The Cruel Life Of The Callysta

The Cruel Life Of The Callysta
Calysta Sakit?!



Selamat membaca 🔥


Hari ini Calysta bangun pagi seperti biasa dan segera mandi dan berpakaian setelah itu membersihkan kamar lalu bergegas ke lantai satu. Di pagi hari Calysta harus bergegas karena ia harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah juga.


Yaa... walaupun Calysta adalah anak kandung tapi ia tidak pernah sekalipun mendapatkan kasih sayang sebuah keluarga, hanya bi Nana, pak Dan, dan pelayan yang lain yang hanya peduli terhadap nya. Oiya sekarang ia sudah punya keluarga baru di mansion nya, namun tetap saja berbeda dengan keluarga kandung.


Sebenarnya tanpa di ketahui oleh Bram dan Kenzo, Calysta selalu di perlakukan kasar layak nya pembantu, TIDAK... bahkan lebih buruk dari pembantu. Calysta harus bangun lebih awal tidak seperti Myeisha yang akan bangun tengah hari, kalau pun bangun cepat hanya karena ingin di lihat dan di puji 'rajin' oleh Bram.


Sedangkan Calysta yang setiap pagi berada di halaman belakang melakukan pekerjaan kasar, bahkan sering melewatkan sarapan pagi jadi Bram menganggap nya malas dan tidak punya etika. Tentu saja hal itu karena hasutan Olivia dan Kenzo pun kadang termakan hasutan mereka dan menjauhi Calysta.


Calysta terpaksa melakukan perintah tak masuk akal dari mereka. Melakukan ini itu, melayani Myeisha, bolak-balik naik turun tangga setiap saat. Seringkali Olivia menyiksa Calysta karena tidak mau mengikuti perintah nya dan Myeisha.


Bahkan pekerjaan para pelayan lebih ringan dari apa yang di kerjakan Calysta. Mereka termasuk bi Nana pun tak berani membantu karena pernah ada seorang pelayan muda yang membantu Calysta dan itu berakhir secara tragis. Pelayan itu di siksa habis-habisan dan dengan luka lebam di sekujur tubuh nya ia di buang ke tempat pelacuran dan di gilir banyak pria hingga merenggangkan nyawa.


Setelah selesai Calysta segera menyantap makanan yang sudah di siapkan bi Nana. Untungnya semua orang sudah pergi jadi Calysta bisa beristirahat sejenak.


"Mumpung nyonya dan Myeisha lagi pergi kamu istirahat aja dulu. Kamu pasti capek setiap hari di siksa terus, maafkan bibi yang tidak bisa membantu." Ucap bibi.


"Iya bi tidak papa, Calysta juga sudah terbiasa. Lagian Calysta kan sekarang lagi belajar beladiri jadi itung-itung latihan tambahan. hehe."


"Iya deh, yang penting kamu jangan terlalu memaksakan diri, jaga kesehatan."


"Siap!" Ucap Calysta dengan pose hormat.


......................


Setelah makan Calysta beristirahat di taman bunga sambil membaca buku ensiklopedia yang belum sempat di tamatkan. Calysta memanfaatkan waktu senggangnya untuk belajar karena ketika Olivia dan Myeisha pulang maka ia akan kesusahan untuk belajar.


Calysta larut dalam bacaannya hingga tak menyadari bahwa Olivia dan Myeisha telah pulang. Tiba-tiba Myeisha muncul dan langsung merebut buku nya lalu menginjak buku dan menendang nya. Calysta terkejut karena tindakan mendadak Myeisha, selama ini Myeisha tak pernah menyentuh buku-buku walaupun sedang marah.


"Apa yang kamu lakukan, mengapa merusak buku Calysta?" Tanya Calysta menahan marah.


"Memang nya kenapa buku jelek itu kan kamu beli pakai uang daddy ku jadi terserah aku dong kalau mau di rusak." Jawab nya dengan muka kesal.


"Lagian ngapain kamu belajar? Kamu kan di suruh mommy kerja!" Lanjut nya.


"Calysta sudah menyelesaikan semua pekerjaan yang mommy berikan. Terserah Calysta kalau mau belajar agar Calysta pandai, tidak seperti kamu yang selalu main." Ucap Calysta yang mulai tak tahan sikap Myeisha.


"Kamu sudah mulai berani yah, tunggu aja aku aduin sama mommy biar tau rasa kamu!" Ucap Myeisha tak mau kalah.


Myeisha yang memang mudah marah, merasa bahwa ucapan Calysta merendahkan diri nya membuat nya sangat marah. Myeisha sangatlah lebih baik dari gadis pembawa sial itu, dari segi penampilan dan kekayaan sangat beda jauh, walaupun Calysta lebih tinggi dan sedikit pintar dari nya tetapi tanpa kekayaan dan reputasi yang baik tetap saja tidak berguna. Pikir Myeisha.


Saat hendak memukul Calysta, Myeisha melihat Olivia berjalan ke arah mereka seperti sedang mencarinya. Seketika terlintas sebuah rencana membuat Myeisha tersenyum licik memandang ke arah Calysta.


