
Mereka para pasukan yang menonton duel antara Zein melawan seorang kapten, tadinya sebelum dimulai pertarungan singkat itu, mereka memuji kapten mereka, mereka berdiri mendukung kapten mereka, tetapi setelah akhir yang tidak sampai hitungan menit telah dilihat oleh mata mereka sendiri, seketika mereka bungkam harga diri dan kebanggaan mereka, malah mereka berbalik berteriak seakan mendukung Zein, bahkan mereka tidak peduli sama sekali dengan kondisi kapten mereka.
Perilaku mereka yang membiarkan kapten yang tadinya mereka elu-elukan membuat instruktur marah. Instruktur dengan tegas berteriak kepada mereka. “Kalian jangan diam saja… Cepat bawa kapten ke unit medis!” Teriak Adira memecah kegaduhan dia meminta untuk beberapa orang lekas lah membawa kapten agar bisa diobati dengan segera.
Sementara itu, Zein pun berjalan menghampiri Adira, tidak ada cedera apapun pada tubuhnya Zein, meskipun hanya luka gores saja, yang ada dia malah terlihat begitu mengantuk, dia berjalan mendekat ke Instruktur, dia bertanya. “Loh kau adalah pembimbingku… bisa beritahu kepada ku dimana aku bisa istirahat, kebetulan sudah dua hari aku sampai sekarang tengah malam aku belum istirahat loh…” kata
Zein dia meminta kepada instruktur Adira jika ada untuk mengarahkannya ke ruangan istirahat khusus bagi para anggota aliansi.
“Eh… Emmm…” Jawab instruktur seperti agak bingung mau berkata apa.
“Apa? kenapa kau hanya ehh… Emmmm saja? jangan-jangan tidak ada ruangan istirahat,
yah? Kamar tidur gituh tidak ada juga?” tanya Zein melihat gelagat Adira yang
aneh setelah ditanya mengenai ruangan istirahat.
“Kau sesudah berbuat sekacau ini… apa mau melarikan diri? Kau harus tanggung jawab! lagi pula kau seorang yang sudah berevolusi tidak terlalu berpengaruh kepada tubuh mu kalau tidak tidur!” tanya Adira heran dengan sikap tenang Zein sesudah mengalahkan satu kapten di aliansi ini.
“Ayolah… Lagipula itu bukan salah ku, siapa suruh dia mencari gara-gara dengan ku! Ada
istilah kamu jual aku beli!” jawab Zein sembari menguap karena rasa kantuknya.
Untunglah tidak lama, untuk membubarkan keramaian di tengah malam itu, Kolonel datang
menemui mereka. “Luar biasa! kau memang diluar ekspektasi!” ujar kolonel itu
di tengah pembicaraan Zein dan instruktur Adira.
“Loh kolonel…” kata Adira kaget melihat kedatangan kolonel, padahal ketika tadi didatangi olehnya, kolonel tampak lagi sibuk.
“Ya instruktur Adira kau bawa saja Zein ke kamar prajurit yang masih kosong… Untuk masalah ini biar berhenti sampai disini… Mumpung sekarang masih sekitar tengah malam, manfaatkan waktu untuk istirahat,
nanti sekitar jam delapan tepat, Zein kau akan dibangunkan oleh anak buah ku
untuk ikut ke dalam ekspedisi pergi ke dunia luar!” kata Kolonel yang akan mengikutsertakan Zein kedalam operasi yang akan dijalankan esok hari.
“Kolonel… Bukankah ini masih terlalu dini buat dirinya?” Adira mempertanyakan keputusan
kolonel yang mau mengajak Zein untuk ikut serta dalam operasi, karena memang hanya tentara yang sudah berlatih selama 2 tahun saja yang boleh terlibat di operasi nantinya.
Sementara itu, operasi yang dibicarakan oleh Kolonel dan Adira, adalah sebuah kegiatan yang baru saja diresmikan hari ini juga, tujuannya untuk menyelamatkan beberapa
orang yang selamat, di kota-kota lainnya.
