The Cruel Life Of The Callysta

The Cruel Life Of The Callysta
Peringatan Awal



Selamat membaca 🔥


Pagi ini Calysta tiba di sekolah lebih awal karena ingin mendiskusikan sesuatu dengan Damian, tetapi saat tiba di kelas dalam keadaan kosong berarti Damian terlambat. Karena bosan di kelas yang kosong Calysta berjalan keluar melihat-lihat lingkungan sekolahnya.


Tak terasa Calysta berjalan hingga ke taman belakang sekolah yang cukup sepi, di taman itu banyak tumbuh bunga-bunga yang cantik. Calysta mendekat karena tertarik dengan bunga-bunga itu.


Karena terlalu fokus pada bunga-bunga di depannya Calysta tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikan nya dari balik tembok di belakang Calysta.


Seseorang itu lalu berjalan mendekati Calysta sambil mengawasi sekeliling takutnya ada orang lain selain mereka.


"Hai, Calysta." Ucapnya sambil tersenyum manis.


Mendengar sapaan itu, Calysta menoleh dan seketika keningnya berkerut melihat Isabel yang berdiri di belakangnya.


"Isabel?! Apa yang kamu lakukan disini dan juga kenapa kamu datang sangat awal?"


"Emm aku hanya ingin datang lebih awal saja memang nya tidak boleh?" Isabel menyeringai.


"Aku tidak peduli kamu datang awal atau tidak, tapi mengapa kamu disini bahkan masih memakai tas mu? Apa kamu sedang mencari ku?" Ucap Calysta yang mengetahui tingkah mencurigakan dari Isabel.


"Tentu saja aku mencari mu. Aku ingin mengucapkan selamat secara khusus padamu Calysta."


"Kamu kan bisa melakukannya di kelas nanti, kenapa menyusul ku ke tempat sepi ini?"


"Itulah istimewanya... Karena ini sangat spesial untuk mu temanku." Isabel lalu berjalan mendekati Calysta dengan seringai menakutkan.


Tanpa aba-aba Isabel lalu mendorong tubuh Calysta hingga jatuh di atas rerumputan hijau. Isabel berjongkok dan menarik rambut Calysta dengan keras hingga kepalanya mendongak ke atas.


"Teman ku tersayang selamat karena sudah menjadi perwakilan sekolah dengan Damian. Oiya aku penasaran cara seperti apa yang kamu lakukan pada Damian hingga bisa bersamanya? Beritahu lah aku juga, kita kan teman Calysta. hm?!" Isabel lalu menambah kekuatan tarikannya hingga Calysta meringis kesakitan.


"Hiisshhh... Hentikan Isabel, kalau kamu penasaran bertanya lah pada kepala sekolah karena aku dan Damian di pilih langsung oleh nya." Ucap Calysta sambil berusaha melepaskan tangan Isabel.


"Heh, kamu pikir aku akan percaya? Kamu itu hanya orang miskin yang bodoh, kenapa bisa kepala sekolah lebih memilih mu daripada aku. Dan juga kamu tidak pantas menyebut nama Damianku, dasar jalang!"


"Kamu bahkan lebih tidak pantas dengan Damian, bahkan semua usaha mu untuk mendekati nya bahkan tidak berguna. Tidak semua hal di dunia ini bisa kamu dapatkan Isabel."


"Dengar yah! Apapun yang aku inginkan harus ku dapatkan, termasuk Damian ku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalanku termasuk dirimu jalang! Bahkan jika aku tidak bisa memiliki nya maka orang lain pun tidak akan bisa." Ucap Isabel yang emosi nya meluap mendengar perkataan Calysta.


Isabel melepaskan tarikan pada rambut Calysta, kemudian menginjak perutnya dan menendang punggung Calysta dengan keras hingga badan nya melengkung. Calysta yang mendapat serangan tiba-tiba itu hanya bisa menahan sakit.


Calysta melihat Isabel membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah benda yang membuat Calysta membulatkan matanya. Benda itu adalah sebuah pisau lipat, Isabel menggenggam nya dan sambil menyeringai melihat ke arah Calysta yang terkejut. Ia perlahan mendekati Calysta yang mencoba mundur dengan menyeret tubuh nya sembari menahan sakit.


"Mau lari kemana Calysta sayang, emm? Aku ingin memperlihatkan padamu mainan yang baru saja aku beli. Gimana, baguskan?!"


"Kamu jangan gila Isabel! Apa salah ku? Aku bahkan tidak pernah bermasalah dengan mu." Ucap Calysta berusaha menghentikan sikap gila Isabel.


Namun Isabel yang keras kepala tak mengindahkan ucapan Calysta, ia lalu menendang keras perut Calysta hingga gadis itu kembali meringkuk memegangi perut nya yang terasa nyeri.


Melihat kesakitan Calysta membuat Isabel tersenyum penuh arti lalu ia berjongkok dan menarik paksa tangan kiri Calysta kemudian memainkan pisau nya di atas lengan Calysta.


Calysta merinding merasakan dingin nya pisau itu saat menyentuh kulit putih nya. Tanpa aba-aba Isabel menyayat lengan Calysta membentuk enam goresan vertikal. Darah segar mulai merembes keluar memenuhi lengan Calysta, Calysta berusaha menahan tangis ketika merasakan sakit yang amat sangat pada lengan nya ketika Isabel kembali menggores nya kemudian Isabel menuangkan air garam di atas karya seni yang baru saja ia buat.


Karena sudah tak kuat menahan rasa sakit nya, Calysta berteriak tertahan dan itu membuat Isabel tersenyum puas penuh kemenangan. Setelah puas dengan kegiatan nya Isabel lalu menyimpan pisau nya di dalam kantong kresek lalu menyimpan nya kembali dalam tas lalu melenggang pergi meninggalkan Calysta yang masih meringkuk kesakitan. Tetapi sebelum pergi ia mendekat dan...