Calysta yang melihat perubahan ekspresi Myeisha menjadi was-was. Melihat Calysta yang bingung Myeisha segera memegang kuat pergelangan tangan Calysta lalu mengarahkan peda dirinya sendiri dan terjatuh dengan keras ke tanah seakan Calysta telah mendorong nya.


Calysta hanya diam mencoba berpikir mengapa kembaran nya itu menjatuhkan diri sendiri, apa lagi rencananya?.


"MYEISHA!!" Mendengar teriakan Olivia menyadarkan Calysta yang bingung dan segera mengerti rencana licik Myeisha.


"Mommy... Calysta mendorong Myeisha karena tidak sengaja merusak buku nya. Hiks, sakit mommy." Rengek Myeisha.


"Tidak! Calysta tidak mendorong Myeisha, dia sendiri yang melakukan nya."


"Tidak?? Kamu bilang bukan kamu yang melakukan nya? Kamu kira saya buta, dari jauh saya lihat Myeisha terjatuh dan hanya kamu yang ada di sini!" Olivia murka


Calysta melihat sekeliling, ia pun mengerti kejadian barusan. Karena dia terhalang dinding jadi tidak melihat kedatangan Olivia, justru Myeisha yang sejajar dengan pintu dapat melihat Olivia kemudian menjebak nya. Sungguh rencana yang jahat, tetapi apapun pembelaan dari Calysta tetap saja ia yang akan di salahkan karena Olivia memang membenci nya.


Mendengar putri kesayangannya menangis semakin membuat Olivia marah, dengan segera memukul dan beberapa siksaan lain nya yang diterima Calysta. Calysta hanya diam tak bersuara di perlakukan seperti itu oleh Olivia dan sikap nya membuat Olivia semakin geram Lalau memukul Calysta dengan keras lagi dan lagi.


Calysta sebenarnya sedang bingung mengapa ia tak merasakan sakit dengan perlakuan ganas Olivia. Awalnya Calysta masih merasakan sakit yang luar biasa namun seiring berjalannya waktu tubuh Calysta seakan kebal terhadap semua itu.


Olivia yang sudah lelah menghentikan siksaannya, ia heran mengapa Calysta terlihat tenang seakan tidak merasakan sakit. Begitu juga dengan Myeisha yang sangat jengkel, padahal ia ingin melihat Calysta yang menyedihkan, menangis dan memohon pada mommy. Sangat membuat orang kesal.


Olivia menggandeng tangan Myeisha meninggalkan tempat itu tanpa berkata sepatah katapun membiarkan Calysta yang masih terbaring di tanah dengan keadaan yang acak-acakan.


Calysta yang merasa keadaan sudah aman segera bangkit dan membersihkan tanah yang menempel di baju nya. Kemudian mengambil buku-buku nya lalu bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri, ia tak ingin bi Nana khawatir melihat keadaannya.


Sesampai di kamar segera mandi dan berpakaian, baju yang ia pakai sebelumnya segera ia cuci sampai bersih. Sesudah itu ia pun bersantai karena kedepannya pasti tidak ada gangguan jadi ia bebas melakukan apapun di kamar.


Calysta mengingat kejadian tadi, ia begitu penasaran mengapa tak merasakan sakit ketika di pukuli. Akhirnya ia masuk ke ruangan rahasia dan duduk di depan komputer kesayangan Lalau mencari penyebab masalahnya.


Setelah searching di google ia menemukan bahwa:


Dalam istilah medis, kemampuan tidak merasakan sakit sama sekali ini disebut sebagai congenital analgesia atau Congenital insensitivity to pain (CIPA). Penyakit CIPA sudah terjadi dari lahir dan mungkin gejala belum terlihat jelas. Namun, ketika menginjak masa kanak-kanak, orang dengan penyakit CIPA kurang atau tak merasakan rasa sakit mengalami infeksi yang cukup parah.


Pada orang yang mengalami CIPA, terjadi mutasi pada gen NTRK1.Gen NTRK1 adalah yang menyebabkan penyakit CIPA. Gen tersebut penting untuk kelangsungan hidup sel-sel saraf (neuron). Ketika NTRK1 tak berfungsi, tubuh tak bisa memberi sinyal dan akhirnya neuron mati oleh proses penghancuran diri. Hilangnya neuron tersebutlah menyebabkan ketidakmampuan untuk merasakan rasa sakit


Bagi seseorang yang "normal", ketika dihadapkan dengan pasien yang tidak bisa merasakan sakit seperti melihat superhero karena tidak merasakan penderitaan. Namun, penyakit yang satu ini justru sangat berbahaya. Karena tak bisa merasakan sakit, virus atau bakteri yang masuk ke tubuh tak akan terdeteksi dan bisa menyebabkan penyakit lain.Apabila tak ada sinyal dari tubuh, bukan tak mungkin virus atau bakteri tersebut berkembang menjadi penyakit berbahaya. Selain itu, orang dengan penyakit CIPA mudah "memutilasi tubuh"-nya sendiri.


Calysta mengetahui bahwa dia memiliki penyakit yang langka, ia menjadi takut pada kemungkinan yang akan terjadi ke depan nya. Calysta tak akan memberitahukan hal ini pada bi Nana dan keluarga besar, Calysta tidak ingin mereka khawatir.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya🔥


**Terima kasih sudah membaca🙏💕


SALAM PERTEMANAN😊**