut hingga sekarang dan ia tak pernah kalah sekalipun. Dan juga Calysta mendapatkan penghasilan pertama nya dari bermain game, grandpa nya yang membantunya membuatkan akun.
Calysta bilang ingin menabung untuk masa depannya nanti, padahal semua anggota keluarga Bramasta mempunyai black card termasuk dirinya dan juga grandpa nya, Arsyawinata yang memerikan Calysta black card hanya untuknya saja secara rahasia. Entah kenapa Calysta merasa gelisah mungkin saja kejadian tak terduga lainnya akan terus datang padanya, jadi dia belajar lebih giat dan mempersiapkan segala sesuatunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mohon dukungannya🔥
**Terima kasih sudah membaca🙏💕
SALAM PERTEMANAN😊**