The Chronicle Of Earth Destruction

The Chronicle Of Earth Destruction
Istana Kota Bogor



Sesuai arahan dari tentara penguji itu, Zein lantas beranjak dari tempat duduknya itu, dia berdiri mendekati mesin Punch Tracking, memutar-mutar tangannya seperti baling-baling, tindakannya ini membuatnya ditegur oleh tentara yang mengujinya. “Hey bocah! cepatlah dan jangan banyak bercanda!”


Dengan santai Zein pun membalas bentakan dari tentara itu. “Anda mungkin lahir, dibesarkan dilingkungan yang keras, tidak pernah tahu kalau ada trik sederhana untuk menambah kekuatan pukulan anda, pak!”


Tetapi tentara itu malah menertawakan penjelasan Zein, dia menganggap kalau memutar lengan tiga ratus enam puluh derajat berkali-kali mana bisa menambah damage pukulan, meskipun memang Zein juga mengada-ngada saja soal pukulannya bertambah kuat jika lengannya berputar berkali-kali, sebenarnya juga ini hanya pengalih saja, supaya Zein bisa sedikit memanfaatkan kemampuan evolusinya tanpa dicurigai, eh tapi malah tentara itu seakan percaya ucapan Zein, dirinya malah menantang Zein. “Hey nak kalau berat pukulan mu berada di angka 10 kg saja, kau sudah hebat!”


“Memangnya berapa rata-rata pukulan orang biasa, pak?” tanya Zein kembali, dia ingin tahu sudah sejauh apa perbedaannya dengan orang-orang yang belum berevolusi.


“Hanya sekitar 4 hingga 6 Kg saja! untuk pemuda sepertimu mungkin dibawah 4 kg… Hahaha!” ucap tentara itu meremehkan Zein, yah wajar Zein datang ke tempat ini dengan berpura-pura seperti orang lemah.


Namun menanggapi pandangan sebelah mata dari orang lain, Zein hanya tersenyum saja, sembari tetap memutar-mutar kan tangannya itu, hingga semakin kencang. “Aku sudah siap kapten!”


“Bruakkk!” Pukulan Zein mengenai mesin Punch Tracking tersebut, hingga membuat mesin yang ukurannya lebih besar dari tubuh Zien sendiri bergetar kencang, tentara penguji juga melongo kaget, hingga hasil akhirnya pun keluar.


“Ti… Tidak mungkin… Bagaimana bocah tidak terlatih seperti dirimu bisa sekuat ini?” Ujar tentara penguji keheranan, dia lantas tanpa bertanya dahulu merobek seluruh baju yang dikenakan oleh Zein. Saat itu pula lah dia menyadari kalau selama ini pandangannya begitu sempit, sehingga tidak tahu kalau Zein memiliki tubuh bak seorang atlet olahragawan professional.


“Siapa bilang aku bocah tidak terlatih? Aku hanya memiliki kemampuan menyamarkan diriku saja!” kata Zein dengan senyum ringannya, senyum yang seakan-akan menggambarkan bahwa karakter Zein itu rendah hati, tetapi juga bukan orang yang bisa sembarangan diremehkan oleh orang lain.


“Baiklah nak! sebagai tentara aku akui mata ku tidak bisa melihat harimau di depan ku ini!” ujar tentara itu, ternyata walaupun sepanjang tes ini dirinya sebagai tentara selalu memasang wajah serius yang menakutkan, tetapi dirinya tetap bisa meminta maaf dengan tulus.


“Eh pak tidak perlu seperti itu… Lagipula ini memang siasat ku untuk berpura-pura!” jawab Zein kala itu, tidak lama berselang Zein dipersilahkan masuk ke dalam istana Bogor ini, tetapi dia masih harus mengisi beberapa pertanyaan yang ditanyakan oleh tentara penjaga berikutnya.


Sementara itu sesudah Zein meninggalkan tenda untuk tempat test, ada sedikit pembicaraan antara para tentara penjaga. “Segera panggil orang berikutnya!”


“Kapten… Apa tidak masalah membiarkan bocah itu bergabung?” ujar tentara lainnya yang mempertanyakan keputusan dari kapten mereka.


“Jika kau bisa menghasilkan pukulan yang setara setengah ton aku akan membiarkan dirimu menjadi kapten… Dan lagipula bocah itu sepertinya telah tumbuh dewasa! Sorot matanya tajam, seperti dalam penyesalan…” Ujar kapten tentara penjaga memberikan argumen sanggahannya terhadap pertanyaan dari bawahannya itu, dan kapten tentara penjaga ini juga seperti melihat Zein berbeda dari lainnya, Zein tampak tenang disituasi bak dongeng ini, menurutnya mungkin saja Zein telah melalui situasi yang membuatnya bertekad untuk tegar dan bertambah kuat.


