The Chronicle Of Earth Destruction

The Chronicle Of Earth Destruction
Manusia Berevolusi



Kedua adik kakak itu tetap bersembunyi di dalam selokan sampai berjam-jam, hingga matahari pun telah tergantikan oleh sang bulan, pergantian siang ke malam, mereka berdua tidak mendengar adanya bunyi bising dari atas selokan,  seperti teriakan orang atau sekedar  langkah kaki maupun kepakan sayap yang samar-samar ada suaranya, seakan-akan pada saat itu memang benar-benar menjadi malam yang sunyi, sepi seakan-akan mereka berada di padang rumput luas, tanpa keberadaan seorang pun.


Zein pun memberanikan dirinya mengintip ke luar, dia melihat seperti sudah tidak ada lagi tuh monster-monster yang berkeliaran, dengan membulatkan tekadnya, Zein lantas mengeceknya, dia beranjak keluar dari selokan,  disana dari tempat beberapa mobil dibelakang bekas mobilnya, Zein juga melihat paman, bibinya, dan keponakannya di mobil lain menjadi korban kebengisan makhluk tersebut, hatinya rasanya sangat sakit, dia merasa seperti kertas sobek yang tidak bisa melindungi kebahagiaan keluarganya,  dia tetap menyuruh adiknya bersembunyi di bawah selokan, dia mematangkan tekadnya untuk menengok mobilnya sendiri.


“Ibu!”


“Ayah!”


“Maafkan aku! Aku benar-benar pengecut!” ujar Zein menatap jasad kedua orang tuanya tersenyum seakan-akan telah menyelesaikan tugas mereka.


“Kakak!”


“Pipi!”


“Ada apa kak?”


Zein tidak menjawabnya, namun air matanya yang mengalir itu menegaskan akan sesuatu hal, makanya Vivi adik Zein ini langsung menyadari, dia segera menengok ke dua jenazah di dekat Zein itu, Vivi segera berjalan ke arah ke dua jenazah tersebut.


Vivi langsung menyungkurkan dirinya secara sengaja, mendekap jasad kedua orang tuanya itu, tangisannya pun pecah, Zein yang berada disampingnya lekas merengkuh Vivi. “Maafkan abang…”


“Tidak bukan salah abang!” Ujar Vivi sembari mengusap air matanya itu.


Tetapi Zein tetap saja merasa sangat menyesal, karena ada sesuatu yang berada di dalam dirinya, namun dia tidak bisa menguatkan keberaniannya untuk menyelamatkan kedua orang tuanya.


“Abang terlalu pengecut! Detak jantung abang berdetak begitu kencang… Abang terlalu pengecut!” Ujar Zein mengulangi ucapannya, dia berada dalam kondisi mengkhawtirkan, batin nya tenggelam dalam rasa bersalah.


“Kau tahu tidak… Abang sebenarnnya telah berlatih bersama kakek untuk mengahdapi situasi hidup-mati…” Vivi memahami kata-kata yang diucapkan Zein, karena memang dia juga selalu melihat Zein berlatih keras, tetapi Vivi di kondisi ini tidak menyalahkan segalanya keapda Zein, bahkan tidak ada niatan dalam hatinya seperti itu.


“Kak!”


“Maaf!” Zein tidak mendengarkan panggilan dari Vivi, logikanya dipenuhi penyesalan juga ucapan maaf saja kala itu.


“Kakak!” Vivi secara inisiatif segera memeluk Zein yang pikirannya sedang kacau itu, Meskipun Vivi juga tidak berbeda jauh saat ini di hatinya juga mengalami rasa sakit karena ditinggal oleh kedua orang paling dia sayangi, namun Vivi masih mencoba untuk menenangkan Zien, juga.


“Kakak… Ini juga kesalahan ku… Tangan ku yang memegang kakak untuk menemani ku, membuat kakak tidak bisa melepasku begitu saja… Ayah dan ibu meninggal karena aku… Kak!” Vivi disini juga tidak terlepas dari rasa bersalahnya, rasa takutnya, rasa khawatirnya, rasa kecewanya, dia juga tak ubahnya hanyalah gadis berusia satu tahun lebih muda dari Zein, mereka berdua tetaplah pemuda yang masih rapuh hati dan pikirannya.


