The Cruel Life Of The Callysta

The Cruel Life Of The Callysta
Bekerja Keras



Selamat membaca 🔥


Setelah makan Damian dan Calysta kembali fokus pada bimbingan. Calysta lalu mengeluarkan beberapa soal-soal yang sudah ia pilih dan kerjakan kemarin. Ia menyerahkan nya pada Damian untuk di pelajari kemudian mengambil beberapa berkas yang Ani bawa dan melihat nya. Sedangkan Ani meninggalkan mereka berdua dan duduk di meja kerjan nya karena ada beberapa urusan yang perlu ia kerjakan, Ani percaya pada mereka.


Damian yang melihat soal-soal yang di berikan Calysta menjadi kagum, bagaimana tidak? soal-soal itu ada puluhan dan masuk kategori sedang hingga sulit bagi kebanyakan orang bahkan Damian saja hanya mampu menyelesaikan beberapa saja.


Sedangkan Calysta bukan hanya menyelesaikan puluhan bahkan ia menjabarkan jawaban nya dengan rapi dan dengan cara yang sangat mudah dipahami, sehingga bisa langsung di mengerti oleh Damian. Ia menoleh kesamping dan melihat Calysta yang sangat serius menulis sesuatu.


"Sungguh anak yang luar biasa! Untuk lomba kuisnya pasti akan menang, selanjutnya tinggal merencanakan sesuatu yang unik dan menakjubkan untuk lomba berikut nya."


"Huh seperti nya anak-anak tidak membutuhkan bantuan ku. Lebih baik cepat selesaikan ini dan bergabung dengan mereka." Ucap Ani yang melihat Damian dan Calysta belajar dengan lancar tanpa kendala.


Tak terasa sudah dua jam lebih mereka berkutat dengan banyak hal, sangat melelahkan dan menguras otak juga tenaga. Bukan hal mudah untuk menyelesaikan soal dengan level rumit itu.


Calysta melihat lengannya karena merasa nyeri akibat terlalu lama menulis dan di tekan, untung nya lukanya tidak mengeluarkan darah jadi mereka tidak mengetahui nya.


Perut Calysta tiba-tiba berbunyi dan mengeluarkan suara yang cukup keras sehingga Ani dan Damian yang ada di sampingnya mendengar nya dengan jelas. Ia menundukkan kepalanya karena malu, sungguh memalukan padahal dua jam yang lalu ia sudah makan.


Sementara itu Ani tertawa melihat tingkah lucu Calysta yang menahan malu sedangkan Damian hanya bisa menahan tawa nya dan mengalihkan pandangan agar imagenya terjaga.


"Kalau kamu lapar lagi makanlah, apa perlu ibu pesankan makanan lagi?" Tanya Ani.


"Tidak perlu. Ini masih banyak Bu, Calysta makan ini saja."


Calysta lalu mengorek isi tas belanjaan dan mengeluarkan beberapa bungkus roti, kue dan susu untuk di makan. "Karena aku terluka jadi mudah lelah dan lapar, untung hanya mereka di sini."


"Oiya, sebentar lagi Nana dan Jessica akan tiba. Kalian kalau lelah istirahatlah dulu nanti lanjut lagi, jangan sampai sakit yah."


Damian dan Calysta mengangguk bersamaan. Tak lama kemudian mereka pun datang dan duduk bersama yang lain nya.


"Gimana belajarnya, ada yang susah gak?" Tanya Jessica.


"Tidak juga, semua soal-soal menguras otak tante. Ya kan Damian?" Ucap Calysta lalu menoleh ke arah Damian yang hanya mengangguk saja.


"Ish Damian sayang, kalau temannya tanya di jawab dong. Jangan cuek aja kamu, nanti di perlombaan harus banyak diskusi sama Calysta nya."


"Iya."


Huh... para wanita tua itu hanya bisa menghela nafas panjang, mereka hanya bisa berdoa agar Damian bisa berbicara lebih banyak.


......................


Hari demi hari telah berlalu dan perlombaan semakin dekat membuat Damian dan Calysta belajar dengan keras dan semaksimal mungkin. Mereka memperlajari banyak hal demi bisa menampilkan yang terbaik untuk sekolah.


Mereka telah menyiapkan sesuatu yang spesial dan unik hanya untuk perlombaan itu. Untuk lomba kuis matematika mereka telah mempelajari semua soal-soal dari tingkat rendah, menengah hingga sulit yang bahkan orang dewasa pun kewalahan mengerjakan nya.


Untuk lomba puisi, masing-masing dari mereka telah menyiapkan sebuah puisi karya sendiri yang sudah di nilai oleh ahli nya. Untuk lomba storytelling Damian akan menggunakan bahasa Inggris dan Jepang, sedangkan Calysta akan menggunakan bahasa China dan Prancis. Karena masing-masing cerita sudah di persiapkan oleh panitia lomba maka Damian dan Calysta hanya melatih pengucapan dan ekspresi wajah saja.


Sementara untuk lomba instrumen piano, sebenarnya Ani mengusulkan beberapa instrumen yang terkenal dan mudah di ikuti oleh Damian dan Calysta tetapi bi Nana dan Jessica berpikir bahwa pasti banyak dari sekolah lain yang menggunakan nya untuk lomba, jadi ia menyarankan agar mencari instrumen yang terbilang sulit untuk di latih karena ia percaya pada kemampuan mereka berdua.


