
Zein awalnya ragu menunjukkan kampusnya ini, karena dia merasa malu dihadapan adiknya, dia takut adiknya berpikir kalau Zein tidak mau menggunakan kekuatannya ini.
Kekuatan yang dia tunjukkan ini juga hasil dari latihan selama kurang lebih 2 tahun bersama kakeknya, meski Zein belum pernah mencoba nya diluar tempat latihannya, dan ini pertama kali baginya.
"Ini bagaimana kakak bisa punya kekuatan seperti ini?” Vivi merasa heran kenapa manusia bisa melompat begitu tinggi, bahkan Zein melakukannya terus-terusan tanpa rasa Lelah sedikit pun.
“Makanya kalau di rumah itu jangan sibuk main tiktok aja!”
“Aku juga tidak cuman main tiktok aja yak! bang serius, abang bukan manusia yak? mungkin abang alien yang dipungut keluarga, yak?”
“Pala kamu sebesar monas! Abang adalah seorang yang telah berevolusi semenjak ditubuh abang ada organisme positif meteorit!”
“Hah? Tapi waktu itu aku juga sakit, dan meminum obat dari kakek, tapi aku tidak kayak abang!”
“Kata kakek tidak semua orang bisa berevolusi! Atau bisa berevolusi tapi waktunya agak lama! Mungkin kamu tipe salah satunya!”
“Ouh gituh bang!”
“Maafkan abang!”
“Maaf kenapa?”
Tiba-tiba suasana diantara mereka berdua menjadi sedikit dalam, Zein seketika menampakan raut wajah serius dengan kekecewaannya, sementara itu Vivi pun mulai menyadari arti perubahan sikap dari Zein.
“Bang… Vivi percaya kalau abang adalah orang yang paling ingin membantu ibu dan ayah kita saat itu!”
“Maafkan abang!”
“Jangan minta maaf sekarang bang! Makhluk yang seharusnya menerima karmanya masih berkeliaran di dunia ini! kalau aku punya kekuatan macam abang… Aku akan bersedia membantu abang selalu!”
“Kamu? Lebih baik serahkan saja semuanya sama abang, sekarang yang terpenting kita harus pergi ke tempat persembunyian yang kakek katakan, disana kakek sudah mempersiapkan segala hal!”
“Bang… Apa abang tahu memangnya arah ke persembunyian milik keluarga kita?”
“Emm… kamu mungkin tidak tahu, tapi sebelum berangkat kakek memberikan peta kepada abang, katanya mungkin nanti tidak ada internet!” ucap Zein sambil mengingat-ingat kenangan saat kakeknya memberikan peta menuju tempat persembunyian milik keluarganya.
“Bang… apa kita tidak bersembunyi dahulu? Sebentar lagi kayaknya matahari akan terbit!” Bertanya Vivi kepada abangnya itu, dia menyarankan untuk bersembunyi di dalam gedung yang sudah mati daya listrik, dan bagian parkiran mobil nan gelap dahulu.
Zein tetapi menolak usulan yang diberikan oleh Vivi, dia lebih percaya diri akan kekuatannya sebagai manusia yang telah berevolusi, yang mampu membuatnya lompat tinggi, sehingga bisa melewati hadangan-hadangan yang ada di jalan dengan mudahnya.
Zein lalu membawa adiknya itu ke atap suatu gedung yang cukup tinggi, untuk menyaksikan terbitnya matahari di dunia yang sudah hancur ini, “Jangan takut Vivi…” Vivi agak takut, karena dalam bayangannya monster-monster itu berasal dari langit, berdiri di tempat tinggi itu sama saja seperti bunuh diri.
“Suasananya sepi banget yak!”
“Bang… Tetap waspada!”
Perlahan-lahan langit yang menjadi saksi bisu mulai berubah, seberkas cahaya pun sedikit demi sedikit terbesit dalam pandagan retina mata Zein dan Vivi, hingga akhirnya matahari yang begitu menyilaukan telah menampakan dirinya ribuan mil diatas kepala mereka berdua.
“Tenang saja! kau lihat saja!”
