The Cruel Life Of The Callysta

The Cruel Life Of The Callysta
Sekolah Baru



Selamat membaca 🔥


2 tahun kemudian...


Pagi hari di sebuah kamar bernuansa ungu seorang anak perempuan yang masih terlelap di bangunkan oleh suara alarm yang menunjukkan pukul 5 pagi. Ia segera bangun dan duduk termenung sambil mengumpulkan kesadaran.


Setelah sadar sepenuhnya ia segera masuk ke kamar mandi kemudian berpakaian seragam sekolah berwarna kuning dengan sepatu sneaker warna putih. Ia tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin, sangat bersemangat.


Gadis itu adalah Calysta. Ia kini tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah untuk pertama kalinya. Yah, hari ini adalah hari dimana ia akan memulai aktivitas baru, bertemu teman-teman baru, dan pastinya akan di temani oleh bi Nana.


*knock knock knock*


Mendengar ketukan pintu Calysta segera membuka pintu dan mempersilahkan bi Nana untuk masuk. Calysta sudah tau bahwa itu adalah bibi karena bibi yang akan membantu Calysta bersiap.


"Eh ternyata sudah bangun? Bibi kira masih tidur."


"Iya dong Calysta kan rajin jadi harus bangun lebih awal." Calysta tersenyum memperhatikan deretan gigi nya yang putih dan kecil.


"Iya deh, Calysta memang anak yang rajin dan pandai." Ucap bi Nana sambil mengelus sayang kepala Calysta. "Sini bibi ikatkan rambut nya." Sambung nya.


Kemudian bi Nana membawa Calysta menuju meja belajar. Di atas meja memang ada cermin berukuran sedang, awal nya memang berfungsi sebagai meja rias namun Calysta tidak menyukai hal-hal seperti itu jadilah meja itu di jadikan meja belajar untuknya.


Bi Nana dengan telaten dan hati-hati merapikan rambut Calysta agar Calysta tidak kesakitan. Bi Nana membuat model ponytail dengan hiasan beberapa jepit rambut yang sederhana.


"Nah... sekarang sudah lebih cantik." Ucap bi Nana.


"Ayo bi kita ke bawah, Calysta udah lapar nih." Ucap Calysta dengan semangat dan segera mengambil tas sekolah nya yang ada di kasur.


"Tidak ada yang ketinggalan kan? Buku, alat tulis sudah ada?"


"Ia bi, Calysta sudah mempersiapkan nya semalam sebelum tidur jadi gak ada yang kelupaan."


"Yaudah ayok kita ke bawah."


Mereka berdua berjalan beriringan menuju lantai bawah untuk sarapan. Sesampai nya di ruang makan Calysta segera duduk di kursi nya menunggu daddy, mommy, Kenzo dan Myeisha untuk makan bersama.


Sementara bi Nana kembali melakukan tugas nya menyiapkan sarapan bersama teman yang lain. Calysta ingin membantu tetapi di larang oleh bi Nana takutnya nanti seragamnya kotor. Selama 2 tahun ini Calysta sudah pandai memasak berbagai macam makanan.


Dan pastinya masakan pertama akan di cicipi oleh Bram dan Kenzo sesuai janji nya dulu. Tentu nya hal itu semakin membuat Olivia dan Myeisha membenci Calysta.


Setelah beberapa saat semua orang sudah datang satu persatu dan mereka pun memulai sarapan bersama. Calysta selesai makan dengan cepat karena tidak ingin dirinya terlambat di hari pertama sekolah.


"Calysta sudah selesai, terima kasih makanannya."


"Loh kok cepat sekali makannya?" Tanya Bram.


"Mm... Calysta gak mau terlambat hari pertama sekolah daddy, sekolah Calysta kan jauh dari sekolah kak Kenzo dan Myeisha jadi harus pergi lebih awal." Jawab Calysta sambil melirik pada Kenzo dan Myeisha.


"Oh iya daddy lupa, kamu sih milih sekolah jauh di luar kota. Kenapa tidak di sekolah yang sama dengan Myeisha?"


"Iya kamu sekolah nya jauh banget jadi kita gak bisa berangkat bareng deh." Kenzo cemberut karena memang dari awal ia ingin berangkat sekolah bersama dengan adik-adik nya.