Mereka pun akhirnya menangis bersama-sama hingga waktu tersisa 2 jam lagi sampai matahari terbit kembali, Dalam keadaan tersedu-sedu itu, Vivi meminta kepada abangnya, supaya bersama-sama segera menguburkan jasad ke dua orang tua mereka.  “Abang! Ayok kita istirahatkan terakhir kalinya dengan layak, kedua orang tua kita!”


“Baiklah! Mari kita lakukan, memberikan tempat peristirahatan yang baik untuk kedua orang tua kita!”


Malam itu dengan waktu cepat mereka membawa kedua orang tua, juga paman, bibi, dan keponakan mereka, ke suatu tempat, ada sebuah tanah cukup luas milik pelataran gedung, tidak jauh dari tempat mereka berada, disana Zein lalu menguburkan mereka semua.


“Sebentar lagi akan pagi!”


“Sekarang gimana abang? Kita tidak bisa mengendarai mobil!”


“Kalau pun abang bisa mengendarai mobil pun percuma!” Ujar Zein melihat sekeliling, yang mana banyak sekali kendaraan sudah rusak, ada yang baret, terbelah menjadi dua, dan sebagainya, menghalangi jalan raya.


“Tunggu sebentar… Abang ingat pesan kakek tahun lalu!” uja Zein mengingat sesuatu yang pernah dikatakan kakek Diranto.


“Apa itu bang?”


“Kalau fisik abang itu jauh lebih kuat daripada fisik seorang binaragawan terbaik sekalipun! Karena abang adalah salah satu kasus manusia yang telah berevolusi akibat penggabungan antara DNA dan organisme positif meteorit!” Dari awal ketika anomali dari Red Attack menyerang umat manusia, Zein sebagai keluarga dari seorang profesor yang terlibat langsung dalam penelitian meteorit tersebut, tentu saja menjadi salah satu orang klaster pertama yang terkena Red Attack.


Saat itu, Zein hampir saja meninggal dunia, untunglah kakeknya segera menyuntikan sebuah serum, hanya saja Zein tidak tahu itu, dia cumanc diberitahu oleh kakenya kalau dirinya telah menjadi harapan umat manusia, dirinya adalah makhluk evolusi, makanya kakeknya waktu itu selama kurang lebih 2 tahunan melatih dirinya dengan keras sekali.


“Abang… Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Vivi melihat abangnya yang tengah memejamkan matanya, sudah ditanya sama dirinya tapi abangnya tetap tidak menggubrisnya seperti telah terhanyut dalam pejamnya.


“Bang!”


“Abang!” Vivi memanggil Zein beberapa kali, awalnya panggilannya biasa aja, namun karena Zein masih tidak menanggapinya, Vivi lantas berteriak dengan kencang pas banget di depan Zein, bahkan meski sudah berteriak sekencangnya Zein masih memejamkan matanya, terpaksa saat itu Vivi mengayunkan telapak tangannya ke pipi Zein. “Plak!”


“Auuu!” akhirnya Zein merespon juga.


“Abang kenapa tadi merem? Kesurupan, kah?”


“Vivi, mau abang tunjukan sesuatu, gk?!” ucap Zein sambil tersenyum dan juga tampak raut wajah yang penuh semangat.


“Apa itu bang?”


“Heheheh… Pokoknya keren deh!”


“Mau! Mau! Mau! Mau!” ujar Vivi berulang-ulang kali, dia sangat antusias ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Zein, sementara itu Zein sedikit merendahkan posisi badannya, meminta Vivi untuk naik ke punggungnya, tanpa kompromi Vivi lalu mengikuti instruksi dari abangnya itu.


“Siap-siap yak!” ujar Zein,  sembari menggendong vivi di punggungnya itu dirinya kembali berdiri, lalu berancang-ancang menekuk kedua kakinya  seperti akan melompat.


“Eh… Eh… Kak tunggu!” Zein seketika melompat membuat tanah yang dia pijak amblas, dan lompatannya yang begitu tinggi bak hukum gravitasi tidak berlaku lagi pada dirinya, dia melompat tinggi sampai akhirnya mendarat beberapa meter ke depan, cara itu dia lakukan untuk menghemat waktu jika berjalan, dan dia berniat terus melakukan hal itu.


“Mulai sekarang abang akan seperti ini!” Ujar Zein yang tampak memiliki raut wajah penuh keyakinan, penuh percaya diri, namun masih juga terlihat itu karena penyesalan yang dia alami, dia hanya berusaha menjadi yakin karena membenci berubah menjadi pengecut.