“Kau tidak perlu khawatir, untuk saat ini sudah tidak ada yang bisa kita berikan
kepada Zein…” ucap Kolonel yang mendekati Zein, dan dirinya membisikan sesuatu
yang membuat Zein menjadi waspada, yaitu ternyata Kolonel sudah tahu apalagi menyelidiki tentang Zein yang identitas sebenarnya adalah cucu dari profesor Diranto Saman.
“Bagaimana anda…” Belum sempat Zein menyelesaikan pertanyaannya, Kolonel langsung mengatakan sesuatu. “Tenang saja… Jika kau tidak ingin semuanya tahu… Dan juga
apakah kau mau tahu informasi mengenai kondisi kakek, mu?”
“Apa anda mengetahuinya? Dimana kakek ku?” tanya Zein wajah lelahnya berubah menjadi sorot mata yang tajam mengarah kepada Kolonel.
“Heheh tenanglah… Aku hanya akan memperingatkan mu… waspadalah!” balas Kolonel yang tidak gentar meski melihat raut wajah serius Zein.
“Tenang saja Kolonel… Bagi ku di era kehancuran ini, selain keluarga ku, orang yang
peduli padaku, mereka akan aku anggap makhluk asing!” Sehabis mengatakan
demikian, sembari menarik tangan Adira, Zein pun melangkah menjauhi Kolonel.
“Apa yang kamu bicarakan dengan Kolonel?” tanya Adira penasaran, karena dia juga
menyadari nada dan ekspresi Zein berbeda saat itu.
“Tidak ada… kakak instruktur, dimana kamar istirahat ku? Kita tidak sekamar, kan?” tanya
Zein raut wajahnya kembali mengalir tenang.
“Hah? Kau masih dibawah umur juga!” ujar Adira yang mulai salah tingkah itu.
“Loh kalau aku udah cukup umur boleh nih?”
“Bukan gituh…”
“Hahaha… Kakak instruktur, apa kau mengenal profesor Diranto Saman?” bercandaan tadi
sebenarnya hanya untuk mencairkan suasana saja antara Zein dan Adira saat itu,
tujuan utamanya adalah bertanya kepada Adira.
“Profesor Diranto? Darimana kau mengetahui tentang namanya itu? Dia adalah kakek yang
baik waktu di serikat!” Adira menjawab pertanyaan Zein dengan senyum
seakan-akan mengingat kenangan baik yang telah dia lalui dihidupnya.
“Serikat? Ah iya kau waktu itu ngaku kalau kau bukan lah tentara… Jadi apa itu serikat?”
tanya Zein lagi mencoba mengulik informasi.
“Bagaimana pun aku tidak mau mengungkapkan hal ini, karena membocorkan rahasia melanggar kode etik, tetapi sepertinya aku mulai paham, kamu pasti ada hubungannya dengan profesor Diranto Saman, kan?”
“Ya benar…”
“Kalau begitu tidak masalah deh… ini bermula sekitar satu setengah tahun lalu, saat
secara bergantian datang menghampiri ku, menyuntikan beberapa serum, lalu
mereka membawa ku ke suatu tempat…”
“Di tempat itu, ada juga orang-orang anak muda lainnya, kami disebut subjek dan diberikan
nomor, lalu juga ada profesor Diranto Saman… Dan yah selama itu sampai beberapa
bulan lalu, aku dilatih banyak hal oleh profesor… sampai aku dinyatakan lulus, dan berhak berkelana meninggalkan serikat atau bekerja mengabdi layaknya tentara!” kata Adira mengungkapkan pengalaman hidupnya yang sudah dia lewati 2 tahun belakangan ini.
“Ouh menarik… Berarti ada banyak pemuda seperti dirimu yah, Adira?” Zein terlihat
antusias mendengar penjelasan yang disampaikan oleh
“Emmm… Bisa dikatakan banyak subjek berbakat lebih dari pada aku, sih! jadi tidak
seratus persen banyak yang seperti aku, hahaha!”