“Tidak masuk akal… Bagaimana bocah biasa seperti itu bisa melakukan hal luar biasa semacam itu?” Tanya bawahannya itu lagi, tetapi disini kapten hanya menjawab bahwa dirinya pernah bertugas di markas rahasia yang dibangun negara, disana dia melihat ada banyak bocah yang seakan memiliki kekuatan super fantasi, jadi mungkin saja orang-orang seperti itu telah dilepas sekarang demi keamanan negara.


Zein sendiri sudah melewati tes kedua yaitu tes administrasi, Zein telah diperbolehkan masuk ke dalam istana Bogor, Zein diarahkan ke lapangan luas, yang mana disana telah ada sekitar puluhan orang.


Ketika baru sampai di lapangan Zein diberikan 1 buah nasi kotak oleh tentara berjaga, lalu tentara itu mengatakan kalau mereka harus menunggu dulu di tempat ini, sampai semua orang yang berada di luar gerbang masuk telah melewati tes nya.


“Heh benarkan? Kau tahu darimana?”


“Tentara yang bertugas, mereka mengatakannya demikian!”


Zein dari tempat duduknya, mendengarkan pembicaraan dari beberapa orang yang berhasil selamat tersebut, karena dirinya sangat penasaran dia pun mendekat ke kelompok tersebut, diam-diam Zein menguping pembicaraan mereka, pada dasarnya mereka berhasil selamat karena bertepatan mereka lagi berada di lantai paling bawah, artinya posisi mereka saat itu dibawah tanah, di tempat yang dalam, entah itu dalam gedung atau tempat yang gelap.


“Permisi abang-abang, saya mau tanya, boleh tidak?” ujar Zein memotong pembicaraan mereka, mereka pun dengan terbuka menerima pertanyaan dari Zein.


“Ho… Tenang saja kawan… Kita sesama orang yang selamat harus saling bahu-membahu!” ucap salah satu dari mereka.


Lantas karena mendapat sambutan baik dari orang-orang tersebut, Zein pun bertanya begini. “ Kenapa kota Bogor ini terlihat baik-baik saja? saya tidak lihat ada gedung yang rusak, mobil juga berjajar rapi di jalan, tetapi penduduknya sedikit, seakan-akan malah seperti mereka semua menghilang.” Ujar Zein demikian, dia ingin tahu apa yang terjadi dengan kota Bogor ini, tidak hancur parah kayak yang terjadi sama kota Jakarta.


“Kawan… Kau memangnya bukan dari kota ini?” tanya balik mereka.


“Iya benar sekali.” Balas Zein.


“Begini… Kesimpulan darimu benar… Mereka semua memang menghilang…”


“Hah?” kagetnya Zein tidak menyangka hal semacam itu dapat terjadi.


“Ya kawan, apalagi itu terjadi bukan hanya di Bogor saja, tetapi juga ada di kota lainnya, itu sih kata tentara!” ungkap orang tersebut, sepertinya dia sebelum ini telah mendengar pembicaraan beberapa tentara di istana Bogor ini.


“Kawan-kawan apa diantara kalian ada yang tahu kenapa kita dikumpulkan di lapangan ini?” Tanya Zein kembali, dan salah seorang diantara mereka menjawab pertanyaan Zein, dia bilang kalau kita semua harus mencapai jumlah minimal dari yang diinginkan oleh petinggi militer yang ada disini, belum diketahui pasti siapa dia, dan apa jabatannya, tetapi kemungkinan dirinya ingin membentuk sebuah pasukan bersenjata tambahan.


Sesudah cukup lama menunggu di lapangan khusus untuk acara tertentu di Istana Bogor ini, akhirnya seseorang yang sangat ingin Zein ketahui pun hadir, dia juga ditemani oleh beberapa tentara berpakaian lengkap, yang kemudian meminta semua orang disana untuk memperhatikan setiap omongan darinya.


“Selamat sore semuanya… Mohon maaf karena harus meminta kalian menunggu di lapangan ini selama seharian… karena ini terkait prosedur maka kami harus melakukan ini!” Ujar orang yang tersebut, pakaiannya yang layaknya tentara dengan beberapa bintang terjait rapi di pundaknya, membuktikan kalau orang ini mungkin pemimpin di tempat ini.


“Perkenalkan… Saya punya nama ialah pak Aji… Rekan-rekan saya sering memanggil saya kolonel disini…”