Akan tetapi Damian dan Calysta tidak terlalu menyukai usul tersebut karena mereka sudah melihat daftar instrumen yang akan di pakai oleh perwakilan sekolah lain (Karena Calysta meng-hack data dan cctv sekolah mereka:p). Jadi mereka berdua bersikeras ingin membuat instrumen sendiri tentu saja dengan level yang lebih rumit lagi, karena tahun sebelumnya ada salah satu sekolah yang memainkan instrumen sendiri dan berhasil mendapatkan juara pertama.


Dan untuk lomba fashion show couple, setelah melihat persiapan sekolah lain mereka berpendapat ingin memakai tema tradisional fantasi karena hanya sedikit sekolah yang memakai tema tradisional dan itu pun sangat umum. Calysta sangat menyukai hal-hal yang berbau fantasi (efek keseringan baca komik) dan karena selama ini belum ada yang pernah menggunakan tema itu jadi nya ia mengusulkan pada Ani, bi Nana dan Jessica untuk memakai nya.


Mereka pun setuju dengan usul Calysta, kalau Damian tidak usah ditanya karena ia hanya mengikuti saja rencana Calysta. Untuk pakaian nya akan di rancang sendiri oleh Jessica karena ia adalah designer yang cukup populer dengan rancangan yang memuaskan. Ia merancang sesuai keinginan Calysta dan juga menambahkan beberapa detail agar terlihat sempurna.


Setelah itu hanya tinggal menunggu pakaian mereka selesai di buat saja. Sambil menunggu pakaian nya selesai, Damian dan Calysta di ajar cara berjalan layaknya model profesional oleh Ani dan bi Nana. Setiap satu jam sebelum pulang mereka akan di ajar berjalan di atas catwalk dengan benar. Sungguh melelahkan.


Tak lupa pula dengan Isabel dan teman-teman yang selalu mencari kesempatan untuk mencelakai Calysta. Sampai saat ini ia masih ingin menjadi perwakilan sekolah bersama Damian dan ia berpikir jika Calysta terluka parah bukankah ia tidak bisa mengikuti perlombaan? Ini adalah kesempatan untuk Isabel tentu nya.


Tetapi suatu hari saat ia kembali menyiksa Calysta, Damian datang dan memergoki mereka. Melihat Calysta yang sudah terluka, Damian segera menolong nya dan memperingatkan Isabel dan teman-teman nya agar tidak menggangu nya lagi.


Damian langsung membawa Calysta menuju UKS dan mengobati luka-luka nya. Betapa terkejutnya Damian setelah melihat di tangan Calysta banyak bekas luka.


"Siapa?" Tanya Damian.


Calysta yang mengerti langsung menjawab...


"Bukan siapa-siapa kok, ini hanya luka akibat latihan aja. Kamu gak usah khawatir." Untungnya Damian mengetahui bahwa Calysta berlatih seni bela diri jadi ia punya alasan.


Damian menatap lekat wajah Calysta dan yang ditatap pun jadi gelagapan. Ia rasa Damian tahu ia berbohong dan merasa bersalah karena itu.


"Bohong! Isabel?"


Tatapan mata yang tajam seketika menghangat mendengar permohonan Calysta, ia merasa sakit di bagian dada nya jika Calysta terluka tapi tak tahu mengapa.


"Sakit?" Tanya nya kembali sambil mengusapkan obat dengan lembut.


"Tidak sakit lagi kok. Emm Damian terimakasih yah sudah tolongin Calysta." Ucap Calysta sambil tersenyum manis untuk Damian.


Damian langsung memalingkan wajahnya dan menyudahi mengobati tangan Calysta lalu berdiri.


"Sudah. Ayok" Calysta hanya tertawa geli melihat tingkah Damian kemudian menyusul nya pergi. Ia sebenarnya suka dan merasa nyaman berinteraksi dengan Damian, entah mengapa. Tetapi ia hanya menganggap nya sebagai kakak saja karena selalu melindungi nya.


Sejak hari itu, Isabel dan teman-teman nya tidak lagi mengganggu Calysta bahkan tidak tampak batang hidungnya. Itu membuat Calysta agak tenang karena bisa fokus pada perlombaan yang semakin dekat juga sedikit was-was jika sewaktu-waktu Isabel kembali mengganggu nya.


......................


Hari ini adalah hari Sabtu tepat satu Minggu sebelum perlombaan, semua persiapan juga sudah selesai dan sempurna sesuai dengan rencana. Hari ini Calysta ingin ke rumah tante Jessica untuk latihan sambil mencoba pakaiannya.


Ia dan Damian akan menginap di sana karena esok hari Minggu dan tidak cukup waktu jika hanaya di sekolah mereka berlatih. Dan tentu saja Calysta sudah berpamitan pada keluarga nya tetapi tidak ada yang peduli kecuali Kenzo yang berpesan agar ia berhati-hati dan tidak begadang hingga kecapekan.


Sore harinya,Calysta di temani bi Nana pergi dengan menggunakan bus ke rumah Jessica yang berada di beberapa blok sebelum sekolah.


Setelah sampai di sana mereka di sambut oleh Jessica dan Ani, sedang Damian ada di kamarnya bermain game. Ani, Jessica dan bi Nana berencana ingin barbeque-an karena sudah lama mereka tidak melakukan nya.


Mereka bertiga sibuk menyiapkan bahan-bahan dan memanggang nya, Jessica menyuruh Calysta untuk pergi ke atas menemani Damian di kamarnya. Mereka akan di panggil setelah semua siap.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya🔥


**Terima kasih sudah membaca🙏💕


SALAM PERTEMANAN😊**