“Ouh iya aku sedikit mendengar pembicaraan mu dengan kolonel… Kau harus berhati-hati… Karena diantara mereka ada yang termasuk kedalam kategori evolusi khusus!” Setelah tertawa ringan, Adira merubah nada bicaranya menjadi agak serius, dia memperingati Zein.
“Terima kasih Adira… Kau orang luar pertama yang aku ajak bicara sejak 2 tahun belakangan ini… Boleh aku minta tolong kepada mu?” kata Zein memastikan sesuatu jika instruktur Adira Mau memenuhi permintaan dari Zein.
“Apa itu?” tanya Adira.
“Anoo… Aku meninggalkan adik ku di luar wilayah istana Bogor… Tolong bantu aku
membawanya masuk kesini, selagi aku menjalankan misi, aku jamin adik ku punya
potensi evolusi super, meski sekarang masih tertidur!”Zein meminta tolong kepada Adira untuk membawa masuk adiknya yang dia tinggal di suatu gedung.
“Benarkah? Kau jahat sekali meninggalkan adik mu di luar!” ujar Adira tidak menyangka.
“Yah kau tahu… Aku belum mempercayai aliansi ini… Jadi aku mengamatinya dulu… tapi
setelah melihat kau bisa diajak kerja sama…” kata Zein sambil memalingkan
wajahnya dari pandangan Adira.
“Apa kau tidak berpikir aku akan mengkhianatimu?” tanya Adira dengan santai, dan Zein menyadari Adira tidak berkata sungguh-sungguh.
“Aku mengantuk… Aku mau tidur… Aku tidak memintamu untuk setia… Tapi tolong jaga
adikku jika suatu hal terjadi pada ku!” Zein langsung pergi memasuki ruangan
istirahat yang ditunjuk oleh Adira.
“Dasar bodoh!” kata Adira.
Beberapa jam kemudian, sekarang telah memasuki waktu yang dikatakan oleh Kolonel, sudah banyak pasukan berpakaian khusus untuk operasi lapangan dengan persenjataan
lengkap sesuai divisi masing-masing, Zein juga ada diantara pasukan tersebut, berdiri di samping Kolonel.
Sekitar 100 orang berbaris dengan rapih di lapangan istana Bogor ini, seraya mendengarkan pidato dari sang Kolonel, “Apakah kalian semua sudah siap?” teriak Kolonel, sambil mengangkat tangannya.
“Siap!” Teriak 100 orang itu secara bersamaan.
“2 hari sudah terlewat sejak makhluk asing itu memulai serangannya pertama kali di kota
Jakarta, dan sekarang telah diamati kalau makhluk-makhluk asing itu menyebar, telah
hampir menguasai jawa barat dan Banten!” ujar Kolonel dengan nada tingginya, menjelaskan
kondisi pulau jawa.
“Ini diluar dugaan! Hanya dalam waktu dua hari saja!”
“Lapor pak! Lalu apa tugas kita?” seorang pasukan menyeletukan satu pertanyaan menuju kepada Kolonel.
“Bagus… Tugas kalian hanya menjadi pengawal dan juga menyelamatkan orang-orang yang
berhasil selamat!” Kolonel mengatakan dalam operasi pertama ini, hanya ada 2
tugas pasukan yang dia pimpin.
“Mengawal? Mengawal siapa pak?” tanya salah satu pasukan lainnya.
“Anggota utama serikat aliansi pusat Indonesia!” dengan percaya diri Kolonel menjawab demikian.
“Wow! Luar biasa! akhirnya bisa bekerja sama dengan pasukan yang dikatakan lebih misterius
daripada pasukan katak!”
“Keren pak Kolonel!”
“Tenang semuanya… Tunjukan sikap layaknya tentara yang berani mati! tegas dan tegap
sedia!!!”
Setelah ratusan orang itu kembali tertib, barulah mereka menaiki truk pengangkut
tentara ke lokasi tujuan. “Mari semuanya kita menuju kota terbesar di Jawa
Barat!”
“Yooo!!!” ujar ratusan orang bersamaan.