Myeisha sekarang bersekolah di sekolah milik keluarga Bramasta "ArsyDaile Internasional" tempat Kenzo dulu, sedangkan Kenzo kini memasuki sekolah dasar yang jauh namun searah dengan sekolah nya dulu. Dan di sekolah itu Bram bisa menjamin keamanan anak-anak nya.


Tetapi lain halnya dengan Calysta, ia menyetujui Calysta memilih sekolah yang dekat pinggiran kota. Ia mempercayakan Calysta pada Nana untuk di jaga. Olivia yang awalnya khawatir pun menjadi ceria karena Calysta dan bi Nana memilih sekolah yang sangat jauh dari rumah.


"Tidak daddy, Calysta kan ada jadwal."


Bram hanya mengangguk. Sebenarnya ia lupa akan hal itu karena sibuk mengurus perusahaan dan beberapa permintaan dari Myeisha tentang sekolah yang harus di turuti.


Kenzo hanya diam setelah mendengar jawaban Calysta. Dengan setia ia memandangi Calysta dengan tatapan kecewa hingga Calysta dan Bi Nana pergi. Sungguh Kenzo sangat ingin bersama dengan adiknya yang satu itu, namu. Calysta sangat sibuk dengan berbagai kegiatan beberapa tahun terakhir.


Sebenarnya Calysta memilih sekolah yang jauh karena ingin menghindari Myeisha. Ia tentu tahu jika bersama Myeisha pasti keseharian nya tidak akan damai. Juga karena agar ia lebih sering berkunjung ke mansion nya untuk latihan.


Sekolah daddy nya memang sekolah bergengsi di kota itu, tentunya biaya sekolah juga akan mahal. Dengan identitas nya yang seorang anak pembantu akan menjadi bahan ocehan orang dan Calysta tidak ingin di pandang rendah.


Calysta saat ini berada di dalam kereta bawah tanah, ia dan Bi Nana di antar hanya sampai stasiun kereta. Calysta tidak ingin menggunakan mobil daddy nya kerena terlalu mencolok jadi bibi menawarkan untuk naik kereta, itung-itung tambah pengalaman.


Calysta duduk tenang di dekat jendela menikmati perjalanan mereka. Hari ini sangat cerah bahkan matahari muncul lebih awal. Perlahan sinar matahari mulai bersinar terang memantul dari kaca jendela mengenai tubuh Calysta.


Kulit Calysta yang putih bagaikan salju tampak bersinar karena disinari cahaya matahari di dukung pula dengan seragamnya yang kuning terang. Calysta segera membuka tas dan mengeluarkan jaket bertudung warna hitam miliknya, lalu memakainya segera. Ia sudah memperkirakan hal ini jadi ia mempersiapkan nya semalam.


Bi Nana yang duduk di sampingnya tersenyum hangat, sangat bangga pada Calysta. Kulit Calysta sangat putih seputih salju jadi ketika terkena cahaya seakan bersinar, karena itulah saat keluar rumah Calysta akan memakai pakaian panjang walaupun cuaca panas sekalipun.


Selama perjalanan mereka bercerita dan membahas berbagai hal termasuk sekolah yang akan mereka datangi. Sekolah itu bernama "Kindergarten Skylight" merupakan salah satu sekolah yang terkenal karena murid-muridnya yang kebanyakan adalah anak orang berada. Namun biaya sekolah di sana sangat murah di banding sekolah bergengsi lainnya karena itulah Calysta memilih tempat itu.


Walaupun berada di dekat pinggiran kota namun sekolah itu terbilang luas dan memiliki fasilitas yang lengkap serta lingkungan yang dipenuhi pepohonan rimbun. Bi Nana mendaftarkan Calysta melalui temannya yang merupakan kepala sekolah di sana. Calysta mendaftar dengan identitas sebagai anak bi Nana karena ia ingin mencari teman yang tidak memandang status.


Namun tanpa di sadari nya hal itu justru membawa nya ke dalam bahaya yang mengerikan.


Apakah yang akan di hadapi Calysta?


Sanggupkah Calysta menjalani nya?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya🔥


**Terima kasih sudah membaca🙏💕


SALAM PERTEMANAN😊**