"Ini hanya sekedar permulaan, jika kamu masih berani mendekati Damian ku maka tunggulah akibat yang lebih parah dari ini." Ancam Isabel lalu menendang kaki Calysta sebagai penutupan dan pergi dengan tertawa.


......................


Setelah kepergian Isabel, Calysta berusaha untuk berdiri dan berjalan kearah WC yang ada di samping taman lalu membersihkan darah di lengan nya kemudian mengisi ember yang ada dalam WC dan menyiram rerumputan yang terkena darah seperti semula.


Kemudian Calysta pergi menuju UKS di samping WC untuk membalut lukanya. Karena tempatnya yang terpencil sehingga jarang ada orang yang datang ke sana dan penjaga nya akan datang pada jam 8.15.


Calysta bergegas masuk dan mengambil kotak p3k dan menyembuhkan diri sendiri, setelah itu ia memakai sweater nya untuk menutupi perbannya. Kemudian Calysta berlari menuju ruang kepala sekolah karena waktu tinggal 5 menit sebelum bel berbunyi dan pastinya Damian juga sudah berada di sana.


Dan benar saja, ketika sampai Calysta melihat Damian yang tengah fokus menatap layar iPad nya. Jika diperhatikan dengan seksama Damian memang sangat tampan bahkan lebih tampan dari Brian dan Kenzo. Pantas saja jika Isabel begitu mendamba bahkan obsesi pada Damian, memikirkan nya saja membuat Calysta ngeri mengingat perilaku Isabel terhadap dirinya tadi.


"Mau sampai kapan kamu berdiri di situ liatin aku?"


Calysta terkejut mendengar pertanyaan Damian seketika itu ia sadar telah menatap nya dari tadi. Calysta tidak heran dengan Damian yang berbicara panjang lebar dengan nya, karena akhir-akhir ini Damian memang sering berbincang hanya dengan Calysta.


Calysta segera masuk dan duduk di sebelah Damian, mereka menunggu kepala sekolah datang. Mulai hari ini mereka akan terus berada di ruangan kepala sekolah hingga satu bulan kedepan. Mereka tetaplah hadir meski tidak mengikuti pembelajaran harian.


"Oh... aku tadi bosan sendirian di sini jadi pergi keluar jalan-jalan. Kok kamu hari ini bisa telat?"


"Kesiangan."


Calysta hanya bisa menghembuskan nafas mendengar jawaban yang begitu singkat dari Damian. Ungtung saja dia sudah kebal dengan sikap cuek + dingin nya.


Detik berikutnya mereka fokus pada kegiatan masing-masing hingga tak sadar Calysta mulai tertidur karena kelelahan dan juga nyeri di lengan kiri nya. Damian yang merasa tidak ada pergerakan di sampingnya kemudian menoleh dan melihat Calysta yang tidur bersandar.


Tanpa sadar Damian terus memperhatikan wajah Calysta yang tertidur pulas, "sangat cantik" Damian tersenyum sambil terus menatap wajah Calysta.


Damian merasa ada sebuah perasaan yang aneh semenjak bertemu dengan Calysta, anak yang energik, polos, dan jenius di antara jenius. Membuat nya nyaman dan ingin terus berbincang dengan Calysta, tapi Damian tidak merasa begitu pada orang lain terlebih perempuan kecuali ibu dan tante nya dan sekarang Calysta masuk kedalam pengecualian.


Damian lalu memotret Calysta yang sedang tertidur untuk di jadikan kenangan-kenangan, pikirnya. Setelah cukup ia kemudian kembali fokus pada materi dan sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara berisik, membiarkan Calysta tidur nyenyak tanpa gangguan.


Jam 08.00 tepat Ani datang dengan membawa beberapa kertas juga makanan dan minuman. Ketika masuk ia dikejutkan dengan Damian yang memberi kode agar tidak bersuara. Ternyata Calysta sedang tertidur pulas di samping nya, dan Ani pun mengerti maksud dari Damian tadi. Ia perlahan menuju kearah mereka dan menyimpan barang bawaan nya dengan perlahan.


Ketika ingin duduk di kursi depan mereka, tiba-tiba Calysta terbangun dan membuat Ani kaget karenanya.


"Eh Calysta sudah bangun. Ibu tidak menggangu tidur kamu kan sayang?" Tanya Ani pada Calysta yang masih mengumpulkan nyawa.


"Iya Bu, tidak apa-apa. Calysta cuma kecapekan aja jadi tidur sebentar. Hehe."


"Kamu jangan sering begadang, jangan sampai kelelahan nanti gak bisa fokus saat lomba. Oiya kamu lapar tidak, biasanya orang habis bangun perutnya minta diisi".


"Hehe, iya Bu. Calysta sedikit lapar" Ucap Calysta malu kemudian menoleh ke arah Damian yang tidak mengalihkan pandangannya dari layar.


"Ini ibu ada bawa banyak makanan untuk kalian, Nana bilang kalau kamu makannya banyak apalagi kalau abis belajar." Ucap Ani sambil membuka bungkusan berisi makanan. "Damian juga makan yah kasihan Calysta nya makan sendiri".


Mendengar itu Damian langsung melihat kearah Ani kemudian menoleh ke arah Calysta yang mengangguk padanya. Ia lalu meletakkan iPad nya dan makan bersama Calysta, sedangkan Ani memotret mereka berdua dan mengirimkannya pada Jessica juga Nana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya🔥


**Terima kasih sudah membaca🙏💕


SALAM PERTEMANAN😊**