Ketika kegelapan telah sepenuhnya tergantikan pada hari itu, mereka berdua mungkin menjadi salah satu orang yang menyaksikan kalau langit kota Jakarta kembali cerah, tanpa adanya sesuatu yang menutupinya, kemanakah UFO itu bergerak?
“UFO itu telah pergi!” ujar Zein dengan tatapan tajam nya sembari menatap ke langit, sementara itu, raut wajah Vivi yang tegang kini menjadi tenang kembali, dan dirinya meminta kepada abangnya itu untuk melanjutkan perjalanan mereka berdua.
“Sebelum kita pergi, sebaiknya kita ambil dulu beberapa persediaan kayak makanan gituh di Alfamart!” ucap Zein menunjuk ke bawah mengarah ke sebuah toko yang dahulu sebelum terjadinya serangan menjual berbagai kebutuhan sehari-hari.
“Kita tidak perlu bayar, kan kak?”
“Ya tidak lah!”
Kedua adik-kakak ini lantas memasuki toko yang amburadul tersebut, barang-barang semula tertata rapi demi untuk kepuasan konsumen berserakan kemana-mana, belum lagi 2 jenazah manusia yang kondisinya sangat mengenaskan di pojok ruangan.
“Bang…”
“Tidak apa-apa Vivi… Permisi… katakan permisi aja!”
“Permisi ya ahli kubur!”
Setelah mengucapkan kalimat itu, seketika batin Vivi jadi kuat, dia tidak takut lagi, langsung saja kedua saudara ini memasukan makanan maupun minuman yang diperlukan kedalam tas yang mereka pungut dari mayat korban di dalam toko tersebut.
“Ayok Vivi kita lanjutkan perjalanan!”
“Baik bang!”
Kedua bocah ini memulai lagi perjalanan panjang mereka menuju tempat persembunyian keluarga mereka yang sudah dibangun oleh kakek mereka,
Sepanjangan perjalanan dalam padangan yang ditemani oleh suasana sunyi kota setelah kehancuran akibat serangan dari mahkluk asing ini, Zein sama sekali tidak melihat kehadiran orang-orang selain para mayat yang bergelimpangan di tanah, “Apa mereka masih takut ke luar dari persembunyian?”
“Bang kenapa kita tidak ke tempat kakek?” tanya Vivi kepada abangnya itu, namun Zein mengatakan mereka berdua harus mendengarkan pesan dari kakek mereka, untuk segera pergi ke tempat persembunyian keluarga secepatnya apapun yang terjadi, jangan pernah pedulikan mengenai masa lalu.
Jadi Zein apapun yang terjadi bertekad untuk tetap melanjutkan perjalanan mereka, sesekali mereka akan berhenti sejenak beristirahat ke dalam rumah yang sudah tidak ada penghuninya untuk memasak makanan.
Disela-sela istirahat, sebelum memulai kembali perjalanan Zein akan sesekali membuka peta yang dia dapatkan dari pemberian ibunya itu, Peta ini berbentuk selembar kertas berisi potongan pulau Jawa yang telah diberi garis-garis maupun tanda-tanda. “Menurut peta yang diberikan oleh ibu, tempat itu berada di Perbatasan jawa barat dan jawa tengah!”
“Jauh juga bang!”
“Yah… Mau tidak mau kita harus menggunakan mobil… Untuk menghemat energi abang, juga menyembunyikan kemampuan abang!”
Kedua kakak-beradik ini sedikit menghela nafas sebentar, mereka berdua meyakini kalau perjalanan menuju tempat yang sudah diatur oleh kakek mereka bukanlah sekedar melalui tempat satu ketempat lainnya, apalagi di era kehancuran ini, kemungkinan akan banyak rintangan-rintangan yang akan mereka hadapi.
Setelah seharian secara penuh Zein menggendong adiknya, mereka pun telah berhasil keluar dari kota Jakarta yang sekarang telah hancur itu, kini mereka berdua mengarah ke daerah sekitar kota Depok, salah satu tempat yang lumayan padat berada di pulau Jawa ini.