
Semua orang disana kala itu menampilkan wajah kebingungan, mereka bingung sebab seharusnya tidak ada tes kedua untuk pemula, lagian juga seharusnya tes itu tidak dilaksanakan dalam hari bersamaan ketika pemula itu datang.
Tetapi yah Zein pun tampak tidak merasa itu aneh, karena memang dia sejak awal sudah menyadari kalau orang yang dipanggil kapten ini memiliki iri hati, takut kalau tersaingi oleh Zein.
"Ka… Kapten seharusnya tidak ada tes lagi.” ujar Adira dia menyadari kalau kapten itu tidak bertindak sesuai prosedur dari aliansi, dia mencoba untuk menghentikan perbuatan semena-mena kapten, tetapi yah perkataan Instruktur Adira mudah sekali diputar balikan oleh pendapat kapten, dengan mengatakan kalau dirinya sebagai kapten juga punya hak dan bebas menentukan tes yang tujuannya untuk menguji kelayakan anggota baru.
Zein yang tahu alasan kapten berbuat demikian, pun hanya tersenyum, seakan-akan dirinya tidak pernah takut apapun rencana kapten, itu terlihat ketika Zein malah menahan instruktur Adira untuk tidak melanjutkan perdebatan sia-sia nya, karena dia lebih memilih untuk membiarkan kapten tersebut berbuat seenaknya, lagipula Zein tahu kalau kapten itu hanya iri, dan satu-satunya cara untuk membuat orang seperti kapten menyerah ialah dengan mematahkan harga dirinya.
“Baiklah kapten terhormat! Jika kau tidak menerima keberhasilan ku… Maukah kau beradu tinju untuk memberikan beberapa saran kepada ku… Mumpung kita sama-sama dari divisi depan!” Untuk mempersingkat waktu, Zein yang sudah malas melihat muka menyebabkannya orang yang dipanggil kapten itu, langsung saja Zein kepada intinya, hal ini juga agar kapten tidak memikirkan tes-tes yang merepotkan nantinya.
Mendengar tantangan dari Zein, kapten itu menyeringai, dia tampak seperti orang yang sudah buang air besar setelah ditahan berjam-jam, mukanya begitu menggambarkan kepuasan, dalam pikirannya 'Ini saatnya memberi pelajaran bagi bocah baru itu.'
Zein sendiri juga sudah tahu apa yang dipikirkan oleh kapten, dia malah senang, cara paling menyakitkan ialah semakin merasa besar lawannya, itu kondisi yang bagus agar lawan bisa terbang setinggi mungkin, dan itu juga berarti ketika dia jatuh pula akan sangat sakit, bagi Zein tentu saja akan sangat puas melihat penderitaan orang yang menantangnya.
Ditambah dalam benak Zein, dia sulit menerima kepercayaan dari orang lain terutama karena di era kehancuran ini, maka jika ada mahkluk, entah itu manusia, atau monster yang pernah dia lihat saat masih cupu, dia tidak mau lagi mundur seperti pengecut, yang membuatnya harus kehilangan orang tersayangnya, dia bertekad setelah melewati kegelapan hatinya, dan menguasai penyesalannya, dia Zein akan menghabisi siapa saja yang mengancamnya, itulah Zein saat ini.
Ditengah malam yah meskipun tidak ada perbedaan antara malam dan siang hari, karena ini berada di bawah tanah, tanpa istirahat, Zein melanjutkan kehidupannya saat ini, kali ini dia harus melawan seorang petarung manusia yang sudah berevolusi juga sama seperti dirinya, apalagi orang ini, sebagai bagian dari pasukan aliansi yang ternyata telah terbentuk jauh sebelum serangan invasi asing, dia pasti seperti lainnya, menerima beberapa kali suntikan peningkat organime meteorit, yang mampu menguatkan tubuhnya berkali-kali lipat.
Disisi lain dari pertarungan kedua orang tersebut, instruktur Adira dengan rasa keadilan tingginya, merasa ini sudah kelewatan, dia belari untuk berjumpa dengan kolonel, dia yang tidak memiliki otoritas berlebih tentu tidak bisa melerai duel ini, tetapi berbeda dnegan kolonel, tetapi ketika dia sampai ditempat kolonel, kolonel hanya mengangguk saja, dan dia mengatakan kalau bairkan saja kedua ornag itu bertarung.
Adira yang merasa tidak bisa lagi meyakinkan kolonel, kembali ke tempat pertarungan antara Zein melawan seorang anggota yang dipanggil oleh anggota lainnya kapten. Pertarungan mereka berada diatas sebuah ring berbentuk lingkaran, tanpa pembatas.
Ketika Adira sampai disana, jauh dari bayangan Adira, dia mengira kalau suasana disana akan kacau, malah diluar dugaan, tidak ada seorangpun yang membuka suaranya, suasananya sangat hening, seperti keadaan yang menegangkan, terlihat juga Zein dan kapten telah berada diatas ring, mereka juag telah bersiap-siap untuk saling menyerang.
Jika dilihat dari pose awal mereka, sekilas kapten menunjukan gestur yang meremehkan Zein, sembari menatap kesamping, dia bahkan menggerakan beberapa jarinya memberikan isyarat agar Zein maju menyerang dirinya lebih dahulu.
“Maju sini bocah!” teriak pria yang bergelar kapten itu, melihat tinju Zein mengarah tepat ke dadanya, namun meski tahu hal itu, dia tidak bereaksi sama sekali, seperti dia membiarkan tinju Zein mengenai tubuhnya.
Dia juga menunjukan ekspresi jumawanya seakan-akan kalau dia kuat, dan tinju Zein tidak akan berpengaruh apa-apa, dia bahkan membusungkan dadanya demi membuktikan hal itu, walaupun pada akhirnya dia menyadari kalau tinju Zein ialah sesuatu yang tidak bisa dia tangani.
Dia merasakannya itu bak dihantam oleh sebuah bogem yang lebih besar dari pada ukuran terbesar seekor gajah.
Tetapi dia terlambat memahaminya, sesudah bunyi “Krakkk!” terdengar diantara tulang-tulang pembungkus organ dalamnya, kapten juga tidak mampu mempertahankan posisi tumpuan kakinya untuk tetap berdiri tegap, hingga terlempar akibat gaya dorong yang disebabkan oleh tinju Zein, dirinya terpental terus sampai melewati garis lingkaran arena, momentumnya pun berakhir ketika tubuhnya bertubrukan dengan dinding ruangan, membuatnya merasakan seakan ditabrak oleh mobil berkecepatan tinggi, saking kencangnya dampak pukulan Zein, tubuhnya pun menempel beberapa centimeter ke dalam dinding, menyebabkan beberapa retakan muncul dan menyebar ke sekeliling nya.
“Hey tadi kau dengar itu?”
“Apa itu?”
“Aku pikir beberapa tulang rusuk milik kapten patah!”
Suasana yang hening seketika menjadi heboh kembali, membicarakan kejadian yang begitu cepat nya saat Zein sebagai pasukan baru, hanya dengan satu tinjunya mampu mengemhapaskan seorang kapten, hingga dirinya tidak sadarkan diri.
"Wow!!!"
"Keren!!"
"Ini baru hebat!!!"
Sorak-sorai mereka mengangumi apa yang dilakukan oleh Zein.